Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Berikan Aku Waktu


__ADS_3

Jantung Gabrian bagaikan berhenti berdetak. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Andrea berdiri sambil tersenyum ke arahnya.


"Mommy, katanya nggak bisa menjemput makanya minta uncle menjemput." ujar Angelia yang ada di pelukan Gabrian.


Gabrian yakin. Kalau perempuan yang kini berdiri sambil memeluk Bernetha itu adalah Andrea.


"Mommy merindukan kalian." Ujar Andrea.


"Baru juga tadi pagi berpisah, mommy sudah kangen dengan kita. Memang mommy sayang banget sama kita ya?" kata Bernetha lalu mencium pipi Andrea membuat perempuan itu tersenyum bahagia.


"Kita pergi makan es cream, yuk!" ajak Gabrian.


"Tapi makan es cream nya yang di dekat rumah saja uncle. Supaya ada ayunannya." Ujar Angelia.


"Ok." Jawab Gabrian. Hatinya berbunga. Entah mengapa ia merasa gugup berada dekat dengan Andrea.


Saat mereka sudah duduk di dalam mobil Gabrian, Bernetha langsung meminta Andrea untuk duduk di depan.


"Mommy, duduk sama uncle saja. Kasihan uncle sendiri."


Demi anak-anaknya, Andrea pun duduk di samping Gabrian. Perempuan itu juga terlihat gugup duduk di dekat Gabrian.


Selama perjalanan menuju ke toko es cream, Gabrian dan Andrea tak banyak bicara. Keduanya hanya mendengar celotehan kedua putri mereka dan tingkah lucu mereka saa


t menirukan gaya beberapa teman di kelas mereka yang suka menangis jika ditinggalkan oleh orang tua mereka.


"Berarti Lia dan Etha hebat dong nggak menangis sekalipun nggak ada yang jagain?" Ujar Gabrian.


"Tentu dong, paman. Ngapaian juga harus menangis. Kita kan sudah besar. yang menangis itu cuma ade bayi." Kata Bernetha membuat Gabrian dan Andrea sama-sama saling menatap sambil tersenyum.


Akhirnya mereka sampai di toko es cream. Bernetha dan Angelia memesan rasa strawberry dan langsung duduk di meja khusus anak yang tersedia di sana sedangkan Gabrian dan Andrea duduk di meja khusus orang dewasa.


"Kamu nggak makan es cream?" tanya Gabrian memecahkan kebisuan diantara mereka.


"Aku masih kenyang." Jawab Andrea. Ia menatap sekilas ke arah Gabrian lalu kembali fokus ke putri kembar mereka yang masih asyik makan es cream sambil sesekali bermain mainan yang memang tersedia di setiap meja khusus anak-anak.


"Aku bahagia karena kau datang ke sini." Kata Gabrian diantara detak jantungnya yang begitu kencang berdebar.


"Aku memikirkan Alana. Tidak adil rasanya jika ia harus mengurus si kembar sementara ia sedang dalam penantian kelahiran anak pertamanya bersama Inzagi. Pasti Alana ingin melahirkan di kerajaan seperti yang selama ini kami inginkan. Melahirkan di kerajaan, para calon ibu akan mendapatkan serangkaian upacara dan doa khusus dari para tetua. Waktu kami kecil dan sering mengintip pelaksanaan upacara itu, kami berdua pun sering bilang ingin seperti itu. Jika si kembar bersama dengan Alana terus, pasti ia tak akan bisa melewati upacara 3 bulanan, 6 bulanan dan 9 bulanan."


"Kau sendiri tidak mengalami hal itu."


"Tidak masalah. Karena aku mendapatkan 2 anak sekaligus. Selama hamil si kembar sama sekali tak pernah menyusahkan ku. Hanya saja saat melahirkan mereka aku harus di operasi karena kondisiku sendiri tak cukup kuat untuk melahirkan secara biasa."


Gabrian menatap Andrea dengan penuh kekaguman. "Aku bangga padamu, Andrea. Pasti tidaklah muda melalui semua ini."


"Bibi Grace, khusus datang dari London dan menemaniku melahirkan. Eilaria yang meminta mamanya ke sini, atas permohonan mamaku juga. Bibi Grace bahkan tinggal selama 1 bulan di sini."


"Tuhan memberkati kebaikan mereka."


"Amin."


Keduanya diam lagi. Pandangan mereka hanya fokus pada si kembar yang kini sudah bermain ayunan.

__ADS_1


"Ian, tadi di mobil kau memanggil si kembar dengan sebutan Lia dan Etha. Apakah itu panggilan khusus mu untuk mereka?" Kali Ini Andrea yang memulai percakapan.


"Daddy Jero yang memanggil mereka seperti itu. Dan akhirnya seluruh keluarga memanggil mereka seperti itu."


"Kata Alana, jika si kembar sudah pergi ke rumahmu, maka mereka sering tak mau pulang."


"Ya. Daddy dan bunda selalu memanjakan mereka. Saat pertama aku membawa mereka ke rumah, bunda bahkan menangis sangat lama karena bahagia. Daddy bahkan tak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan si kembar. Syukurlah karena Alana mengijinkan aku untuk bisa ketemu dengan si kembar kapan saja aku mau."


Andrea memberanikan diri menatap Gabrian. Ia terlihat ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Gabrian seolah dapat memahami kegelisahan Andrea.


"Alana, minggu depan dia akan kembali ke kerajaan. Kandungannya akan memasuki usia 3 bulan. Dia akan menjalani upacara kehamilannya yang pertama. Jadi aku akan kembali bersama si kembar. Alana bermaksud supaya si kembar nggak bingung lagi maka mereka harus tahu kalau aku dan Alana kembar sebagaimana kamu dan Iel. Dan Alana ingin si kembar me...memanggilmu dengan sebutan da... daddy dan bukan uncle."


"Tentu saja. Itu yang aku inginkan." Gabrian menyentuh tangan Andrea yang ada di atas meja. "Andrea, mari kita bangun kembali hubungan rumah tangga kita dari awal. Aku sudah mengatakan kalau aku mencintaimu dan menginginkanmu untuk menjadi bagian hidupku selamanya. Aku ingin anak-anak kita hidup dalam keluarga yang utuh."


Andrea menarik tangannya perlahan karena ia melihat Bernetha menatap mereka dengan bingung. "Ian, aku ingin kita menjalaninya secara pelan-pelan. Kita buat si kembar menerimamu dulu sebagai daddy mereka. Barulah kita membicarakan tentang status hubungan kita. Siapa tahu dengan berjalannya waktu kamu...kamu akan ketemu dengan seseorang yang akan...."


"Tidak!" Gabrian kembali meraih tangan Andrea dan menggenggamnya erat. "Aku hanya mau kamu menjadi wanita terakhir dalam hidupku. Aku tak mungkin akan berubah."


Air mata Andrea jatuh tanpa bisa ditahannya. Dicintai itu sangat indah bukan? Apalagi jika kita dicintai oleh orang yang mencintai kita.


***********


Awalnya, si kembar agak bingung saat melihat mama mereka ada dua. Namun setelah Giani menjelaskan bahwa itu sepertinya Angelia dan Bernetha, seperti juga Gabrian dan Gabriel, mereka akhirnya menerima walaupun masih belum mau memanggil Gabrian dengan sebutan daddy. Gabrian cukup mengerti, karena dalam pandangan mereka daddy mereka adalah Inzagi.


Setelah Alana kembali ke kerajaan, Gabrian sebenarnya mengajak Andrea untuk tinggal bersama di rumah mereka. Namun Andrea memilih untuk tetap ada di rumahnya. Sambil menata kembali hubungannya dengan Gabrian sampai ia benar-benar siap menerima Gabrian sebagai bagian dalam hidupnya.


*********


Gabriel mengerutkan dahinya, sambil memandang Gabby yang duduk di depannya. Ia merasa tak punya janji dengan Eilaria.


"Persilahkan dia masuk!"


Tak sampai 2 menit, Eilaria sudah masuk ke dalam ruangan Gabriel. Gadis itu sedikit terkejut melihat Gabby ada di sana. Secara cepat Eilaria segera mengubah wajah terkejutnya dengan sebuah senyuman.


"Selamat siang. Apakah aku menganggu?"


"Tidak. Kami sedang membicarakan beberapa pekerjaan. Mari Eil silahkan duduk." Ajak Gabriel.


Eilaria mengambil tempat duduk di depan Gabriel dan Gabby.


"Mau minum apa?" tanya Gabriel sambil berdiri dan hendak menelepon Gerry.


"Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin bicara dengan Iel." Kata Eilaria.


"Baiklah. Bicara saja." Kata Gabriel. Terlihat begitu biasa ia bicara dan itu sangat menyakitkan hati Eilaria.


"Eh....ini....menyangkut pembicaraan pribadi antara kita berdua." Kata Eilaria sambil menatap Gabriel dan Gabby secara bergantian.


Gabby langsung berdiri. "Iel, nanti kita lanjutkan lagi. Aku ada di ruanganku. Eil, silahkan!" Kata Gabby dengan ramah lalu keluar dari ruangan Gabriel.


Eilaria menunduk. Perubahan sikap Gabriel sungguh membuatnya merasa tak dibutuhkan lagi.

__ADS_1


"Silahkan Eil! Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku...., aku...., aku ke sini untuk menanyakan tentang status hubungan kita."


"Memangnya kau ingin hubungan kita seperti apa?"


"Dulu, kau pernah bilang bahwa kau tak akan menceraikan ku kecuali aku yang memintanya."


"Iya. Aku masih memegang perkataan ku. Walaupun yang kulihat, tanpa kau memintanya, kau sudah menentukan status hubungan kita."


"Apa maksudmu?"


"Kau sudah tidak menggunakan nama Dawson lagi kan? Kau kembali menggunakan nama Thomson. Jadi tinggal secarik kertas yang akan kita tanda tangan bersama sebagai formalitas saja."


"Iel, bukan seperti itu, aku..."


"5 tahun aku menunggu kabar darimu. Kau sendiri yang memutuskan kontak dariku. Aku sebenarnya ingin tahu kabar tentangmu, ingin memberikan ucapan selamat saat kau ulang tahun, ingin memberikan semangat saat kau kuliah, ingin mendoakan mu ketika kau sakit. Namun kau sendiri yang menutup jalan untuk bisa kutemui. Dan sekarang kau masih menanyakan tentang status hubungan kita? Aku lelah Eil. Lelah dengan ketidakpastian ini. Lelah dengan dirimu yang tak juga bisa menentukan dimana hatimu akan berlabuh."


"Iel, apakah kau tak mencintaiku lagi?"


"Apakah sampai sekarang kau tak pernah tahu seberapa besar aku mencintaimu? Apakah lima tahun ini tidak bisa membuktikan padamu tentang semua perasaanku?"


"Iel, aku.."


"Apa? Kamu mau bilang kalau kamu mencintaiku? Cinta itu butuh pengorbanan, Eil. Dan aku sudah cukup berkorban selama ini padamu. Pengorbanan juga ada batasnya. Itu menurut aku."


Eilaria berdiri. Ia mengambil tasnya. "Aku pergi!" Pamitnya.


"Apakah kau akan terus berlari tanpa menyelesaikan masalah diantara kita? Ternyata selama 5 tahun ini, kau belum juga dewasa."


Langkah Eilaria terhenti. Ia menoleh sambil memandang Gabriel dengan wajah kesalnya. "Mau kamu apa sih, Iel?"


Gabriel mendekat. "Perasaanmu, Eil. Perasaan yang tidak dibayangi lagi oleh dua wajah dengan rasa yang sama. Itu yang ingin ku tahu."


Keduanya berdiri saling berhadapan. Jarak mereka begitu dekat. Mata mereka bertemu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Eilaria maju satu langkah, dan entah keberanian dari mana yang dia dapatkan, ia melingkarkan satu tangannya yang tidak memegang tas ke leher Gabriel lalu dengan cepat mencium bibir pria itu.


Mendapatkan serangan seperti itu tentu saja Gabriel kaget. Namun tak sampai beberapa detik, ia sudah kembali pada rasa yang diberikan Eilaria di bibirnya sehingga tangannya langsung melingkar di pundak Eil lalu memperdalam ciuman mereka.


"Iel, aku mau menjemput si kembar untuk....." Gabrian yang masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu langsung terkejut melihat adegan ciuman panas itu. "Maaf, aku..."


"Kami sudah selesai." Kata Eilaria dengan wajah yang bersemu merah. Ia memungut tasnya yang sudah jatuh ke lantai dan segera pergi dari ruangan Gabriel.


"Dasar pengganggu!" kesal Gabriel membuat Gabrian tertawa dan segera keluar dari ruangan Gabriel sebelum mendengar ungkapan kekesalan kembarnya itu.


************


Apa sebab sampai Iel bersikap dan berkata-kata seperti itu kepada Eilaria?"


Ada yang tahu keinginan Iel dengan sikapnya pada Eil?


Ayo mana komentarnya emak-emak.....

__ADS_1


__ADS_2