Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Tak Seperti Yang Dibayangkan


__ADS_3

Saat Gabrian menekan tombol open agar pintu lobby terbuka untuk Alana, gadis itu tanpa di duga langsung memeluk Gabrian sambil menangis. Cowok itu agak terkejut namun dia langsung melingkarkan tangannya di punggung gadis itu.


"Ayo kita masuk ke dalam!" Ajak Gabrian tanpa melepaskan tangannya dari punggung Alana.


"Duduklah. Aku buatkan teh hijau untukmu agar kau bisa menjadi tenang." Kata Gabrian lalu segera ke dapur. Tak lama kemudian ia sudah kembali sambil membawa secangkir teh hijau untuk Alana.


"Minumlah, Alana. Lalu kau bisa ceritakan padaku apa yang terjadi."


Alana menerima cangkir itu. Secara perlahan ia menyesap teh nya. Perlahan-lahan sampai akhirnya seluruh teh yang ada dalam cangkir itu habis.


"Terima kasih, Ian."


Gabrian mengambil cangkir teh itu dari tangan Alana dan meletakkannya di atas meja. Ia memberikan juga tissue agar Alana dapat membersihkan wajahnya yang masih ada sisa air matanya.


"Ceritakan padaku apa yang membuatmu sedih."


Alana menarik napas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Ia berusaha agar bisa tenang. "Andrea telah kehilangan tato keperawanannya. Ia benar-benar sudah melakukan hubungan dengan lawan jenis. Dan yang lebih buruk dari semuanya itu, Andrea memang hamil. Aku tak tahu bisa membayangkan bagaimana sedihnya daddy dan mommy saat mengetahui semua ini. Andrea sudah mencoreng nama baik keluarga Manola." Tangis Alana kembali pecah.


"Tenang, Alana." Gabrian mengelus pundak gadis itu. "Apakah yang menghamilinya adalah laki-laki yang bersamanya di cafe itu?"


"Ya. Dan lelaki itu ternyata sudah menikah. Ini aib yang sangat besar."


"Apakah Andrea akan mempertahankan hubungannya dengan pria itu sekalipun tahu kalau pria itu sudah menikah?"


"Andrea sedang berada dalam masa sulit. Karena ia tahu kalau pria itu sangat menyayangi keluarganya."


"Lalu kenapa bisa hamil?"


"Andrea di jebak oleh teman-temannya."


"Di jebak?"


Alana mengangguk. Lalu mengalirlah cerita yang didengarnya secara langsung dari Andrea dan juga Oliver.


Berlin, 4 bulan lalu.......


Andrea yang baru kali ini liburan tanpa saudara-saudaranya sedikit merasa risih saat diajak ke diskotik.

__ADS_1


Saat di diskotik itulah Andrea melihat seorang pria tampan sedang duduk sendiri sambil sibuk dengan ponselnya. Pria yang kelihatan dewasa dan mungkin berusia 30an. Andrea yang memang selalu menyukai pria yang jauh lebih tua darinya jadi senyum-senyum sendiri.


"Kau suka pria itu?" bisik Calsie temannya.


"Hanya kagum saja." jawab Andrea malu-malu. Bagaimana pun Andrea adalah gadis yang agak tertutup.


Calsie tersenyum penuh misteri. Ia segera membisikan sesuatu di telinga Jordan kekasihnya. Jordan pun mengangguk tanda mengerti.


Tak lama kemudian Jordan mendekati pria itu. Dengan kepintaran Jordan dalam membangun komunikasi dengan orang lain, ia berhasil berkenalan dengan pria bernama Oliver Pergonas itu. Jordan menawarkan minuman dan tanpa Oliver ketahui, Jordan memasukan sesuatu di dalamnya.


Sementara minuman Andrea pun di masukan sesuatu oleh Calsie.


Jordan telah mengetahui kalau pria bernama Oliver itu menginap di hotel yang sama dengan mereka. Saat melihat Oliver yang pergi, Jordan kembali ke tempat Andrea dan teman-teman mereka duduk.


"Mengapa aku merasa gerah ya?" kata Andrea sambil membuka bagian atas kemejanya.


"Kita pulang, yuk!" Ajak Calsie.


Andrea pun setuju. Calsie menggandeng tangan Andrea untuk pulang ke hotel yang jaraknya tak jauh dari klub malam yang mereka kunjungi.


Salam perjalanan, Andrea semakin merasa panas. Ada sesuatu yang mulai mempengaruhi tubuhnya. Andrea bahkan merasa ingin dicium dan dipeluk oleh lawan jenis.


"Kita akan menemui seseorang."


Andrea yang sudah sedikit mabuk pun tak bicara lagi karena kepalanya benar-benar pusing.


Sementara itu, Oliver di kamarnya merasa ada sesuatu yang membuat dirinya bergairah. Ia memang sudah tiga minggu tak pulang ke Jakarta karena ada masalah dengan maskapai mereka yang ada di Berlin. Makanya ia harus menyelesaikan segala sesuatu baru pulang ke Jakarta. Tentu saja ia rindu pada istri cantiknya itu.


Oliver membuka kemejanya. Ia merasa ingin mandi. Bayangan wajah Alexa selalu terbayang dan membuat Oliver merasa semakin bergairah.


Saat ia akan ke kamar mandi, pintu kamarnya diketuk seseorang. Oliver yang hanya menggunakan handuk yang membungkus tubuh bagian bawahnya, segera membuka pintu. Ia terkejut melihat ada seorang gadis cantik yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan kemeja yang sudah terbuka bagian atasnya. Sungguh Oliver harus menahan napasnya melihat pemandangan yang sangat menggoda itu.


"Nona, anda mungkin salah kamar."


Andrea melangkah masuk. "A....aku butuh air..."


Oliver menjadi bingung namun ia melangkah menuju ke kulkas dan mengeluarkan satu botol air mineral.

__ADS_1


Andrea meneguk air itu sampai setengah botol lalu sisanya ia pakai menyiram tubuhnya.


"Ah.....!" desah Andrea lalu membuka kemejanya dan membuangnya secara sembarangan. "Tuan, tolong aku...aku merasa panas dan juga ingin merasa sesuatu..." tanpa sadar tangan Andrea menyentuh dadanya sendiri. Ia mengigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya.


Oliver berusaha menahan dirinya. Namun pengaruh obat itu sangat kuat. Oliver yang ingin menghindar untuk pergi ke kamar mandi, justru dipeluk oleh Andrea. "Tuan...., tolong aku..."


"Nona.....!" Oliver merasakan tubuhnya merinding saat dipeluk oleh Andrea. Ia tak bisa lagi menguasai hasrat panas yang sudah mendesak tubuhnya untuk mencari kepuasaan. Ia langsung mencium bibir gadis yang ada di depannya dengan penuh gairah. Dan tentunya ciuman itu mendapatkan sambutan yang sama. Keduanya bergumul, menuntaskan hasrat yang tak terbendung lagi.


Saat penyatuan itu terjadi, sadarlah Oliver kalau gadis itu masih perawan. Namun ia terus menuntaskan hasratnya karena walaupun gadis itu mengerang kesakitan namun ia sama sekali tak mau melepaskan pelukannya. Malam itu, keduanya menyatu secara berkali-kali sampai akhirnya pengaruh obat itu habis dan keduanya tertidur dalam kelelahan.


Oliver bangun keesokan harinya dengan perasan bingung karena menemukan dirinya dalam keadaan polos tanpa pakaian dan seprei yang acak-acakan dan ada bercak darah. Oliver mengusap wajahnya kasar saat potongan demi potongan kejadian semalam bermain di ingatannya. Oliver merasakan jantungnya bagaikan di tarik keluar dari tempatnya saat ia melihat seorang gadis yang terbaring kaku di lantai tanpa mengenakan baju apapun dengan pergelangan tangan yang sudah berdarah. Di tangan gadis itu ada pecahan kaca dari gelas yang dengan sengaja di pecahkan.


Oliver sangat ketakutan dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Untungnya gadis itu bisa diselamatkan. Teman-teman Andrea yang datang ke rumah sakit pun mengakui perbuatan mereka. Mereka sebenarnya hanya ingin mengerjai Andrea karena dialah satu-satunya gadis yang masih perawan diantara mereka. Oliver ingin rasanya memukul mereka satu persatu.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku telah kehilangan kesucianku. Keluarga kerajaan pasti akan marah besar padaku." Lalu Andrea menceritakan tentang tato yang ada di pinggangnya. Tato itu kini sudah tak ada.


"Aku harus bagaimana?"


Oliver merasa sangat bersalah dengan Andrea. Namun ia juga adalah korban. Oliver menceritakan kalau ia memiliki keluarga. Istri yang sangat dicintainya dan dua anak yang sangat disayanginya.


Selama 3 hari Andrea berusaha menenangkan dirinya. Sampai akhirnya ia mengambil keputusan.


"Tuan Oliver, aku tak bisa meminta tanggungjawab apa-apa kepadamu. Teman-temanku lah yang harus disalahkan atas semua yang terjadi. Kita lupakan saja masalah ini." Kata Andrea walaupun ini sangat berat untuk dilewatinya. Bahkan jauh di lubuk hati Andrea, ia sebenarnya sudah merasa kagum dengan sosok Oliver namun ia menyadari bahwa tak ada jalan bagi mereka untuk bersama karena Oliver sudah menikah. Oliver adalah sosok yang bertanggungjawab karena sudah menjaganya selama beberapa hari di rumah sakit.


Oliver pun berterima kasih pada Andrea karena memahami dirinya. Mereka berpisah di Berlin dan berusaha melupakan apa yang terjadi.


Namun satu bulan lebih setelah perpisahan itu, Andrea mendapati kalau tamu bulanannya tak kunjung datang. Ia pun membeli tespack dan hampir pingsan saat mendapati kalau dirinya hamil. Segala cara dilakukannya untuk mengetahui keberadaan Oliver. Sampai akhirnya ia melihat di sebuah acara yang ditayangkan secara live bahwa Oliver sedang berada di London sebagai penerima penghargaan pengusaha muda yang memang dilaksanakan di Inggris. Oliver sangat terkejut saat mendengar pengakuan Andrea.


"Aku tak akan menganggu rumah tanggamu, Oliver. Aku hanya memohon padamu, dampingi aku sampai anak ini lahir. Aku tak mau mengugurkan nya karena aku tahu itu dosa. Setelah anak ini lahir, aku akan meninggalkan kerajaan agar tak membuat keluargaku malu. Aku mohon Oliver. Anak ini tak salah. Takdirlah yang membuat ia ada diantara kita. Jangan tinggalkan aku sendiri dalam keadaan hamil. Aku butuh seseorang untuk menguatkan aku." Mohon Andrea. Dan akhirnya Oliver setuju. Ia akan sering menemani Andrea sampai anak itu lahir. Apalagi Andrea mengalami masa-masa ngidam yang berat dan ia justru merasa agak baikan saat Oliver ada di sampingnya.


*********


Duh, beratkan persoalannya? Yang ingin hujat Oliver dan Andrea tahan dulu ya.....


Apalagi untuk part berikut Alexa akan datang...


Dan Eilaria yang harus pulang ke London karena opa Ezekiel sakit berat.

__ADS_1


Dukung emak terus ya....


__ADS_2