
untuk kisah Figia, emak skip dulu ya...
nanti ada part tersendiri. Sekarang kembali ke kehidupan si kembar.
**********
Perjalanan bulan madu Eil dan Iel pun kini sampai di Raja Ampat. Mereka tiba di pulau Misool. Sudah 2 hari mereka ada di sini.Melakukan kegiatan diving dan perjalanan menyusuri pulau lainnya.
Perjalanan bulan madu ini sudah memasuki Minggu keenam. Kulit keduanya pun sudah agak hitam karena tempat-tempat wisata yang mereka tuju hampir semuanya daerah pantai.
Pagi ini, selesai sarapan Eilaria memilih untuk tidur lagi. Entah mengapa badannya terasa agak lemah dan ia jadi mengantuk lagi. Mungkin karena semalam Iel masih memintanya bercinta sampai jam 1 dini hari.
Melihat istrinya sudah tertidur pulas, Iel memilih untuk menghubungi Gerry dan menanyakan masalah proyek yang ada di Amerika. Iel sengaja duduk di teras cottage agar pembicaraannya dan mengganggu tidur sang istri.
"Semua berjalan lancar dan baik, tuan. Nona Gabby setiap hari datang ke proyek untuk melihat perkembangannya."
"Baiklah. Terima kasih, Gerry. Saya akan ke Amerika 2 minggu lagi." Gabriel pun mengakhiri percakapannya dengan Gerry.
Semenjak Andrea hamil, Gabrian memang sudah memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Mereka hanya berbulan madu selama 2 Minggu di Bali dan Lombok, setelah itu kembali ke Jakarta. Si kembar bahkan sudah pindah sekolah. Opa Jero tak mengijinkan Gabrian pindah rumah karena ia tak mau pisah dengan si kembar. Makanya seluruh proyek yang ada di Amerika menjadi tanggungjawab Gabriel. Untunglah Gabriel memiliki asisten yang cerdas seperti Gabby dan Gerry. Jadi semuanya berjalan seperti apa yang Gabriel inginkan.
Saat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah satu siang dan Eilaria belum juga bangun, Gabriel berinisiatif untuk membangunkan istrinya itu karena sudah waktunya makan siang. Ia sudah memesan makan siang dari restoran dan kini sudah disajikan di ruang tamu.
"Honey, it's time to wake up. Lunch is ready." bisik Gabriel sambil mencium tengkuk Eil yang tidur membelakangi pintu kamar.
Eilaria menggeliat geli merasakan kecupan-kecupan kecil suaminya yang membuat bulu kuduk nya merinding.
"Iel, aku masih mengantuk." rengek Eil tanpa membuka matanya. Kini ia merubah posisi tidurnya menghadap ke arah Iel.
"Makan dulu. Baru setelah itu kau dapat tidur lagi. Memangnya kamu belum lapar?" tanya Iel lalu membelai pipi Eil yang dalam pandangan Iel agak tembem semenjak mereka bersama lagi.
Perlahan mata Eilaria terbuka. Ia memandang suaminya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk. Namun ia akhirnya bangun juga. Eil mencuci wajahnya di wastafel lalu segera keluar kamar. Matanya langsung berbinar melihat makanan yang ada di atas meja..
Keduanya pun makan siang dengan lahap. Iel cukup terkejut melihat selera makan Eil yang meningkat dari biasanya. Memang beberapa hari ini Iel perhatikan kalau Eilaria makan dengan porsi yang lebih saat makan pagi, siang atau pun malam.
"Sayang, aku suka dengan napsu makan mu yang meningkat akhir-akhir ini." Kata Gabriel saat Eil sudah menghabiskan 2 cup puding coklatnya.
"Iya nih. Perasaan kok aku lapar melulu. Tiap habis makan pasti mengantuk. Mungkin ini yang orang bilang ya, saat kita bersama dengan orang yang kita cintai, maka semuanya jadi enak dimakan, nyenyak saat tidur dan perasaan bahagia. Aku bahkan merasa kalau bra ku agak kekecilan."
Gabriel tersenyum dengan wajah menggoda. "Mungkin karena keseringan dipijat."
__ADS_1
"Iel.....!" Wajah Eilaria menjadi merah. Ia mencubit tangan Gabriel yang hanya meringis kesakitan namun akhirnya ia tertawa.
mo
Eilaria jadi malu karena memang ia sangatlah senang disentuh di situ. Ia senang jika Iel berlama-lama memainkan gunung kembarnya.
"Jangan malu, sayang." Iel memegang dagu istrinya. "Aku tahu kalau kamu akan cepat on jika aku menyentuhmu di situ. Namun aku juga harus berlama-lama menikmatinya karena jika si baby sudah datang, daddy pasti harus menahan diri. Soalnya itu untuk sementara akan menjadi milik baby nya."
Ada sesuatu yang Eilaria pikirkan saat mendengar kata baby. Dan ia jadi tersenyum saat membayangkan jika itu memang benar.
Eilaria berdiri lalu duduk di pangkuan Iel.
"Iel, di dekat sini ada apotik nggak?"
"Nggak tahu juga. Nanti ditanyakan pada petugas hotelnya. Memangnya kenapa sayang?"
"Kita menikah lagi sudah 6 minggu kan? Perasaanku mengatakan kalau aku tak datang bulan juga. Apakah mungkin kalau aku hamil?"
Mata Iel membulat. Jantungnya langsung berdebar-debar dengan rasa bahagia. "Sebentar sayang, aku tanyakan sekarang juga." Gabriel mencium pipi Eil dan langsung meminta agar Eil berdiri dari pangkuannya. Setelah itu ia segera pergi ke luar cottage dan mencari petugas hotel.
Hampir 20 menit Iel pergi dan kembali dengan beberapa test kehamilan di tangannya.
"Kata petugas apotiknya, jika saat ini di tes dan belum positif, kita dapat mencobanya besok pagi. Jika belum juga, maka kita dapat mencobanya lagi 3 hari kemudian."
Eilaria mengangguk. "Kita coba sekarang atau nanti besok pagi?"
"Sekarang saja sayang."
Eilaria mengangguk. Ia segera masuk ke kamar mandi. Mengambil wadah yang sudah disiapkan lalu menampung air seninya. Semuanya dilihat oleh Gabriel. Ia sama sekali tak mau keluar kamar mandi saat Eil memintanya.
Mata pasangan yang sedang berbahagia itu bersinar saat melihat ada dua garis merah yang muncul di sana.
"Ini beneran positif?" tanya Eilaria tak percaya. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca.
"Iya sayang. Namun jika kau ragu, kita bisa mencobanya besok pagi lagi." Kata Gabriel. Matanya pun ikut berkaca-kaca.
"Aku tak sabar menunggu besok pagi " Eilaria memeluk Gabriel dengan luapan kebahagiaan yang tak terbendung lagi. Pasangan suami istri itu keluar dari kamar mandi sambil bergandengan tangan.
"Istirahat saja, sayang. Hari ini kita di dalam cottage saja. Jika memang hasilnya positif, kita kembali ke Jakarta saja ya? Perjalanan ke pulau seribu kita tunda dulu."
__ADS_1
Eilaria mengangguk. Tangannya mengusap perutnya dengan penuh kasih. Ia sangat berharap besok hasilnya akan tetap sama.
*********
Keesokan paginya, mereka berdoa bersama. Lalu kemudian Eilaria melakukan tes lagi. Dan saat dilihat kalau hasilnya tetap positif, Iel langsung sujud syukur. Ia berterima kasih kepada Sang Pemilik kehidupan yang telah mewujudkan impiannya bersama Eilaria.
Mereka pun langsung melakukan panggilan Videocall pada Jero dan Giani.
Saat Iel mengangkat tespack dan memperlihatkannya di depan kamera, Jero dan Giani langsung bersorak gembira.
"Selamat yang Iel, Eil. Tuhan sungguh baik langsung menjawab doa-doa kita." Kata Giani dengan mata yang berkaca-kaca.
"Memang benih Dawson sungguh luar biasa." Ujar Jero membuat Giani harus menepuk kepala suaminya karena merasa malu ada Eil di sana.
Iel dan Eil tertawa melihat bagaimana Jero yang meringis sambil memegang kepalanya.
"Daddy benar, mom. Benih Dawson memang hebat. Ini karena kami berusaha siang dan malam dan tentu saja anugerah dari yang Kuasa."
Semuanya tertawa bahagia.
Gabrian dan Andrea yang baru saja memasuki ruang makan jadi heran melihat kedua orang tua mereka nampak bahagia.
"Wah, ada berita bagus apa nih?" tanya Gabrian.
"Iel baru saja Videocall. Eil hamil." Ujar Giani masih dengan pancaran mata yang bahagia.
Andrea pun terlihat senang. "Akhirnya, Keluarga kita akan ketambahan satu orang cucu lagi."
"Iya. Dan Daddy tak akan pernah membiarkan Eil dan Iel tinggal di apartemen mereka. Tinggal dulu di sini. Nanti jika anak-anak kalian sudah gede baru pindah. Daddy ingin rumah ini jadi ramai kembali dengan suara anak kecil." Ujar Jero dengan sangat bangganya.
Giani hanya bisa mengangkat kedua bahunya saat Ian menatapnya dengan tatapan protes. Bagaimana pun Ian ingin punya rumah sendiri. Namun semuanya tak ingin mengecewakan Daddy Jero yang nampak sedang bahagia menikmati kebersamaan dengan cucu-cucunya dan sedang bersemangat menanti kedatangan cucu yang lain.
*********
Hallo semua....
mungkin part ini kurang panjang...
maaf ya tangan emak masih sakit.
__ADS_1
ketiknya aja sangat pelan dan butuh waktu agak lama.