Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Siapa gadis itu?


__ADS_3

Saat Gabrian keluar dari pintu bandara, nampak Figia sudah menjemputnya. Gadis itu tampil manis dengan setelan Jeans dan kemeja putihnya.


"Ian....!" Panggil Figia sambil melambaikan tangannya.


"Makasi ya sudah menjemput." Kata Gabrian sambil memeluk sahabatnya itu.


"Kebetulan aku nggak ada kerjaan hari ini. Ayo...!" Ajak Figia sambil melangkah lebih dulu. Saat keduanya tiba di parkiran, Gabrian terkejut melihat mobilnya.


"Aku mengambilnya dari apartemen mu. Asisten mu yang memberikannya. Aku memanaskan mesinnya dan sudah mengganti olinya."


"Wah, terima kasih sekali ya?"


"Kamu mau mengendarainya?"


"Kamu saja. Aku masih capek."


Figia mengangguk. Keduanya pun masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana kabarnya Iel?" tanya Figia saat mobil sudah meninggalkan bandara.


"Sudah lebih baik. Dia sudah bisa berjalan walaupun masih harus dibantu dengan tongkat."


"Dan istrinya? Si Eilaria bagaimana? Dia sudah tahu kalau kalian saudara kembar kan?"


"Iya. Semuanya sudah diselesaikan. Memang awalnya Eil marah namun akhirnya dia bisa menerimanya."


"Baguslah. Aku harap agar Eil bisa membedakan antara dirimu dan Iel. Sebab kalian memang sangat identik."


"Dia bisa membedakan." kata Gabrian walaupun hatinya sedih saat mengingat Eil. Baru sehari saja berpisah, Gabrian sudah merasa kangen dengan gadis itu.


"Kita makan dulu, yuk! Ada restoran yang baru dibuka." Ajak Figia.


"Boleh. Aku memang sudah lapar." Kata Gabrian sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam waktu London.


Mereka pun akhirnya sampai di restoran yang dimaksud. Gabrian dan Figia langsung diantar ke salah satu meja yang ada di dekat jendela. Pemandangan kota London nampak indah dari sini.

__ADS_1


Setelah memesan makanan, Figia permisi ke toilet. Gabrian pun mengeluarkan ponselnya untuk mengabari bundanya bahwa ia sudah sampai dengan selamat. Gabrian hanya mengirim pesan saja karena ia tahu di Jakarta sekarang sudah jam 3 subuh. Namun saat pesannya terkirim, tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ada panggilan dari mamanya.


"Bunda, masih jam segini sudah bangun?" tanya Gabrian.


"Bunda tahu kalau pesawat mu akan tiba di jam seperti ini. Makanya bunda memasang alarm setengah jam yang lalu. Kamu baik-baik saja kan?"


"Ya, bun. Figia menjemput ku."


"Figia?"


"Bunda, kami berteman. Apa salahnya?"


Terdengar helaan napas Giani. "Ya, sudah. Sekarang bunda mau tidur lagi. Jaga kesehatanmu ya?"


"Bye, bunda." Gabrian meletakan kembali ponselnya di atas meja. Matanya menatap sekeliling restoran yang sangat kental dengan nuansa Asia di campur dengan Eropa. Menu di restoran ini juga menawarkan masakan nasi dalam berbagai jenis gabungan ikan dan sayur.


Mata Gabrian menatap pasangan yang duduk di sudut timur ruangan. Itukan kak Oliver? Ngapain dia ada di sini? Mata Gabrian dengan tajam menatap gadis yang ada di sampingnya. Mereka duduk berdampingan dengan posisi si gadis bersandar manja di bahu Oliver.


Apakah itu pacar kak Oliver? Dia berselingkuh di belakang kan Eca? Tak mungkin perempuan itu adalah saudaranya. Mereka tak nampak seperti saudara. Lebih mirip seorang kekasih.


"Ian, ada apa?" tanya Figia yang sudah kembali dari toilet.


Pesanan makanan mereka datang, seiring Oliver dan gadis itu yang pergi meninggalkan restoran. Hati Gabrian berkecamuk dengan rasa penasaran. Apa mungkin kak Oliver sanggup menghiananti kak Eca?


"Makanannya kurang enak ya?" tanya Figia melihat Gabrian yang kadang termenung.


"Eh, enak kok."


Figia hanya menggeleng saja. Jujur saja, ia sangat senang bertemu dengan Ian saat ini. Figia rindu dengan sahabatnya ini. Namun pikiran Gabrian entah melayang kemana. Apakah Ian merindukan Eil? Bukankah dia dulu pernah mencari informasi tentang keluarga Thomson? Eil kah gadis yang selama ini dinantinya?


Entah mengapa hati Figia sakit saat memikirkan itu. Bagaimana pun ia dan Ian terlanjur membangun hubungan atas dasar persahabatan. Ia memang mendekati Ian pertama-tama atas keinginan pamannya. Namun ia tak ingin mewujudkan keinginan pamannya yang begitu terobsesi dengan dengan Giani Fifera dengan memaksanya untuk menjadi menantu keluarga itu. Figia tahu kalau hati Gabrian sejak awal sudah dimiliki oleh gadis lain.


**********


Eilaria berdiri di balkon kamar. Matanya menatap ke taman belakang. Nampak Gabriel sedang berjalan di atas bebatuan kecil tanpa menggunakan alas kaki. Ada rasa senang melihat semangat Gabriel yang begitu ingin sembuh dan berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi. Sesekali Gabriel memang melepaskan tongkat yang ada di tangannya untuk mengukur kekuatan kakinya berdiri tanpa bantuan tongkat lagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Gerry datang mendekat sambil membawakan beberapa fail di tangannya. Eilaria pun memutuskan untuk mandi dan segera mengganti baju tidurnya dengan baju keluar. Ia ingin ke kampus hari ini.


Setelah selesai bersiap, Eilaria langsung turun ke bawa dan menemukan ibu mertuanya sedang menyiapkan meja makan untuk sarapan. Eilaria pun meletakan tas dukungnya dan segera membantu ibu mertuanya.


"Kamu mau keluar, sayang?" tanya Giani.


"Aku mau ke kampus, mom. Menemui dosenku karena hampir 2 minggu aku tak masuk kuliah."


Giani hanya mengangguk. Setelah meja selesai di atur, Giani meminta pelayan untuk memanggil Gabriel dan Gerry sementara ia sendiri memanggil Jero.


Saat melihat ayah dan ibunya keluar kamar sambil bergandengan, Eilaria merasa takjub dengan pasangan itu. Mereka kelihatan mesra dan selalu saling menatap dengan penuh cinta setiap kali berbicara. Eil pun jadi ingat dengan pasangan Grace dan Caleb, orang tuanya. Mereka juga pasangan yang saling mencintai. Begitu juga dengan opa dan omanya, Ezekiel dan Faith. Tak pernah kehilangan kemesraan sekalipun sudah berusia lansia. Apakah ia bisa seperti mereka? Pernikahannya di mulai dengan sebuah kecelakaan. Apakah ini pertanda bahwa dia dan Gabriel tak berjodoh?


"Sayang.....!" Gabriel muncul dari pintu samping bersama Gerry. Ia langsung mendekati meja makan, mencium puncak kepala Eilaria lalu duduk di samping istrinya itu.


"Jadi ke kampus hari ini?" tanya Gabriel. Semalam memang Eil sudah mengatakan padanya.


"Iya."


"Aku juga mau ke kantor hari ini. Ada rapat penting. Aku nggak mungkin diwakilkan oleh Gerry." Ujar Gabriel sambil menatap Gerry yang duduk di hadapannya.


"Tetap jaga kesehatan, Iel." Kata Jero mengingatkan.


"Iya, dad."


Gabriel menatap Eilaria. "Sayang, selesai rapat aku akan menghubungi pihak trevel untuk mempersiapkan perjalanan bukan madu kita." ujar Gabriel dengan wajah berseri. Eilaria hanya mengangguk walaupun ia semakin gelisah memikirkan perjalanan mereka ini.


Selesai sarapan, Eilaria pergi ke kampus dengan mobilnya sendiri sedangkan Gabriel mandi dan bersiap ke kantor.


*********


Gabrian berpamitan pada mahasiswa nya hari ini. Walaupun sebenarnya ia sangat sedih harus meninggalkan mereka namun ia harus lakukan. Tak ada juga sesuatu yang harus ia cari di sini karena sudah menjadi milik saudaranya.


Selesai dari kampus, Gabrian pun menuju ke perusahaan pamannya, Beryl. Ia juga menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang ada di perusahaan itu. Gabrian pikir selama beberapa hari ia ada di London ini maka semuanya akan beres.


Ia keluar dari perusahaan itu saat waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Gabrian ingin kembali ke apartemennya dan beristirahat. Ia mampir sebentar di sebuah mini market yang ada di dekat apartemennya untuk membeli roti dan susu. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat kembali Oliver yang baru turun dari sebuah mobil bersama gadis yang semalam. Gabrian buru-buru bersembunyi. Hatinya mengatakan kalau ia pernah melihat gadis itu. Tapi di mana? Siapa gadis itu? Kalau benar ia adalah selingkuhan Oliver, haruskah ia mengatakannya pada Alexa?

__ADS_1


*********


Sorry ya part ini agak pendek. Emak nulis sambil makan, sambil menahan kantuk. Maklumlah reaksi dari vaksin yang disuntik justru membuat emak ngantuk seharian ini dan makan terus. Corona oh. Corona, kau membuat badanku subur 😂😂😂


__ADS_2