
Eilaria terkejut melihat Alana menemuinya di kantor siang ini.
"Alana? Tumben kau datang dan tidak memberitahukan aku." Ujar Eilaria sambil berdiri dan memeluk saudara sepupunya itu.
"Apakah aku mengganggumu?"
"Sama sekali tidak."
keduanya duduk di sofa saling berhadapan.
"Eil, apakah kamu tahu kalau si kembar Dawson ada di sini?"
"Iya. Mereka bahkan jadi mitra perusahaan ku."
Alana terkejut. "Jadi, bagaimana perasaanmu pada mereka berdua? Apakah kau masih bingung antara Iel atau Ian?"
Eilaria memang sudah menceritakan mengapa sampai ia dan Iel berpisah.
"Entahlah. Aku baru sekali ketemu Ian, selebihnya adalah Iel. Dan aku kembali merasakan getaran cinta diawal kami menjalin kasih saat pacaran dulu. Aku bahkan merasa sangat cemburu melihat kedekatan Iel dengan Gabby."
"Ian sudah tahu tentang si kembar. Ia juga mengaku kepadaku kalau ia mencintai Andrea. Dia ingin bertemu dengan Andrea walaupun ia sudah tahu kalau Andrea sudah membuat sumpah untuk mengabdikan hidupnya untuk pelayanan kasih kepada masyarakat."
"Ian mencintai Andrea? Lalu bagaimana perasaanmu kepadanya?"
Alana tersenyum. "Aku pikir bahwa aku sudah berhasil membuang Ian dalam hatiku. Semuanya karena Inzagi. Kasih sayangnya, perhatiannya bahkan kesabarannya dalam menghadapi sifat ku telah menumbuhkan sebuah rasa dalam hatiku, apalagi sekarang aku sedang mengandung anaknya."
Mata Eilaria membulat dengan pancaran kebahagiaan. "Kau hamil?"
"Ya." Alana memegang perutnya. "Setelah setahun lebih menikah, akhirnya aku hamil juga. Aku hamil saat dipertemukan lagi dengan cinta pertama dalam hidupku. Aku akui, hatiku sempat bergetar saat melihat Ian dan Iel. Mereka nyaris tak bisa dibedakan. Aku mengerti saat itu bagaimana perasaanmu. Kau punya cinta yang sama untuk 2 wajah yang sama juga. Namun, saat mataku memandang cincin pernikahan kami, aku jadi ingat suamiku, dan semua rasa yang hadir itu perlahan hilang dalam hatiku. Ian mungkin pernah singgah di hatiku namun aku tak lagi menginginkan cintanya. Karena Tuhan sudah memberikan aku lelaki yang sangat luar biasa."
Eilaria tertegun mendengar perkataan Alana. Apakah selama ini ia telah salah mengartikan perasaannya? Apakah Iel adalah lelaki terbaik yang diberikan Tuhan padanya?
"Eil, aku mengerti satu hal. Cinta pertama tak selamanya akan menjadi cinta terakhir. Jangan terlalu lama bimbang dengan perasaan mu. Karena Gabriel adalah lelaki tampan yang dikejar oleh banyak wanita. Kalau memang kau masih bingung menentukan pilihan, segeralah mengambil keputusan untuk pisah selamanya. Karena saat Gabrian mengatakan kalau ia mencintai Andrea, aku melihat ketulusan dalam pancaran matanya. Kau tak akan bisa bersama Gabrian. Dan kalau kau pun tak bisa bersama Iel, segera urus perceraian kalian. Biarkan Iel bahagia dengan orang lain, dan kau belajarlah mencari cinta yang lain. Seperti aku yang menemukan Inzagi dalam hidupku."
__ADS_1
Hati Eilaria dilanda kegelisahan. Kata-kata Alana sangat menusuk ke dalam hatinya. Orang tuanya sendiri memang sudah mengijinkan Eil untuk bercerai sejak dua tahun yang lalu. Namun Eil tak mau mengurus perceraiannya. Apakah sekarang adalah waktu yang tepat? Lagi pula Eil sudah tak menggunakan nama Dawson. Ia sudah menggunakan nama Thomson di belakang namanya. Mungkin sebaiknya ia akhiri saja walaupun jauh di dalam hatinya, ia kini kembali berharap akan bersama Iel.
************
Mobil yang mengantar Alana dan Gabrian memasuki sebuah daerah pedesaan yang sangat jauh dari ibu kota kerajaan Flowers. Sebuah daerah pegunungan yang sejuk. Nampak sebuah bangunan tua yang ada di atas sebuah bukit. Ke sanalah tujuan mereka.
Mobil berhenti di bawa kaki bukit. Tak ada akses jalan menuju ke bangunan tua itu kecuali sebuah tangga dengan anak tangga yang sangat banyak.
"Ian, tunggulah kami di tempat yang sudah kita sepakati tadi, mudah-mudahan aku dapat membawa Andrea keluar bersamaku."
Gabrian mengangguk. Ia pun segera memerintah sopir untuk meninggalkan Alana.
Kepala yayasan Menyambut Alana dengan penuh hormat. "Tuan putri, sungguh suatu kehormatan tuan putri mau datang ke tempat ini." Lady Isaura namanya. Wanita tua berusia sekitar 60 tahun.
"Terima kasih, ibu Isaura. Bolehkah aku bertemu dengan saudaraku? Aku sangat rindu padanya. Dan aku ingin mengajaknya ke Villa yang ada di dekat yang ada di sekitar sini."
"Kebetulan dua hari ini Andrea sedang tak ada tugas. Namun saya mau tanya dulu apakah dia mau keluar kamar atau tidak."
Agak lama Alana menunggu. Ia bahkan sudah putus asa membayangkan kalau kakaknya itu tak akan pergi dengannya.
"Mengapa kau tak menginap di sini?" Tanya Andrea setelah keduanya duduk di ruang tamu.
"Aku nggak suka daerah pegunungan. Mungkin bawaan bayi. Sekarang ini saja aku sudah merasa mual dan ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini."
"Kau hamil? Alana, selamat ya?"
"Terima kasih, Andrea. Jadi, kamu mau menginap semalam di villa keluarga kita kan?"
"Baiklah."
Alana sangat senang. Keduanya langsung pergi dengan menaiki kereta kuda yang menjadi transportasi desa ini.
Begitu mereka sampai di villa, Andrea kembali mengenang bagaimana mereka pernah tinggal di sini waktu kecil. Mamanya Zelina yang selalu penuh kasih sayang akan menemani mereka saat naik perahu menyusuri danau ini.
__ADS_1
Kini, Andrea bukan anggota kerajaan lagi. Dia tak akan pernah menikmati lagi semua fasilitas mewah kerajaan.
"Bagaimana kabar si kembar?" Tak tahan Andrea menanyakan kabar anak-anak nya. Sudah setahun Andrea tak pernah bertemu mereka. Dan walaupun Andrea sangat merindukan mereka namun ia harus membuang semua keinginannya untuk bersama mereka.
"Si kembar bertumbuh sehat dan semakin pintar. Mereka sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Hanya saja, aku bingung saat Gabrian menanyakan mengapa si kembar memakai nama belakang Dawson dan bukan Boluci seperti nama suamiku."
"Gabrian menemukan keberadaan mereka? Dia di Amerika? Bagaimana dia bisa tahu?"
"Tuhan mempertemukan kami, Andrea. Angelia menyapa Gabrian di toko Asia saat kami belanja di sana. Ikatan darah tak bisa dilepaskan. Si kembar bahkan sudah bertemu dengan Oma Giani dan opa Jero."
"Apa?" Andrea terkejut.
Pintu depan terbuka. Gabrian masuk dengan wajah penuh kerinduan dan detak jantung yang sangat cepat.
"Gabrian.....?" Andrea sangat terkejut. Ia berdiri dan menatap adiknya. "Apa yang kau lakukan Alana?"
"Aku pikir, kau berhutang penjelasan kepadanya, Andrea. Gabrian berhak tahu kenapa kamu menyembunyikan kehamilan mu dan menyerahkan anakmu kepadaku." Alana berdiri. Ia keluar dari ruang tamu itu. Andrea akan mengejar Alana. Ia tak boleh berada di dalam satu ruangan hanya berdua saja dengan seorang laki-laki.
"Jangan pergi, aku mohon!" Gabrian menahan tangan Andrea.
"Jangan sentuh aku...!" Andrea menarik tangannya dengan cepat. Ia mundur beberapa langkah. Berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Baiklah. Aku tak akan menyentuhmu. Namun ijinkan kita bicara, Andrea."
"Apapun yang akan kita bicarakan, tak akan mengubah apapun."
"Setidaknya ijinkan aku untuk membawa anak-anakku bersamaku."
"Jangan! Tidak boleh." Andrea menggeleng. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia tak berani menatap Gabrian. Karena setelah 5 tahun, ternyata ia tak bisa membuang rasa yang terlanjur hadir dalam hatinya.
*********
Apakah Andrea akan tetap pada pendiriannya?
__ADS_1
Dan apakah Eil siap bercerai dengan Iel?
Maaf kalau ada yang kecewa dengan alurnya. Nanti deh emak akan jelaskan mengapa alurnya seperti ini jika akan tamat.