
Ada yang bilang sikap Andrea murahan? Apakah murahan seorang istri meminta haknya pada suami yang sah?
Ada juga yang bilang berarti Ian nggak tulus mencintai Eil. Apakah sampai episode ini belum juga mengerti karakter dan sifat Ian?
Emak nggak marah sih kalian mau komen apa saja, itu karena kalian terlalu memegang prinsip orang yang saling mencintai harus bersatu. Emak juga baca beberapa cerita tentang percintaan anak kembar. Makanya emak akan buat cerita kembar versi emak yang berbeda dengan yang lain. Akan kemana hati si kembar akhirnya berlabuh? Kita akan lihat nanti. Karena masih ada Tokoh Alana, Gabby dan Figia yang akan memainkan perannya.
**********
Ini memang bukan yang pertama bagi Andrea namun ia sedikit mengalami rasa sakit di awal penyatuan mereka. Gabrian sendiri, yang belum pernah melakukan hubungan intim dengan gadis sebelumnya, mengikuti nalurinya untuk menyentuh Andrea dengan sangat hati-hati dan tak terburu-buru. Keduanya menikmati setiap keintiman yang terjadi sampai akhirnya puncak kenikmatan itu mereka raih bersama.
Gabrian menatap wajah Andrea yang ada dibawahnya dengan senyum penuh kepuasaan. "Kau baik-baik, saja? Apakah ada yang sakit?" tanya Gabrian sambil menyeka keringat yang ada di wajah Andrea. Napas keduanya masih saling memburu.
"Tidak." Jawab Andrea dengan wajah yang sedikit memerah. Sisa kenikmatan itu masih ia rasakan dan juga ada rasa malu ketika menyadari bahwa tubuh mereka masih tetap menyatu setelah pelepasan itu mereka dapatkan.
Gabrian mengecup bibir Andrea dengan sangat lembut sebelum akhirnya ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Menatap langit-langit kamar hotel dengan perasaan puas.
Andrea menggeser tubuhnya mendekati Gabrian lalu memeluk pria itu sambil bertanya. "Boleh seperti ini?"
Gabrian mengangguk sambil mengecup puncak kepala Andrea.
Selanjutnya keduanya saling diam. Tak ada percakapan yang tercipta. Mereka berdua seakan larut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya karena kulit mereka yang saling bersentuhan satu dengan yang lain, baik Ian maupun Andrea mulai merasakan ada hasrat yang kembali bangkit.
"Boleh?" tanya Gabrian sambil menyentuh bibir Andrea dengan ibu jarinya.
Andrea tersenyum. Ia mengangguk dan langsung mendongakkan kepalanya, menyambut bibir Gabrian yang seolah sudah menunggu untuk dipuaskan.
************
Tiga hari yang tersisa mereka habiskan dengan saling berbagi keintiman. Keduanya seperti pengantin baru yang hanya mengurung diri di kamar. Mereka berhenti saling memuaskan hanya saat makan dan tidur saja. Seperti juga malam terakhir ini. Setelah Gabrian dua kali mendapatkan pelepasannya dan entah berapa kali untuk Andrea, gadis itu langsung tertidur dengan begitu nyenyak nya. Sementara Gabrian sendiri tak bisa memejamkan matanya saat memikirkan kalau Andrea akan berangkat esok pagi. Tiket keberangkatan Andrea adalah pukul 6 pagi. Tadi Gabrian sudah mengatakan kalau ia akan mengantar Andrea ke bandara pukul 5 subuh. Namun saat ini perasaan Gabrian menjadi kacau balau. Ia seakan tak rela melepaskan Andrea pergi.
Di tatapnya wajah Andrea yang kini ada dalam pelukannya. Tangan Gabrian dengan lembut membelai wajah cantik Andrea. Entahlah, Ian tak mengerti dengan suasana hatinya. Apakah aku mulai menyayangi gadis ini? Hatiku sedih setiap kali melihat ia menangis. Selalu ada dorongan dalam hatiku untuk memeluk dan menghiburnya. Aku tertawa saat ia juga tertawa. Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah kedudukan Eil di hatiku sudah digantikan oleh Andrea?
Gabrian kembali menatap wajah Andrea. Sejak pertama melihat Andrea, Ian memang terdorong untuk melindunginya. Sangat berbeda saat ia melihat Alana. Wajah mereka memang sama namun kepribadian mereka sangat jauh berbeda.
__ADS_1
Perlahan Gabrian bangun dan memakai kembali bajunya. Ia meraih ponselnya dan menghubungi mamanya. Ian memilih berdiri di balkon.
"Ian, ada sesuatu yang terjadi sampai kau menghubungi bunda di jam seperti ini?"
"Nggak, bunda. Aku hanya ingin minta pendapat pada bunda."
"Ada apa?"
Gabrian menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Aku, dan Andrea....kami, eh..., bagaimana ya mau menjelaskannya, kami...."
"Terjadi sesuatu di kamar hotel?" tebak Giani.
"Ya, bunda. Andrea, dia ingin menikmati 3 hari terakhir bersamaku dengan menjadikan dirinya sebagai istriku yang sesungguhnya. Entah kenapa aku justru tak bisa menolaknya. Aku pikir ini hanya sebuah napsu untuk saling memuaskan raga. Bagaimana pun aku adalah lelaki normal. Namun, malam ini saat kami mengucapkan kata-kata perpisahan, rasanya aku tak sanggup melepaskan Andrea pergi."
"Kau merasa tak ingin melepaskan dia pergi? Itu artinya kau mencintai Andrea, nak."
"Apakah secepat ini aku melupakan Eilaria?"
"Sayang, kalian bersama sudah hampir setahun. Cinta itu tumbuh tanpa memandang waktu apakah sebulan, seminggu atau sehari. Karena cinta adalah sesuatu yang misteri."
"Kalau memang hatimu tak ingin melepaskan dia, jujurlah pada Andrea."
"Jika Andrea menolak?"
"Sebenarnya bunda tak mengharapkan Andrea menolak. Karena bagaimana pun pernikahan itu sesuatu yang suci dan sakral. Bunda sebenarnya sudah suka dengan Andrea. Hanya saja, semua tergantung pada Andrea juga. Tak baik memaksakan kehendak pada seseorang yang tak ingin bersama kita."
"Aku akan jujur kepada nya besok pagi, bunda. Aku akan meminta Andrea untuk tinggal dan menjalani pernikahan ini. Aku percaya kalau kami akan saling mencintai. Bunda merestui keputusan aku kan?"
"Apapun itu, nak. Asalkan kau bahagia."
"Terima kasih, bunda." Gabrian masuk kembali ke dalam kamar setelah mengahiri percakapan mereka. Hatinya sudah mantap. Ia akan membangun hubungan pernikahan ini dengan cara yang benar. Gabrian yakin kalau Andrea akan siap menjalani hari bersamanya.
Ia pun naik ke atas tempat tidur.. Membelai punggung Andrea yang tidur membelakanginya. Andrea pun membalikan badannya, lalu mencari kehangatan dengan memeluk Gabrian. Keduanya pun tertidur bersama.
__ADS_1
***********
Gabrian tersentak bangun dalam tidurnya. Tangannya secara cepat meraih jam tangannya yang ada di atas nakas saat tak menemukan Andrea ada di sampingnya.
"Astaga sudah jam setengah delapan?" Gabrian buru-buru turun dari ranjang dengan wajah khawatir. Apalagi saat ia tak menemukan koper Andrea yang semalam ada di dekat lemari. Tas punggung Andrea juga sudah tak ada. Saat ia akan mengambil ponselnya, ia melihat ada sebuah amplop putih yang bertuliskan :
dear Ian.
Gabrian membuka amplop itu dan menemukan secarik kertas dan cincin pernikahan mereka.
Dear Ian....
Terima kasih untuk 3 hari yang sangat menyenangkan ini, aku sangat menikmatinya. Kelembutan dan kehangatan mu akan selalu ku kenang. Kau adalah lelaki baik, bahkan teramat baik yang diberikan Tuhan dalam hidupku. Kau bukan hanya menikahi ku dan menyelamatkan nama baik keluarga Manola. Kau juga memberikan aku perhatian yang sangat luar biasa selama proses kehamilanku, saat aku melahirkan dan ketika aku sedih. Aku berdoa Tuhan akan membalas semua kebaikanmu dengan memberikan jodoh yang terbaik untukmu.
Ian, jangan cari aku ya? Tanggungjawab mu kepada ku sudah selesai. Aku sudah membuang nomor handphoneku dan menggantinya dengan yang baru.
Seandainya pun kita bertemu di masa yang akan datang, aku tidak akan pernah menceritakan pada kekasihmu yang baru tentang hubungan kita. Anggaplah kita sebagai dua orang yang baru pertama kali bertemu. Karena saat pesawat ini meninggalkan bandara, aku sudah menjadi Andrea yang baru. Yang akan berjuang hanya untuk Kerajaan Flowers.
A N D R E A
Gabrian merasakan dadanya sakit. Andrea, kenapa kamu pergi tanpa mendengar isi hatiku? Batin Gabrian.
**********
Jakarta 1 bulan kemudian.....
Gabrian dan Gabriel yang sementara berbincang di ruang kerja Gabrian, dikejutkan dengan kedatangan seorang pengacara dari London.
"Saya Ficlen Anthony, pengacara keluarga Manola. Saya datang ke sini untuk mengajukan perceraian atas nama nona Andrea Manola."
Gabrian menarik napas panjang lalu tersenyum. "Mana dokumen yang harus ditandatangani?"
*************
__ADS_1
5 tahun kemudian.......