
Si kembar sudah tidur di kamar mereka dengan sangat lelap. Gabrian baru saja membacakan cerita pengantar tidur. Ini yang dia lakukan hampir setiap malam. Selain semakin mendekatkan dirinya dengan anak-anaknya, juga semakin mendekatkan dirinya dengan Andrea.
"Mereka sudah tidur?" tanya Andrea saat Gabrian menemuinya di dapur. Perempuan itu baru saja selesai membersihkan dapur. Tadi, mereka berempat masak makan malam bersama sehingga dapur berantakan. Selesai makan malam, Gabrian menemani si kembar mengerjakan PR nya lalu kemudian menemani mereka tidur.
"Iya."
"Kamu pasti capek ya? Dari kantor langsung ke sini." Ujar Andrea lalu memanaskan air. "Mau kopi?"
"Boleh juga." Gabrian nampak senang. Ia menarik kursi dan duduk di depan meja pantri.
"Aku memang capek. Namun rasa capekku langsung hilang saat melihat wajah cerita mereka yang menyambut ku, memberikan aku ciuman dan mendengarkan cerita mereka seperti obat penguat bagiku."
Ada rasa bahagia dalam hati Andrea saat menyadari bahwa Gabrian sangat menyayangi anak-anak mereka.
Andrea mulai meracik kopinya. Ia memang suka membuat kopi secara manual walaupun ada mesin pembuat kopi di dapur.
"Ah.....!" Andrea menjerit kesakitan saat tanpa sengaja air panas yang dituangkannya mengenai jarinya.
"Kamu kenapa Andrea?" tanya Gabrian secara spontan langsung berlari ke arah Andrea lalu memegang tangan perempuan itu.
"Mana yang sakit?"
Andrea mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya yang sudah memerah.
"Sakit?"
"Sedikit. Aku akan meneruskan membuat kopi ini." Andrea menarik tangannya dari genggaman Gabrian saat ia merasakan kalau jantungnya berdetak sangat cepat.
"Biar aku saja. Kau berikan saja obat kompres untuk jarimu."
Andrea segera membuka kotak obat yang berada di antara ruang dapur dan ruang makan. Ia mengambil salah satu botol yang merupakan obat kompres untuk luka dan mulai mengobati tangannya. Sementara Gabrian membuatkan kopi untuk mereka.
"Bagaimana tangan nya?" tanya Gabrian sambil meletakan 2 cangkir kopi di atas meja makan.
"Sudah membaik." Jawab Andrea lalu mengambil tempat duduk di samping Gabrian.
"Matanya kemana sampai nggak lihat airnya?" tanya Gabrian sambil menatap Andrea penuh perhatian.
"Eh...nggak kemana-mana. Hanya sedang siap saja. Mungkin."
Gabrian memberanikan diri memegang tangan Andrea yang terluka. Tangan itu kini sudah dibungkus dengan kain kasa.
"Kalau besok masih sakit sebaiknya ke dokter saja."
"Hanya luka kecil. Nggak perlu ke dokter." Kata Andrea semakin salah tingkah karena Gabrian menarik kursinya agar semakin dekat Andrea.
Ia akan menarik tangannya dari genggaman Gabrian namun pria itu menahannya.
"Hanya pegangan tangan saja memangnya nggak boleh? Kita bahkan sudah pernah melakukan lebih dari itu dan menghasilkan si kembar."
"Ian....!" Wajah Andrea menjadi merah dan membuat Gabrian jadi gemas. Ia kini memegang kedua tangan Andrea.
"Ian...., jangan menatap aku seperti itu!"
Gabrian terkekeh. "Memangnya kenapa? Andrea, usiaku sudah 29 tahun, usiamu juga sudah 28 tahun. Masa kita harus kayak ABG lagi? ABG saja nggak kayak kita. Mereka sekarang langsung ciuman."
"Kamu....!" Andrea melotot. Pura-pura marah pada hal dia ingin begitu dekat dengan Gabrian.
Gabrian mencium kedua tangan Andrea dengan penuh rasa cinta. Ia memegang wajah cantik itu dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain masih memegang tangan Andrea.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bisa mencium mu?" tanya Gabrian sambil membelai pipi Andrea dengan lembut.
"Ian, aku...." Andrea menjadi gugup.
__ADS_1
"Cium sekarang, boleh ya?" Gabrian semakin memajukan tubuhnya. Jarak wajah mereka begitu dekat. Napas mereka menyentuh kulit wajah masing-masing. Bahkan hidung mancung keduanya hampir bersentuhan.
"Ian, kopinya nanti dingin." Andrea akan memundurkan tubuhnya namun tangan Gabrian menahan tengkuknya agar tak bergerak.
"Kopinya masih panas. Jadi, bolehkan? Aku ingin menikmati yang ini dulu." Telunjuk Gabrian menunjuk bibir Andrea.
Andrea menelan salivanya. Ia menarik napas panjang.
"Boleh?" Suara Gabrian serak dengan tatapan mata penuh damba.
"Ya." Jawab Andrea pelan dan langsung membuat Gabrian mencium bibir indah Andrea yang sudah sangat dirindukannya itu.
Andrea membalas ciuman Gabrian. Walaupun awalnya masih malu dan kaku, namun lama-kelamaan ciuman itu menjadi panas.
Gabrian melepaskan bibir Andrea namun tak mengehentikan ciumannya. Karena ciuman itu sudah berpindah ke pipi Andrea, turun ke dagunya, dan berhenti di leher Andrea.
"Ian....!" Andrea memegang ujung kemeja Gabrian dengan kuat sambil memejamkan matanya. Ia merasakan ciuman Gabrian dilehernya sangat membakar gairahnya. Dan ia yakin ada tanda merah yang Ian berikan di sana.
Entah bagaimana caranya, Gabrian sudah menarik tubuh Andrea sehingga Andrea sudah duduk dipangkuan Gabrian.
Gabrian kembali mencium bibir Andrea sementara tangannya sudah menyusup masuk ke dalam kaos ketat yang Andrea kenakan. Menyentuh kulit perut Andrea dengan gerakan menggoda.
Telepon Gabrian yang ada di atas meja tiba-tiba saja berbunyi. Gabrian ingin mengabaikannya namun nada dering itu khusus ia tandai pada nomor keluarganya.
Dengan sangat tak rela, Ian menghentikan aktivitas tangannya di tubuh Andrea lalu mengambil ponselnya.
"Bunda, ada apa?"
Mengetahui kalau Giani yang menelepon, Andrea langsung turun dari pangkuan Gabrian dan pura-pura menikmati kopinya.
"Ada apa?" tanya Andrea setelah Gabrian selesai menerima telepon. .
"Bunda meminta ijin, apakah boleh besok si kembar di main di rumah? Soalnya daddy ulang tahun. Daddy juga ingin agar mereka menginap. Kan besoknya nggak sekolah."
"Kamu juga ikut kan?"' tanya Gabrian sambil menatap Andrea penuh harap.
"Iya. Aku akan ikut."
"Ikut menginap?" .
"Eh.....aku....., nanti lihat gimana besoknya."
Gabrian tersenyum. Ia menyesap kopinya sambil terus melihat Andrea dan membuat perempuan itu menjadi malu.
"Kamu kenapa lihat aku terus seperti itu?"'tanya Andrea sambil mendorong pipi Gabrian agar tak lagi menoleh ke arahnya.
Tangan Gabrian langsung menahan kembali tangan Andrea. "Aku suka menatap mu. Kau cantik. Mata indah mu sama persis ketika aku menatap si kembar."
"Hanya matanya saja yang mirip aku. Selebihnya mereka mirip dirimu."
"Mungkin karena aku yang terlalu bergairah saat kita bercinta."
"Ian......!" Wajah Andrea memang sudah semakin memerah. Percakapan mereka saat ini membuat jantung keduanya berpacu secara cepat. Ingatan apa yang terjadi di kamar hotel Bali 5 tahun yang lalu itu kembali bermain di otak mereka masing-masing.
"Ini sudah larut, Ian. Sebaiknya kau pulang." Andrea memutuskan untuk mengusir Gabrian secara halus. Jika tidak, mungkin mereka akan berakhir di tempat tidur. Dan Andrea tak ingin itu terjadi sampai status mereka kembali sah sebagai suami istri.
"Baiklah." dengan berat hati Gabrian berdiri. Ia juga tahu terlalu lama berada di sini akan sangat menyiksanya. Jujur, dia begitu ingin menyentuh Andrea. Hasratnya sebagai lelaki begitu kuat mendorongnya untuk membawa Andrea ke tempat tidur. Sekalipun mereka berada di dunia modern yang menganggap hubungan intim itu hal yang wajar, namun Gabrian menghargai prinsip Andrea.
"Besok, sepulang sekolah, aku langsung menjemput mereka ya? Kamu akan ikut kan?" tanya Gabrian saat ia sudah berada di depan pintu.
"Aku pergi belakangan saja. Soalnya ada sesuatu yang harus aku kerjakan besok siang. Acara ulang tahunnya daddy jam berapa?'
"Jam empat sore katanya."
__ADS_1
"Aku akan ada di sana sebelum jam 3 sore."
Gabrian mengangguk. Ia memeluk Andrea dengan sangat erat. "Rasanya aku tak mau lagi meninggalkan kalian bertiga sendiri."
"Bersabarlah sedikit sampai si kembar bisa mengerti siapa dirimu bagi mereka. Dan juga mereka akan mengerti jika melihat kita nantinya bersama."
"Ok." Gabrian mencium dahi Andrea, lalu turun ke bibirnya. Mencium dengan lembut dan agak lama. "Good ninght, sayang." Kata Gabrian saat ciuman mereka terurai.
"Good ninght, Ian."
Gabrian pun pergi dengan mobilnya.
********
Atas usul yang diberikan Alana padanya, di sinilah Eilaria. Berdiri di depan pintu ruangan Gabriel untuk yang kedua kalinya. Alana mengatakan kalau Eilaria yang harus mengejar Gabriel untuk membuktikan bahwa ia memang sudah tak ragu lagi untuk menentukan hatinya antara Gabriel dan Gabrian.
Sekretaris Gabriel mengatakan kalau Gabriel sudah menunggunya di dalam. Akhirnya Eilaria mengetuk pintu itu dan terdengar suara Gabriel memintanya untuk masuk.
"Selamat siang....!" Sapa Eilaria dan sedikit kecewa saat menemukan lagi kalau Gabby ada di sana.
"Mari masuk, Eil!" Ajak Gabriel.
Eilaria memegang bekal makan siang yang dibawahnya sendiri dari rumah. Ia bahkan tak masuk kantor hanya karena ingin menyiapkan ini bagi Gabriel.
"A....aku membawakan makan siang. Siapa tahu kamu belum makan dan kita bisa makan siang bersama."
Gabriel tersenyum. "Kebetulan kami memang belum makan. Gabby, ayo makan siang bersama dengan kami."
Gabby terkejut. "Aku....!"
"Ayolah, Gabby. kau pasti akan suka karena masakan Eil sangat enak."
Akhirnya, mereka pun makan siang bersama. Gabby terlihat tak enak hati karena ia yakin Eil pasti ingin berdua dengan Iel. Makanya setelah makan, Gabby langsung pamit ke ruangannya dengan alasan banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
"Terima kasih untuk makanan pedas yang sangat enak ini." kata Gabriel saat Eil sudah membereskan tempat makanan yang dibawahnya.
"Aku senang karena kau menyukainya." Kata Eil lalu mencuci tangannya di wastafel. Setelah mengeringkannya dengan tissue, Eil pun pamit.
"Aku pulang dulu ya?"
Gabriel mengangguk. Ia mengantarkan Eil sampai di depan pintu.
"Hari ini daddy ulang tahun. Kau mau datangkan?"
"Akan ku usahakan."
"Mommy Giani pasti senang melihatmu."
"Acaranya jam berapa?"
"Jam 4 sore."
"Jika aku bisa, aku pasti datang. Aku pergi ya." Tangan Eil akan membuka pintu namun Gabriel mendorongnya sehingga punggungnya menyentuh pintu. Dengan cepat, Gabriel langsung mencium bibir Eil dengan lembut membuat Eil hampir kehilangan kendali dirinya.
"Terima kasih untuk makan siangnya." bisik Gabriel di ujung bibir Eil dengan napas yang belum stabil akibat ciuman panjang mereka.
"Selamat siang...!" Eil langsung membuka pintu dan keluar dari ruangan Iel dengan hati yang bahagia.
***********
makasi sudah baca part ini.....
jangan lupa dukung emak terus ya guys
__ADS_1