
"Kamu sudah sembuh?" tanya gadis itu saat ia memperhatikan wajah Gabrian.
"Sembuh?" Gabrian jadi bingung.
"Kamu kan yang pernah dirawat di ruangan intensif selama berbulan-bulan? Anaknya bibi Giani?"
"Oh....." Gabrian langsung tersenyum. "Itu saudara kembar ku."
Gadis itu mengerutkan dahinya. "Kembar ya? Kok wajahnya mirip banget."
"Katanya kami kembar identik."
"Ya. Aku hampir saja salah orang. Namun aku ingat, yang terbaring di ruang intensif itu lebih pucat dan agak kurus sedikit."
Gabrian mengangguk. "Boleh aku duduk di sini?"
"Tentu saja. Silahkan!"
Gabrian duduk di samping gadis itu. "Aku Gabrian!"
"Aku Gabby!"
"Wah, nama kita hampir mirip ya?"
Gabby mengangguk sambil tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa tahu saudara kembar ku?" Tanya Gabrian penasaran. re
Gabby menutup novel yang dibacanya. "Papaku satu ruangan dengan saudara kembar mu. Ia juga mengalami koma yang cukup lama. Ketika saudara kembar mu telah dipindahkan ke ruangan lain, papaku masih tetap di sana." Gabby terlihat sedih.
"Kamu asalnya dari mana?" tanya Gabrian.
"Jakarta."
Gabrian terkejut.
"Mamaku bule. Dia berasal dari Amerika. Makanya wajahku nggak kayak orang Indonesia asli."
"Aku juga dari Jakarta dan papaku bule. Papaku keturunan Inggris-Spanyol." Gabrian langsung menggunakan bahasa Indonesia saat tahu kalau Gabby juga berasal dari Indonesia.
"Pantas saja kalian ganteng-ganteng. Mama kalian juga sangat cantik. Dia ibu yang luar biasa. Selalu setia menemani anaknya."
"Bunda memang sangat luar biasa. Apakah kau sendiri?"
Gabby mengangguk. "Papa dan mama bercerai 5 tahun yang lalu. Mama kembali lagi ke Amerika. Kakakku sudah menikah. Dia sementara mengurus perusahaan papa di Jakarta. Sesekali memang kakak akan datang. Begitu juga dengan kakak iparku. Namun karena anak mereka masih berusia 1 tahun, makanya mereka nggak bisa lama di sini."
"Aku berdoa semoga papamu cepat sembuh ya?"
"Amin. Terima kasih ya, Ian."
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tahu nama panggilanku?" Gabrian jadi kaget.
"Aku tahu nama kembaran mu adalah Gabriel. Mamamu sering memanggilnya Iel. Jadi kamu yang bernama Gabrian, pastilah nama panggilannya Ian."
Gabrian jadi terkekeh. Ia melihat Gabby juga tersenyum. Penampilan Gabby sangat feminim. Ia menggunakan gaun biru polos tanpa lengan. Rambutnya yang berwarna coklat panjang sebahu nampak cantik dihiasi dengan jepit rambut bermotif bunga mawar. Gabrian jadi ingat Eilaria. Gadis itu juga penampilannya tak terlalu bule. Ia mirip gadis Asia yang...., Gabrian langsung menggelengkan kepalanya. Berhentilah memikirkan dia, Ian. Ingatlah kalau dia adalah istri adikmu.
"Ada apa?" tanya Gabby.
"Tidak." Gabrian buru-buru menggeleng. "Apa saja koleksi novel mu?" Ian mengalihkan topik pembicaraan.
"Tak banyak. Karena aku membaca novel nanti 3 tahun belakangan ini."
Gabrian dan Gabby asyik bercerita tentang beberapa novel. Mereka terlihat larut dalam percakapan itu tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tak suka.
Eilaria, yang keluar ruangan saat Gabriel sudah tertidur, melihat Gabrian yang sedang berbicara dengan seorang gadis cantik. Melihat mereka akrab sambil sesekali tangan gadis itu mengangkat sebuah novel, Eil jadi ingat bagaimana ia dan Ian juga pernah melakukan hal yang sama saat ia berkunjung ke rumah Ian. Dan saat melihat bagaimana Ian dan gadis itu tertawa, Eilaria merasakan ada sesuatu yang menusuk hatinya. Apakah dia cemburu melihat Ian dekat dengan seorang gadis? Tidak! Itu tak mungkin! Eilaria dengan cepat memalingkan wajahnya. Ia tahu perasaan ini muncul hanya karena Ian dan Iel memiliki kesamaan wajah. Dan Eil masih bingung untuk membedakannya. Eil masih merasakan kalau mereka adalah orang yang sama.
Gadis itu masuk kembali ke dalam rumah sakit. Ia tiba-tiba merindukan oma Faith. Rasanya ingin berbagi cerita dengan mereka. Namun, haruskah ia mengatakan tentang keadaan rumah tangganya?
"Eil sayang.....!"
Eilaria menoleh. "Mommy....!"
Giani mendekat. "Kau sudah makan, nak?"
"Sudah, mom."
"Mommy dan daddy baru saja konsultasi dengan dokter. Menurut dokter, Iel dalam kondisi yang baik. Selama 3 hari, Iel akan menjalani terapi pemulihan. Setelah itu kita dapat pulang dan melanjutkan pengobatannya di Jakarta."
Dari belakang Eilaria, masuk Gabrian bersama Gabby.
"Bibi.....!" Gabby mendekat dan langsung mengambil tangan Giani serta menciumnya lembut.
"Bagaimana kabar papamu?" tanya Giani.
"Papa masih sama. Belum ada perubahan." Kata Gabby sedih.
"Teruslah berdoa, ya? Jangan berhenti berharap. Di dalam Tuhan, mujizat selalu ada."
Gabby mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu menatap Eilaria.
"Ini Eilaria. Menantu bibi. Istrinya Gabriel." Giani memperkenalkan. Gabby menjabat tangan Eilaria dengan tatapan tak percaya. "Istri?"
Eilaria terlihat tak suka dengan tatapan Gabby namun Gabby buru-buru bicara," Eh...maksud saya, Iel masih muda. Aku pikir dia belum menikah. Soal nya waktu Iel sakit, aku juga tak melihat ada cincin di jarinya."
"Kau tak ingin bertemu dengan Iel?" tanya Giani mengubah topik pembicaraan.
"Boleh. Jika diijinkan." ujar Gabby sambil melirik sekilas ke arah Eilaria.
"Ayo masuk!" ajak Giani.
__ADS_1
Gabriel baru saja bangun saat mereka masuk ke kamar perawatannya. Ia tersenyum pada mereka semua dan meminta Ian untuk membatunya agar bisa duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Iel, ini Gabby. Papanya juga dirawat bersama-sama denganmu di ICCU. Jika kami ada di sana, Gabby dan mommy sering menyanyi bersama. Suara Gabby sangat merdu." Ujar Giani.
"Lagu you raise me up?" tanya Iel sambil menatap Gabby.
"Ya. Itu lagu favorit papaku. Aku berharap dengan menyanyikannya, papa akan cepat sadar."
"Aku selalu bermimpi mendengar suara yang menyanyikan lagu itu. Aku pikir itu mommy. Namun mommy nggak terlalu suka lagu bahasa Inggris kan? Ternyata itu bukan mimpi. Kamu tahu, setiap kali mendengar lagu itu, aku selalu menyemangati diriku sendiri dan berkata dalam mimpiku itu. Ayo Iel, bukalah matamu. Kamu pasti bisa." Ujar Gabriel.
"Oh ya? Senang mendengarnya kalau ada orang yang merasa terhibur dengan nyanyian ku." Kata Gabby sambil tersenyum membuat Eilaria kembali merasakan gejolak cemburu dalam hatinya.
"Sayang, kenapa hanya diam saja?" Tanya Gabriel sambil menatap Eilaria.
Eilaria mendekat. Ia memegang tangan Iel yang terulur ke arahnya. "Kamu sudah merasa baikan?"
Iel mengangguk. "Sangat baik karena melihatmu."
Gabrian memalingkan wajahnya saat melihat Gabriel mencium tangan Eilaria.
"Aku ke kamar papaku dulu ya?" Gabby pun pamit. Ia sungguh tak bisa melihat kemesraan ini.
"Tetap sabar ya, nak?" ujar Giani sebelum Gabby meninggalkan kamar perawatan. Gabby hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Gadis itu, selama beberapa bulan ini merasakan sesuatu saat ia melihat seorang cowok tampan yang terbaring lemah, bersebelahan dengan papanya. Pertama kali melihat Gabriel, entah mengapa Gabby merasakan getar aneh di hatinya. Makanya, setiap kali melihat ayahnya, Gabby pun selalu menengok Iel. Ia sering memberikan semangat pada Iel yang saat itu masih belum sadarkan diri.
"Good morning, tampan. Apa kabarmu hari ini? Semoga semakin baik, ya?"
Atau....
"Hallo tampan, sudah 2 hari aku tak melihatmu, cepat sembuh ya? Memangnya kamu nggak mau bangun? Aku mau kok jadi pacar kamu."
Gabby selalu tertawa sendiri setiap kali mengucapkan kata-kata kalau ia mau menjadi pacar, Iel. Ternyata, sang pangeran tidur yang selalu dikaguminya telah menikah. Gabby cukup kecewa mendengarnya. Walaupun ada saudara kembarnya yang wajahnya sangat mirip dengan Iel, namun hati Gabby telah terpatri pada pria yang telah menarik perhatiannya sejak pertama kali dilihatnya. Ia jatuh cinta pada pria yang tak punya harapan untuk hidup saat itu. Selama berbulan-bulan ia selalu menatap wajah Gabriel. Ia bahkan sesekali mencium dahi Iel.
Saat masuk ke ruangan papanya, Gabby pun memegang tangan papanya. "Dia ternyata sudah menikah, papa. Istrinya sangat cantik. Aku pikir mereka menikah muda. Sedih banget rasanya. Cintaku ternyata salah alamat. Cepat sadar papa. Aku nggak punya teman untuk curhat. Kakak sibuk dengan perusahaan. Kakak ipar sibuk ngurus baby nya. Mama hanya sesekali menghubungiku. Ia terlalu sibuk dengan keluarga barunya. Aku ingin kamu mengatakan apa yang harus aku katakan." Kata Gabby dengan wajah yang sedih.
***********
Hari ini Gabrian kembali ke hotel untuk membereskan barang-barang nya. Malam ini mereka akan kembali ke Jakarta setelah Iel dinyatakan sembuh oleh dokter. Memang, untuk berjalan, Iel masih memerlukan tongkat penyangga. Demikian juga untuk makan dan ganti pakaian, Iel masih harus dibantu. Namun secara perlahan, tangan dan kaki Iel akan normal seperti semula.
Gabrian meminta kunci cadangan pada resepsionis karena ia tahu kunci yang satu ada ditangan Eilaria. Gerry bahkan datang dari Jakarta untuk menyiapkan segala sesuatunya karena mereka akan pulang dengan pesawat pribadi keluarga Dawson.
Saat Gabrian sudah berhasil masuk ke dalam kamar, ia langsung terkejut melihat ternyata di dalam kamar ada Eilaria. Gadis itu baru saja menurunkan handuk yang melilit tubuhnya. Ia baru selesai mandi dan tak mengenakan apapun dibalik handuk yang baru saja dibukanya.
"Ian?" Eilaria yang melihat kehadiran Gabrian dari balik kaca yang ada di depannya, dengan cepat mengambil kembali handuk yang sudah jatuh ke lantai dan kembali membungkus tubuhnya yang polos itu. Eilaria membalikan badannya. Keduanya saling berpandangan. Ian menjadi sangat gugup. Eilaria pun terlihat gugup. Keduanya sama-sama mengingat bahwa tubuh polos mereka pernah hampir saling menyatu beberapa waktu yang lalu. Keduanya masih terus saling berpandangan. Seolah tak mau kehilangan pandangan itu.
"Eil, kau membuatku gila...!" Ucap Gabrian pelan dengan nada frustasi. Ia hampir kehilangan kontrol dirinya, saat ia melihat pancaran mata Eilaria memiliki hasrat yang sama seperti dirinya.
*********
Duh, kira-kira apa yang akan terjadi di kamar itu ya?
__ADS_1
Mana komentarnya?
Dukung emak terus ya, jangan lupa like dan vote