
Alexa sementara menyiapkan makan malam. Ketiga anaknya ada di rumah papa Aldo. Setiap weekend anak-anaknya akan ada di rumah orang tuanya. Papa Aldo dan mami bule selalu ingin cucu-cucu mereka ada di sana karena Joaldo sedang kuliah di Amerika.
Hari ini para pelayan diliburkan oleh Alexa karena dia ingin berdua saja dengan Oliver di 10 tahun pernikahan mereka.
Sejak siang Alexa sudah menyiapkannya sendiri. Ia memang tadi pagi tak mengatakan apa-apa pada Oliver. Alexa pura-pura lupa dengan dengan wedding anniversary mereka karena ia ingin membuat kejutan pada suaminya.
Semua makanan sudah siap di meja dan ia tinggal memotong buah saja karena Oliver selalu ingin memakan buah apa saja setiap kali selesai makan.
Hatinya berdebar-debar saat menunggu menunggu sang suami pulang, ia memutar lagu lawas kesayangannya, If You're Not The One yang dinyanyikan oleh Daniel Bedingfield (harap dicari dan didengar ya)
you're not the one, then why does my soul feel glad today?
Jika kau bukan seseorang itu, kenapa jiwaku merasa gembira hari ini?
If you're not the one, then why does my hand fit yours this way?
Jika kau bukan seseorang itu, kenapa tanganku begitu pas dengan tanganmu?
If you are not mine, then why does your heart return my call?
Jika kau bukan milikku, kenapa hatimu menjawab panggilanku?
If you you are not mine, would I have the strength to stand at all?
Jika kau bukan milikku, apakah aku akan memiliki kekuatan untuk bertahan?
I never know what the future brings
Aku tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan
But I know you're here with me now
Namun kutahu kau di sini bersamaku saat ini
We'll make it through and I hope
kita akan melewati ini dan kuharap
You are the one I share my life with
Kaulah seseorang yang akan berbagi hidup denganku
Wajah Alexa tersenyum sambil ikut mendendangkan lagu itu. Lagu yang juga disukai Oliver.
Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dan mengejutkan Alexa. Namun sedetik kemudian ia langsung tahu, siapa yang memeluknya dan kini menyodorkan setangkai bunga mawar merah.
"I love you!" bisik Oliver sambil mengecup punggung Alexa yang sedikit terbuka karena gaun yang ia pakai berpotongan V di punggungnya.
Alexa melepaskan pisau yang dipakainya untuk memotong semangka. Ia menerima bunga mawar itu, mencium harumnya lalu membalikan badannya. Dia langsung bertemu dengan tatapan mata suaminya yang nakal dan penuh cinta.
"Happy wedding anniversary, honey." Kata Oliver lalu mengecup bibir istrinya. Alexa tersenyum bahagia.
"Aku pikir kau melupakannya."
Oliver kembali mengecup bibir istrinya.
"Bagaimana mungkin aku melupakan hari yang paling bersejarah dalam hidupku? Hari dimana Tuhan memberikan seorang wanita terbaik dalam hidupku?"
Alexa melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Aku juga tak akan pernah melupakan hari bersejarah ini karena aku mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Cinta pertamaku, akan menjadi cinta terakhirku."
Oliver mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternya sebuah kotak hitam yang panjang. Saat Alexa membukanya, sebuah jam tangan mewah yang baru saja dilihatnya di internet beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu kalau aku menginginkan jam ini?" tanya Alexa saat Oliver memakaikan jam itu ditangannya.
"Aku suami mu, sayang. Pastilah aku harus tahu apa yang diinginkan oleh istriku."
"Terima kasih sayang." Kata Alexa lalu menarik leher suaminya agar lebih menunduk dan membuat bibir mereka menyatu dalam ciuman panjang yang penuh hasrat dan gairah.
"Makan malamnya sudah siap." Kata Alexa dengan napas yang terengah-engah sambil mendorong tubuh Oliver. Tangan Oliver sudah membuka reslating gaun yang dipakai Alexa.
"Aku belum terlalu lapar. Jadi kita lanjutkan saja." Kata Oliver sambil menarik gaun istrinya sehingga jatuh dengan cepat di kakinya.
"Nanti ada tamu yang..."
"Aku sudah menutup pintu pagar, menutup semua pintu masuk ke rumah ini, menurunkan tirai jendela dan mematikan CCTV." Oliver memotong ucapan Alexa sambil membuka kemeja kerjanya, melemparkan sepatu dan kaos kakinya secara cepat, lalu membuka celana kainnya.
"Kamu mau apa?" tanya Alexa sambil menelan saliva nya.
"Menikmati manisnya sebuah percintaan baru selesai itu menikmati makan malam bersama." Kata Oliver sambil mengangkat tubuh istrinya dan membuat Alexa menjerit kaget namun akhirnya diam dan pasrah ketika Oliver menurunkannya di atas sofa yang ada di ruang keluarga.
"Aku capek harus menggendong mu menuju ke kamar kita di lantai dua. Jadi kita melakukan nya di sini saja. Karena sudah agak lama tak bercinta di sofa. Siapa tahu kaki ini kita bisa memberikan adik bagi Abigail."
Mata Alexa membulat sempurna. "Honey, tidakkah tiga anak cukup bagimu?"
"Aku mau lebih sayang. Tiga rasanya ganjil. Harus digenapkan empat."
Alexa tertawa kecil. Oliver memang selalu ingin memiliki anak yang banyak. "Tapi sepertinya malam ini belum bisa sayang. Karena ini bukan hari suburku."
"Malam ini dan malam-malam selanjutnya, kita akan bekerja sama untuk membuatnya." kata Oliver sambil mengedipkan matanya.
"As you wish, honey." Alexa akhirnya pasrah. Ia selalu ingin membuat suaminya bahagia karena Oliver pun selalu membuatnya bahagia.
Maka selanjutnya, terjadilah apa yang mereka inginkan di ruangan itu, lagu Daniel tetap terdengar, membuat suasana romantis semakin terasa di ruangan itu.
***********
Eilaria yang baru saja selesai mengeluarkan isi perutnya hanya bisa menggeleng lemah. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Gabriel, lalu mengambil tissue yang dipegang oleh suaminya dan membersihkan mulutnya.
"Ayo kembali ke tempat tidur." Kata Eilaria.
Gabriel meletakan kembali kotak tissue lalu bersama bergandengan tangan keluar dari kamar mandi.
Eilaria naik ke atas tempat tidur, ia duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Sayang, apa yang kini kau rasakan?" tanya Gabriel sambil memegang pipi istrinya.
"Aku haus. Ingin minum."
"Sebentar ku ambilkan ya?" Gabriel berdiri dan segera mengambil gelas dan menuangkan air dari dispenser yang memang sudah tersedia di kamar itu.
Eilaria mengabiskan air dalam gelas itu. "Makasih sayang." kata Eilaria.
Gabriel meletakan gelas itu di atas nakas lalu ia kembali memegang kedua tangan istrinya. Ia sering merasa kasihan melihat Eilaria yang selalu muntah seperti ini jika pagi datang.
"Ingin sarapan apa?" tanya Gabriel.
"Ingin makan roti gandum saja. Tapi aku nggak mau minum susu hamil ya? Rasanya nggak enak. Aku minum teh manis saja."
"Akan ku buatkan."
"Kamu nggak ke kantor? Bersiaplah. Nanti aku minta pelayan untuk menyiapkan sarapan ku."
"Aku nggak pergi saja. Mana bisa aku bekerja jika aku selalu memikirkan keadaanmu. Kau mengalami masa ngidam yang sulit. Andai saja aku bisa mengambil semua rasa sakit mu ini."
__ADS_1
Eilaria memegang tangan Iel. "Aku melewati semuanya ini dengan rasa syukur. Walauoun kadang terasa siksa karena mual dan muntah, kadang kepala sakit dan pusing, namun aku melewati proses ini dengan ikhlas. Karena aku tahu di dalam sini ada buah cinta kita yang sedang tumbuh dan berkembang."
Gabriel membawa istrinya ke dalam dekapannya. "Aku bangga memilikimu, sayang."
"Aku juga merasa bangga dimiliki olehmu. Aku menjadi wanita yang paling beruntung. Memiliki suami yang bukan hanya mencintaiku tapi juga menjaga aku dan calon anak kita" Kata Eilaria sambil mengeratkan pelukannya.
Gabriel mencium puncak kepala istrinya berulang kali. Setelah itu ia segera ke dapur untuk membuatkan sarapan bagi istrinya.
Di dapur ada Gabrian yang sedang membuat susu bagi Andrea.
"Good morning!" sapa Gabrian saat melihat Gabriel memasuki dapur.
"Morning. Susu untuk Andrea?"
"Iya. Andrea hanya ingin minum susu pagi ini. Nanti sekitar jam 10 baru dia akan sarapan."
Gabriel menatap Gabrian yang sudah siap dengan baju kerja.
"Aku berangkatnya terlambat ya?" ujar Gabriel.
"Di maklumi." ujar Ian. "Berilah perhatian yang besar untuk Eil. Aku kehilangan momen itu waktu Andrea hamil anak pertama. Makanya sekarang, sesingkat apapun waktuku, aku selalu menyiapkan keinginan Andrea."
"Ya. Itulah yang aku inginkan. Makanya jangan marah kalau aku jarang hadir di kantor. Mungkin kalau Eil tak mengalami rasa ngidam lagi, aku akan kembali bekerja secara normal."
"Tenang saja. Aku akan mengurus perusaan Dawson dan juga perusahaan mu."
Giani yang melihat kedua putranya menjadi sangat bahagia.
"Ada apa bunda?" tanya Gabrian.
"Hati bunda bahagia melihat kalian berdua saling mendukung. Istri-istri kalian pasti menjadi wanita yang paling bahagia. Kalian sungguh suami idaman." Ujar Giani.
"Siapa dulu daddy-nya" Jero tiba-tiba muncul di belakang Giani dan langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Daddy memang suami idaman. Mommy, apakah daddy juga pacar pertama mommy?" tanya Gabriel.
Giani menggeleng. "Kami nggak pacaran. Langsung nikah aja."
"Terus mommy pacar daddy yang ke berapa? Katanya daddy dulu seorang play boy ya?" Gabriel semakin penasaran.
"Mommy kalian adalah wanita terbaik yang pernah Daddy miliki. Makanya Daddy sangat posesif padanya karena sampai sudah punya cucu pun masih saja ada lelaki yang mengejarnya." Ujar Jero dengan wajah kesal.
"Uncle Fidel...!" tebak Gabrian dan Gabriel kompak sambil tertawa.
Giani membalikan badannya. Menatap suaminya yang menurut dia semakin tampan saja walaupun usianya mendekati lansia.
"Mommy selalu merasa beruntung karena dulu memaksa daddy untuk menikah dengan mommy."
"Memaksa gimana?"Kali ini Gabrian yang penasaran.
Jero dan Giani saling berpandangan. "Cukup kami saja yang tahu." Lalu keduanya berciuman dengan sangat lembut.
Andrea dan Eilaria yang bersamaan memasuki dapur, tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Mereka menyadari, jalan hidup bersama selaku pasangan suami istri masih sangat panjang. Dan mereka ingin berakhir sampai tua seperti Jero yang menjadikan Giani istimewa.
************
Terus, bagaimana nasib Figia? Apakah ia masih mengeraskan hatinya dan menolak Mark?
Dukung emak terus ya
Isoman hari ke-8
__ADS_1