Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kelahiran Anak Si Kembar


__ADS_3

Dari atas balkon kamarnya, Gabrian melihat Andrea yang sedang duduk di pondok belakang sambil membaca. Semenjak hamil untuk yang kedua kalinya, Andrea jadi suka membaca novel.


Kedua putri kembarnya nampak sedang bermain boneka tak jauh dari ibu mereka. Bernetha dan Angelia tumbuh sebagai gadis cantik dan pintar. Di sekolah, keduanya sangat menonjol dan kadang membuat para guru kewalahan karena keaktifan mereka.


Gabrian baru saja selesai mandi. Ia sengaja belum menemui mereka sejak pulang dari tugas luarnya selama dua hari ke Bandung. Ia memilih membersihkan dirinya dulu agar dalam keadaan bersih dan segar setelah meninjau proyek selama 2 hari.


Ia pun meninggalkan balkon kamarnya dan segera menuju ke bawa. Namun saat ia berada di ujung tangga, ia melihat Eilaria yang berjalan sambil memegang perutnya dan sepertinya hendak menuruni tangga juga.


"Eil, ada apa? Kamu sakit? Wajahmu berkeringat." ujar Gabrian khawatir.


"Ian, mana Iel?"


"Iel masih di perusahaannya. Kamu butuh sesuatu?"


"Perutku sakit."


"Tapi kan kandungan mu baru memasuki 7 bulan."


Eilaria mengangguk. Wajahnya telah basah dengan keringat.


"Aku bawah kau turun."


"Mari aku bantu." Gabrian langsung memegang Eilaria dan membantunya menuruni tangga.


Giani yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat keadaan Eilaria.


"Ada apa, nak?"


"Eil katanya sakit perut, bunda." Gabrian yang menjawab


"Mungkin ini kontraksi palsu. Coba kamu tenang dulu. Ayo...!" Giani meraih tangan Eilaria dan membantunya duduk.


"Ian, minta pelayan untuk mengambilkan segelas air hangat. Tolong ambilkan minyak hangat juga." ujar Giani.


Gabrian mengangguk dan segera ke dapur. Andrea yang sementara menyiapkan cemilan sore bagi kedua putrinya menatap suaminya yang memerintahkan pelayan untuk mengambil air dan minyak panas.


"Sayang, kau sudah pulang?" Mata Andrea berbinar dengan penuh luapan kerinduan.


"Iya. Aku sengaja belum menyapa kalian karena mau mandi dulu. Si kembar mana?"


"Lagi main sama opa Jero. Ada apa? Siapa yang butuh air dan minyak panas?"


"Eil. Dia sakit perut."


"Sakit perut? Kandungannya kan baru memasuki 7 bulan."


"Kata bunda kontraksi palsu." Gabrian mendekat lalu memeluk istrinya. Ia menghadiahkan satu ciuman manis di dahi istrinya. "Bagaimana kabarmu selama dua hari ini? Kau tahu kalau aku sangat merindukan dirimu."


Andrea tersenyum. Ia mendongak dan menatap suaminya. "Aku juga sangat merindukanmu." Kata Andrea sambil menyandarkan kepalanya di dada Ian.


Setelah saling melepaskan kerinduan dengan ciuman singkat, Ian membawa cemilan untuk si kembar ke taman belakang dan Andrea segera ke ruang tengah.


Giani nampak sedang menggosok kaki Eil dengan minyak panas.


"Eil, apakah sakitnya dari panggul bagian belakang?" tanya Andrea.


"Iya." Ujar Eilaria sambil meringis menahan sakit.


"Bunda, apa mungkin Eilaria akan melahirkan prematur?" tanya Andrea sedikit khawatir.


Giani menatap Eilaria. Dengan penuh kasih ia menghapus keringat di wajah menantunya. "Eil, apakah kita hubungi dokter saja?"


"Iya." Jawab Eil karena ia sendiri sudah tak tahan dengan rasa sakit yang ada di perutnya.

__ADS_1


30 menit kemudian mereka sudah berada di klinik dokter Maria. Gabrian, Andrea dan Giani yang mengantarnya. Opa Jero tinggal untuk menjaga si kembar.


Gabriel datang tak lama setelah mereka tiba di klinik. Wajahnya terlihat cemas.


"Mom, bagaimana Eil?" tanyanya khawatir.


"Dokter sementara memeriksanya. Kamu tenang dulu ya?" ujar Giani.


Dokter Maria keluar. "Nyonya Eilaria sepertinya akan melahirkan hari ini. Sudah pembukaan 4."


"Dok, apakah ini nggak terlalu cepat? Bukankah kandungannya baru berusia 7 bulan?" tanya Gabriel semakin cemas.


"Dalam beberapa kasus, beberapa bayi memang harus dilahirkan secara prematur. Aku akan siapkan meja operasinya." Kata Dokter Maria lalu segera meninggalkan keluarga Dawson untuk menyiapkan segala sesuatunya. Di klinik melahirkan dokter Maria memang semuanya sangat lengkap.


Giani segera menelepon orang rumah untuk membawa baju bayi dan bahu ganti untuk Eilaria.


"Untung saja baju bayinya sudah kami siapkan dan dicuci. Ah, mom, aku kok cemas sekali ya?" Gabriel mengacak rambutnya asal.


"Masuk ke dalam, nak. Beri kekuatan pada istrimu." ujar Giani.


Gabriel menarik napas panjang beberapa kali lalu melangkah masuk ke ruangan pemeriksaan.


"Sayang.....!" Sapa Gabriel berusaha menenangkan dirinya. Ia memegang kedua tangan Eilaria.


"Sepertinya anak kita nggak mau menunggu lebih lama lagi, Iel." Ujar Eil sambil tersenyum


Gabriel menarik napas lega. Istrinya terlihat begitu bersemangat menanti kelahiran anak mereka. Selama ini, Iel dan Eil memang sengaja tak mau mencari tahu jenis kelamin bayi mereka. Mereka ingin itu menjadi kejutan.


Gabriel mencium perut Eil dan mengusapnya dengan lembut. " Anak daddy, yang kuat ya? Bantu mommy agar bisa melewati semua ini dengan mudah."


15 menit kemudian, sakit di perut Eil semakin bertambah.


"Dokter, sepertinya aku akan melahirkan sekarang. Apakah meja operasinya sudah siap?" tanya Eilaria sambil memegang tangan Iel dengan sangat kuat.


Dokter Maria memeriksa Eilaria kembali. "Astaga, sepertinya ini sudah waktunya. Perawat, siapkan semua."


Dokter Maria mengangguk. Ia meminta Iel untuk memakai baju medis berwarna hijau, penutup kepala dan juga masker.


Di luar, Giani sedang duduk sambil melipat tangannya berdoa. Ia memohon keselamatan bagi menantu dan cucunya.


Gabrian menatap Andrea. "Sayang, baju kamu basah?"


Andrea memegang gaunnya. "Aku.....ya ampun, sepertinya air ketubanku pecah."


"Bukankah dokter memberikan jadwal operasinya masih satu minggu lagi?" Gabrian kini menjadi cemas.


Giani membuka matanya. "Andrea kenapa?"


Andrea yang sudah punya pengalaman sebelumnya sudah tahu kalau ia sudah mengeluarkan air ketuban.


"Bunda, sepertinya aku juga akan melahirkan. Aku memang tak merasakan sesuatu."


"Kamu kan harus di operasi. Sebentar bunda panggil salah satu perawatan.


Di dalam ruangan bersalin.


"Ah........!" Eilaria berteriak menyemangati dirinya sendiri. Keringat sudah membasahi wajahnya.


"Ayo nyonya Dawson, kamu pasti bisa. Dorong sekali lagi." kata dokter Maria.


"Ayo sayang! Kamu pasti bisa!" kata Iel sambil terus menggenggam tangan Kanan Eilaria.


Eilaria memejamkan matanya. Sesungguhnya ia merasa sangat lelah. Namun ia harus menguatkan dirinya.

__ADS_1


"God help me...!" Seru Eilaria lalu kembali mengejan.


Dokter Maria tersenyum saat bayi mungil itu ada di tangannya.


"Welcome baby boy."


Gabriel terpana. Hatinya bergetar mendengar suara tangisan anaknya untuk yang pertama kali. Tanpa sadar air matanya mengalir ketika dokter Maria memberikan bayi mungil itu ditangannya sebentar.


"Ya Tuhan, ini adalah bagian diriku dan dirimu, Eil."


Eilaria pun tak dapat menahan air matanya. Walaupun bayi itu sangat mungil karena usianya baru 7 bulan namun dokter mengatakan kalau ia sehat dan bayi yang kuat.


"Dokter Maria, nyonya Dawson harus segera di operasi. Air ketubannya sudah pecah." Kata salah satu perawat yang masuk ke ruangan itu.


"Nyonya Dawson baru saja melahirkan." Kata dokter Maria sambil menunjuk Eilaria dengan dagunya.


"Maksud saya nyonya Dawson yang satunya lagi."


"Andrea?" Iel dan Eil saling berpandangan.


Dokter Maria langsung menuju ke ruang operasi. Ia sedikit bingung karena dua generasi Dawson memilih hari kelahiran yang sama walaupun dengan cara yang berbeda.


***********


Opa Jero dan Oma Giani tak henti-hentinya memandang dua bayi laki-laki yang terbaring di box yang berbeda.


untuk anak Gabriel dan Eilaria, opa Jero memberi nama : KENNETH RAFAEL DAWSON yang artinya Pria Tampan yang disembuhkan oleh Tuhan, karena Kenneth lahir diusia prematur namun Tuhan telah menolongnya.


Sedangkan anak Gabrian dan Andrea, Oma Giani memberi nama FEIVEL LEONARDUS DAWSON yang artinya Kekuatan dari Tuhan yang pemberani.


"Aku kini punya empat orang cucu." Kata Jeronimo sambil menghapus air mata keharuannya.


"Terima kasih sayang. Aku sangat bahagia hari ini. Ken akan menjadi anak kebanggan kita." kata Gabriel sambil terus menghujani istrinya dengan ciuman.


"Dia sangat tampan. Sangat mirip denganmu, sayang. Aku bangga bisa melahirkannya dengan selamat."


"Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Di kamar perawatan Andrea, perempuan itu baru saja bangun. Pengaruh obat bius membuatnya tertidur.


"Ian, dimana anakku?" tanya Andrea.


"Masih ada di ruang bayi." Ian mendekat. Ia mencium dahi istrinya. "Kau sungguh membuatku bahagia. Kini kita punya 3 anak. Tadi saat aku mengirim foto-foto Feivel, Si kembar sudah tak tahan ingin melihat adik mereka secara langsung."


"Rumah daddy dan bunda akan ramai dengan suara tangis dua anak lelaki."


Gabrian tersenyum. "Biarkan saja, yang penting mereka bahagia. Tadi Daddy sampai menangis."


"Kau sudah mengirim kabar pada orang tuaku?"


Gabrian mengangguk. "Minggu depan mereka akan datang ke sini."


"Benarkah? Wah senangnya hatiku."


Gabrian kembali menunduk. Ia mencium dahi Andrea kembali. "Aku mencintaimu, Andrea."


"Aku juga mencintaimu."


************


Duh akhirnya lahiran juga.....

__ADS_1


Makasi ya sudah baca....


dukung emak terus di episode-episode terakhir.


__ADS_2