
Eilaria bahagia melihat putranya tertidur setelah mandi dan minum susu. Asi Eil memang tak banyak sehingga ia harus menambahnya dengan susu formula. Hari ini baby Ken sudah genap berusia 1 bulan.
Gabriel sudah berangkat kerja setelah hampir 1 bulan ini stay at home karena menjaga baby Ken. Gabriel sungguh membuat Eilaria bangga karena rela tak tidur karena menjaga anak mereka.
Eilaria keluar dari kamar bayi. Ia memanggil pengasuh bayi untuk menjaga putranya karena ia merasa lapar.
Kamar baby Ken dan baby Fei memang satu. Letaknya diantara kamar Gabrian dan Gabriel.
Andrea sedang sarapan juga saat Eilaria turun.
"Selamat pagi. Baby Fei kemana?" tanya Eil sambil mengambil tempat di depan Andrea.
"Lagi sama bunda. Ken?"
"Sudah tidur." jawab Eilaria.
"Berat badannya sudah bertambah ya?"
"Iya. Minum susu, minum Asi. Kayaknya anakku itu nggak pernah puas minumnya."
"Syukurlah kalau anak-anak kita semuanya sehat."
"Aku hanya kasihan saja sama mommy Giani. Selesai jaga Ken, langsung lihat Fei. Kayaknya nggak ada capeknya sama sekali. Pada hal kita sudah menyewa jasa pengasuh bayi sampai 2 orang."
Andrea mengangguk. Ia setuju dengan perkataan Eil. "Bunda memang nggak ada capeknya. Kita sungguh beruntung memiliki ibu mertua yang sangat menyayangi kita."
Dari jauh, Giani memperhatikan kedua menantunya itu. Ada rasa bahagia dalam hatinya karena Eilaria tak lagi menjadi wanita yang diperlukan oleh kedua anaknya. Mereka yang untuk sementara harus tinggal satu rumah, tak membuat cinta yang pernah tumbuh di hati Gabrian dan Eilaria bersemi kembali. Andrea telah membawa perubahan dalam diri Gabrian. Kini Giani tinggal menunggu kebahagiaan kedua putrinya. Joana yang masih belum menentukan pada siapa hatinya berlabuh dan Stevany yang sedikit membuat Giani gelisah. Karena apa yang dikatakannya beberapa waktu lalu.
"*Mommy, jika aku jatuh cinta pada pria berandalan, seorang penjahat atau mungkin juga mafia, apakah mommy akan setuju?"
Waktu itu Eilaria sangat terkejut mendengarnya. "Tapi nak, apakah kau mau dengan pria seperti itu?"
"Bukankah kita tak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta? "
"Bagaimana jika kau nantinya akan menderita jika memilih jatuh cinta pada pria seperti itu?"
Stevany tersenyum. "Aku tak akan menderita karena cinta. Karena cinta itu indah, sesuatu yang membahagiakan dan manis*."
Hati Giani menjadi gelisah saat mengingat percakapan mereka saat itu. Ia tak tahu apakah Stevany serius dengan perkataannya karena yang ia tahu saat ini Stevany sedang berlatih beberapa jenis ilmu bela diri serta sedang belajar menembak.
"Bibi.....!" Giani menoleh. Ia terkejut. "Alexa? Oliver?" Giani senang melihat Alexa datang bersama suaminya dan ketiga anak mereka.
Alexa langsung memeluk Giani. "Kami datang untuk melihat anak Ian dan Iel. Maaf ya baru datang soalnya kami baru saja pulang liburan keliling Eropa."
"Ya. Bibi dengar dari kak Aldo kalau kalian liburan. Kamu kelihatan lebih gemuk." Kata Giani sambil memegang pipi Alexa.
Alexa melirik Oliver. "Aku hamil anak keempat."
"Oh....selamat sayang. Semoga sehat sampai hari melahirkan ya?" ujar Giani sambil memegang perut Alexa.
Mereka pun diajak masuk ke dalam. Andrea dan Eilaria senang mendapatkan kunjungan sekaligus hadiah bagi anak-anak mereka. Andrea dan Oliver saling menatap. Tak ada lagi yang membekas dari sepenggal kisah yang pernah mampir dalam hidup masa lalu mereka. Semuanya sudah terkubur dalam kenangan yang tak perlu diingat. Andrea justru sangat bersyukur karena pertemuannya dengan Oliver justru membawanya untuk bertemu dengan Gabrian dan memiliki si kembar dan juga baby Fei.
Sedangkan bagi Oliver, kisahnya bersama Andrea justru membuatnya sadar bahwa kejujuran itu penting dari pada harus berbohong karena takut kehilangan.
Dan untuk Alexa, apa yang pernah dilakukan oleh Oliver dimasa lalu mereka justru membuat ia sadar bahwa cinta itu terkadang butuh proses pengujian karena tak ada manusia yang sempurna.
*********
Mata Gabby terbelalak menatap tespack yang ada di tangannya. Ada dua garis di sana. Ia keluar dari kamar mandi dan langsung memeluk Gerry yang sementara menyisir rambutnya dengan pakaian yang sudah rapih untuk ke kantor.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Gerry sambil membalikan badannya.
"Aku hamil."
"Apa?"
Gabby mengangkat tespack ditangannya. Gerry terperangah. Matanya langsung berkaca-kaca. Akhirnya, setelah 8 bulan menanti, Gabby hamil juga.
"Sayang, ini berita yang paling membahagiakan. Aku mencintaimu." Gerry menangkup pipi istrinya dan mencium wajah Gabby sebanyak yang ia mau.
Keduanya menangis bersama. Tentu saja tangisan kebahagiaan.
"Tumbuh dengan sehat di dalam rahim ibu ya, nak. Ayah tak sabar menunggu kelahiran mu." Gerry berlutut di depan Gabby. Membelai perut istrinya dengan tangan yang sangat bergetar. Ia merasa hidupnya sangat sempurna karena kedatangan calon anak mereka.
**********
Tangisan seorang bayi terdengar. Mark yang berdiri di depan pintu ruang melahirkan memegang dadanya. Ia menatap mamanya, Serefina yang setia menemaninya.
"Anakku, mom. Anakku."
Serafina tersenyum haru. Hari ini ia resmi menjadi nenek.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan bersalin terbuka. Salah satu suster keluar sambil membawa seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan montok.
Air mata Mark tak bisa ditahannya lagi saat ia menggendong anaknya untuk yang pertama kali. Ternyata menjadi seorang ayah itu sangat menyenangkan.
"Mom, ini cucumu."
Serafina mendekat. Menatap cucunya yang nampak terlelap. "Dia sangat mirip denganmu Waktu kamu lahir, nak."
"Benarkah?"
"Mommy ingin menamainya siapa?"
"Joe Alonson. Seperti nama kakek buyutnya. Kamu setuju?"
"Joe Calvin Alonson. Gabungan dari nama kedua kakek buyutnya. Semoga mereka tenang di atas sana." Di pandangannya wajah putranya sekali lagi. "Tuhan memberkatimu Joe Calvin Alonson. Selamat datang ke dunia ini, nak. Kau akan dipenuhi oleh cinta kasih dari Daddy, mommy, Opa dan Oma."
Mark menyerahkan kembali bayinya ke tangan perawat itu. Ia masuk ke dalam ruang bersalin. Figia sudah selesai dibersihkan.
Figia tersenyum saat melihat Mark. Semenjak mereka menikah, hubungan keduanya menjadi semakin dekat.
"Kau sudah melihat bayinya?"
Mark mengangguk. "Kata mommy wajahnya mirip denganku saat aku lahir namun dia memiliki mata indah milikmu." Mark meraih tangan Figia. Perempuan itu tersipu mendengar perkataan Mark. "Aku tak akan pernah mengijinkan kau pergi dalam hidupku. Aku ingin selamanya ada bersamamu. Membesarkan anak-anak kita. Karena aku telah jatuh cinta padamu."
"Mark?" Figia menatap Mark tak percaya. selama ini ia begitu ingin mengetahui isi hati Mark karena sesungguhnya Figia juga sudah jatuh cinta pada suaminya itu.
"Ya. Sebenarnya sejak pertama aku menyentuhmu, aku sudah mencintaimu. Hanya saja aku terlambat menyadarinya. Maukah kau menemaniku sampai kita tua nanti? Melihat anak-anak dan cucu-cucu kita di hari tua?"
Air mata Figia menetes. "Aku mau, Mark. Suami berondongku."
Keduanya saling berpelukan. Tak ada yang lebih indah selain menikmati kebahagiaan bersama dalam cinta.
*********
Malam ini, keluarga Dawson berkumpul bersama. Lengkap dengan Stevany dan Joselin. Baby Ken dan baby Fei genap berusia satu tahun.
Tadi sore mereka sudah mengundang anak-anak yatim dan para tetangga untuk datang. Malam ini adalah acara khusus keluarga Dawson.
__ADS_1
"Iel, mana Eil?" tanya Giani saat melihat kalau istrinya itu belum ada di ruang makan.
"Mungkin sedang mengganti popoknya Ken."
"Tapi itu Ken sedang bersama Joselin."
Gabriel menatap adiknya yang sedang memeluk putranya. Semua memang sudah berkumpul di meja makan.
"Aku susul ke kamar." Gabriel berdiri namun Eilaria sudah berdiri di depan pintu. "Hallo semua, maaf terlambat." Eilaria melangkah masuk sambil tersenyum bahagia. Gabriel merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya itu.
"Sayang, ada apa?" bisik Gabriel penasaran.
Eilaria mengambil sendok dan memukul gelas minumnya. "Mohon perhatian....!"
Semua menatap Eilaria.
Tangan Eilaria mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Ia memandang semua yang duduk di sana. Terakhir, ia menatap suaminya. "Aku hamil lagi." katanya sambil mengangkat tespack itu.
Semua langsung tersenyum senang. Apalagi Gabriel. "Benarkah sayang?"
"Ya. Aku melakukan tes tadi pagi."
Gabriel langsung memeluk Eil dengan hati yang meluap dengan kebahagiaan. Sungguh ini hadiah terindah di hari ulang tahun Fei dan Ken.
*********
Si kembar Dawson semakin melebarkan sayap perusahaan mereka masing-masing dan semakin maju. Gabriel dan Gabrian kadang bertukar peran jika mereka ingin ganti suasana
Namun tidak bisa jika dihadapan istri mereka masing-masing karena Andrea dan Eilaria akan tahu membedakan mana Ian dan mana Iel.
Hari ini, selesai rapat, Gabriel bergegas ke rumah sakit. Mommy Giani mengabarkan kalau Eilaria sudah dibawa ke rumah sakit karena perutnya sudah mulai sakit.
Saat ia tiba di rumah sakit, Gabriel langsung masuk ke ruang persalinan dan memberikan dukungan penuh pada istrinya.
"Sayang, kau harus kuat."
Eilaria mengangguk. Ia pun menjalani proses melahirkan secara normal. Anak keduanya lahir dalam keadaan selamat. Jenis kelaminnya perempuan dan Gabriel terlihat sangat bahagia.
"Sayang, kau telah memberikan aku banyak kebahagiaan dalam hidup ini. Aku semakin mencintaimu." Ujar Gabriel sambil terus mencium wajah Eilaria yang walaupun nampak lelah namun terlihat bahagia.
"Aku pun bahagia, Iel. Dulu, aku begitu bingung dengan dua wajah yang membuatku jatuh cinta. Namun kali ini, aku tak pernah bingung lagi. Cintamu, kasih sayangmu dan ketulusan mu membuatku bisa menemukan dimana cintaku harus berlabuh. Iel, aku tak menyesal saat dulu kau mengaku sebagai pemilik novel itu. Karena dengan cara seperti ini, Tuhan akhirnya menunjukan padaku bahwa Ian memang tak pernah tercipta untukku. Hanya kau satu-satunya yang diciptakan Tuhan untukku."
Gabrian dan Andrea yang baru tiba, menghentikan langkah mereka di depan pintu. Mereka akhirnya memilih keluar karena tak ingin mengganggu momen manis Iel dan Eil yang saling mengungkapkan perasaan. Ian meraih pinggang Andrea dan memeluknya dengan posesif. Ia bangga kini berjalan bersama istrinya.
Cinta terkadang aneh, karena sering berlabuh di tempat yang tak pernah kita duga. Namun cinta itu juga indah, jika kita memaknai nya dengan hati yang tulus. Karena dalam cinta ada saatnya kita memberi dan akan ada saatnya kita menerima.
************
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini
T. A. M. A. T
Terima kasih untuk semua like, komen, vote dan hadiah yang telah aku terima.
Selamat jumpa di novel berikut.
Jangan dulu di unfaforit ya, siapa tahu ada bonus capter dan info novel terbaru.
Bye......
__ADS_1