
"Etha....., jangan lari-lari, nanti jatuh!" Joselin menegur ponakannya yang sedang main kejar-kejaran dengan ponny, anjing golden milik Joselin.
"Ponny yang mengejar aunty." Ujar Bernetha sambil terus berlari.
"Kalau Etha berlarian terus, Ponny akan mengejar." Joselin memanggil anjingnya itu untuk pergi ke kandangnya yang ada di bagian belakang rumah.
"Tuh kan, Etha jadinya berkeringat. Pada hal acara ulang tahun opa belum juga dimulai." Joselin mengambil tissue dan membersihkan keringat di wajah ponakannya itu. Gabrian yang melihatnya dari lantai dua, tersenyum melihat adik-adiknya sangat menyayangi anak-anaknya.
Bel pintu berbunyi. Gabrian yang sedang menuruni tangga menatap ke arah pintu. Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore dan Andrea belum juga datang.
Saat pintu dibuka oleh Joselin, nampak wajah cantik yang sejak tadi sudah dinanti oleh Gabrian.
"Mommy.....!" Bernetha langsung memeluk mamanya dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah Andrea.
"Selamat datang, kak." Joselin memeluk Andrea setelah Bernetha turun dari pelukan Andrea dan berlari lagi ke luar ruangan.
"Terima kasih. Nih, aku bawakan kue untuk daddy Jero." Andrea menyodorkan kantong plastik yang dibawahnya.
"Terima kasih, kak." Joselin menoleh ke arah Gabrian yang sudah datang mendekati mereka.
"Duh, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Senangnya...." Joselin menggoda kakaknya dan langsung kabur ke dapur karena Gabrian melotot padanya.
"Aku pikir kamu nggak akan datang." ujar Gabrian lalu meraih tangan Andrea dan menggenggamnya erat.
"Aku mampir dulu ke toko kue. Saat akan kembali, persediaan bensinku ternyata hampir habis. Jadilah harus antri di tempat pengisian bensin."
"Aku sudah merindukanmu." bisik Gabrian.
"Ian..." Andrea mendorong tubuh Gabrian malu.
"Di sini nggak ada orang. Boleh aku cium sedikit kan?"
"Ian, nanti ada yang da....." Kalimat Andrea terhenti saat Gabrian sudah mencium bibirnya.
"Mommy.....! Daddy....!"
Andrea mendorong Gabrian dengan cepat saat mendengar suara itu. Keduanya menoleh ke arah suara yang datang. "Angelia?" kata Andrea dan Gabrian bersamaan.
"Kenapa mommy dan daddy berciuman? Aku pernah melihat aunty Joselin juga berciuman dengan pacarnya. Kata aunty itu nggak masalah karena dilakukan oleh orang dewasa dan mereka pacaran. Mommy dan daddy kan nggak pacaran. Kata mommy, daddy dan mommy berteman." Ujar Angelia membuat Gabrian menatap Andrea dengan satu alis yang terangkat.
"Teman?" tanya Gabrian.
"Eh....., kita memang berteman kan?" Andrea balik bertanya membuat Gabrian menjadi gemas.
"Daddy sama mommy nggak berteman. Tapi pacaran." Ujar Gabrian membuat Andrea terkejut namun tidak dengan Angelia.
"Kalau pacaran, kata opa Jero, akan menikah ya?"
Gabrian mengangguk. Andrea semakin tegang. Ia tak mau kalau Angelia sampai menolaknya.
Gadis kecil itu tersenyum. "Kalau Daddy sama mommy menikah, aku dibelikan baju pengantin juga ya? Supaya kayak princess yang ada di buku dongeng. Cantik!" Angelia berlari dari ruangan itu dengan wajah ceria.
"Tuh kan, kamu saja yang terlalu takut. Anak-anak pasti tak akan terkejut bila melihat daddy dan mommy nya bersama. Lama-lama kan mereka akan semakin besar dan akhirnya mengerti bahwa kita memang harus tinggal bersama." Ujar Gabrian lalu kembali menggenggam tangan Andrea.
Keduanya saling bertatapan kembali dan entah siapa yang memulai, mereka kembali berciuman.
"Daddy sama mommy lagi apa?" tanya Bernetha yang melintas di ruang tamu bersama Angelia.
"Daddy sama mommy pacaran."
Bernetha hanya mengangguk lalu kembali berjalan, menuju ke taman belakang yang sudah dihiasi dengan sangat indah.
***********
Ini adalah perayaan ulang tahun yang paling berkesan bagi Jeronimo karena ia didampingi oleh dua orang cucunya yang sangat cantik dan menjadi pusat perhatian di sore ini.
Tak banyak yang datang. Hanya Beryl dan Anggita yang kebetulan sedang ada di Amerika, Joselin dan pacarnya Bisma, orang Indonesia yang juga kuliah di Amerika, Stevany yang masih menjomblo karena ingin kayak Alexa yang pacar pertamanya harus jadi suaminya, Gabrian dan Andrea yang sejak ada di taman belakang tak pernah sekalipun saling berjauhan, nempel terus kayak perangko, Gabby, Gerry dan Gabriel yang merekam hari bahagia ini dengan kameranya.
"Selamat sore, maaf terlambat." Eilaria akhirnya muncul dan membuat Giani nampak sangat senang. Ia yang lebih dulu mendekati Eilaria, mendekap perempuan itu yang nampak cantik dengan balutan dress berwarna putih.
"Kau semakin dewasa dan cantik saja." Kata Giani.
"Terima kasih, mommy. Mommy juga nampak semakin cantik."
Giani menggandeng tangan Eilaria menuju ke arah tempat duduk Jero yang masih terus ditemani dengan si kembar yang mulutnya sudah belepotan dengan coklat.
"Selamat ulang tahun daddy, Jero!" kata Eilaria sambil memberikan sebuah kado yang dibungkus dengan kertas berwarna biru tua.
"Terima kasih, nak. Daddy senang kau mau datang."
Gabby yang memperhatikan itu dari jauh berusaha menekan rasa sakit yang ada di hatinya. 5 tahun sudah berlalu namun keberadaan Eilaria ditengah keluarga Dawson masih tetap memberikan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
"Ini.....!" Gerry menyodorkan selembar tissue saat melihat ada air bening yang siap jatuh di sudut mata Gabby.
__ADS_1
"Terima kasih." Kata Gabby sambil menerima tissue itu dan menyeka sudut matanya yang sudah basah.
Acara ulang tahun Jero dilanjutkan dengan makan malam bersama.
"Bunda mau kemana?" tanya Andrea.
"Mau mengiris buah di dapur."
"Aku boleh bantu?"
"Baiklah!"
Pelayan yang bekerja di rumah ini memang hanya bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam. Giani sengaja tak mengambil pelayan yang tinggal tetap di rumah ini karena rumah ini sering kosong jika mereka pulang ke Jakarta. Hanya ada seorang penjaga rumah yang tinggal sendiri di belakang rumah ini.
Di dapur, Andrea mengiris buah semangka sementara Giani menyiapkan es cream untuk si kembar.
"Andrea, Lia dan Etha boleh makan es cream kan?"
"Boleh, bunda. Nanti setelah itu mereka langsung gosok gigi karena hari ini kelihatannya makan banyak manisan."
"Baiklah. Bunda bawakan dulu es cream mereka dan kalau buahnya sudah siap, tolong di bawa ke taman ya?"
Andrea mengangguk. Giani meninggalkan Andrea sendiri di sana.
Baru saja Andrea akan menyelesaikan potongan semangka yang terakhir, sebuah tangan kekar tiba-tiba sudah melingkar di pinggang.
"Aku mencari mu ternyata ada di sini." bisik Ian lalu mencium leher Andrea dengan sangat lembut.
"Ian, nanti ada yang melihat."
"Dapurnya kosong."
Andrea mencuci tangannya, mengambil lap lalu mengeringkan tangannya, setelah itu ia membalikan tubuhnya yang masih dipeluk Gabrian dari belakang. Mata keduanya saling bertatapan.
"Malam ini, jangan pulang ya? Tidur di sini saja."
Wajah Andrea memerah. "Aku tidur di kamar mana?"
"Di kamarku."
"Tapi, si kembar..."
"Mereka pasti tak mau lepas dari opa Jero dan Oma Giani."
"Bilang saja kita sedang tidur. Memangnya kita mau ngapain?"
"Ian....!" Andrea mencubit perut Gabrian.
Gabrian terkekeh. Lalu ia menunduk dan mencium bibir Andrea yang kini menjadi candu baginya.
Eilaria yang baru saja dari toilet tanpa sengaja melihat Andrea dan Gabrian yang sedang berciuman dari jendela kaca. Wajah perempuan itu tersenyum. Ia ikut bahagia melihat kebahagian Andrea. Tak ada lagi rasa cemburu saat melihat Gabrian dekat dengan perempuan lain.
Saat ia membalikan tubuhnya, ia hampir saja berteriak melihat Gabriel sudah berdiri di belakangnya sambil memasukan kedua tangannya di saku celananya. Gabriel terlihat sangat tampan, dan macho karena sebelah telinganya memakai anting.
"Ada apa senyum-senyum?" tanya Gabriel.
"Senang saja melihat Gabrian dan Andrea bahagia."
Gabriel menatap ke arah jendela kaca. Saudara kembarnya itu masih tetap berciuman.
"Lalu....?"
"Lalu apa?" Eilaria menjadi bingung.
"Memangnya kau tak ingin bahagia?"
Tatapan mata Gabriel yang tajam seakan menembus jantung Eilaria sehingga ia merasakan kalau hatinya berbunga-bunga. Eilaria tak dapat menahan senyumnya.
"Kenapa tersenyum terus?" Gabriel bertanya lagi dan maju beberapa langkah sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat.
"Eh, kamu kelihatan keren memakai anting." Eilaria langsung membahas masalah anting Gabriel karena ia kehabisan kata-kata.
"Oh...." Gabriel memegang anting yang ada di telinga sebelah kirinya. "Ini sengaja aku pakai supaya si kembar bisa membedakan mana daddy mereka dan mana uncle nya. Mommy Giani sempat protes namun ia akhirnya setuju setelah si kembar bilang kalau aku terlihat keren dan mereka bisa tahu saat memanggil namaku."
"Oh....gitu ya...." Eilaria semakin salah tingkah karena jarak antara dirinya dengan Iel semakin dekat. Ia kembali bisa mencium bau minyak wangi Iel.
"Terima kasih sudah datang ya?" Ujar Gabriel sambil menyingkirkan anak rambut Eilaria yang jatuh di dahinya.
"Sama-sama."
"Nanti pulang aku antar ya? Kamu ke sini nggak bawa mobil kan?"
"Mobilku, bannya kempes. Jadi aku naik taxi." Eilaria merasakan detak jantungnya semakin tak menentu karena tangan Gabriel kini membelai wajahnya.
__ADS_1
Gabriel tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Eilaria, menarik perempuan yang masih sah menjadi istrinya itu agar semakin dekat padanya. Ia kemudian menunduk, menggesek hidungnya ke hidung Eilaria, lalu secara perlahan, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut tapi memabukkan. Eilaria tak menolak. Ia melingkarkan tangannya di leher Iel dan membalas ciuman itu.
*********
"Opa, apakah orang pacaran itu harus selalu berciuman?" Tanya Bernetha saat ia dan Angelia sudah ada di atas tempat tidur bersama Jero dan Giani.
"Kenapa Etha tanyakan itu?" Jero jadi heran.
"Aku melihat daddy dan mommy berciuman, kata Lia mereka pacaran. Di taman tadi aku juga melihat uncle Iel berciuman dengan aunty Eil, berarti mereka pacaran kan?"
Jero dan Giani saling berpandangan sambil menahan tawa.
"Biarkan saja mereka pacaran. Sekarang Lia dan Etha bobo ya?" Kata Jero sambil membaringkan tubuhnya. Kedua cucunya itu tidur di sisi kanan dan kirinya.
"Opa, apakah opa dan Oma juga pacaran?" tanya Angelia.
"Opa dan Oma nggak pacaran." Ujar Jero.
"Tapi, aku pernah lihat opa dan Oma berciuman." Kata Angelia.
Jero menatap Giani yang masih duduk di atas tempat tidur.
"Iya deh, opa dan Oma pacaran." kata Jero karena bingung harus mengatakan apa.
"Tapi opa kan sudah tua. Masa masih pacaran kayak daddy dan mommy." Angelia berkata lagi.
Giani melihat dahi suaminya berkerut. Tahukan opa Jero paling nggak suka dibilang tua.
"Opa memang sudah tua. Namun opa merasa muda. Makanya opa pacaran juga dengan Oma."
Jero mengedipkan matanya saat Giani mengangguk setuju dengan jawaban suaminya.
1 jam kemudian......
Giani yang sudah tertidur langsung bangun saat merasakan kalau Jero sudah duduk di samping tempat tidur sambil memegang wajahnya.
"Ada apa?"
"Temani aku mandi, yuk!"
"Inikan sudah jam 11 malam."
"Aku tadi cukup berkeringat."
Giani mengerti arti tatapan suaminya. "Sayang, kamu tidak ingin kita ber..."
"Aku hanya meminta hadiah ulang tahunku. Setiap tahun kamu selalu memberikan hadiah yang sangat spesial. Masa kan malam ini nggak."
"Tapi....." Giani bangun sambil menatap kedua cucu mereka yang sudah terlelap.
"Aku janji nggak akan ribut."
Giani pun turun perlahan dari atas tempat tidur. Benar apa yang Jero katakan tadi. Ia memang sudah tua, tapi tetap merasa muda. Dasar Palo nggak pernah merasa tua ,🤭🤭🤭😂😂🙏🙏.
***********
Gabriel mengantarkan Eilaria sampai di depan lobby apartemennya.
"Terima kasih." ujar Eilaria.
"Sama-sama. Sweet dream ya?" Gabriel mencium dahi Eilaria dan segera melangkah untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Iel....!" Eilaria tiba-tiba menahan tangan Gabriel.
"Ya?" Gabriel membalikan tubuhnya tanpa melepaskan tangannya yang dipegang Eil.
"Kamu...., kamu mau mampir untuk minum kopi?" tanya Eilaria dengan wajah yang panas karena sesungguhnya ia malu menawarkan ini pada Gabriel.
"Boleh. Tapi kalau sudah larut, aku boleh kan menginap di sini?"
Pertanyaan Gabriel membuat jantung Eilaria seakan berhenti berdetak. Hati kecilnya berteriak, ingin setuju dengan apa yang Gabriel katakan.
"Apartemenku hanya punya satu kamar."
Gabriel tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. "Aku rasa ranjangnya cukup besar untuk kita berdua."
**********
Nah..... lho....
3 pria Dawson mau ngapain malam ini?
dukung emak terus ya guys
__ADS_1