Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Foto yang membuat galau


__ADS_3

Eilaria hanya tertawa mendengar perkataan sepupunya itu. Hubungan mereka memang yang paling dekat. Walaupun Eilaria sudah 3 tahun ini memilih tinggal di Jakarta namun komunikasi diantara mereka sangat lancar. Agak berbeda dengan Andrea. Karena Andrea sifatnya lebih tertutup dan penyendiri.


"Eil, kamu kan pernah cerita jatuh cinta pada pandangan pertama dengan lelaki yang bertabrakan denganmu di depan lift. Kisah kita mirip. Aku juga bertabrakan dengannya di depan lift. Inginnya saat itu aku marah. Namun saat melihat tatapan matanya, marahku jadi hilang."


"Cie....cie...., sang putri akhirnya jatuh cinta. Setampan apa sih pria itu sampai kau langsung jatuh hati padanya?"


"Sebentar ya, aku kirim fotonya. Nanti kita sambung lagi ceritanya. Salam untuk suamimu. Bye...."


Eilaria hanya menggeleng sambil tersenyum. Membayangkan Alana yang cantik itu jatuh cinta. Pasti wajahnya selalu bersemu merah.


Gadis itu pun masuk kembali ke dalam kamar, menutup pintu balkon secara perlahan. Ia ke kamar mandi sebentar untuk buang air kecil. Ketika ia sudah selesai dan keluar dari kamar mandi, ia mendengar ponselnya yang ada di atas meja berbunyi. Ternyata sebuah pesan dari Alana. Ia mengirim pesan bergambar sedang duduk bersebelahan dengan seorang pria tampan. Ponsel yang dipegang Eilaria jatuh dan menimbulkan bunyi di atas meja kaca. Gabriel terbangun dari tidurnya.


"Eil, kaukah itu?" tanya Gabriel lalu perlahan bangun.


"Eh...ya, maaf." Eilaria kembali menatap foto yang dikirimkan Alana padanya. Lalu dengan cepat ia menutup layar ponselnya dan segera naik ke atas ranjang.


Entah mengapa, hati Eilaria bagaikan ditarik keluar dari tempatnya.


"Hey, ada apa?" tanya Gabriel sambil menyentuh wajah istrinya.


"Ti...tidak." Eilaria naik ke atas tempat tidur dan langsung tidur membelakangi Gabriel.


Merasa ada sesuatu yang tak beres dengan istrinya, Gabriel mendekat dan menyentuh bahu Eilaria.


"Ada apa? Kau menerima telepon dari siapa?"


Eilaria berbalik dan menatap Gabriel sambil tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Itu hanya telepon dari sepupuku Alana. Tiba-tiba saja jadi kangen dengan orang rumah."


"Kau mau kita pergi ke London? Kita dapat pergi kapan saja kau mau."


"Eh, aku...aku masih banyak tugas di kampus. Lagi pula kau juga masih banyak pekerjaan. Kita juga harus ada di sini untuk menemani Joselin dan Stevany saat daddy dan mommy pergi bukan madu."


Gabriel membelai wajah Eilaria. Ia kemudian menarik istrinya itu agar tidur dalam dekapannya. "Aku mencintaimu." bisik Gabriel membuat hati Eilaria menjadi semakin galau.


**********


Alana Manola, menatap fotonya bersama Gabrian yang baru saja dikirimnya pada Eilaria. Hatinya bergetar. Ia sungguh tak bisa menyangkali kalau hatinya sudah dicuri oleh Gabrian.


"Melamun apa?"


Alana menoleh dengan kaget dan langsung membalikan ponselnya.


"Opa?"

__ADS_1


Arnold mendekati cucunya dan duduk di samping Alana.


"Kaget aku opa ada di sini. Aku pikir kalau opa ada di Fairy Garden."


Arnold tersenyum."Saudaramu, Andrea meminjam Fairy Garden untuk acara khusus dengan teman-teman nya."


"Kenapa aku nggak tahu ya?"


"Mungkin dia hanya ingin punya waktu khusus dengan teman-teman nya. Kau kan tahu kalau dia sedikit pendiam dan agak tertutup. Oh ya, kau terlihat bahagia. Ada apa?"


Alana menatap opanya. Walaupun usianya sudah lansia namun masih terlihat gagah dan tampan. "Apakah opa percaya dengan cinta pada pandangan pertama?"


Arnold menatap cucunya. "Ya. Itulah yang terjadi saat opa pertama kali ketemu oma mu di toilet pria. Awalnya opa belum menyadarinya namun lama-kelamaan, opa menyadari bahwa opa sudah jatuh cinta pada Oma mu di pertemuan pertama kami."


"Opa, Oma Fairy kan bukan pacar pertama opa. Jadi bagaimana opa yakin untuk menikah dengan Oma?"


Arnold terkekeh. "Opa mengikuti kata hati sendiri. Opa yakin saja kalau Oma memang adalah tulang rusuk opa yang sudah disiapkan oleh Tuhan."


Alana terdiam. Apakah Gabrian dapat menjadi pria pertama dan terakhir dalam hidupku?


"Kau jatuh cinta?" tanya Arnold hati-hati. Ia tak mau para cucunya merasa kalau ia terlalu ikut campur dengan kehidupan mereka.


"Sepertinya, opa. Aku baru sekali bertemu dengannya namun rasanya sangat nyaman saat bersamanya. Dia sangat sopan, penuh wibawa dan mamanya juga orang Indonesia."


"Aku merasa ini seperti takdir yang dituliskan Tuhan untukku. Aku kan sebenarnya ingin punya pacar bukan orang Inggris."


Arnold membelai rambut cucunya. "Jatuh cintalah jika waktunya memang sudah tiba. Hanya pesan opa, jangan terlalu tinggi kau melambungkan harapanmu bersamanya, supaya ketika kau memang harus jatuh karena dia bukan jodohmu, kau tak akan merasa sakit yang berlebihan."


Alana memeluk opanya. "Akan ku ingat nasehatmu, opa."


********


Eilaria menatap foto yang dikirimkan Alana padanya. Ini memang Gabrian. Karena cowok itu sedang berada di London. Ada rasa tak rela saat melihat kebersamaan mereka.


Aku tak boleh seperti ini. Ini salah. Tapi bagaimana cara menghilangkan perasaan ini? Kenapa aku harus cemburu saat Ian atau Iel dekat dengan orang lain? Aku nggak mungkin mencintai mereka berdua sekaligus kan?


Eilaria yang sedang duduk di pondok belakang nampak gelisah sambil matanya sesekali melihat layar ponselnya. Ia tak menyadari kalau Gabriel yang sudah pulang kantor sedang memperhatikannya dari atas balkon kamar mereka. Mengapa Eil kelihatan gelisah? Adakah sesuatu yang membuatnya khawatir? Mengapa ia tak mau membaginya dengan aku?


Gabriel perlahan meninggalkan balkon dan memilih untuk mandi.


Sementara Eilaria yang masih duduk di pondok memilih untuk mengirim pesan pada Alana.


Alana, kau belum mengatakan siapa nama pria ini------- Eilaria

__ADS_1


Wah, kamu penasaran juga ya? Dia tampan kan? Namanya Gabrian Dawson-------Alana


Apakah kalian kencan semalam?-------Eilaria


Bisa dibilang seperti itu. Bagaimana menurutmu? Apakah dia kelihatan cocok denganku?------Eilaria.


Eilaria tak tahu harus menjawab apa. Alana memang nampak serasi saat bersama Gabrian. Namun hatinya tak rela mengakuinya.


Sepertinya cocok.-------Eilaria


Doakan agar dia juga menyukaiku ya.------ Alana.


Ok


Alana meletakan ponselnya di atas meja. Saat ia masih merasakan kegalauan hati, Giani memanggil.


"Eil, bolehkah kau membantu mommy?"


"Ada apa, mom?"'


"Mom, mau belanja bulanan di supermarket. Tapi mommy lagi nggak enak badan untuk menyetrika. Kau mau mengantar mommy?"


"Tentu saja." Eilaria langsung mengangguk lalu l ikut dengan Giani keluar.


Gabriel yang sudah selesai mandi, segera menuju ke pondok untuk mencari Eilaria. Namun ia tak menemukan istrinya itu. Saat ia akan pergi, ia melihat kalau ponsel Eilaria yang tertinggal di atas meja berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Alana. Gabriel membukanya.


Eil, mana foto suamimu?------Alana


Gabriel membuka pesan sebelumnya. Ia melihat foto itu. Waktu pengirimannya adalah tadi malam. Inikah yang membuat Eilaria nampak gelisah tadi malam?


Gabriel meletakkan ponsel itu di atas meja. Ia duduk dengan hati yang kembali merasa sakit.


Aku yang harus aku lakukan, Tuhan? Bukankah ini semua terjadi karena aku yang meminta Gabrian menggantikan aku? Apakah hati Eil kini terbagi?


Gabriel menatap jauh ke depan. Hatinya juga mulai merasa bimbang. Apakah aku harus melepaskan Eil untuk Ian? Rasanya tak sanggup. Aku terlanjur mencintainya. Egois kah aku jika menahan dia selamanya di sisiku?


Gabriel mengusap wajahnya kasar. Ia tak tahu bagaimana harus mengeluarkan isi hatinya. Perlukah aku bicara dengan mommy?


*********


Duh kok tambah rumit aja sih....


Novel ku ini memang agak mirip Song In My Life konfliknya. Jadi yang baca sabar ya....

__ADS_1


Jangan dulu salahkan Eil karena ia mencintai pria berwajah sama tanpa tahu bagaimana memberikan cintanya pada orang yang tepat


__ADS_2