
Pagi sudah datang. Rumah keluarga Dawson masih juga sepi. Pada hal waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi.
Dua pelayan yang datang sementara membersihkan sisa pesta semalam. Sang nyonya rumah yang biasa bangun pagi pun terlihat belum keluar dari kamarnya.
Joselin dan Stevany yang pertama kali keluar kamar. Mereka ada kuliah jam 8 pagi ini.
"Mommy dan daddy masih tidur ya?" tanya Stevany sambil melirik ke arah pintu kamar orang tuanya. Kamar Giani dan Jero memang ada di lantai satu, sama seperti kamar. Sedangkan kamar Gabrian dan Gabriel ada di lantai dua.
"Sepertinya. Mungkin mommy sama daddy capek karena acara kemarin."
Stevany dan Joselin menuju ke ruang makan. Joselin sedang melanjutkan study S2 nya sedangkan Stevany S1.
"Nona, mau sarapan apa?" tanya salah satu pelayan.
"Kami hanya akan minum susu dan makan roti saja. Jadi kalian konsentrasi saja dengan pekerjaan masing-masing." Kata Joselin sambil membuka kulkas dan mengeluarkan sekotak susu sedangkan Stevany sudah menyiapkan roti bakar untuk mereka berdua.
"Kak Andrea menginap di sini ya?" tanya Joselin penasaran.
"Sepertinya. Tuh mobilnya masih ada." Jawab Stevany sambil mengintip dari jendela dapur ke arah garasi. "Tapi mobil kak Ian nggak ada tuh."
Joselin membulatkan matanya. "Apakah dia menginap di tempatnya kak Eil? Mereka sudah baikan lagi kah?"
"Mudah-mudahan saja. Supaya kita akan ketambahan ponakan juga. Eh, kamu sendiri gimana sama Bisma? Apakah sudah ke taraf serius pacarannya? Sudah 2 tahun lho."
"Jalani aja dulu. Lagi pula aku mau serius dengan kuliahku dan langsung kerja begitu kembali ke Jakarta. Aku nggak mau menikah cepat. Maunya usia 26 atau 27."
Stevany tersenyum. Ia ingat pertemuannya dengan seorang cowok tampan yang dewasa beberapa hari yang lalu.
"Kenapa melamun saja?" tanya Joselin.
Stevany menatap kakaknya. "Apakah salah jika aku suka dengan pria yang usianya jauh lebih tua di atas aku?"
Joselin tersenyum. "Akhirnya kau membuka hatimu lagi setelah putus dengan Angga. Apakah dia pria bule?"
"Bukan. Orang Korea."
"Oh ya? Apakah aku mengenalnya?"
"Tidak. Karena aku juga baru melihatnya beberapa hari yang lalu. Dia tampan. Menggunakan anting-anting, punya tato di leher dan kakinya."
Joselin terkejut mendengar cerita adiknya. "Menggunakan anting-anting dan ada tato nya? Bagaimana jika dia seorang mafia?"
Stevany tersenyum. "Pasti tantangan terbesar menaklukan seorang mafia."
(cerita Stevany akan kubuat tersendiri : MENGEJAR CINTA SEORANG MAFIA)
__ADS_1
Giani akhirnya keluar kamar sambil menggandeng tangan si kembar. Wajah mereka terlihat segar, sepertinya baru selesai mandi.
"Good morning twins." sapa Joselin dan Stevany bersamaan.
"Hallo aunty.....!"sapa keduanya barengan juga.
Joselin dan Stevany langsung memeluk kedua gadis cantik itu secara bergantian dan mendudukkan mereka di kursi meja makan. Sementara Giani membuatkan sereal untuk sarapan kedua cucunya.
"Daddy masih tidur ya, mom?" tanya Joselin.
"Iya. Opa masih bobo. Mendengkur lagi." Bernetha yang menjawab.
"Opa ngorok ya? Berarti opa capek banget dong." Kata Joselin sambil mengusap rambut Bernetha.
"Habis, opa sama Oma mandinya kelamaan. Aku mau pipis aja harus menunggu di depan pintu kamar mandi." Kali ini Angelia yang menjawab.
Wajah Giani menjadi merah namun ia buru-buru bersikap biasa. "Opa kalau sorenya berkeringat, maka malamnya harus mandi sebelum bobo. Oma membantu opa menggosok punggungnya."
Joselin dan Stevany hanya mengangguk. Giani menarik napas lega. Untung saja ia mengurai rambutnya. Jika tidak, kedua putrinya ini bisa melihat ada tanda merah di leher Giani. Kebiasaan Opa Jero belum juga hilang.
"Mommy Andrea menginap di sini kan?" tanya Angelia.
"Iya, sayang." jawab Stevany
"Kok mommy belum bangun ya? Apakah mommy juga capek kayak opa Jero?" tanya Bernetha sambil menatap bibinya.
Giani meletakan sarapan kedua cucunya di atas meja makan. Setelah berdoa, Si kembar langsung melahap sarapannya sedangkan Stevany dan Joselin segera berangkat ke kampus. Walaupun ini hari Sabtu, namun keduanya mengambil kelas khusus untuk mata kuliah umum.
Sementara itu di dalam kamar, Andrea yang baru selesai mandi tersenyum pada Gabrian yang terlihat sudah bangun. Ia menggunakan bajunya yang kemarin ia pakai karena memang ia tak membawa baju. Sedangkan semalam, Joselin meminjamkan baju tidurnya untuk Andrea.
"Jangan keluar kamar dulu ya? Tunggu aku selesai mandi." Kata Gabrian lalu memberikan kecupan di pipi Andrea sebelum masuk ke kamar mandi.
Wajah Andrea menjadi merah. Matanya menatap tempat tidur yang berantakan, lalu segera membereskan tempat tidur itu. Ia malu jika harus pelayan yang membereskannya.
Gabrian pun selesai mandi. Ia keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Kemudian ia membuka handuk itu di depan Andrea, membuat Andrea langsung membalikan tubuhnya. Gabrian yang berdiri di depan lemari yang ada kacanya, terkekeh melihat ibu dari anak-anaknya itu membalikan tubuhnya.
Selesai ganti pakaian, ia mendekati Andrea yang masih berdiri membelakanginya. Di peluknya tubuh wanitanya dari belakang, menyingkirkan rambut Andrea yang masih basah itu, lalu memberikan kecupan-kecupan kecil di bahu Andrea.
"Rasanya aku tak ingin membiarkan kau pulang."
"Ian...." Andrea membalikan tubuhnya. Di tatapnya wajah pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya. "Aku sudah lapar. Kita turun untuk sarapan, yuk!"
Gabrian mengecup bibir Andrea dengan lembut. "Baiklah, sayang. Ayo kita turun."
Sambil menautkan jari mereka, keduanya turun ke bawa dengan wajah gembira.
__ADS_1
Bernetha dan Angelia sudah bermain di halaman belakang bersama opa Jero yang walaupun masih terlihat mengantuk namun sangat antusias bermain dengan kedua cucunya.
Andrea dan Gabrian sarapan, setelah itu Andrea pamit untuk pulang. Si kembar belum mau pulang. Mereka bahkan membujuk mamanya agar tinggal saja di rumah opa Jero.
"Andrea, sudah saatnya kalian bersama lagi. Apakah kamu nggak ingin Angelia dan Bernetha punya keluarga yang utuh?" Tanya Giani saat mengantar Andrea ke mobilnya.
"Mommy, apakah Ian sungguh mencintaiku? Aku takut semua ini dia lakukan hanya karena dia tak ingin kehilangan si kembar. Aku sebenarnya nggak masalah jika Ian bersama gadis lain yang lebih baik dariku. Aku juga nggak akan menghalangi Ian untuk ketemu dengan kembar. Apalagi sejak awal aku memang sudah memberikan mereka nama Dawson. Aku tak akan memutuskan hubungan mereka dengan keluarga ini."
Giani memegang tangan Andrea dan menepuk punggung tangan perempuan itu dengan lembut. "Aku mengenal anakku dengan baik. Selama 5 tahun ini, sekalipun ia tak pernah mengatakan apa-apa padaku, namun setiap kali dia menolak gadis yang ku jodohkan, aku tahu dia sedang menunggumu. Dia sudah pernah gagal menunggu dalam 5 tahun pertama kehidupan masa mudahnya. Aku tak ingin dia gagal lagi di 5 tahun penantian yang kedua ini. Usia Ian sudah 29 tahun. Mau sampai kapan lagi dia menunggu?"
Andrea memeluk Giani. "Mommy, aku akan berusaha membahagiakan Ian. Aku janji."
Giani menarik napas lega. Ia tahu Andrea tak akan mengecewakan Gabrian.
Andrea pun pulang dengan hati yang berbunga
*********
Di apartemen Eilaria, gadis itu sedang membuatkan sarapan untuknya dan juga Gabrian. Ia hanya mengenakan daster rumahan yang pendek, rambut yang di cepol sembarangan dan senyum manis yang tak pernah lepas dari bibirnya.
2 gelas kopi capucino, 2 butir telur mata sapi dan nasi goreng pedas kini sudah siap. Eilaria memandang jarum jam yang sudah menunjukan pukul 10 pagi. Ia segera menuju ke kamarnya dan tak menemukan Iel ada di atas tempat tidur. Namun ada suara air yang terdengar dari kamar mandi. Iel pasti sedang mandi.
Tak lama kemudian Iel selesai mandi. Ia sudah mengenakan bajunya yang semalam.
"Good morning." Sapa Gabriel sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah. Eilaria mendekat dengan sebuh handuk kecil ditangannya.
"Duduklah. Aku akan mengeringkan rambutmu."
Gabriel duduk di atas tempat tidur. Eilaria pun naik ke atas tempat tidur, berdiri dengan lututnya lalu mulai mengeringkan rambut Gabriel.
"Sudah selesai." Kata Eilaria. Ia hendak turun tempat tidur namun Iel menarik tangannya sehingga Eil duduk di pangkuannya.
"Iel, sarapannya nanti dingin."
Gabriel menatap mata Eilaria. "Tadi si Zack telepon. Maaf aku menerimanya. Aku bilang ke dia kalau istriku sedang masak. Ia ada di dapur dan ponselnya ada di kamar. Zack tertawa mendengarnya. Karena itu, hari ini juga kamu harus menjelaskan padanya kalau namamu adalah Eilaria Dawson dan bukan Thomson."
Eilaria mengecup bibir Gabriel dengan cepat. Ia kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, dan mengambil fotonya yang sedang mencium pipi Gabriel. Kemudian ia memposting gambar itu di akun medsos nya dengan keterangan : PAGI YANG SANGAT MENYENANGKAN BERSAMA SUAMI TERSAYANG.
**********
jadi menurut kalian, Dawson mana yang malamnya paling hot???
nanti di part selanjutnya baru emak akan menguraikan malam manis mereka satu persatu ya...
kita main tebak-tebakan dulu di part ini
__ADS_1
Komen yang banyak dan berikan alasannya ya guys....