Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
3 Wanita Hamil


__ADS_3

"Anda hamil, nyonya. Ini sudah memasuki minggu ke-7 dan janinnya dalam keadaan sehat. Aku akan memberikan obat penguat kandungan dan vitamin. Aku harap nyonya akan meminumnya sampai habis. Nanti bulan depan datang lagi untuk pemeriksaan rutin bulanan. Apakah nyonya merasa mual, muntah dan pusing?" Tanya dokter Maria.


"Hanya sesekali, dok. Khususnya saat aku bangun pagi."


"Jika muntahnya keseringan, maka harus diberikan obat anti muntah sehingga tak akan menganggu pencernaan."


"Iya, dok."


"Ada lagi yang akan nyonya katakan?"


"Bolehkah aku mengugurkan kandungan ini?"


Dokter Maria terkejut. "Apakah anda belum menikah?"


Figia mengangguk. "Aku diperkosa."


"Benarkah?"


"Aku tak menginginkan anak ini, dok. Tolong bantu aku. Bagaimana mungkin aku akan menyayangi anak dari laki-laki yang aku benci?"


Dokter Maria tersenyum. "Saya mengerti jika saat ini anda merasa tertekan. Namun anak ini nggak salah. Dia juga tak pernah minta untuk tumbuh di dalam perutmu. Memang hamil tanpa ada lelaki yang mau bertanggungjawab itu sangat menyakitkan."


"Siapa bilang kalau lelaki yang memperkosa mu tak mau bertanggungjawab? Aku mau dok. Dianya saja yang nggak mau." Mark tiba-tiba saja masuk dan mengejutkan dokter Maria dan Figia.


"Anda siapa? Kenapa masuk begitu saja?"


"Saya Mark Alonso. Saya ada lelaki yang memperkosanya. Saya ingin bertanggungjawab. Jadi tak ada istilah akan mengugurkan kandungan." Kata Mark tegas dan segera menempatkan dirinya di belakang tempat duduk Figia.


Tangan Figia terkepal dengan sangat keras. Ia tak menyangka kalau Mark mengikutinya.


"Nyonya Figia, sebaiknya kalian berdua membicarakan masalah ini bersama. Saya tidak bisa melakukan tindakan abortus kecuali ada masalah dengan rahim dan janinnya. Menjadi seorang ibu itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Percayalah." Kata dokter Maria lalu menyodorkan resep obatnya. "Jangan lupa ini ditebus ya?"


Namun sebelum Figia mengambilnya, Mark terlebih dahulu menyambar kertas itu. "Aku pastikan ibu hamil ini akan meminumnya."


Dokter Maria menatap Figia dan Mark secara bergantian. Dia jadi tersenyum melihat sang pria yang nampak begitu bersemangat dan sang wanita yang terlihat cemberut.


"Terima kasih, dok." Kata Figia lalu segera keluar dari ruangan dokter Maria. Mark mengikutinya.


"Figia!"


Langkah Figia terhenti mendengar panggilan itu. Saat ia membalikan badannya, ia terkejut melihat Gabrian, Gabriel, Eilaria dan Andrea yang sedang duduk di depan ruangan dokter Maria.


"Mark?" Eilaria dan Andrea sama-sama memanggil nama cowok tampan itu.


Wajah Figia menjadi pucat. Ia tak menyangka kalau istri si kembar membuat janji juga dengan dokter Maria.


"Apa yang kalian lakukan di sini, dan bagaimana kalian bisa secara bersama keluar dari ruangan dokter ahli kandungan?" tanya Eilaria sambil berdiri.


"Kau mengenal laki-laki ini, sayang?" tanya Gabriel.

__ADS_1


"Iya. Ini saudaraku. Neneknya Mark, adalah adik opa Ezekiel." Ujar Eilaria membuat Gabriel dan Gabrian terkejut.


"Lalu, ada urusan apa kalian ke sini?" tanya Gabrian sambil menunjuk ke arah Figia dan Mark.


"Eh kami....."


"Seperti kalian, kami juga akan memiliki baby." Mark menyela ucapan Figia membuat gadis itu melotot ke arahnya.


"Oh ya?" Eilaria terkejut. "Memangnya kalian pacaran atau sudah menikah?"


"Kami akan menikah." Jawab Mark sambil melirik ke arah Figia yang nampak semakin marah padanya.


"Aku permisi dulu ya?" Pamit Figia dan langsung melangkah pergi.


"Eh, Mark. Tunggu, kok kamu bisa sama Figia sih? Memangnya kalian ketemu di mana?" tanya Eilaria heran. Ia tahu kalau Figia sangat menyukai Gabrian. Ia tahu Figia patah hati saat Gabrian kembali bersama Andrea.


"Kami ketemu di malam sesudah pesta bersatunya kalian kembali di Bali. Dia mabuk dan menggodaku. Aku pikir kalau dia gadis yang biasa melakukan one night stand. Begitulah cara aku menghamilinya. Sekarang aku mau mengejar dia dulu. Bye...."


Gabrian menatap kepergian Mark dengan penuh tanda tanya. Ia dapat melihat tadi pancaran mata Figia yang nampak tak suka saat Mark menyampaikan tentang kehamilannya.


Bagaimana pun Gabrian sudah sangat mengenal Figia. Gadis itu tak pernah pacaran dan sangat menjaga dirinya. Figia justru dikenal sebagai perempuan yang sangat dingin pada para lelaki yang menggodanya ketika ia masih kuliah. Bukannya Gabrian tak tahu tentang perasaan Figia padanya, namun Gabrian juga mempertimbangkan perasaan bunda Giani yang tak menyukai paman Figia.


Memang, beberapa tahun yang lalu, sempat ada keinginan untuk menjalani hubungan dengan Figia, waktu itu Gabrian sedang galau karena sempat ada diantara Eil dan Iel. Namun semenjak ia menikah dengan Andrea, apalagi sejak mereka menjalin hubungan intim, yang ada dipikiran Gabrian hanyalah Andrea. Ia bahkan mampu melupakan Eilaria yang adalah cinta pertama baginya.


"Sayang......!" Andrea menyentuh tangan suaminya dan membuat Gabrian kembali dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Gabrian sambil meremas lembut tangan Andrea.


Gabrian tersenyum. Ia berdiri sambil menggenggam tangan istrinya, keduanya masuk ke dalam, meninggalkan pasangan Eil dan Iel.


"Mark melakukan one night stand bersama Figia dan menyebabkan gadis itu hamil?" tanya Eilaria sambil mengerutkan dahinya. Ia memandang Gabriel. "Sayang, apakah mungkin waktu di Bali itu Figia kecewa berat dengan Ian sehingga ia mabuk dan akhirnya terjadilah hubungan itu?"


"Bisa saja. Figia sudah dekat dengan Ian semenjak kami masih SMA. Dia juga ikut kuliah di London karena Ian. Sebenarnya, Figia gadis baik. Hanya saja, pamannya gila dan sangat terobsesi dengan mommy Giani sampai hari ini. Makanya mommy nggak terlalu menyukai jika Figia akan jadi dengan Ian. Itu kan berarti keluarga kita akan menjadi dekat dan daddy Jero pasti akan selalu cemburu. Kamu kan tahu betapa posesifnya daddy sama mommy."


"Aku suka cara daddy Jero mencintai mommy Giani. Seperti juga cara daddy Caleb mencintai mommy Grace. Jika mereka marahan, masih kayak ABG. Kalau baikan pasti akan pergi berdua, makan malam atau nonton bioskop. Kadang juga liburan berdua selama beberapa hari."


"Kalau begitu, aku akan mencintaimu dengan cara seperti mereka."


Eilaria menatap suaminya. Ia memegang pipi Iel sambil tersenyum. "Caramu mencintaiku sudah cukup membuat aku bahagia. Tak perlu seperti daddy Jero atau daddy Caleb. Cukup seperti Gabriel Dawson."


"Baiklah nyonya Eilaria Dawson!"


Keduanya tertawa bersama. Ingin rasanya Iel mencium istrinya itu. Namun ia harus menahan dirinya karena di ada beberapa pasangan yang sedang duduk tak jauh dari mereka dan sedang menatap mereka sambil tersenyum.


Di dalam ruangan dokter Maria, Andrea baru saja selesai diperiksa. Menurut dokter perkembangan janinnya yang kini memasuki minggu ke-15, sangat baik.


"Jenis kelaminnya belum bisa diketahui ya dok?" tanya Gabrian penasaran.


"Sebenarnya untuk USG biasanya nanti diminggu ke-18. Namun, jika tuan dan nyonya ingin cepat tahu kita dapat melakukan tes chronic villus sampling (CVS). Ini adalah tes genetik yang digunakan untuk mengidentifikasi down syndrom atau gangguan genetik lainnya.

__ADS_1


Selain dapat memberikan informasi gen bayi di dalam kandungan, tes ini juga dapat mengungkapkan secara akurat jenis kelamin bayi."


"Kapan itu bisa dilaksanakan?" tanya Gabrian antusias.


"Besok kita dapat membuat janji di rumah sakit bersalin milikku."


Gabrian menatap Andrea. "Bagaimana, sayang?"


"Aku terserah padamu saja. Asalkan apapun nanti jenis kelamin baby nya, kamu akan tetap menerimanya dengan tulus hati."


Gabrian mengangguk. "Tentu saja."


Dokter Maria tersenyum. "Kalau begitu, aku akan memberikan surat pengantar untuk tes CVS besok pagi jam 10."


Gabrian dan Andrea mengangguk. Setelah itu keduanya keluar dan digantikan oleh Eilaria dan Gabriel. Dokter Maria cukup bingung juga melihat kesamaan wajah Gabrian dan Gabriel. Ia pikir kalau Gabrian memiliki dua istri yang sama-sama hamil.


Kandungan Eilaria yang sudah memasuki minggu ke-7 pun terlihat baik. Dokter memberikan tambahan vitamin dan obat anti muntah karena Eilaria masih sering mengalami muntah yang berlebihan saat pagi dan siang hari.


Akhirnya si kembar Dawson pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia.


*********


Figia berdecak kesal karena Mark berhasil mengikutinya ke apartemennya.


"Jangan masuk!" sentak Figia saat mereka sudah berada di lobby apartemen.


"Aku akan ikut denganmu." kata Mark.


"Aku akan memanggil satpam apartemen ini dan mengusirmu pergi."


"Aku akan mengatakan kalau kamu sudah hamil dan aku adalah ayah dari anakmu."


"Dasar kampungan!"


"Aku nggak pernah tinggal di kampung. Aku selalu tinggal di kota."


"Ih...., menyebalkan!" Figia menghentakkan kakinya kesal dan ia akhirnya menempelkan kartu pemilik berwarna hitam. Pintu lobby terbuka dan Figia masuk diikuti oleh Mark.


Keduanya masuk ke dalam lift bersama dan Figia menakan angka 6. Lift akhirnya bergerak ke atas dan berhenti di lantai 6. Figia melangkahkan kakinya menuju unitnya. Langkahnya terhenti di nomor pintu 6004.


Ia memasukan beberapa kode angka di layar digital dan pintu terbuka.


Figia tak mau ambil pusing dengan keberadaan Mark. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral. Ia pun meneguknya sampai habis.


"Aku mau tidur!" kata Figia lalu menuju ke kamarnya yang ada di lorong sebelah kanan ruang tamu. Ia menutup pintu dengan keras lalu melepaskan tas selempang dan sepatu yang dipakainya. Tanpa mengganti pakainya, Figia naik ke atas tempat tidur dan menangis di sana. Ia ingin membuang semua sesak di hatinya dengan menangis.


***********


Duh, kisah ibu-ibu hamil semuanya berbeda ya guys.....

__ADS_1


Apa ada yang mau kisah ini akan tamat???


__ADS_2