Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Dawson Paling Beruntung


__ADS_3

Flashback malam ulang tahun opa Jero


Andrea sebenarnya malu untuk tidur di kamar Gabrian. Namun karena Giani dan Jero sama sekali tak keberatan bahkan memintanya untuk tetap menginap, akhirnya disinilah dia sekarang.


Sebenarnya Andrea ingin tidur bersama si kembar namun kedua anaknya itu mengatakan ingin tidur bersama opa dan Oma. Jadi Andrea tak punya alasan lagi untuk tidur berdua dengan Gabrian.


Joselin dengan senang hati meminjamkan gaun tidurnya untuk Andrea. Dia dan Stevany sengaja memilih gaun tidur yang seksi dan tak memberikan kimononya.


Di dalam kamar mandi, Andrea merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia seperti mengalami Dejavu saat pertama kali ada di kamar hotel yang ada di Bali.


Saat tangannya menyentuh gagang pintu kamar mandi, Andrea merasa semakin gugup. Ia dan Gabrian pernah merasakan ini sebelumnya. Mampukah sekarang ia menolak? Andrea sadar bagaimana cara Gabrian menatapnya akhir-akhir ini. Andrea bukannya tak mengerti. Ia sangat mengerti tapi dia juga menginginkannya. Namun ada sedikit keraguan dalam hati Andrea. Apakah Gabrian sungguh mencintainya? Ataukah hanya karena ia tak mau berpisah dengan si kembar? Bukankah masih banyak gadis yang lebih pantas untuk Gabrian?


"Andrea.....!" suara ketukan pintu kamar mandi, bersamaan dengan suara Gabrian yang memanggilnya membuat Andrea semakin berdebar. Ia menarik napas panjang, lalu membuka pintu kamar mandi.


Gabrian sudah berdiri di depan pintu yang sungguh membuat Andrea merasa bahwa pria ini sangat tampan dan menggoda. Gabrian sudah membuka kemeja hitam yang tadi dia kenakan. Dada putihnya yang kekar dengan otot-otot yang nampak keras di bagian perutnya sungguh membuat kaki Andrea merasa tak kuat lagi menahan bobot tubuhnya.


"Aku mau mandi. Sekarang musim panas jadi tadi aku cukup berkeringat."


Andrea keluar dari kamar mandi dan mempersilahkan Gabrian masuk.


"Kau sangat seksi." bisik Gabrian sebelum menutup pintu kamar mandi membuat Andrea menjadi semakin panas. Ia segera melangkah menuju ke depan kaca besar yang ada di kamar itu. Melihat penampilannya di depan kaca atas gaun tidur yang dipinjamkan oleh Joselin. Panjangnya di atas lutut. Bertali spageti dengan potongan dada rendah. Sebagian gunung kembarnya menyembul keluar. Belum lagi dengan kainnya yang sangat tipis sehingga Andrea merasa hanya memakai baju dalam saja. Dengan cepat Andrea langsung naik ke atas tempat tidur. Menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal. Ada desiran aneh dikulit tubuh Andrea saat mencium bau minyak wangi Gabrian yang menempel di bantal.


Pintu kamar mandi terbuka. Gabrian keluar hanya menggunakan boxer yang membungkus tubuh kekarnya. Andrea pura-pura memejamkan matanya. Berharap agar Gabrian tak akan menyentuhnya karena ia sudah tidur.


Perlahan ia merasakan tempat tidur bergerak. Gabrian pasti sudah naik ke atas tempat tidur. Ia mendekat dan memeluk tubuh Andrea dari belakang.


Andrea mengigit bibirnya merasakan dinginnya kulit tubuh Gabrian yang bersentuhan dengan kulit punggungnya yang setengah terbuka karena gaun tidur yang dipakainya.


"Apakah kamu sungguh sudah tertidur dan tak menunggu aku untuk memelukmu?" bisik Gabrian sambil memberikan ciuman-ciuman kecil di leher dan bahu Andrea.


Sekuat apapun Andrea menahan dirinya, desahan pertama itu lolos dari bibirnya. Hal itu membuat Gabrian menarik tubuh Andrea agar berhadapan dengannya.


Mata Andrea melihat ke arah lain namun Gabrian memegang bahunya.


"Tatap aku....!" kata Gabrian sedikit memerintah.


"Ian, aku malu....!" Wajah Andrea dirasakannya sangat panas.


"Kenapa harus malu?" Tanya Gabrian sambil menahan senyum. Ia senang melihat ekspresi wajah Andrea antara malu dan menahan hasrat di dalam dirinya.


"Ian, status kita kan sudah bercerai."


"Memangnya kau tak menginginkan aku malam saat ini?"


"Tentu saja aku menginginkanmu. Tapi kita kan sudah bercerai."


"Aku tak pernah bercerai darimu."


Andrea memundurkan tubuhnya. "Maksudmu?"


"Tanda tangan yang ku berikan di atas surat permohonan itu adalah tanda tangan palsu. Kau dapat memeriksanya di dokumen itu. Jadi jika aku mengugatnya maka perceraian kita bisa saja dibatalkan."


"Mengapa?"


"Karena aku tak mau bercerai denganmu."

__ADS_1


"Ian.....!"


Gabrian tersenyum. "Kau masih istriku. Kita halal untuk bercinta malam ini. Mommy dan daddy tahu, makanya kamu diijinkan untuk ada di kamar ku."


"Tapi tetap saja status kita....!"


"Masa bodoh dengan status!" Gabrian memotong ucapan Andrea, menarik tubuh ramping Andrea agar semakin dekat dengannya.


"Aku rindu....., sayang" kata Gabrian tepat di depan bibir Andrea dan tanpa menunggu Andrea mengeluarkan kata-kata penolakan, Gabrian langsung menempatkan dirinya di atas Andrea, mencium bibir Andrea dengan sangat keras dan tak memberikan Andrea kesempatan untuk menolak kecuali pasrah dan menerima sentuhan lelaki tampan itu.


5 Tahun Gabrian memendam semuanya ini. Mana mungkin ia akan membiarkan malam ini berlalu hanya dengan berpelukan saja.


Jadilah malam itu, Andrea dan Gabrian menyatu lagi dalam kenikmatan raga, dan jangan salahkan Ian dan Andrea, ketika pelepasan pertama mereka dapatkan, keduanya masih ingin dan ingin lagi.


************


Di dalam kamar mandi, ada desahan tertahan dari Giani atas apa yang Jero lakukan padanya


Di usianya yang memang sudah tak muda lagi, postur tubuh Jero masih kekar. Tak ada perut buncit seperti kebanyakan pria seusianya. Jero membuktikan ucapannya pada Giani dulu (ayo siapa yang masih ingat episode berapa itu di MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU). Ia tak akan pernah membiarkan perutnya menjadi buncit sekalipun ia sudah tua. Soal wajah, Jero juga menjalani perawatan. Ia selalu mengajak Giani ke dokter kulit untuk merawat kulit istrinya itu. Pada hal itu hanya modus saja. Karena yang sebenarnya, Jero yang mau melakukan perawatan.


Jadi, jangan salah jika teman-teman Joselin dan Stevany masih menganggap bahwa usia Jero masih 40 tahun. Sehingga ia cocok di juluki hot Daddy dari pada hot Grandpa.


Giani sudah memperingati Jero agar jangan membuat tanda merah di lehernya. Namun suaminya itu memang tak mendengar. Ia tahu titik kelemahan istrinya itu ada di leher jadi ke sanalah ia mendaratkan rayuan dan cumbuannya.


"Bee, satu ronde saja ya? Kita sudah hampir satu jam ada di dalam bak mandi ini." Kata Giani saat Jero akhirnya mendapatkan pelepasannya yang pertama dan ini yang ketiga untuk Giani.


"Masa hanya satu. Inikan ulang tahun ku? Nanti Palo merajuk."


Giani akan bicara lagi namun di luar kamar mandi terdengar suara cucunya.


"Opa, Oma, apakah kalian ada di dalam?" tanya Angelia.


"Opa...., Oma...., cepetan kebelet pipis nih....!"


Giani memakai gaun tidurnya kembali dan segera membuka pintu saat Jero sudah melilit tubuhnya dengan handuk.


"Ayo, sayang....!" Giani langsung memegang tangan Angelia dan membantunya duduk di closet.


"Opa, kenapa belum pakai baju? Nanti opa sakit." Kata Angelia saat ia dan Giani keluar kamar mandi dan mendapatkan Jero masih duduk di atas sofa sambil dengan masih menggunakan handuk.


"Opa masih..."


"Ayo, opa. Cepat pakai baju!" Kata Giani sambil melotot ke arah suaminya.


"Iya. Lia mau tidur sambil memeluk opa."


Dengan sangat terpaksa, Jero pun masuk ke dalam kamar mandi lagi, menggunakan piyama tidurnya lalu naik ke atas tempat tidur.


Angelia yang masih menunggu opanya langsung ikut berbaring di lengan opanya. Ia terlihat begitu nyaman dan tentram. Tak lama kemudian ia terlelap lagi.


"Mel.....!" panggil Jero sambil menyentuh pundak istrinya.


Giani membuka matanya. "Ada apa?" tanyanya hampir tak kedengaran.


"Ronde ke dua!" kata Jero setengah berbisik.

__ADS_1


"Besok saja, bee. ini sudah larut. Aku mengantuk."


"Tapi Mel, si Palo belum mau tidur nyenyak nih!" Jero perlahan melepaskan dirinya dari pelukan Angelia namun saat ia baru turun dari tempat tidur, Angelia membuka matanya.


"Opa. Ayo tidur lagi. Biarkan saja si Palo bangun. Dia kan nggak ada di kamar ini."


Giani menahan tawa. Ia menatap suaminya yang terpaksa naik ke atas ranjang, memeluk cucunya dengan penuh kasih.


"Opa, Palo itu siapa?" tanya Angelia.


"Sesuatu yang nggak penting. Lia bobo saja ya?" Giani yang menjawab karena ia takut suaminya akan salah menjawab. Jero pun memejamkan matanya. Dalam hati ia berguman kesal. Kata siapa Palo nggak penting?


***********


"Terima kasih untuk kopinya." Kata Gabriel lalu mengambil tissue untuk membersikan mulutnya.


"Sama-sama."


"Aku pulang sekarang ya?" Gabriel berdiri, ia mengambil kunci mobilnya dari atas meja.


"Kau tak ingin menginap?" tanya Eilaria.


Tangan Gabriel yang akan meraih kunci itu terhenti. Ia menatap Eilaria yang kini berdiri di hadapannya.


"Kalau aku menginap, aku nggak mungkin hanya tidur saja, Eil. Aku pasti akan melakukan hal yang lain.


"Aku siap menemanimu untuk melakukan hal yang lain itu, Iel."


Mata Gabriel membulat tak percaya


Di tatapnya mata Eilaria. Tak ada kebohongan di sana.


"Aku mungkin ingin bercinta denganmu." ujar Gabriel dengan suara yang bergetar sambil menyentuh wajah Eilaria.


"Aku juga ingin melakukan itu denganmu, Iel. Bukankah aku masih istrimu? Kita belum berceraikan?"


Eilaria menahan tangan Eil yang masih ada di pipinya. Ia menuntun tangan Iel untuk turun ke bawa dan berhenti di dadanya.


"Sentuh aku, Iel. Jadikan aku milikmu seutuhnya. Karena hati dan cintaku hanya milikmu seorang. Tak ada lagi keraguan dalam hatiku untuk menjadi istrimu yang sesungguhnya."


Gabriel langsung menyerang Eilaria dengan ciuman panasnya. Eil pun membalas ciuman itu dengan gairah yang sama.


Sampai akhirnya, Eil mengajak Iel menuju ke kamarnya. Baju mereka sudah berserakan kemana-mana. Eil merasa sudah siap untuk menyerahkan kesuciannya pada suaminya. Saat ia menoleh ke bawa dan terkejut melihat ada tanda merah di baju dalamnya.


"Sial...!" guman Eil sambil menjauh dari Iel.


"Kenapa?" tanya Iel melihat Eil turun dari atas tempat tidur.


"Tamu bulanan ku datang. Aku ambil pembalut dulu."


"Ih....!" Gabriel terlihat kesal namun ia akhirnya tertawa. "Pergilah!"


Eilaria berlari ke kamar mandi. Gabriel pun kembali membaringkan tubuhnya sambil memijat pangkal hidungnya. Sabar Iel....


************

__ADS_1


Duh kasian kan Iel....


sabar nanti saatnya tiba, Iel pasti lebih hebat dari palonya papa Jero. 🤣🤣🤣🤭🤭🤭


__ADS_2