Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kemarahan Eilaria


__ADS_3

Gabrian turun dari mobilnya. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Ia memang sengaja pulang larut. Pekerjaannya sudah selesai dari jam 7 malam. Namun dia enggan pulang cepat karena tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan Eilaria. Pesona gadis itu membuat Ian semakin jatuh cinta padanya.


Saat ia membuka pintu apartemen, ia berharap bisa seperti malam-malam sebelumnya pintu ruang tamu sudah gelap dan Eil sudah tertidur di kamarnya.


Namun yang dilihatnya saat ini, ruang tamu masih terang dan Eilaria sedang duduk manis di atas sofa dengan gaun tidurnya yang lumayan seksi, sedang bersedekap sambil menatapnya tajam.


"Eil, ada apa?"


Eilaria berdiri. "Mengapa kau menikah denganku kalau ternyata kau punya gadis lain? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari pernikahan ini?"


"Apa maksud kamu, Eil?"


"Dati pagi sampai siang aku hubungi ponselmu tapi selalu off."


"Maaf. Aku lupa mengisi dayanya."


"Oh ya? Lalu bagaimana kau bisa bikin janji dengan seorang gadis di restoran? Kalian bahkan tertawa bersama dan pake ciuman pipi segala. Kau memeluknya saat ia hampir jatuh, memapahnya sampai kalian keluar restoran itu."


"Restoran?"


Eilaria yang sudah diliputi rasa cemburu yang hebat, mengacak pinggang. "Kau ke restoran tadi siang kan, Iel. Restoran yang baru saja di buka. Aku melihatmu dengan seorang perempuan. Kalian berpelukan sambil cipika-cipiki. Kamu selingkuh?"


Gabrian untuk sesaat hanya diam. Eil melihat aku bersama Figia. Untungnya dia tak datang dan melabrak kami.


"Kenapa kamu diam? Berarti dugaan aku benar kan? Gadis itu pasti kekasih mu yang lain. Lalu kenapa kamu menikahi aku jika kamu memiliki gadis yang lain?" seru Eilaria diantara tangis dan luapan emosinya.


"Sayang, bukan seperti itu. Aku hanya terkejut saja mendengar kalau kau ada di restoran itu? Kenapa tak datang dan menyapa kami?"


"Siapa perempuan itu?"


"Dia sahabatku. Dia seorang ahli hukum. Aku dan dia janjian untuk membahas masalah yang ada di perusahaan."


"Aku tak percaya!" kata Eilaria masih dengan luapan emosi yang sama.


"Eil, dengar...!" Gabrian mendekat dan hendak memegang tangan Eilaria namun gadis itu menepiskan nya dengan kasar.


"Apa yang menyebabkan kamu berubah setelah menikah, Iel? Aku merasa seperti menikah dengan orang lain. Di mana keromantisan mu, kehangatan mu dan semua bualan gombal mu yang sangat aku suka itu? Kenapa kau tak pernah merayuku lagi dengan kata-kata manis mu? Saat tidur pun aku merasa kalau kau sangat kaku memelukku. Kau bahkan jarang sekali mencium ku. Ada apa?" tanya Eilaria seakan putus asa. "Apakah karena perempuan itu?"


"Dia sahabatku, Eil."


"Mengapa selama 4 bulan kita pacaran, kau tak pernah memperkenalkan dia padaku?"


"Karena dia sedang di London, Eil. Aku yang memintanya untuk datang."


Eilaria nampak masih belum percaya. "Lalu, soal perubahan sikapmu? Apa yang akan kau jelaskan?'"

__ADS_1


"Tolong mengerti, Eil. Masalahku sedang berat saat ini." Gabrian ingin sekali memeluk dan menenangkan gadis itu. Namun ia takut tak bisa menahan perasaannya. Dia sekarang merasa justru sangat menyakiti Eilaria. Dia tak mau mengambil keuntungan dari Eilaria karena yang menikah dengan Eil adalah Iel bukan Ian.


Tangan Eilaria menghapus air matanya dengan kasar. Iel bahkan tak mau memelukku. Dia sungguh telah berubah.


"Eil....!" Gabrian dapat melihat luka dari pancaran mata indah perempuan yang ada di depannya itu.


Eilaria menatap pria yang ada di depannya. "Aku ingin sendiri." Eilaria segera berlari meninggalkan suaminya. Ia menuju ke kamar, mengganti gaun tidurnya dengan celana jenas dan sebuah kaos polos berwarna putih. Ia mengambil dompet dan ponselnya. Lalu turun ke bawah.


"Eil, kau mau kemana?" tanya Gabrian yang masih duduk di sofa.


"Aku mau tidur di apartemen ku."


"Sayang, jangan seperti ini." Gabrian memaksakan dirinya menahan tangan Eilaria.


"Lepaskan!" Eilaria menarik tangannya namun Gabrian menahannya dengan kuat.


"Jangan pergi! Aku mohon!" pinta Gabrian. Hatinya hancur.


"Jangan halangi aku!"


Gabrian lebih kuat menarik Eilaria sampai akhirnya ia berhasil memeluk Eilaria dengan sangat erat.


"Lepaskan!" Eilaria berusaha melepaskan diri namun Gabrian sudah memeluknya dengan erat.


"Lepaskan!" Eilaria yang tadinya hampir luluh dengan pelukan Gabrian secara cepat mendorong dada lelaki itu.


"Setidaknya biarkan aku mengantarmu ke apartemen mu. Ini sudah hampir tengah malam." kata Gabrian lalu meraih kunci mobilnya.


Mata Eilaria terbelalak. "Kenapa kau mengambil kunci mobil?"


"Untuk mengantarmu."


Eilaria menatap Gabrian dari atas kepala sampai ke ujung kaki. "Apakah kau lupa kalau apartemen ku hanya bersebelahan dengan gedung ini dan masih dalam satu kawasan? Aku bahkan hanya butuh dua puluh langkah untuk sampai ke apartemen sebelah."


Gabrian dibuat sangat kaget dengan pengakuan Eilaria. Ia kembali melakukan kesalahan. Namun dengan cepat ia berusaha menguasai keadaan.


"Aku tahu, sayang. Namun aku ingin mengajakmu makan malam. Aku sangat lapar. Dan aku melihat meja makannya kosong."


"Kau belum makan?" tanya Eilaria ada sedikit nada khawatir di suaranya. Emosinya perlahan surut.


"Kami tadi rapat sampai jam 9 malam. Aku dan Gerry masih mengerjakan beberapa tugas lagi. Makanya belum makan." Gabrian terpaksa bohong. Sebenarnya saat rapat tadi, mereka sempat istirahat makan. Namun ia cara terbaik yang dapat dilakukannya untuk menutupi ketidaktahuan nya mengenai letak apartemen Eilaria yang dipikirnya berada jauh dari apartemen Iel ini.


"Duduklah. Aku akan memanaskan makanan." Kata Eilatia walaupun dengan nada yang sedikit ketus namun sudah cukup membuat Ian lega. Eilaria segera membuka kulkas dan mengeluarkan makanan yang disimpannya di sana. Sebenarnya tadi ia memasak. Namun karena ia tahu bahwa suaminya pasti sudah makan seperti malam-malam sebelumnya, ditambah lagi dengan hatinya yang sedang di dera rasa cemburu, ia segera memasukan makanan itu ke dalam kulkas. Ia sendiri juga belum makan.


Setelah makanan selesai dipanaskan oleh Eilaria, Gabrian pun makan walaupun harus menahan rasa sesak di perutnya. Apalagi nasi yang diambilkan Eil cukup banyak dan Ian sebenarnya jarang makan nasi jika sudah malam.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang." kata Gabrian sambil tersenyum manis. Ia berdiri. "Aku mau mandi dulu, ya." Katanya lalu melangkah. Namun baru beberapa langkah ia berbalik. "Please, jangan pergi ke apartemen mu ya? Jika aku sudah selesai mandi, kita akan bicara lagi."


Eilaria hanya diam. Namun kepalanya mengangguk juga. Saat Gabrian mandi, ia pun membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan.


Di dalam kamar mandi, Gabrian sebenarnya sedang bergumul dengan perasaannya sendiri. Bukannya ia tak tahu bagaimana memperlakukan seorang gadis dengan romantis dan penuh kasih sayang. Memang ia selama ini belum pernah pacaran namun nuraninya sebagai seorang laki-laki akan mengajarkannya secara natural tentang itu. Namun Ian tak mau mengambil keuntungan lebih dari Eilaria yang ia tahu bukanlah istrinya. Kembali terbayang percakapannya dengan bundanya Giani tadi sore sebelum rapatnya di mulai.


"Bunda, bagaimana keadaan di sana?" tanya Gabrian.


Terdengar tangis Giani. "Tim dokter belum bisa memberikan kepastian kapan Iel akan sadar, nak. Kondisinya justru semakin memburuk."


"Bunda jangan putus asa, ya? Bukankah bunda selalu mengajarkan pada kami bahwa mujizat itu selalu ada?"


"Bunda tahu, sayang. Namun melihat keadaan Iel, bunda hampir putus asa."


"Apakah aku harus ke sana untuk menjenguk Iel?'"


"Jangan! Temanilah Eilaria dulu. Di sini bunda selalu membisikan pada Iel bahwa dia nggak perlu khawatir karena ada yang menjaga Eil."


"Bunda, rasanya aku nggak sanggup untuk terus berbohong pada Eil. Aku nggak bisa terus menerus menggunakan alasan punggungku yang luka untuk menghindarinya. Lama-lama Eil akan curiga kenapa aku nggak menyentuhnya."


"Bersabarlah sedikit lagi, nak."


"Akan ku usahakan bunda!"


Gabrian memandang wajahnya ke kaca besar yang ada di kamar mandi itu. Percakapan itu semakin membuatnya gelisah. Bagaimana jika Iel tak kunjung sadar? Bagaimana jika yang terburuk Iel justru tak bisa bertahan? Apa yang harus Gabrian katakan pada Eil? Sementara rasa cinta yang dulunya perlahan disingkirkannya untuk memberi kebahagiaan bagi Iel dan Eil kini tumbuh lagi. Ada rasa ingin memiliki yang perlahan muncul dan berusaha di hilangkannya. Eilaria bagaikan magnet yang perlahan menyeret Ian untuk semakin terikat padanya.


"Gabriel.....!" panggil Eilaria sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Gabrian sadar, kalau ia sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi.


"Sebentar!"


Ia pun mandi secepat mungkin dan mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya dan dengan handuk yang sama, Ian membungkus tubuh bagian bawahnya lalu keluar dari kamar mandi. Nampak Eilaria sudah menyiapkan bajunya di atas tempat tidur.


"Lukamu sudah sembuh? Kau tidak menggunakan perban lagi?" tanya Eilaria.


Gabrian yang sedang membelakangi Eilaria mengigit bibir bawahnya, menyesali kembali kebodohannya sendiri yang keluar kamar mandi tanpa menggunakan baju.


Sementara Eilaria tersenyum senang. Sesaat ia melupakan rasa cemburunya pada gadis yang dilihatnya di restoran bersama Iel. Dengan cepat ia mendekat dan memeluk suaminya dari belakang membuat jantung Gabrian seakan berhenti berdetak.


*********


Apakah yang akan terjadi???


dukung emak terus ya guys.....

__ADS_1


__ADS_2