Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Menemani Gabby


__ADS_3

Satu persatu, orang yang menghadiri pemakaman papanya Gabby sudah meninggalkan area pemakaman. Kakak Gabby sendiri dan istrinya pun sudah pergi 5 menit yang lalu karena anak mereka masih dirawat di rumah sakit. Tinggal Gabby sendiri, bersama dengan Gabrian yang berdiri tak jauh darinya.


Matahari sudah hampir tenggelam. Hari hampir beranjak gelap. Namun Gabby masih berjongkok di samping pusara papanya. Sesekali air mata gadis itu jatuh membasahi pipinya.


"Gabby, apakah kamu bekum ingin pulang?" tanya Gabrian.


Gabby mendongak. Menatap pria tampan itu. "Kamu masih di sini?"


"Aku tak bisa meninggalkanmu di saat semua orang sudah pulang. Nanti kamu naik apa ke rumahmu? Kamu kan tadi datang naik ambulance."


Gabby menghapus air matanya. Ia berdiri lalu mencium nisan papa nya.


"Papaku paling nggak suka tidur dalam keadaan gelap. Dan kini dia terbaring di sini. Gelap dan sendiri. Aku mana tega meninggalkan dia."


"Bukankah orang-orang yang mati dalam Tuhan sudah bersama dengan Tuhan saat ini? Kamu sendiri bilang kalau papamu sangat rajin beribadah. Yakinlah kalau iman nya sudah membawa selamat padanya. Di sini hanya tinggal jasadnya yang sebentar lagi akan hancur."


Gabby menarik napas panjang. Ia menatap Gabrian sekali lagi. Lalu kepalanya mengangguk.


"Ayo kita pulang!" Ajak Gabby.


Gabrian pun melangkah di samping gadis itu. Keduanya menuju ke tempat parkir mobil yang letaknya tak jauh dari makam papanya Gabby.


Gabrian membukakan pintu mobil bagi gadis itu. Lalu ia sendiri duduk di balik kemudi.


"Kamu mau langsung pulang ke rumah?" tanya Gabrian.


"Di rumah sepi. Aku nggak tahu harus kemana, Ian."


"Mau ke rumahku?"


Gabby menoleh dengan kaget. "Memangnya boleh?"


"Boleh. Bundaku tadi hadir juga di ibadah pemakamannya namun sudah tak sempat ke kubur karena mau mengambil obatnya Iel."


"Bagaimana keadaannya, Iel?"


"Sudah semakin baik."


Gabrian pun menelepon bundanya, memberitahu tentang kedatangan Gabby. Giani sangat senang mendengar kalau Gabby mau datang ke rumah mereka.


Saat keduanya tiba, Giani sudah selesai menyiapkan makan malam. Gabby diajak untuk makan malam bersama.


Eilaria yang datang bersama Gabriel ke ruang makan, terkejut melihat kalau ada Gabby di sana. Entah mengapa ada sesuatu yang menusuk hatinya saat melihat Gabby dan Gabrian yang duduk berdekatan.


Gabby menatap Gabriel. Ia senang melihat pria itu sudah terlihat semakin segar. Rambutnya juga sudah dipotong. Gabriel kembali menjadi sangat mirip dengan Gabrian. Namun Gabby yakin ia akan bisa membedakan mereka. Sekalipun wajah Gabriel dan Gabrian nyaris tanpa perbedaan, namun pancaran mata keduanya berbeda.


"Makanlah, nak Gabby. Kamu harus kuat menerima kenyataan ini ya? Papa mu sudah bahagia di atas sana." Kata Jero saat mereka sementara makan dan Gabby terlihat kurang bersemangat.


"Baik, paman." Gabby mencoba menikmati makan malam ini. Hatinya haru. Sudah sangat lama mereka tak pernah menikmati makan malam penuh suasana kekeluargaan seperti ini. Mamanya yang dengan budaya barat, terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karirnya. Sampai akhirnya, ia berselingkuh dan meninggalkan papanya.

__ADS_1


Gabby melihat bagaimana mata Iel berbinar dengan rasa cinta setiap kali ia melihat Eilaria yang duduk di sampingnya. Hati Gabby pun tertusuk. Namun gadis itu menguatkan dirinya sendiri. Tidak boleh seperti ini Gabby! Bagaimanapun Iel sudah menikah.


Selesai makan, Gabrian mengajak Gabby untuk duduk di pondok belakang sambil menikmati kopi dan kue yang Giani siapkan.


"Kopi buatan bunda mu sangat enak." ujar Gabby.


"Itu memang keahlian, bundaku."


"Tempat ini juga sangat menyenangkan. Rumah ini sangat strategis letaknya."


"Opa ku yang membuatnya. Di berikan pada daddy dan bunda sebagai hadiah untuk pernikahan mereka."


Gabby hanya mengangguk. Sesekali ia memejamkan matanya, menikmati tiupan angin danau yang dingin. Kedua tangannya ia silangkan di dada sambil mengusap lengan nya sendiri.


"Kau kedinginan?" tanya Gabrian. Gabby memang menggunakan gaun hitam selutut tanpa lengan dan kainnya agak tipis.


"Ya. Tapi aku suka udaranya."


"Sebentar.....!" Gabrian masuk ke dalam rumah. Ia segera menuju kamarnya di lantai dua dan mengambil salah satu jaket jeansnya. Ia pun kembali dan memakaikan jaket itu di pundak Gabby membuat gadis itu menjadi haru dengan perhatian Gabrian.


"Terima kasih ya." ujar Gabby.


"Sama-sama."


Gabby menyandarkan punggungnya di kursi lipat yang mirip dengan kursi yang ada di tepi kolam atau pantai. Ia duduk sambil berselojor kaki. Di sebelahnya ada Gabrian yang juga duduk di posisi yang sama.


"Ah, aku jadi mengantuk. Ian, ijinkan aku memejamkan mataku selama 30 menit saja. Udara di sini membuatku merasa ingin tidur."


"Boleh aku bersandar di bahu mu?"


Gabrian mengangguk. Gabby pun menyandarkan kepalanya di pundak Gabriel lalu ia perlahan memejamkan matanya. Ia heran mengapa rasa kantuk begitu cepat menyerangnya pada hal ia baru saja meminum kopi.


Tanpa mereka berdua sadari, di balkon kamar lantai dua, ada Eilaria yang menyaksikan semua itu.


Hati Eilaria sudah merasa sakit. Ia dengan cepat masuk ke dalam kamar. Pondok itu, pernah juga memberikan kenangan manis bagi dirinya dan Ian. Eilaria bahkan pernah tertidur di sana dalam posisi yang sama.


Gadis itu duduk dengan kesal di tepi tempat tidur. Ia tak menyadari kalau Gabriel yang sudah keluar dari kamar mandi, sedang duduk di atas sofa dan sedang memperhatikannya.


"Ada apa sayang?"


Eilaria menoleh dengan terkejut. "Eh...tidak! Aku mau gosok gigi dulu." Lalu Eilaria masuk ke dalam kamar mandi.


Gabriel merasa ada yang aneh. Ia mengambil tongkatnya dan berjalan perlahan menuju ke balkon. Saat ia melihat ke bawah, ia mendapati Gabrian dan Gabby yang sedang duduk bersama sementara kepala Gabby ada di pundak Gabrian.


Inikah yang dilihat oleh Eil sehingga ia kelihatan kesal? Eil cemburu melihat kedekatan Ian dan Gabby? Apakah aku harus menanyakannya? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Gabriel masuk lagi ke dalam kamar. Eil masih ada di dalam kamar mandi. Ia pun menutup pintu balkon dan menuju ke walk in closet. Gabriel mengganti bajunya dengan celana kain tidur dan kaos oblong berwarna putih. Tak lama kemudian Eilaria pun keluar dari kamar mandi. Ia berjalan ke arah walk in closet, membuka pintunya dan menutupnya kembali.


Gabriel tahu kalau Eil pasti sedang berganti pakaian. Hatinya sedih karena Eil tak pernah mau berganti pakaian di depannya. Bukankah mereka sekarang adalah pasangan suami dan istri? Apakah mungkin karena mereka belum pernah berhubungan intim layaknya pasangan yang sah?

__ADS_1


Saat Eilaria keluar dari dalam walk in closet, ia sudah mengenakan baju tidurnya, dilapisi dengan kimono berwarna merah.


"Kau sudah meminum obatnya?" tanya Eilaria.


"Belum."


"Aku siapkan." Eilaria menyiapkan obat yang akan diminum oleh Iel. Setelah Iel meminum obatnya, Eil bertanya lagi kalau masih ada yang dibutuhkan oleh suaminya itu. Namun Iel mengatakan kalau semuanya sudah cukup.


"Ayo kita berdoa sebelum tidur!" Ajak Iel. Eilaria hanya mengangguk. Ia pun duduk di samping Iel dan berdoa bersama suaminya itu.


Selesai berdoa, Eilaria langsung mengambil remote dan lampu pun padam.Ia membuka kimono baju tidurnya, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Iel. Tangan suaminya itu dengan cepat melingkar di pinggangnya.


"Sayang, semoga kakiku akan cepat sembuh. Aku sudah tak sabar ingin pergi bulan madu. Bagaimana denganmu?" tanya Gabriel sambil mencium punggung Eil.


"Aku juga." Jawab Eil walaupun sesungguhnya hatinya ragu.


Gabriel semakin mengeratkan pelukannya. Ia memejamkan matanya. Eil pun begitu. Ia mencoba memejamkan matanya.


**********


Walaupun Giani sudah menahan Gabby untuk tidur di rumah mereka, namun Gabby akhirnya memilih untuk pulang. Gabrian mengantarkan gadis itu saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.


"Aku besok akan ke London. Ada beberapa urusan yang harus ku selesaikan di sana. Jika kamu merasa kesepian, datanglah ke rumahku. Kamu kan sudah akrab dengan bunda." Kata Gabrian saat mengantar Gabby sampai di depan pintu.


Gabby mengangguk. "Terima kasih untuk hari ini ya?"


Gabrian hanya mengangguk.


Gabby pun membuka pintu rumahnya dan segera masuk ke dalam.


Gabrian kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan halaman rumah Gabby yang nampak sepi.


Ia tiba di rumah saat waktu sudah menunjukan hampir jam 2 pagi. Gabrian sengaja memarkir mobilnya di garasi paling ujung agar tak menganggu orang rumah yang ia tahu sudah tidur semua. Dengan wajah yang terlihat lelah dan agak mengantuk, Ian membuka pintu depan. Ia merasa memerlukan air dingin untuk menghilangkan rasa panas di tenggorokan nya. Makanya, ia melangkah menuju ke dapur. Namun, saat ia masuk ke dapur, ia hampir saja bertabrakan dengan Eilaria yang baru saja akan keluar dari dapur. Gadis itu juga merasa haus, dan karena air minum yang biasa tersedia di kamar sudah habis, ia pun turun ke bawah untuk mengambil air.


Keduanya berpapasan tepat di pintu penghubung antara ruang makan dan dapur. Walaupun banyak lampu sudah dimatikan namun lewat beberapa cahaya yang masuk, wajah keduanya masih bisa saling terlihat.


"Eh......!" Eilaria tak tahu harus bicara apa. Ia bahkan hampir menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Dan ia menyadari bahwa gaun tidur yang dipakainya cukup pendek, terbuka dan transparan. Ia sama sekali tak terpikir untuk memakai kimono nya tadi karena ia tahu bahwa semua penghuni rumah sudah tertidur.


Tentu saja mata Gabrian dapat melihat dengan jelas, pemandangan indah di depannya. Ia berusaha mengalihkan pandangannya namun jarak diantara mereka terlalu dekat. Ingin rasanya Ian menarik tubuh Eilaria dan memeluknya erat.


**********


Pertemuan yang tidak direncanakan....


Pembaca di sini terbagi dua kubu :


Ian dan Eil VS Iel dan Eil.....


Masing2 punya argumennya sendiri. Eil yang bingung. Ini antara nyaman dan Cinta..., Eil cinta yang satu namun merasa nyaman dengan yang lain.

__ADS_1


Nah, aku memberikan tugas bagi semua pembaca, jika ada waktu dengarkan lagu Ambon yang berjudul : ANTARA NYAMAN DAN CINTA.


Pasti sebagian teka teki kisah ini akan segera kalian tahu 🤔🤔🤔


__ADS_2