Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Tinggal Bersama


__ADS_3

Seminggu setelah pernikahan itu, Gabrian dan Andrea kembali ke Jakarta. Alana menangis sedih saat melepas kepergian saudara kembarnya. Namun semua itu harus dilakukan demi masa depan Andrea sebagai putri bangsawan. Dunia memang sudah maju dan berkembang pesat. Namun kerajaan kecil itu tetap menjaga tradisi negara mereka.


Gabriel dan Eilaria sudah lebih dulu pulang. Saat keluarga Thomson ingin menahan mereka lebih lama, Gabriel beralasan kalau pekerjaannya sangat banyak dan Eil juga mengatakan kalau jadwal kuliahnya padat.


"Mommy, ada tamu?" Tanya Eilaria saat selesai mandi dan menemui mertuanya di ruang makan. Meja makan nampak penuh dengan berbagai jenis masakan yang kebanyakan tidak pedas.


"Ian dan Andrea sudah tiba di bandara. Sopir sudah menjemput mereka."


"Oh...." Eilaria hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia pikir kalau Gabrian dan Andrea akan pergi berbulan madu.


Tak lama kemudian, Gabrian dan Andrea datang. Keduanya bergandengan tangan saat memasuki rumah dan membuat Eilaria harus menekan perasaannya sedemikan rupa serta memaksakan sebuah senyum. Bagaimanapun, Andrea masih saudaranya. Walaupun Eilaria masih bingung dengan pernikahan mereka.


"Selamat datang, nak!" Giani memeluk Andrea. Walaupun jauh dilubuk hatinya ia menentang pernikahan ini, namun ia menghargai keputusan Gabrian.


Stevany dan Joselin pun sangat senang melihat kedatangan kakak ipar mereka.


"Aku ingin rumah ini seperti di film-film India. Semua keluarga tinggal bersama. Rumah nggak akan pernah sepi." ujar Joselin diikuti anggukan kepala Stevany.


"Benar. Apalagi daddy dan mommy mau pergi liburan berdua. Pasti nggak akan kesepian karena bisa ditemani dua kakak perempuan yang cantik."


Andrea hanya bisa tersenyum. Ia melihat ada kehangatan ditengah keluarga Dawson. Seperti juga ditengah keluarga Manola.


"Sayang, mau istirahat sekarang?" tanya Gabrian sambil memegang tangan Andrea yang ada di atas meja. Andrea mengangguk. Keduanya langsung pamit meninggalkan ruang makan, menuju ke kamar Gabrian yang bersebelahan dengan kamar Gabriel.


Andrea pun segera mandi dan menggunakan gaun tidurnya yang berwarna merah. Ia sengaja memakai kimononya agar gaun tidurnya yang transparan itu tak nampak. Gabrian pun gantian masuk ke kamar mandi setelah Andrea selesai.


Andrea berdiri di balkon kamar Gabrian, memandang danau yang ada di belakang rumah ini.


Aku ada di Jakarta, satu kota dengan Oliver bahkan sebenarnya sangat dekat dengan Oliver karena Alexa dan Gabrian adalah saudara sepupu. Namun aku tak bisa menghubunginya lagi. Aku akan menjalani hidupku sebagai nyonya Dawson. Istri dari lelaki baik yang telah menyelamatkan hidupku.


Gabrian yang sudah selesai mandi, melihat Andrea yang berdiri di balkon kamar. Ia tersenyum dan ingin mendekati Andrea, Pada saat yang bersamaan, Eilaria pun keluar dan berdiri di balkon kamarnya.


"Sayang, kau di sini?" Gabrian memeluk Andrea dari belakang membuat perempuan itu tersentak kaget, ingin protes dengan tangan Gabrian yang melingkar di perutnya namun dengan cepat ia menyadari kalau ada Eilaria di balkon sebelah.


"Aku sedang menikmati malam pertamaku di Jakarta."


"Bagaimana kesannya?" tanya Gabrian sambil mengecup puncak kepala Andrea.

__ADS_1


"Lumayan."


"Lumayan apanya?"


"Lumayan panas."


Gabrian terkekeh. "Kalau begitu, mari kita mencari udara dingin di kamar."


Andrea membalikan tubuhnya dan menatap Gabrian dengan kening berkerut.


"Apakah aku harus membuka bajumu di sini?" goda Gabrian lalu menarik tali kimono Andrea yang ada di pinggang.


"Ian...." Andrea menahan tangan Gabrian lalu menarik Gabrian masuk ke dalam. Karena sumpah demi apapun, apa yang dilakukan Gabrian padanya membuat Andrea sedikit risih karena tak pernah ia berdiri sedekat dan seintim ini dengan seorang pria. Bahkan dengan Oliver sekalipun.


Eilaria yang melihat semua itu merasakan kalau matanya menjadi panas. Andrea dan Gabrian bersikap seolah-olah tak melihat kalau dirinya ada di sana. Hati perempuan itu menjadi panas. Ia menghapus air matanya yang terlanjur jatuh. Ia segera masuk ke dalam. Matanya langsung menatap Gabriel yang batu saja keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan celana training dan bagian atas yang polos. Gabriel tersenyum ke arah Eilaria dan segera menuju ke walk in closet untuk mengambil sebuah kaos rumahan agar dapat dipakainya. Namun Eilaria tiba-tiba saja menghalangi langkahnya.


"Ada apa?" tanya Gabriel lembut.


"Kakimu sudah sembuh kan?"


"Kenapa semenjak kau datang ke London dan kita akhirnya kembali ke sini, kau tak pernah lagi memeluk dan mencium ku?"


"Eil...., aku...." Gabriel merasa bingung dengan apa yang harus dikatakan olehnya. Ia memang sengaja menjauh dari Eil belakangan ini karena ia tahu kalau Eil sedang bimbang. Dia ingin hati Eil kembali seperti dulu, hanya miliknya seorang.


Eilaria mendekati Gabriel, memangkas jarak diantara mereka lalu tangannya melingkar di leher Gabriel.


"Cium aku, Iel. Jadikan aku ini milikmu yang Seutuhnya. Mari kita memulai malam pertama kita saat ini."


"Eil, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?"


"Iya. " Kata Eilaria lalu ia mencium bibir Gabriel dengan sangat cepat, menyesapnya dengan kuat membuat Gabriel merasakan bara api yang sejak dulu ditahannya kini menyala kembali.


********


Oliver keluar dari kamar anak-anaknya. Pertama ia menidurkan Aurora, kemudian ia berpindah ke kamar putra sulungnya Azieel.


Kini kedua anaknya sudah terlelap dalam tidurnya. Oliver pun segera menuju ke kamarnya bersama Alexa.

__ADS_1


Saat ia membuka pintu, Alexa baru saja keluar dari walk in closet. Oliver menelan salivanya saat melihat tubuh istrinya yang masih ketika pertama kali ia melihatnya di malam pertama mereka. Alexa memang tak berubah walaupun ia sudah melahirkan dua orang anak untuk Oliver.


Alexa yang menyadari arti tatapan suaminya itu segera naik ke atas tempat tidur, menarik selimut dan membungkus tubuhnya sampai batas leher. Bukannya Alexa tak mengerti dengan hasrat Oliver pada nya. Sebagai istrinya, Alexa juga merindukan tidur dalam dekapan suaminya itu selesai mereka bercinta seperti malam-malam sebelumnya. Namun, sejak kejadian di Fairy Garden itu, Alexa selalu merasa ada sesuatu yang menghalangi dirinya sehingga ia tak mau lagi bersentuhan dengan Oliver.


Terkadang, saat Alexa mendengar kalau Oliver terpaksa menuntaskan hasratnya di kamar mandi dengan bermain solo sendiri, ada rasa bersalah dalam diri Alexa. Bagaimana pun, Oliver tak perlu mencari kepuasaan dengan tangannya sendiri. Oliver memiliki istri yang berkewajiban untuk melayani suaminya. Tapi, bayangan wajah Andrea selalu menghantui Alexa. Ternyata memaafkan itu mudah. Namun melupakan itu sangat sulit.


Oliver pun segera ke kamar mandi. Ia menggosok giginya dan membasuh wajahnya dengan air dingin untuk mencoba menghilangkan hasratnya yang begitu ingin menyentuh Alexa.


Setelah selesai, ia segera mengeringkan wajahnya dengan handuk, mematikan lampu kamar dan naik ke atas tempat tidur. Seperti biasa, setiap kali Alexa merasakan kalau Oliver sudah naik ke ranjang, maka ia akan menggeser tubuhnya sangat jauh di pinggir ranjang. Dan semua itu sangat menyakitkan hati Oliver. Kadang ada keinginan dari dalam dirinya untuk menarik tubuh ramping Alexa agar bisa di dekap nya erat. Namun pada kenyataan Oliver hanya bisa berdiam diri. Ia takut membuat Alexa marah. Itulah mengapa, terkadang Alexa memilih tidur di kamar Aurora dan Oliver tidur di kamar Azieel. Kehidupan mereka bagaikan sebuah sandiwara saja. Oliver tak tahu, kapan ini akan berakhir. Kapan Alexa akan menerima kembali dirinya. Sungguh tersiksa, hidup di bawah atap yang sama namun tak bisa menjadi suami istri yang sebenarnya.


**********


Gabriel yang sedang mencium leher Eilaria tiba-tiba menghentikan kegiatannya itu. Ia bahkan langsung menjauhkan dirinya dari Eilaria, laku duduk membelakangi istrinya itu.


"Ada apa?" tanya Eilaria sambil ikut bangun dan duduk di belakang Gabriel.


Dengan cepat Gabriel berdiri dan memakai lagi celana training nya.


"Iel....!" Panggil Eilaria sambil ikut turun dan membungkus tubuhnya yang sudah polos dengan selimut.


Langkah Gabriel terhenti. Ia berbalik dan menatap Eilaria dengan mata yang sangat terluka.


"Jangan lakukan sesuatu pada hal hatimu menolaknya. Hubungan suami istri itu harus datang dari perasaan cinta yang saling memberi dan menerima. Kau memang memberi, Eil. Namun hatimu tak menerima. Pikiranmu tidak tertuju pada apa yang sementara kita lakukan.'


"Tapi Iel..."


"Cukup. Jangan dipaksa lagi. Agar kita tak sama-sama terluka." Kata Gabriel lalu segera meninggalkan kamar, membuat Eilaria tertunduk sedih dan akhirnya tangisnya pecah. Eilaria tahu, ia menjadikan Gabriel pelampiasan karena apa yang dilihatnya tadi pada Ian dan Andrea.


Mungkin sebaiknya aku pergi dari rumah ini.


********


Hai guys...sorry ya emak lama up cerita ini


Soalnya emak butuh konsentrasi penuh saat menulis cerita ini. Beda sama cerita juragan. emak bisa menulis sambil makan siang.


Dukung emak terus ya....

__ADS_1


__ADS_2