
Figia bangun pagi dengan perut yang terasa lapar. Setelah mencuci muka sebentar, Figia segera keluar kamar. Sangat berharap kalau sudah ada makanan seperti kemarin hari. Namun, saat ia melihat meja makan yang kosong, ia jadi kesal. Kemana Mark?.Bukankah selama beberapa hari ini cowok itu selalu menyiapkan makan pagi dengan menu makanan yang sangat enak.
Hati Figia jadi kesal saat ia menyadari bahwa sejak semalam Mark pamit akan ke Bali untuk mengurus bisnisnya di sana.
"Baguslah kalau dia akhirnya pergi!" guman Figia pada dirinya sendiri. Dengan cepat ia segera mengambil susu hamil dari dalam kulkas. Ia memanaskan air. Dengan minum susu mungkin akan membuat dia bisa menahan rasa laparnya sambil menunggu sarapan yang akan dipesannya secara online.
Namun ketika susu itu selesai dibuat, Figia ternyata tak bisa meminumnya. Ia merasa mual saat meminum susu itu.
"Kenapa rasanya tak enak ya?"
Figia memesan makanan setelah itu ia berjalan mondar mandir di dalam apartemennya. Seperti ada yang kurang. Namun ia tak tahu apa itu.
"Kenapa aku ingin Mark ada di sini ya? Ah...aku pasti sudah gila." Figia mengacak rambutnya sendiri. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor hari ini. Ia membangun sebuah firma hukum dengan beberapa teman pengacaranya.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Figia pun segera berangkat ke kantor.
"Loe kenapa? kusut banget. Wajah loe juga terlihat pucat." Sambut Judith, salah satu sahabatnya yang mendirikan firma hukum ini."
"Kelihatan pucat?" Figia mengambil kaca dari dalam tasnya. Ternyata benar. Ia kelihatan pucat. Ia mengambil lipstick dari dalam tasnya dan memoles kembali bibirnya, menambah sedikit pemerah pipinya.
"Loe sakit?" tanya Judith.
"Iya. Makanya selama beberapa hari gue nggak masuk kerja. Ada kabar apa?"
"Kita masih menangani kasus perceraian sensasional artis itu."
"Gue nggak mau terlibat untuk kasus itu ya?"
"Kalau begitu loe tangani saja kasus tanah yang ada di Bandung."
"Gue baca dulu. Mana berkasnya?"
Judith memberikan sebuah map berwarna merah. Figia segera menuju ke ruangannya untuk membaca.
Baru setengah jam ia membacanya, pikirannya sudah dipenuhi dengan keinginan untuk bertemu dengan Mark.
Tangannya mengusap perutnya. "Hei baby, loe mau ketemu daddy loe ya? Jangan siksa mommy dengan keinginan ini ya? Minta yang lain saja. Jangan minta ketemu dia. Mommy nggak suka."
2 jam berlalu.....
Figia melepaskan berkas kasus yang belum selesai dibacanya. Ia mengambil ponselnya, membuka kontak telepon. Ada nomor Mark tersimpan di sana dengan nama "father of your child"
Figia merasa norak dengan nama itu. Namun ia enggan juga menghapusnya. Tangannya menekan tombol hijau namun ia memutuskan panggilan itu. Terlalu gengsi baginya untuk menelepon Mark.
Tak sampai semenit, ponsel Figia berbunyi. Ada panggilan dari Mark. Entah mengapa Figia merasa senang. Ia langsung mengangkatnya.
"Hallo ibu dari anakku." sapa Mark dari seberang.
__ADS_1
"Cih....! Norak banget panggilan itu."
Mark tertawa dari seberang. Tawa Mark membuat suasana hati Figia yang sedang bad mood langsung merasa bahagia. Namun gadis itu tak mau mengakuinya.
"Terus aku harus panggil apa? Honey, mungkin?"
"Menjengkelkan."
Tawa Mark kembali terdengar. "Ada apa menghubungiku? Kangen ya?"
"Hei, bukankah kamu yang menghubungi aku?" seru Figia dengan wajah merah. Untung saja Mark tak ada dan melihat wajah Figia yang menjadi merah.
"Terus tadi kenapa ada panggilan darimu? Makanya aku langsung hubungi balik."
Sempat tersambung ya? Sial! Memalukan saja. Cicit Figia dalam hati.
"Mungkin nggak sengaja dipencet. Aku sedang sibuk sekali di kantor. Sudah dulu ya, bye...!' Figia langsung memutuskan sambungan telepon. Ia tak tahu harus bicara apa lagi.
Saat ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya, Figia merasakan bad mood nya sedikit berkurang. Ia tanpa sadar tersenyum sendiri.
*********
Figia sampai di apartemen nya saat waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Mereka baru saja selesai rapat. Figia menolak untuk makan malam bersama dengan teman-teman nya karena ia merasa sangat lelah. Ia tak punya selera makan. Jika dipaksakan, ia pasti akan muntah.
Saat ia masuk ke dalam apartemen nya, ia terkejut melihat di atas meja makan sudah ada makanan dan segelas susu.
Perut Figia langsung berbunyi. Ia melepaskan tasnya sambil melihat ke seluruh bagian ruangan untuk mencari keberadaan Mark namun pria itu tak ada.
Dengan cepat Figia mencuci tangannya dan duduk di depan meja makan. Ia berulang kali menelan salivanya karena merasakan kalau perutnya sangat keroncongan.
Ia pun mengawalinya dengan meminum susu yang ada. Matanya membulat sempurna merasakan kalau susu itu sangat enak. Setelah itu ia menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.
Ketika ia sudah selesai makan, ia pun mencuci peralatan makan yang sudah kotor. Ia melihat tempat sampah penuh dengan bekas-bekas bumbu dan sisa sayuran. Apakah Mark memasak sendiri?
Figia berjalan dengan perut kenyang menunju ke kamarnya, saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat Mark yang sudah tertidur di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Cowok itu masih memakai kemeja biru dan celana kain hitam. Apakah dia kecapean? Baru datang dari Bali dan langsung menyiapkan makan malam bagiku?
Melihat Mark yang tertidur dengan begitu lelapnya, Figia memutuskan untuk tak membangunkannya. Ia mengambil handuk dan baju ganti lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Ia mengenakan piyama lengan panjang dan segera keluar dari kamar mandi saat sudah selesai. Mark terlihat masih tidur. Figia merasa sangat mengantuk. Ia pun mengambil bantal dan menuju ke sofa. Ia akan tidur di sana.
Tengah malam Figia terbangun karena merasakan ada tangan yang mendekap perutnya. Ia membalikan badannya dan melihat kalau Mark ada di belakangnya. Masih Tertidur namun sudah ganti pakaian. Figia ingat kalau tadi ia tidur di sofa namun kini ia sudah tertidur di atas ranjang bersama Mark.
Figia berusaha menyingkirkan tangan Mark namun cowok itu begitu kuat memeluk dirinya. Akhirnya, Figia pun pasrah. Membiarkan dirinya di dekap oleh Mark karena ia kembali diserang oleh rasa kantuk.
**********
"Good morning!" sapa Mark saat Figia bangun dan sudah siap untuk ke kantor.
__ADS_1
Figia tak membalas ucapan Mark. Ia pura-pura minum air putih.
"Mark, kamu jangan seenaknya masuk apartemen ini dan berbuat sesukanya. Kamu memasak di dapur ku, tidur di kamarku dan memindahkan aku dengan sembarangan. Dan lebih kurang ajar lagi, kau tidur sambil memelukku." kata Figia sambil memasang tampang galak."
"Tapi aku suka melakukannya. Maaf kalau semalam aku mengangkat tubuhmu tanpa permisi. Maaf juga karena aku memelukmu. Aku hanya ingin memeluk anakku yang masih tumbuh di rahimmu." Kata Mark dengan wajah gembira.
"Kenapa kau balik lagi ke sini? Bukankah kau ada pekerjaan di Bali?"
"Aku memang ada pekerjaan di Bali. Namun pikiranku ada padamu. Apakah kamu makan, apakah kamu minum susu hamil mu, apakah kamu merasa kesepian?"
"Cih, jangan sok perhatian."
Mark hanya tertawa. Ia menatap Figia. "Mengapa ya aku merasa bahwa kalau aku yang sediakan kamu makannya banyak."
"Kata siapa?"
"Makanan dan susu yang aku siapkan semalam buktinya habis semua."
Wajah Figia menjadi merah. "I...itu karena aku merasa la....par. Sebab rapatnya sampai malam dan aku nggak sempat makan."
Mark tak ingin membuat Figia bertambah malu. Ia mendekat. "Boleh aku menyapanya?"
"Siapa?"
"Anak kita."
"Kamu....!" Figia akan protes namun Mark sudah berlutut di hadapannya dan memegang perutnya.
"Hallo anak daddy. Jangan buat mommy sedih ya? Kasihan mommy nya sering mual dan muntah. Kalau daddy nggak ada, jangan buat mommy merindukan daddy ya."
Figia melotot mendengar kata-kata Mark. Apalagi saat Mark mencium perutnya. Ada sesuatu yang menggetarkan hatinya.
"Aku lapar." kata Figia sambil mundur selangkah.
"Aku sudah menyiapkan sarapannya. Makanlah. Aku akan bersiap untuk mandi karena ada urusan di Bandung." Kata Mark dan langsung pergi ke kamar.
Figia menikmati makanannya dengan lahap. Ia tak menyangka kalau ia akan menikmati semua yang disediakan Mark untuknya.
Selesai sarapan, Mark pun sudah selesai mandi dan ganti pakaian.
"Aku pergi dulu, ya? Makan siangnya sudah aku buat dan simpan di dalam kulkas. Kamu tunggal memanaskannya saja. Lusa, aku sudah buat janji dengan dokter. Kita akan memeriksakan kandungan mu." Kata Mark lalu segera pergi dengan langkah tergesa.
Figia menatap kepergian Mark dengan perasaan yang sulit ia artikan. Mengapa ia begitu senang dengan semua perhatian Mark padanya? Ia bahkan sudah merasa kesepian pada hal Mark baru saja pergi.
************
Duh kayaknya Figia sudah mulai tumbuh benih-benih cinta nih.
__ADS_1
Makasi ya sudah membacanya.....