
Semenjak peristiwa saling berciuman di apartemennya Gabby, Gerry belum juga ketemu gadis itu. Bukannya dia menghindar, namun karena pekerjaan ia harus pergi ke Jakarta untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah hukum perusahaan karena sang majikan masih sibuk menjadi suami siaga bagi istrinya yang sedang hamil muda.
Selama 1 minggu di Jakarta, Gerry harus balik lagi ke Amerika untuk melanjutkan pengawasannya terhadap proyek bersama Anatar The Dawson dan The Thomson.
Gerry juga baru tahu kalau Figia sedang hamil dan yang menyebabkan kehamilannya adalah lelaki yang Gerry minta tolong untuk mengantar Figia ke kamarnya. Gerry agak menyesal juga namun sedikit lega karena lelaki yang ternyata adik dari Brandon Alonso itu mau bertanggungjawab.
Hari ini Gerry berangkat ke kantor dengan perasaan gembira. Jujur saja, ia rindu pada Gabby dan ingin segera bertemu dengan Gabby. Selama di Jakarta, Gerry sama sekali tak pernah menghubungi Gabby. Bukanya ia tak mau. Banyaknya pekerjaan di sana yang membuat Gerry sampai ke rumahnya ketika ia benar-benar sudah sangat mengantuk. Juga, Ia tak tahu harus memulai percakapan bagaimana.
Begitu ia memasuki lobby perusahaan, keadaan masih nampak sepi. Sepertinya ia memang datang terlalu pagi.
Gerry memasuki ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Gabby. Pintunya masih tertutup rapat dan itu sebagai bukti bahwa Gabby belum datang.
Sambil menunggu kedatangan Gabby, Gerry membuka berkas laporan yang sudah ada di mejanya.
Selama satu jam Gerry membacanya sampai ia lupa dengan tujuannya datang pagi di kantor hari ini.
Setelah ia menutup laporannya, Gerry segera menuju ke ruangan Gabby. Di ketuk nya pintu dengan jantung berdebar. Setelah mendapatkan ijin untuk masuk, Gery pun membuka pintu dan masuk. Tak lupa ia menutup pintu yang ada di belakangnya.
Gabby yang sedang menulis sesuatu, mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Wajah Gabby langsung berubah dingin. Ia kembali menunduk dan melanjutkan aktivitas menulisnya. Gerry jadi terkejut melihat perubahan sikap Gabby.
"Maaf, apakah aku menganggu mu?" tanya Gerry sambil duduk di depan Gabby.
"Ya. Aku sedang bekerja." jawab Gabby agak sedikit ketus.
"Maaf. Nanti aku akan datang lagi!" Ujar Gerry sambil berdiri.
"Aku akan sibuk sampai jam pulang kantor. Kalau kau ingin bertanya tentang laporan proyek sudah aku minta asisten mu untuk meletakkannya di meja kerjamu." Kata Gabby tanpa sedikit pun menoleh pada Gerry.
"Gab, apakah aku melakukan sesuatu yang salah?" tanya Gerry karena merasa bingung dengan sikap Gabby yang dingin padanya. Bukankah sebelum pergi ia sempat pamit pada Gabby walaupun hanya melalui telepon?
"Kamu tidak melakukan apapun yang salah." Ujar Gabby, masih dengan posisinya yang tadi. Sama sekali tak mau menatap Gerry.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke ruangan ku. Maaf kalau aku telah menganggu pekerjaanmu." pamit Gerry laku segera meninggalkan ruangan Gabby.
Setelah Gerry menutup pintu ruangannya, Gabby melepaskan pulpen yang ia pegang. Matanya menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup dengan perasaan kesal. Perasaannya menjadi galau. Ia kesal karena Gerry tak peka.
**********
Sepanjang hari Gabby menghabiskan waktunya di dalam ruangannya. Ia bahkan tak mau keluar makan siang karena tak ingin bertemu dengan Gerry. Ia hanya meminta asistennya untuk membelikan susu dan roti untuk mengganjal perutnya yang sama sekali tak merasakan lapar. Namun ia tahu kalau ia harus makan agar tidak akan sakit.
Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam saat Gabby memutuskan untuk pulang. Asistennya sudah pamit untuk pulang sejak jam setengah enam sore. Gabby yakin kalau kantor sudah sepi karena jam pulang kantor adalah jam setengah enam sore.
__ADS_1
Ia merapihkan mejanya, mengoles bedak dan lipstick sedikit di wajahnya yang nampak kusut. Merapihkan rambutnya yang digulung ke atas. Setelah itu mematikan lampu ruangannya dan keluar dari ruangannya. Ia hampir saja berteriak karena kagetnya, melihat Gerry sedang berdiri di depan ruangannya dengan kedua tangannya yang ada di dalam saku celana nya.
"Apa yang kau lakukan di sini Gerry? Kau membuatku terkejut." Kata Gabby lalu segera melangkah. Gerry dengan cepat menarik tangan Gabby dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Maafkan aku....!" bisiknya lembut.
Untuk sesaat tubuh Gabby menegang. Ia tak bergerak. Pelukan Gerry membuat seluruh tubuhnya terasa lemah. Namun saat Gabby mengingat kalau pria itu mengabaikannya selama dia ada di Indonesia, Gabby dengan cepat mendorong tubuh Gerry. Ternyata dorongan Gabby dan membuat tubuh Gerry menjauh karena pria itu sudah siap dengan penolakan Gabby. Sepanjang hari ia memikirkan apa yang menyebabkan Gabby cuek padanya dan akhirnya ia menemukan jawabannya.
"Lepaskan!" Gabby memukul dada Gerry namun pria itu sama sekali tak mau melepaskannya.
"Kau dapat memukul aku sesukamu, aku tak akan marah. Karena aku tahu kalau aku sudah berbuat salah. Maafkan aku yang tak pernah menghubungimu selama aku ada di Jakarta. Bukan karena aku melupakan mu, melainkan karena aku bingung harus bicara apa denganmu."
"Bingung? Lalu saat kamu mencium dan memeluk aku, menyentuh aku dengan belaian mu yang hampir membuatku lupa diri, kau masih bingung dengan apa yang terjadi diantara kita? Apa kamu pikir aku perempuan murahan yang seenaknya saja berciuman tanpa perasaan?" Gabby kembali mendorong dada Gerry dan kali ini cowok itu melepaskan pelukannya. Keduanya saling bertatapan.
"Aku tahu, Gab. Mungkin aku saja yang kurang berani untuk menelepon mu. Selama di sana pekerjaanku sangat banyak. Aku bahkan pulang ke apartemen ku dan langsung tidur tanpa mengganti pakaianku. Perbedaan waktu yang cukup jauh antara Jakarta dan Amerika membuat aku juga tak mau menganggu waktu istirahatmu."
"Pesan singkat pun terlalu sulit untuk kau kirimkan padaku?" .
Wajah Gerry penuh dengan penyelesaian. "Maafkan aku, Gabby. Aku tahu kalau aku salah. Sudah lama sekali aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Mungkin terakhir kali waktu aku masih kuliah. Itu pun hubungannya tak serius. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku." Gerry mendekat. Di pegang nya kedua sisi wajah Gabby dan mengangkatnya sedikit agar gadis itu menatapnya. "Aku mencintaimu, sayang."
Wajah Gabby menjadi merah mendengar pengakuan Gerry.
"Aku ......" Gabby bingung harus menjawab apa.
Gerry tersenyum. "Aku tahu kalau kau mungkin masih patah hati karena Iel. Ijinkan aku membalut luka hatimu. Aku yakin kalau aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Mari kita saling membuka hati untuk meraih kebahagiaan bersama."
"Kenapa menangis?" tanya Gerry sambil menghapus air mata Gabby.
"Aku bahagia." Jawab Gabby membuat Gerry langsung menarik kembali tubuh gadis itu untuk ada dalam pelukannya.
Setelah itu, ia membuat jarak diantara mereka dan langsung mencium bibir Gabby dengan sangat lembut Gabby membalas ciuman Gerry. Keduanya berciuman sangat lama sampai akhirnya mereka menyadari sesuatu.
"Ada CCTV..." Kata mereka secara bersamaan membuat keduanya tertawa bersama dan langsung meninggalkan tempat itu sambil bergandengan tangan.
Gerry mengajak Gabby untuk makan malam. Mereka pergi ke sebuah restoran yang sudah Gerry pesan sebelumnya. Menikmati makan malam dengan perasan bahagia.
Saat keduanya sudah selesai makan, Gerry mengejutkan Gabby dengan memberikan sebuah cincin.
"Menikah denganku." Kata Gerry sambil meletakan cincin dalam kotak merah itu di hadapan Gabby.
Mata Gabby membulat sempurna.
"Aku tak mau pacaran denganmu. Pacaran kan adalah proses perkenalan. Sedangkan kita sudah saling mengenal selama 5 tahun. Aku ingin menikah, Gabby. Usiaku sudah 31 tahun. Aku tak mau menghabiskan banyak waktu dengan pacaran kayak ABG. Kau mau kan? Atau kau membutuhkan waktu untuk..."
__ADS_1
"Aku mau" jawab Gabby cepat membuat Gerry terkejut.
"Benarkah?" tanya Gerry seakan tak percaya.
"Cepat pasangkan cincinnya nanti aku berubah pikiran." Kata Gabby membuat Gerry dengan cepat mengambil cincin itu dan memasukannya ke jari manis Gabby.
"She accepted my proposal!" Teriak Gerry membuat orang-orang yang ada di dalam restoran itu bertepuk tangan.
Gabby menjadi senang sekaligus malu karena semua pasang mata melihat ke arah mereka.
2 jam kemudian di apartemennya Gabby....
"Sayang, kita menikah 2 minggu dari sekarang ya?" ujar Gerry sambil berbaring dipangkuan Gabby.
"2 minggu? Apakah ini nggak terlalu cepat?"
"Aku sudah katakan kalau aku nggak mau membuang waktu dengan pacaran. Lagi pula kakakmu kan ada di sini. Aku hanya punya seorang kakak cowok yang sudah menikah dan tinggal di Bandung. Nantilah kita buat syukurannya di Jakarta."
"Terserah kamu saja. Aku juga nggak mau pesta yang mewah. Yang penting kita sudah menikah di hadapan Tuhan dan dicatat menurut hukum yang ada, aku sudah puas."
Gerry mendongak dan menatap wajah Gabby. "Terima kasih karena sudah mau menerimaku lelaki yang biasa-biasa saja."
Gabby memegang pipi Gerry.
"Siapa yang bilang kalau kamu biasa-biasa saja? Kamu sangat istimewa. Gabriel selalu mengatakan kalau ia tak akan bisa berhasil seperti ini jika tak memiliki asisten yang luar biasa seperti dirimu. Dan aku sangat bangga karena dicintai olehmu."
Gerry bangun dan langsung mencium.bibir Gabby dengan seluruh perasaan cinta yang ia miliki
"Malam ini aku tak akan pulang ya?" ujar Gerry sambil tersenyum menggoda ketika ciuman mereka berhenti.
"Asal jangan dulu nakal ya?"
Gerry terkekeh. "Aku nggak bisa janji...."
Keduanya tertawa bersama. Sungguh mencintai dan dicintai itu sangat indah.
*************
Makasih ya sudah baca sampai part ini.
Semoga kalian suka
__ADS_1
#isolasi mandiri hari ke-6*