Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Dengan gerakan tak sabar, Eilaria membuka galeri fotonya. Ia mencari foto Gabriel yang pernah diambil nya secara close up. Wajah Gabriel nampak jelas warna mata hitamnya. Jantung Eilaria berdetak dengan sangat cepat. Ia melihat Gabrian yang sedang cek in. Apakah ia menggunakan softlens?


"Eil, ayo! Sudah ada panggilan masuk." kata Gabrian.


"Tunggu!" Eilaria menahan tangan Gabrian dan menatap mata cowok itu. Matanya berwarna abu-abu. "Apakah kau menggunakan softlens?"


"Tidak. Kenapa?"


Eilaria akan bicara namun panggilan untuk segera masuk ke dalam pesawat terdengar. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Saat pesawat sudah tinggal landas, Eilaria memilih memejamkan matanya. Bukannya ia mengantuk, melainkan ia sedang berpikir. Perbedaan-perbedaan yang terjadi pada Gabriel sebelum pernikahan dan sesudah pernikahan mereka sangat jelas terlihat. Gabriel yang dulunya suka makan daging dan nasi, kini lebih suka makan sayuran. Cara memeluknya juga berbeda, cara menciumnya juga berbeda. Apa yang sesungguhnya terjadi? Eil bahkan merasa kalau Gabriel tak mencintainya seperti pertama mereka pacaran.


Pesawat akhirnya mendarat di bandara Singapura. Saat Eilaria pamit ke toilet, Gabrian menelepon bundanya.


"Aku datang bersama Eil, bun. Aku nggak sanggup lagi harus begini terus. Lagi pula keadaan Iel kan sudah ada perubahan. Eil berhak tahu yang sebenarnya."


Terdengar suara tarikan napas panjang dari seberang. "Anakku, bunda mengerti dengan kesusahan mu. Namun tak dapatkah kau bertahan sebentar saja?"


"Bunda, aku akan jatuh cinta pada Eil jika terus bersamanya."


"Semuanya terserah padamu, nak."


"Terima kasih, bunda." Gabrian menyimpan kembali ponselnya saat melihat Eilaria sudah keluar dari toilet.


"Kita akan kemana?" tanya Eilaria.


"Ke hotel sebentar untuk makan dan mandi, setelah itu kita akan ke rumah sakit."


"Ke rumah sakit?"


"Ya."


Eilaria akan bertanya namun Gabrian sudah melangkah masuk ke dalam mobil yang sepertinya memang sudah dipersiapkan untuk mereka.


Sesampai di hotel, keduanya makan setelah itu membersihkan diri masing-masing.


"Eil, sebelum kita pergi ke rumah sakit, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu."


Eilaria yang sudah siap untuk pergi, menoleh ke arah Gabrian yang sudah duduk di sofa. Eil pun akhirnya duduk berhadapan dengan Gabrian.


"Ada apa, Iel?"

__ADS_1


Gantian menarik napas panjang. "Sebelum segala sesuatu kau ketahui, satu hal yang harus menjadi pegangan mu, Gabriel Dawson sangat mencintaimu. Kau adalah cinta dalam hidupnya. Dia tak pernah mencintai seorang gadis seperti dia mencintaimu. Denganmu, dia merasa yakin untuk menikah. Bahkan ia tak menghiraukan segala rasa sakit untuk bisa hadir di hari pernikahan kalian."


"Iel, kenapa kamu berbicara seolah dirimu adalah orang lain? Ada apa?" Eilaria menjadi bingung.


"Eil, apa kau yakin kalau Gabriel Dawson mencintaimu?"


"Ya. Itu sebelum kita menikah. Namun setelah pernikahan kita, tepatnya 3 hari setelah kamu menghilang, aku merasa kalau cintamu padaku, berkurang. Apalagi setelah muncul perempuan yang bernama Figia." Wajah Eilaria langsung menjadi muram saat menyebut nama Figia.


"Tetaplah yakin kalau Iel memang mencintaimu. Ia tak ingin kamu terluka, sedih apalagi merasa ditinggalkan jika sesuatu yang buruk menimpanya. Dia memintaku untuk menjagamu, sementara dia berjuang antara hidup dan mati."


Eilaria terkesiap. "Kau, bukan Iel?"


Gabrian mengangguk. "Aku Gabrian, saudara kembar Gabriel."


"Tidak....!" Eilaria berdiri dari sofa yang didudukinya. Ia menggelengkan kepalanya, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia berharap kalau ini hanya mimpi. Dia ingin memastikan kalau sebentar lagi ia akan bangun dan tak pernah mendengarkan cerita ini.


Namun, satu persatu kenangan saat ia dan Iel pacaran kembali bermain di memorinya. Bagaimana romantis dan manisnya Iel padanya. Ponselnya akan berbunyi setiap 30 menit sekali karena Iel selalu mengiriminya pesan-pesan mesra. Sangat berbeda ketika mereka sudah menikah. Bahkan ponsel Iel sangat sulit di hubungi. Dan penolakan-penolakan Iel ketika Eil ingin mengajaknya bercinta.


Tubuh Eilaria bergetar hebat. Ia berusaha menyangkal semua kebenaran yang kini terpampang di hadapannya.


"Iel tak pernah bercerita kalau dia memiliki saudara kembar. Dia hanya selalu bilang kalau punya saudara laki-laki yang kuliah dan kerja di London."


"Tidak....!"


"Dia terlalu takut kehilanganmu. Dia takut kau akan bingung saat melihat kesamaan wajah kami. Karena yang kau lihat di bandara London itu bukan Iel tapi aku."


"Tidak.....!" Eilaria menggeleng.


Gabrian pun menceritakan apa yang terjadi di hari pernikahan itu. Ia juga menceritakan kondisi yang dialami oleh Iel sampai akhirnya harus meninggalkan Eil sendiri di vila selama 3 hari.


"Dia benar-benar ingin menikah denganmu sehingga menyembunyikan kondisinya yang sebenarnya. Saat dokter mengatakan kalau kondisi parah, Iel memintaku untuk menjagamu. Ia ketakutan saat mengingat kamu pernah bilang akan mati jika sesuatu terjadi padanya. Aku dimintanya untuk menggantikannya karena ia tak mau kau bersedih. Yang ada dipikirannya hanyalah kebahagiaanmu. Selama ini, Iel dirawat di rumah sakit Singapura. Selama berbulan-bulan ia koma. Ia bahkan beberapa kali hampir dinyatakan meninggal. Namun aku tahu dia berjuang karena ingin bersamamu."


"Jadi, aku menikah dengan Iel, lalu menjalaninya bersama Ian? Betapa kejamnya hatiku dipermainkan? Aku memeluk, mencium, bahkan hampir menyerahkan tubuhku pada pria yang bukan suamiku? Betapa jahatnya yang kalian lakukan untukku!" Teriak Eilaria dengan sangat frustasi.


"Jangan salahkan Iel, akulah yang salah. Akulah yang setuju untuk menjagamu. Aku yang salah, Eil."


Tangis Eilaria semakin dalam. Ia bahkan jatuh terkulai di atas lantai. Semua kekuatan dirinya seakan hilang. "Aku mau mati saja....!"


Gabrian merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Ia tahu kalau pengakuannya akan membuat Eil terpukul. Namun ia tak mau lebih lama lagi berbohong.


Eilaria menangis sangat lama. Seumur hidupnya, ia tak pernah menangis seperti ini. Bukankah ia selalu dikenal sebagai gadis yang selalu tersenyum? Namun kini jangankan tersenyum, berpikir jernih pun bahkan ia tak bisa. Ia seperti kehilangan semua gairah hidupnya.

__ADS_1


Gabrian pun menghapus air matanya. Ingin rasanya ia memeluk dan menenangkan Eilaria. Ia ingin berteriak untuk bertanya, kenapa takdir menuliskan jalan hidup mereka seperti ini.


"Eil, ayo kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan Iel."


Eilaria menoleh ke arah Gabrian. "Aku tak mau pergi! Aku mau pulang ke London sekarang juga. " Eil berdiri lalu mengeluarkan kopernya dari dalam lemari. Lalu ia melangkah hendak meninggalkan kamar.


"Aku mohon....!" Gabrian secara tiba-tiba berlutut di hadapan Eilaria. "Tengoklah saudaraku. Aku juga tak tahu apakah Iel akan sadar ataupun tidak. Dia mencintaimu. Sangat mencintaimu."


Air mata Eilaria kembali jatuh saat kenangan manisnya bersama Iel kembali bermain di memorinya. "Baiklah. Kita ke rumah sakit." Ujarnya kemudian membuat Gabrian menarik napas lega.


***********


Wajah pucat dan nampak kurus, tubuh yang terbujur tenang dengan beberapa alat yang menempel di hidung, dada, tangan dan kakinya. Kemarahan Eil seakan menjadi hilang seketika saat melihat kondisi Iel.


Gabrian pun, yang baru ini melihat Iel setelah 3 bulan lebih ada di Jakarta merasa sangat terpukul melihat kondisi saudara kembarnya.


"Mengapa Iel? Mengapa kau biarkan saudara kembar mu harus menjadi dirimu? Mengapa kau tak ijinkan aku mengetahui kondisimu yang sebenarnya. Mengapa...?" ujar Eilaria sambil menyentuh tangan Gabriel yang terasa dingin dalam genggamannya.


"Mengapa harus memberikan aku kebahagiaan semu kalau pada akhirnya ini sangat menyakitkan bagiku. Bukankah suami istri itu harus bersama dalam suka dan duka?"


Giani dan Jero yang juga ada dalam ruangan itu hanya bisa saling berpelukan sambil menangis. Gabriel memang sudah dipindahkan dari kamar perawatan khusus ke kamar rawat pasien biasa walaupun semua alat yang menunjang dan mengontrol kesehatannya belum bisa dilepas. Beberapa kali Gabriel memberi respon dengan menggerakkan kaki dan tangannya, menurut dokter itu adalah perkembangan yang sangat baik.


"Aku membencimu, Iel. Aku membencimu karena mengambil keputusan egois tanpa mempertimbangkan perasaanku. Aku membencimu....!" Eilaria melepaskan tangannya yang memegang tangan Iel. Ia membalikan badannya dan bermaksud akan pergi. Namun alat pendeteksi jantung Iel berbunyi dengan sangat keras. Tubuh Iel pun kejang-kejang.


"Gabriel....!" teriak Giani membuat Eilaria menoleh dengan kaget.


Dokter dan suster berlari masuk ke dalam ruangan perawatan itu saat Jero berteriak memanggil mereka.


"Tuhan, jangan ambil anakku. Jangan ambil Gabriel ku. Tidak....! Tidak....!" teriak Giani saat melihat bagaimana tubuh Iel yang kejang. Jero langsung membawa istrinya ke luar atas perintah dokter.


Gabrian pun bermaksud akan membawa Eilaria keluar juga dari ruangan itu. Namun Eilaria tak mau bergerak dari tempanya berdiri. Ia merasakan dadanya yang sesak dan jantungnya yang seakan berhenti berdetak. Bagaimana jika Gabriel benar-benar meninggal? Sanggupkah ia menerimanya?


*********


Duh, emak kok buat konflik terlalu berat sih....


Kenapa konfliknya nggak yang ringan2 aja sih?


Duh, ini memang sudah menjadi ciri khas emak kalau nulis novel. Mungkin yang konfliknya ringan-ringan aja hanya cerita : MENJADI ISTRI KETIGA JURAGAN.


Mampir ke Ig emak juga ya ....oliviaeini.....

__ADS_1


__ADS_2