Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kamar Gabrian


__ADS_3

Eilaria menatap Gabriel yang nampak terlelap. Ia mendekat, duduk di tepi tempat tidur dan menyeka keringat yang ada di dahi Gabriel. Tangannya kemudian meraih remote AC dan menyetel suhu sehingga lebih dingin. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu. Saat tangannya sudah memegang gagang pintu, Eilaria menjadi ragu. Ia merasa tak pantas untuk masuk ke kamar Ian secara diam-diam. Namun ada dorongan dalam hatinya untuk terus pergi ke kamar itu. Perlahan, ia pun membuka pintu kamar dan berharap agar tak menimbulkan suara yang dapat membuat Iel terbangun, lalu ia menutupnya kembali secara perlahan.


Matanya menatap pintu kamar Ian. Entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat. Ia bahkan merasakan ada keringat dingin yang membasahi dahinya.


Tangan Eilaria menyentuh gagang pintu itu lalu dibukanya perlahan. Ruang kamar itu nampak gelap. Eilaria mencari tombol lampunya dan menyalahkannya. Ia kemudian menutup pintunya perlahan. Matanya langsung menatap seisi ruangan kamar ini. Rak buku yang penuh dengan berbagai novel dari berbagai bahasa. Matanya pun menatap ranjang yang ada di sana. Beberapa waktu yang lalu, ia pernah tidur di sini. Bersama Gabrian yang disangkanya adalah Gabriel.


Saat hatinya merasa sakit ketika mengingat moment itu, Eilaria pun buru-buru mengeluarkan kenangan itu dari kepalanya. Ia bisa gila jika terus memikirkan apa yang sudah dilaluinya bersama Ian.


Matanya sibuk menatap judul novel itu satu persatu. Ia akhirnya memilih 2 novel yang memang belum pernah dibacanya. Satu novel berbahasa Inggris dan yang satu novel bahasa Indonesia.


Saat ia akan meninggalkan kamar, ia terkejut melihat pintu kamar yang terbuka dan ternyata Giani yang berdiri di sana.


Keduanya sama-sama terkejut. "Eil?"


"Mommy?"


Wajah Eilaria langsung merah. "Eh, aku nggak bisa tidur makanya aku ke sini untuk meminjam beberapa novel."


Giani tersenyum. "Mommy juga suka membaca novel jika tak bisa tidur. Kau sudah memilihnya?"


Kepala Eilaria mengangguk sambil mengangkat dua novel di tangannya.


"Ya, sudah. Mommy hanya mengecek keadaan Stevany karena tadi waktu tiba ia mengeluh sakit tenggorokan. Saat melihat lampu kamar Ian menyala, mommy bermaksud untuk mematikannya, ternyata kamu ada di sini."


"Maaf jika aku kurang sopan masuk kamar Ian tanpa permisi." Eilaria tertunduk malu.


"Jangan merasa malu ya? Ian juga tak akan marah jika ada yang mau meminjam novelnya. Mommy kembali ke kamar dulu." kata Giani dan langsung meninggalkan Eilaria, menuju ke kamarnya yang ada di lantai satu.


Eilaria pun mematikan lampu kamar Gabrian dan segera menuju ke kamar sebelah.


**********


"Ada apa, sayang? Apakah Stevany baik-baik saja?" tanya Jero yang terbangun dan melihat istrinya duduk di tepi tempat tidur dengan wajah sedih.


Giani menatap suaminya yang kini ikut bangun dan duduk di sampingnya.


"Stevany sudah tidur nyenyak."


"Lalu apa yang membuat istriku ini bersedih?" tanya Jero lalu mengambil tangan Giani dan menciumnya lembut.


"Aku melihat lampu kamar Ian menyala. Saat aku buka, ternyata ada Eil di sana. Ia mengatakan tak bisa tidur dan ingin membaca beberapa novel."


"Lalu, apa masalahnya?"


Giani menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Bee, sepertinya apa yang ku takutkan terjadi. Eil merasa tertarik juga dengan Ian. Mereka pernah tidur di rumah ini waktu kita masih di Singapura. Makanya Eil tahu kalau di kamar Ian banyak novel. Namun aku pikir bukan masalah novelnya, Bee. Eil mencari sesuatu yang mengingatkannya tentang Ian di kamar itu."

__ADS_1


"Sayang, bisa saja kan Eil memang hanya ingin meminjam novel?"


"Entahlah, Bee. Aku takut kedua anakku akan terluka. Aku takut kalau Eil pada akhirnya tak bisa memilih antara Iel dan Ian."


Jero melingkarkan tangannya di bahu Giani sambil mengusap lengan istrinya lembut. "Eil hanya bingung. Namun ia kembali akan menemukan rasa cinta yang besar bagi Iel nanti. Sekarang tidur ya? Ini sudah jam 2 subuh." Jero menarik tubuh Giani perlahan dan membaringkannya. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


Perlahan, Giani tidur menyampingkan dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Jero tersenyum senang. Ia mencium puncak kepala istrinya lalu membelai kepala Giani dengan lembut. Keduanya pun tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya terlelap dalam mimpi.


*********


Gabriel terbangun karena rasa buang air kecil. Saat ia menoleh ke samping, ia tak menemukan Eilaria ada di sana. Bahkan tempat tidur itu terlihat sangat rapih seolah belum sempat ditiduri. Ia pun duduk dan mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar yang nampak remang karena cahaya yang ada hanya lampu dari balkon kamar.


Gabriel mengambil remote yang ada di atas nakas dan menyalakan lampu kamar. Ia pun melihat Eilaria yang sedang tertidur di atas sofa. Kenapa dia tidur di situ ya?


Perlahan, Gabriel meraih tongkat penyangga dan berdiri. Ia berjalan mendekati Eilaria. Di lihatnya istrinya itu sedang tertidur dengan nyenyak. Gabriel akan membangunkannya saat matanya melihat sebuah novel yang ada di atas meja dan satu lagi yang terjatuh di lantai. Sepertinya Eilaria membacanya sebelum tidur.


Gabriel akan kembali melangkah ke kamar mandi, namun ia mengurungkan niatnya. Sejak kapan Eil punya novel? Apakah ia memang selalu membawa novel?


Tangan Gabriel mengambil novel yang ada di atas meja. Ia membuka halaman pertamanya dan menemukan nama GD dan tanggal dan tempat pembelian novel. Ini adalah novel milik Ian. Saudara kembarnya itu selalu menuliskan inisial namanya di setiap novel yang ia beli sekaligus juga dengan tanggal dan tempat ia membelinya. Ian pernah bilang itu ia tuliskan agar tak pernah lupa kapan membeli novel itu.


Jadi, Eil semalam ke kamar Ian?


Hati Gabriel merasa cemburu.


Mengapa hatiku sakit saat memikirkan kalau Eil ke kamar Ian? Bagaimana ia bisa tahu kamar Ian? Apakah sewaktu aku masih koma, mereka pernah ke rumah ini? Mereka tidur di kamar Ian? Tidak! Aku tidak boleh marah. Bukankah aku yang meminta Ian untuk menggantikan aku? Aku harus menerima apapun juga yang pernah terjadi diantara mereka. Yang harus kulakukan sekarang adalah memperjuangkan kembali hati Eil agar hanya fokus kepadaku. Aku yakin kalau Eil akan kembali mencintaiku seutuhnya.


Ia pun melangkah menuju ke kamar mandi. Saat ia sudah selesai dengan urusan di dalam kamar mandi, Gabriel kembali menatap Eilaria yang masih nampak pulas dengan tidurnya. Andai saja tangan dan kakinya sudah kuat, ia pasti sudah mengangkat tubuh Eilaria dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Ia ingin membangunkan Eil namun tak tega menganggu tidurnya. Akhirnya, ia pun mengambil selimut dari dalam lemari dan menyelimuti tubuh istrinya. Ia sendiri kembali ke tempat tidurnya karena waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Namun karena rasa kantuknya sudah hilang, Gabriel memutuskan untuk bangun dan berolahraga kecil di halaman belakang. Dokter memang menyarankan dia untuk selalu menggerakkan kaki dan tangannya sesering mungkin.


Ia menuruni tangga dan menemukan bahwa semua penghuni rumah masih terlelap kecuali para pelayan yang sudah mulai membersihkan rumah.


Di rumah ini mereka memang memiliki 3 pelayan perempuan dan dan satu pelayan laki-laki yang biasa mengurus taman bersama dengan mamanya. Giani memang sangat suka dengan bunga. Mereka juga memiliki 2 orang sopir. Sopir yang satu biasanya mengantar Stevany dan Joselin ke sekolah, sedangkan sopir yang lain selalu mengantar daddy ke kantor.


"Selamat pagi tuan....!" Sapa bi Yem, pelayan yang paling tua.


"Selamat pagi, bi."


Gabriel tahu, para pelayan pun walau sudah bertahun-tahun bekerja di sini, seringkali masih bingung untuk membedakan mana Ian dan mana Iel.


Saat ia sementara berolahraga, Giani datang menemuinya. "Selamat pagi, nak."


"Selamat pagi, mommy!"


"Dokter Bram baru menelepon. Katanya jadwal untuk konsultasi dengannya dimajukan ke jam 9 pagi soalnya kalau sore ia ada jadwal operasi."


"Baiklah. Sebentar lagi aku akan bersiap-siap."

__ADS_1


"Mommy akan siapkan sarapan dulu. Oh ya, apakah Eil sudah bangun?"


"Belum. Aku nggak tega membangunkannya."


"Kalau begitu, mommy saja yang akan mengantarmu ke dokter. Soalnya daddy ada rapat penting hari ini."


Gabriel pun mengangguk.


*********


Eilaria tersentak bangun dari tidurnya. Ia terkejut menemukan ada selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tahu pasti Gabriel yang melakukannya. Ia meraih jam tangannya dari atas meja dan terkejut saat melihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas siang.


Ya Tuhan, mengapa aku bangunnya sudah sangat siang?


Eilaria bergegas bangun dan menggerakkan tubuhnya sedikit. Walaupun sofa ini enak dan nyaman dipakai untuk tidur namun tentu saja ranjang adalah tempat terbaik untuk tidur.


Setelah itu ia ke kamar mandi untuk mandi dan segera turun ke bawa.


"Selamat siang nyonya, Eil!" Sapa bi Yem. "Perkenalkan saya bibi Yem. Kepala pelayan di rumah ini."


"Selamat siang juga, bi. Aku bangunnya sangat terlambat. Kemana yang lain?"


"Tuan Jero sudah ke kantor. Non Stevany dan Joselin sudah ke sekolah. Nyonya Giani dan tuan Gabriel sudah ke rumah sakit untuk pemeriksaan apa gitu. Bibi juga nggak ngerti."


Eilaria hanya mengangguk.


"Nyonya mau sarapan?"


"Nggak. Aku mau minum susu saja. Sebentar lagi kan jam makan siang." Kata Eil sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukan waktu jam 11 lewat 35 menit.


"Akan saya buatkan."


"Makasi, bi." Lalu ia melangkah menuju ke taman belakang. Saat matanya menatap pondok yang menghadap danau, Eilaria tiba-tiba ingat kalau dia dan Ian pernah duduk di sana dan ia tertidur di bahu Ian.


Ya Tuhan, ada apa dengan diriku? Kenapa aku harus terus memikirkan Ian?


**********


Terima kasih sudah baca part ini


Maaf ya kemarin nggak bisa up


emak lagi kurang enak badan.


Sebenarnya part ini up kemarin namun emak baru sanggup meneruskannya pagi ini.

__ADS_1


Have a bless day ya....


__ADS_2