
Karena lelah menangis, Figia akhirnya tertidur. Ia tidur sangat lama karena selama beberapa hari ini ia tak bisa tidur nyenyak karena mengalami mual, muntah dan pusing. Hal inilah yang membuatnya yakin kalau ia hamil. Dari pada menggunakan tespack, Figia langsung memeriksakan diri ke dokter.
2 jam lebih Figia terlelap dalam tidurnya. Ia bangun saat jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Perutnya sudah keroncongan. Ia merasa sangat lapar.
Figia bangun dan segera ke kamar mandi. Ia ingin menyegarkan tubuhnya sebentar dengan mandi barulah memesan makanan.
Selesai mandi dan menggunakan daster pink bercorak hello Kitty, Figia mengikat rambutnya secara asal ke atas lalu segera keluar kamar.
Saat memasuki ruang makan, hidung Figia langsung mencium bau makanan yang sangat enak dan membuatnya semakin lapar. Matanya langsung tertuju ke meja makan. Figia membuka penutup beberapa tempat makan dan ia langsung menekan salivanya saat melihat ada sushi dengan berbagai jenis ikan dan daging, ada kue dorayaki yang merupakan kue kesukaannya dan yoghurt rasa nanas dengan tambahan topping boba yang sungguh menggoda. Tanpa pikir panjang lagi, gadis berdarah Jepang ini langsung duduk di meja makan dan mengambil sumpit untuk menikmati sushi yang sangat enak di mulutnya. Ada 15 potong shusi dan Figia menghabiskannya sampai 9 potong. Ia juga mengambil kue dorayaki memasukannya ke dalam mulut dan matanya langsung membulat saat merasakan betapa enaknya kue ini. Dan paling terakhir, Figia menikmati yogurt rasa nanas dengan topping boba yang enak juga.
Setelah selesai, Figia memegang perutnya yang terasa kencang. Ia mengusapnya perlahan sampai ia ingat keadaannya yang sedang hamil.
Ia langsung mengangkat tangannya dari perutnya, menghilangkan perasaan melancolis yang tiba-tiba saja hadir dan membuatnya ingin mengelus perutnya terus.
Figia berdiri. Perasaannya kembali galau. Antara ingin membuang atau mempertahankan kehamilan ini.
Kemana sih Mark? Apakah dia sudah pergi setelah menyiapkan makanan ini?
Pintu masuk apartemennya di buka dari luar. Figia kaget. Mark masuk sambil membawa sebuah kantong plastik.
"Hai, kau sudah makan? Aku keluar sebentar untuk mengambil resep obat yang di tebus oleh asistenku." Kata Mark.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam apartemen ini?" tanya Figia sambil berkacak pinggang.
"Aku bisa membuka semua pintu yang tertutup."
"Tapi bagaimana kau bisa melalui pintu lobby?" tanya Figia lagi.
"Aku mengambil kartunya dari dalam tas mu."
"Tapi kan aku mengunci pintu kamarku saat tidur tadi."
"Sudah ku katakan kalau tak ada pintu yang tak bisa aku buka."
"Memangnya kamu siapa? Mafia?"
Mark tersenyum penuh misteri. "Aku lebih mafia dari paman Fidel-mu, cantik. Sekarang minum obat ini."
"Tapi....."
"Jangan menyia-nyiakan kehamilanmu ini, sayang. Tidak semua wanita punya kesempatan untuk hamil dan tidak semua wanita hamil bisa mengandung benih dari Mark Alonso!"
"Cih....! Kamu pikir aku bangga benih mu ada di sini?" ejek Figia sambil menunjuk perutnya.
"Itu memang benihku. Namun dia tak akan tumbuh tanpa ada bagian mu yang menyatukan mereka. Jadi anak itu adalah sebagian dari diriku dan dirimu. Aku dapat membayangkan jika dia perempuan, pasti akan mirip aku karena biasanya anak perempuan lebih mirip daddy nya. Dan jika dia laki-laki pasti lebih mirip kamu. Tapi aku berharap matanya akan mirip mamaku. Mata yang bulat dengan bulu mata yang lentik."
Figia terdiam mendengar kata-kata Mark. Hatinya bergetar saat mendengar kalau anak ini juga adalah bagian dari dirinya. Perasaannya sebagai wanita yang akan menjadi seorang ibu menjadi tersentuh. Figia bahkan ingin meneteskan air mata saat ini.
Mark mendekat dan meraih tangan Figia, memberikan 2 butir obat di atas telapak tangan Figia. "Minumlah! Yang satu adalah obat penguat kandungan dan satunya lagi vitamin. Jika kamu merasa muntah, ada obat anti muntahnya. Minumlah supaya ia menjadi kuat di dalam rahimmu dan akan lahir dengan sehat."
__ADS_1
Figia memasukan kedua obat itu ke dalam mulutnya lalu menerima gelas berisi air dari tangan Mark dan meminumnya sampai hampir habis.
Setelah itu Mark duduk di depan meja makan dan menikmati shusi sisa yang dimakan Figia. Ia makan dengan wajah tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Figia.
"Aku senang karena kamu menyukai makanan ini. Aku tadi menelepon mamamu dan menanyakan makanan kesukaanmu."
"Menelepon mamaku? Bagaimana bisa kau menelepon? Apakah kau juga membuka ponselku yang terkunci dengan password?"
Mark menggeleng. "Aku menelepon dari ponselku sendiri."
"Kau tahu dari mana nomor telepon mamaku?"
"Sudah ku katakan kalau aku mencari tahu semua tentang dirimu. Jadi menemukan nomor telepon orang tuamu bukanlah hal yang sulit."
"Kamu memperkenalkan dirimu sebagai apa pada mamaku?"
"Calon suamimu."
"Kamu gila ya?"
"Aku nggak gila. Bukankah kamu sendiri yang bilang jika kamu hamil maka kita akan menikah? Mamamu sangat senang mendengar kalau kita akan menikah."
"Ah.... pusing aku!" Figia langsung pergi meninggalkan Mark yang masih terus makan. Ia ingin kembali tidur. Mungkin pengaruh hormon kehamilannya sampai ia merasa lelah akhir-akhir ini.
Ada perasaan senang saat membayangkan kalau ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam perut Figia yang merupakan bagian dari dalam dirinya. Mark memang tak mencintai Figia. Karena selama ini ia dikenal sebagai lelaki play boy. Namun ada dorongan dalam hatinya untuk menemani dan mengurus Figia. Mark bahkan ingin mereka menikah sebelum Figia melahirkan agar anak itu bisa lahir dalam pernikahan yang sah.
*********
Eilaria menatap Gabriel yang sudah tertidur di sampingnya. Ia merasa sangat haus dan tak ingin membangunkan suaminya itu yang ia tahu satu hari ini sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor namun setiap satu jam selalu menelponnya untuk menanyakan kabarnya.
Perlahan Eil turun dari tempat tidur dan menuju ke luar kamar. Biasanya ada air yang Iel siapkan. Namun karena malam ini Iel nampak kelelahan, mungkin suaminya itu lupa.
Saat Eilaria menuruni tangga, ruang tamu nampak sudah agak gelap. Daddy dan mommy pasti sudah tidur karena ini memang sudah jam 1 malam. Kamar si kembar ada di samping kamar opa dan omanya karena daddy Jero akan lebih mudah mengontrol mereka. Walaupun menurut mommy Giani, bila tengah malam atau subuh si kembar kadang suka pindah ke kamar mereka karena ingin memeluk opa mereka.
Eilaria memahami kenapa mertuanya ingin mereka tinggal di sini. Mereka pasti merasa kesepian karena Stevany dan Joselin masih di ada di Amerika.
Saat ia memasuki dapur, ia kaget melihat lampu dapur menyala. Nampak Gabrian sedang berdiri di depan kompor dan sedang membuat sesuatu.
"Ian.....!" Panggil Eil pelan agar tak mengejutkan pria itu.
Gabrian menoleh. Ia tersenyum pada asik iparnya itu. Ini adalah kali pertama mereka berdua saja di satu ruangan semenjak berpisah 5 tahun yang lalu. Sebenarnya Eilaria agak risih. Bukan karena ia masih menyimpan rasa untuk Gabrian namun karena ia belum terbiasa berdua seperti ini.
"Eh, Eil. Mau apa?" tanya Gabrian, ia juga nampak sedikit gugup.
"Aku mau minum." Kata Eilaria berusaha juga bersikap wajar dan segera mengambil gelas dari dalam lemari lalu menuangkan air ke dalamnya.
Indra penciuman Eilaria mencium sesuatu yang enak.
__ADS_1
"Kamu masak apa?" tanya Eil penasaran.
"Nasi goreng. Aku terbangun dan tiba-tiba saja ingin makan nasi goreng."
Eil tertawa. Ia ingat cerita Andrea yang mengatakan kalau kehamilannya yang kedua ini tak menginginkan makanan khusus. Gabrian justru yang selalu ingin makan sesuatu.
"Nasi goreng pedas? Kamu kan nggak terlalu suka dengan nasi goreng pedas?" tanya Eilaria sambil menelan salivanya karena nasi goreng itu justru sangat menggoda selera makannya.
"Semenjak Andrea hamil, aku justru selalu ingin makan yang pedas-pedas. Entahlah, mungkin bawaan bayi dan nyasar ke bapaknya." kata Gabrian sambil menaburi bawang daun di atas nasi goreng itu. Gabrian kemudian mematikan kompornya. Ia menoleh ke arah Eil. "Kamu mau?" tanya Ian membuat Eil langsung mengangguk.
"Aku membuatnya lebih. Jadi boleh untuk kita berdua." Kata Gabrian lalu menambah satu piring lagi untuk Eilaria.
"Paling enak kalau makan nasi goreng dengan secangkir teh manis. Aku mau buat. Kamu mau?" tanya Eilaria. Gabrian mengangguk. Ia saat ini sedang menggoreng telur mata sapi.
Akhirnya keduanya duduk saling berhadapan di meja pantry sambil menikmati nasi goreng dan segelas teh manis.
"Katanya orang hamil suka yang aneh-aneh. Sekarang aku percaya karena aku yang mengalaminya. Di kantor kemarin, aku tiba-tiba saja ingin makan kue putu. Sekretaris ku sampai pusing karena mencari kue itu yang memang nggak dijual di dekat perusahaan. Aku sendiri marah-marah karena mereka agak lama baru menemukan kue itu." Cerita Gabrian membuat Eilaria tertawa.
"Aku nggak bisa bayangkan kalau Iel juga merasakan apa yang kamu rasakan. Pasti lucu kelihatannya."
Mereka berdua tertawa bersama. Sampai akhirnya tak menyadari kalau Andrea sudah berdiri di depan pintu dapur begitu juga dengan Gabriel yang berdiri di belakangnya.
Cemburukah Andrea melihat suaminya tertawa bersama perempuan yang adalah cinta pertamanya? Manusiawi bukan kalau Andrea cemburu? Namun ia cepat membuang perasaan yang menganggu itu. Dia percaya pada Gabrian dan Eilaria. Tadi, Gabrian membangunkannya dan mengatakan bahwa ia akan ke dapur untuk membuat nasi goreng. Namun Andrea yang masih sedikit lelah karena ia dan Ian baru saja melewati malam yang panas tak mau bangun. Ia yakin Gabrian tak mungkin masih menyimpan perasaan untuk Eil.
Di belakangnya, Gabriel pun baru saja membuang perasaan cemburu melihat istrinya tertawa bersama kakak kembarnya. Ia yakin Eil pasti ke dapur karena haus. Iel tadi lupa membawakan air putih ke kamar.
"Sayang.....!" panggil Andrea sambil mendekat.
Gabrian dan Eilaria sama-sama menoleh. "Andrea, ayo ke sini! Iel, kau juga bangun?" Ujar Gabrian. Ia dapat melihat ada kilatan cemburu di wajah istrinya walaupun perempuan itu menutupinya dengan senyum manis.
"Aku sedang membuat nasi goreng dan Eil datang ke dapur untuk minum." kata Gabrian menjelaskan tanpa diminta.
Andrea tersenyum. Ia duduk di samping suaminya dan langsung memasukan satu suapan ke dalam mulutnya. "Aow...., ini sangat pedas." Andrea langsung menyambar gelas yang berisi teh manis dan meminumnya sampai habis.
Mereka pun tertawa bersama melihat wajah Andrea yang kemerahan. Akhirnya mereka berempat duduk di meja pantry sambil bercerita.
Giani yang mengintip kejadian itu tersenyum lega. Ia tahu anak-anak nya sudah bahagia dengan pasangan masing-masing. Ia yakin mereka tak akan saling cemburu buta.
Dia pun kembali menuju ke kamarnya. Membaringkan tubuhnya di samping suaminya yang masih terlelap. Giani melingkarkan tangannya di perut Jero yang tetap rata dengan roti sobeknya. Wajah Jero tersenyum saat merasakan tangan istrinya memeluk tubuhnya.
"I love you, Mel." Ujarnya lalu mencium dahi Giani dan kembali tertidur.
***********
Duh, senangnya jadi Oma Giani yang dicintai sebesar itu.
Next episode tentang Gabby dulu ya?
Ada yang mau kisah manis Oliver dan Alexa?
__ADS_1