Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Sebelum Perpisahan


__ADS_3

"Anaknya lahir dalam keadaan prematur. Berat bandan nya hanya 2.2 kg. Dia harus ada di inkubator. kami harus memantau perkembangan bayinya karena bisa jadi ia mengalami berbagai komplikasi karena kondisinya yang belum genap bulan." Kata dokter Laura pada Gabrian, Giani dan Jero yang berdiri di depan pintu ruangan NICU.


"Bagaimana keadaan Andrea, dok?" tanya Gabrian.


"Iya tertidur setelah menjalani operasi. Mungkin beberapa jam lagi baru dia akan bangun. Kondisi nyonya Andrea Dawson dalam keadaan stabil."


Gabrian menarik napas lega. Tak lama kemudian, Andrea dipindahkan ke kamar perawatannya. Gabrian sudah mengirim kabar pada mama Zelina dan memberitahukan tentang keadaan bayi Andrea.


**********


Alexa berdiri di kaca pembatas ruang NICU. Matanya tertuju pada salah satu inkubator. Seorang bayi kecil yang tak berdaya sedang terbaring di dalamnya. Hati Alexa hancur melihatnya. Anak itu adalah darah daging Oliver suaminya. Alexa tak pernah membenci anak itu walaupun ia tahu kehadiran anak itu akan menjadi duri dalam kehidupannya nanti.


Ya Tuhan, apakah dia tak akan diberikan kesempatan untuk hidup? Aku sama sekali tak menginginkan kematiannya. Berikanlah dia kekuatan untuk bertahan. Entah bagaimana dia di kehidupan mendatang nanti, namun aku ingin dia hidup. Batin Alexa sambil menghapus air matanya.


Di belakang Alexa, berdiri Oliver. Lelaki itupun nampak sedih. Mau bagaimanapun kenyataannya. Anak itu adalah anaknya. Benihnya yang tak sengaja telah tumbuh di rahim seorang gadis yang bahkan belum pernah pacaran namun harus melewati proses kehamilan yang tak pernah diharapkannya.


Oliver hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mengampuni kesalahannya dan memberikan anak itu kesempatan untuk hidup.


**********


2 Minggu pun berlalu.


Zelina, menatap putrinya yang sedang duduk di taman belakang rumah keluarga Dawson. Ia mengerti apa yang Andrea alami.


"Anakku....!" panggil Zelina.


Andrea menoleh perlahan. Mata cantiknya sudah bengkak dan agak sembab.


"Mom, kalian akan pulang hari ini?"


Zelina mengangguk. Ia duduk di samping anaknya. "Pesawat kerajaan akan siap jam 7 malam nanti. Kau belum ingin pulang bersama kami?"


Andrea menggeleng. "Biarkan aku sebentar di sini. Nanti aku akan pulang jika masa berkabung ku sudah selesai." .


Zelina langsung memeluk Andrea membuat tangis putrinya itu pecah di dadanya. "Aku bahkan belum sempat memeluknya. Aku belum sempat menciumnya, mengapa ia harus direbut dari tanganku. Apakah ini hukuman Tuhan untukku, mom."


"Jangan katakan seperti itu, nak. Memang usia anakmu hanya sebatas itu. Jangan kau bersedih. Dia sudah menjadi malaikat kecil di sorga. Lepaskan semua kegundahan hatimu. Ikhlaskan kepergiannya, minta Tuhan memulihkan hatimu yang terluka. Hanya Tuhan yang sanggup menguatkan dan membuatmu bisa menerima semua ini." Zelina melepaskan pelukannya.Ia menghapus air mata di wajah anaknya.


"Mommy sangat yakin kau akan bisa menerima semua ini."


Andrea berusaha mengangguk walaupun hatinya sangat perih.


"Terima kasih sudah mendampingi aku selama 2 hari ini, mom."


"Itu sudah tugas mommy, nak. Mommy akan siap kapan saja untuk selalu menemanimu. Seandainya lusa bukanlah perayaan ulang tahun kerajaan, mommy masih ingin di sini menemanimu."


"Sampaikan salam ku untuk opa Arnold dan Oma Faith ya? Juga untuk kedua saudaraku Alana dan Andrew."


"Mereka juga mengirim salam hangat untukmu dan meminta agar kau tetap kuat. Alana ada ujian sehingga tak bisa datang."


Andrea mengangguk. Ia kembali memeluk mamanya. Ada rasa haru sekaligus bangga karena ia memiliki mama yang luar biasa.


********


Selesai mengantar Keegan dan Zelina ke bandara, Gabrian langsung pulang ke rumah. Ia tak ingin membuat Andrea merasa kesepian walaupun ia tahu kalau mamanya akan selalu ada untuk Andrea.


"Bunda, Andrea dimana?" tanya Gabrian saat tak menemukan Andrea di kamar mereka.

__ADS_1


"Tadi selesai makan malam, Andrea pamit mau ke kamar sekalian mau minum obat." Jawab Giani yang sedang menyiapkan kopi untuk suaminya.


"Mungkin di kamar mandi, ya?"


"Ian...!'


Gabrian menoleh. "Ada apa, bunda?"


"Kamu sudah makan?"


"Nanti saja saja, Bun. Aku belum lapar." Kata Gabrian lalu kembali menaiki tangga.


Giani hanya bisa menarik napas panjang. Gabrian terlihat kurus. Sejak Andrea melahirkan, Gabrian tak pernah sekalipun meninggalkan rumah sakit. Ia terus merawat Andrea dan menemaninya. Giani juga melihat kalau Gabrian ikut terpukul ketika 12 hari sejak kelahirannya, anak itu meninggal dunia.


Gabrian yang kembali masuk ke kamarnya, memeriksa kamar mandi. Namun ia tak menemukan Andrea. Ia pun keluar kamar lagi dan langkahnya terhenti saat melewati kamar tamu yang sudah dibuat menjadi kamar bayi mereka. Andrea ada di sana. Sedang duduk di atas karpet sambil memeluk beberapa baju bayi.


"Andrea.....!" panggil Ian sambil mendorong pintu masuk yang terbuka sedikit. Ia ikut duduk di samping Andrea sambil melingkarkan tangga nya di bahu Andrea.


"Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lega. Namun setelah itu kau harus bersyukur karena Angelia Bernetha Dawson, sudah terlepas dari rasa sakitnya. Ia sudah bahagia bersama para malaikat di sorga."


Andrea langsung menangis di pelukan Gabrian. Dia sungguh bersyukur ada lelaki sebaik Gabrian yang mau menikahinya dan memberikan hidupnya untuk melindunginya dan anaknya. Andrea selalu berdoa agar Gabrian diberikan kesehatan dan jodoh terbaik dari Tuhan kelak, ketika mereka akhirnya akan bercerai.


Gabriel menatap Gabrian dan Andrea yang sudah tertidur di lantai sambil berpelukan. Ia sendiri merasa kehilangan bayi kecil itu. Gabriel ingat, bagaimana ia, Stevany, Gabrian dan Andrea mengecat dinding kamar ini dan memasang wallpaper boneka, bagaimana Stevany sangat antusias memilih baju-baju untuk anak itu. Angelia Bernetha adalah nama yang disiapkan oleh Giani dan Jero untuk cucu pertama mereka. Namun semuanya kini tinggal kenangan.


Gabriel sendiri sudah kehilangan kontak dengan Eilaria. Perempuan itu sudah mengganti nomor ponselnya. Gabriel hanya berharap agar Eilaria akan menemukan kebahagiaannya walaupun itu bukan bersamanya.


**********


3 bulan kemudian....


Angin pantai yang bertiup menerbangkan rambut Andrea yang kini sudah dipotong sebahu. Ia berdiri di balkon kamar hotel The Thomson sambil memandang orang-orang yang sedang berjemur di pantai saat sore hari.


Walaupun Giani dan Jero apalagi Stevany nampak sedih karena keputusan Andrea yang ingin pergi, namun Andrea sudah membulatkan hatinya untuk pergi. Gabrian tak harus bertanggungjawab terus pada kehidupannya. Andrea juga sudah punya rencana untuk masa depannya. Ia akan meneruskan kuliahnya dan menjadi putri kerajaan Flowers yang akan memajukan kerajaannya.


"Andrea......!"


Andrea menoleh. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar. Gabrian baru saja kembali. Ia membawa beberapa cemilan. Gabrian sedang ada rapat penting di Bali sehingga mereka akhirnya datang bersama ke Bali tadi pagi.


"Aku sudah mengecek di bagian resepsionis, tak ada lagi kamar yang tersisa. Jadi aku berpikir untuk mencari hotel saja di tempat lain." Kata Gabrian sambil meletakan tas berisi beberapa cemilan di atas meja.


"Kenapa harus cari kamar lain? Kita kan biasa tidur di kamar dan ranjang yang sama waktu di Jakarta." kata Andrea lalu mengambil salah satu cemilan dan mulai memakannya.


"Baiklah." kata Gabrian lalu ikut duduk bersama Andrea dan menikmati cemilan mereka bersama.


"Kapan rapat mu selesai?"


"Rapatnya hanya besok saja. Jadi aku pulangnya lusa pagi."


Andrea menatap Gabrian. "Maukah kau tinggal di sini bersamaku sampai aku pergi ke Amerika?"


"Boleh."


Andrea tersenyum senang.


********


Karena pekerjaan Gabrian sudah selesai maka malam ini keduanya jalan bersama mengelilingi malam di kota Bali. Andrea membeli beberapa buah tangan untuk dibawahnya ke Amerika. Gabrian senang karena Andrea sudah melupakan kesedihannya bahkan berat badannya bertambah.

__ADS_1


Selesai jalan-jalan malam ini, keduanya pun segera masuk ke dalam kamar. Gabrian yang lebih dulu mandi setelah itu Andrea.


Saat Andrea keluar dari kamar mandi. Gabrian sedikit terkejut melihat Gabrian yang menggunakan gaun tidur tipis berwarna hitam, dengan belahan dada yang rendah dan panjangnya selutut. Andrea juga terlihat berbeda malam ini dengan rambut pendeknya.


"Ian, boleh kita bicara?" tanya Andrea sambil duduk di depan Gabrian.


"Ada apa, Andrea?" tanya Gabrian dengan sedikit . Ia adalah lelaki normal. Tentu saja bukanlah hal yang mudah untuk duduk bersama satu kamar dengan wanita secantik Andrea. Apalagi penampilan Andrea malam ini sangat menggoda dan menampilkan bagian-bagian tubuhnya yang selama ini tersembunyi.


"Status kita sampai saat ini masih sah sebagai suami dan istri kan?"


"Iya."


"Jika kau tak keberatan, maka aku akan meminta hak ku sebagai istrimu dan aku akan memberikan kewajiban ku kepadamu sebagai suamiku."


"Apa maksudmu, Andrea?"


"Bolehkah, selama 3 malam terakhirku di Indonesia ini, kita bercinta sebagaimana layaknya buat pasangan suami dan istri?"


Gabrian sangat terkejut. Ia tak menyangka kalau Andrea akan meminta ini dan ia juga tahu Andrea sangat malu untuk meminta ini karena wajah perempuan itu terlihat merah menahan malu."


"Ta...., tapi Andrea, kau tak harus melakukan semua ini. Maksudku, pernikahan kita kan hanya sebatas tanggungjawab untuk anak itu."


"Aku tahu. Tapi aku ingin memiliki kenangan yang tak terlupakan bersamamu, Ian. Aku rasa ini bukan sesuatu yang salah karena kita sah sebagai suami dan istri."


"Tapi...."


"Kau tak mau karena aku bekas lelaki lain?"


"Bukan seperti itu, Andrea." Gabrian cepat menggeleng. Ia tak ingin Andrea tersinggung. Sungguh, sumpah demi apapun Gabrian tak ingin membuat Andrea kecewa.


Andrea berdiri. Ia berjalan menuju ke arah sofa yang diduduki Ian. Gadis itu berusaha menekan sejuta rasa malu yang sementara memenuhi dadanya. Namun ia sudah bertekad untuk melakukan semuanya ini dengan Gabrian.


Perlahan Andrea duduk di pangkuan Gabrian dan melingkarkan tangannya di leher lelaki yang masih menjadi suami nya itu.


"Ijinkan aku merasakan hangatnya dekapan lelaki yang telah menyelamatkan hidupku."


"Kau tak akan menyesal?" tanya Gabrian sambil menatap Andrea dengan sangat lembut.


"Ini akan membuatku bahagia, Ian."


Gabrian menarik napas panjang. Lalu tanggannya memegang tengkuk Andrea. Perlahan, ia menyatukan bibir mereka. Awalnya agak kaku. Namun karena Andrea tak melepaskan ciuman itu, Gabrian pun semakin dalam mencium bibir Andrea yang terasa manis di bibir nya sendiri.


Andrea memejamkan matanya. Merasakan sesuatu yang membakar sekujur tubuhnya. Apalagi saat Gabrian perlahan mengangkat tubuhnya, Andrea langsung melingkarkan kakinya di pinggang Gabrian. Perlahan Gabrian melangkah sambil terus mencium Andrea. Ia membaringkan tubuh Andrea di atas ranjang. Ciuman mereka akhirnya harus dilepas karena mereka membutuhkan oksigen untuk bisa bernapas secara baik lagi.


Gabrian menatap mata biru Andrea. Lalu membelai bibir yang baru saja diciuminya.


"Andrea....!" panggil Gabrian dengan suara parau menahan gejolak gairahnya.


Andrea tersenyum. Tangganya terulur membuka kemeja piyama Gabrian.


Entah mengapa untuk yang pertama kalinya Gabrian merasa kalau Andrea sangat cantik, sangat menarik dan membuat jantungnya berdebar.


********


duh...emak, jangan buat patah hati tim Ian-Eil dong.....


Kira-kira mereka jadi bercinta nggak sih?

__ADS_1


Mana komennya???


jangan lupa like dan vote ya??


__ADS_2