
Wajah cantik Alana justru mengingatkan Gabrian akan wajah Eilaria. Mungkin karena mereka masih ada hubungan darah sehingga wajahnya ada kesamaan.
"Wah, senangnya mendapatkan teman." Ujar Alana sambil membalas uluran tangan Gabrian.
"Kau cantik karena ada darah Indonesianya ya?" tanya Gabrian sok gombal pada hal selama ini ia terkenal cool dengan cewek.
"Mamaku orang Indonesia. Asalnya dari Manado."
"Oh ya?" Seperti juga Eilaria, kedua omanya juga orang Indonesia.
"Senang berkenalan denganmu." kata Alana. Entah mengapa hatinya bergetar melihat cowok ini. Alana merasa pernah melihatnya juga.
"Kamu mahasiswa di sini?" tanya Gabrian memulai percakapan karena ia tak ingin Alana cepat pergi.
"Iya. Aku mau menyelesaikan studi S1 ku." Kata Alana lalu perlahan mengusap bahunya.
"Apakah bahu mu sakit? Aku menabrak kamu dengan keras kah?" Gabrian bertanya penuh perhatian.
"Lumayan." Kata Alana tanpa mau menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
"Maafkan aku."
Alana memberikan senyum terbaiknya. "Tidak apa-apa. Kamu mau pergi?" tanya Alana sambil menunjukan pintu lift.
"Eh, sebenarnya aku tak ada urusan yang penting. Hanya mau mengambil beberapa berkas ku. Tapi nanti saja. Jika kamu mau, di mobilku ada minyak gosok. Minyak buatan Indonesia. Bisa kau gosokkan pada bahu mu."
"Eh, tidak perlu."
"Please.....! Aku merasa sangat bersalah padamu."
"Baiklah." Alana akhirnya mengalah. Ia mengikuti langkah Gabrian, keluar dari gedung pusat universitas dan menuju ke tempat parkir mobil.
Gabrian membukakan pintu bagi Alana dan membiarkan gadis itu masuk lalu ia sendiri memutar langkahnya untuk masuk dari pintu yang lain. Saat keduanya sudah berada dalam mobil, Gabrian memberikan sebuah botol yang tersimpan di laci mobil.
"Ini, gosoklah di bahu mu agar sakitnya berkurang. Aku akan menunggu di luar." Gabrian turun kembali.
Untuk sesaat Alana terpana. Betapa sopan nya pria ini. Dia sangat berwibawa. Ah, apakah aku sudah menyukainya?
Alana membuka kancing kemejanya lalu menggosok minyak itu di bahunya. Tadi, saat ia dan Gabrian bertabrakan, Alana sebenarnya sudah merasakan sakit di bagian bahunya. Ia hampir saja akan menumpahkan kemarahannya. Namun saat ia melihat betapa gantengnya cowok itu dan dia bisa berbahasa Indonesia, kemarahannya langsung hilang.
Minyak ini baunya khas dengan rempah-rempah. Alana menyukai rasa hangat yang langsung menyebar ke seluruh bagian kulitnya.
Setelah selesai, ia menyimpan kembali botol minyak itu ke dalam laci dasboard, lalu ia pun turun.
"Terima kasih. Minyaknya memang bagus dan hangat. Aku suka." Kata Alana.
"Baguslah kalau kau suka. Kau boleh memilikinya jika mau. Di apartemenku masih ada beberapa."
"Boleh?" Alana senang.
Gabrian membuka pintu mobilnya dan mengeluarkan botol minyak itu. Alana menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih sekali lagi, Gabrian. Sekarang aku pergi dulu ya...." pamit Alana. Gadis itu membalikan badannya dan pergi.
"Tunggu.....!" panggil Gabrian.
Alana menghentikan langkahnya. Sebenarnya ia juga belum mau pergi. Ada rasa ingin untuk tetap ada di samping pria ini.
"Ada apa?" tanya Alana dengan lembutnya.
__ADS_1
"Maukah kau makan malam denganku?"
Hati Alana menjadi senang. Namun ia pura-pura jual mahal. "Sekarang?" Tanyanya sambil menatap jam tangannya yang masih menunjukan pukul setengah lima sore.
"Belum. Kalau kau tak sibuk mungkin aku bisa menjemputmu pukul 9 malam. Itu pun kalau kamu setuju. Soalnya kita baru saja kenal..Aku mengerti jika kau tak percaya padaku. Aku hanya ingin memiliki teman yang bisa berbahasa Indonesia. Sebenarnya, aku salah satu staf dosen di sini. Namun karena banyaknya pekerjaan di perusahaan papaku, jadi kemarin aku baru mengundurkan diri."
Alana menatap Gabrian dengan intens. "Kamu adalah Gabrian Dawson kan? Aku pernah lihat fotomu di profil universitas. Dosen terfavorit dan termuda."
Gabrian menjadi agak malu mendapatkan pujian itu.
"Terima kasih. Jadi bagaimana tawaranku?"
"Aku bisa kalau di atas jam 9 malam. Soalnya aku harus bertemu dengan saudara kembarku sebentar lagi."
"Saudara kembar?"
"Iya. Kami kembar tiga."
"Waw. "
Alana hanya tersenyum. "Ya begitulah."
"Jadi, di mana aku bisa menjemputmu?"
"Akan ku telepon."
"Kau punya nomorku?"
Alana terkekeh. "Akan ku minta sekarang." Katanya sambil mengulurkan ponselnya.
Gabrian menerimanya dan langsung mengetik nomornya. "Aku tunggu telepon mu."
Gabrian menarik napas panjang. Maafkan aku, Alana. Jika aku harus menggunakan mu untuk menyelamatkan pernikahan kakakku.
********
"Tuan, perusahaan yang hendak bekerja sama dengan kita sudah datang. Apakah tuan mau aku yang menemui mereka?" tanya Gerry.
Gabriel yang sedang memeriksa beberapa dokumen menatap Gerry. "Biar aku saja. Persilahkan mereka masuk."
"Hanya satu orang utusannya."
"Ok. Tak masalah."
Gerry menunduk hormat dan segera membuka pintu. "Silakan masuk, nona!" Ajaknya.
Seorang gadis cantik masuk sambil membawa sebuah file di tangan kanannya. Tangan kirinya memegang handbag, ia mengenakan kacamata. Rambutnya disanggul dan ia memakai rok hitam selutut yang sangat pas di tubuhnya dan kemeja merah yang dipadankan dengan bleser hitam.
"Selamat siang....!"
Gabriel mengalihkan pandangannya. Keduanya sama-sama terkejut.
"Gabriel?"
"Gabby?"
Gabriel tersenyum sambil berdiri. "Kau orang pertama yang dapat membedakan antara aku dan saudara kembar ku. Di pertemuan ketiga kita. Biasanya orang akan bertanya dulu apakah aku, Iel atau Ian."
"Mungkin karena aku terlalu lama melihatmu di rumah sakit sampai aku bisa menghafal jumlah tahi lalat yang ada di wajahmu."
__ADS_1
"Oh ya?" Gabriel terkejut.
"Kau punya tahi lalat kecil di atas pelipis kananmu sedangkan Ian tidak."
Gabriel jadi tertawa mendengarnya. "Aku bahkan tak pernah melihat kalau punya tahi lalat itu."
"4 bulan selalu melihatmu, wajarlah kalau aku menghafal semua bagian yang ada di tubuhmu."
Gabriel hanya mengangguk. Ia mempersilahkan Gabby untuk duduk di depannya dan meminta Gerry untuk menyiapkan mereka minuman.
"Jadi kau adalah pemilik CV. Perkasa Jaya?" tanya Gabriel saat Gabby sudah duduk.
"Kakakku. Hari ini aku mewakilinya untuk menawarkan kerja sama dengan perusahaan mu. Sebenarnya aku masih malas untuk kerja namun dari pada kesepian di rumah, aku akhirnya datang juga. Siapa yang sangka kalau perusahaan ini adalah milikmu."
"Semoga kita bisa bekerja sama." ujar Gabriel lalu membuka map yang disodorkan oleh Gabby. Ia membacanya beberapa saat lalu akhirnya tersenyum.
"Penawaran yang baik. Boleh kah aku membahasnya dulu dengan timku? Kami akan memberikan jawabannya dua atau tiga hari ke depan."
Gabby mengangguk senang. Berada di dekat Gabriel membuat hatinya berdebar. Namun hati kecilnya mengingatkan dia. Sadarlah Gabby, dia itu suami orang.
*********
Eilaria yang sudah tertidur, tersentak bangun saat teleponnya yang ada di atas nakas berbunyi. Eilaria melirik jam dinding sebentar dan tersentak kaget saat menyadari kalau sekarang sudah pukul setengah dua pagi. Ia lebih terkejut lagi saat melihat nomor Alana Manola.
Tangan Gabriel yang memeluk Eil perlahan disingkirkannya lalu ia turun dari tempat tidur. Eil tahu kalau Iel belum lama terlelap karena sampai jam 10 tadi, ia masih bekerja dengan daddy Jero dalam membahas rencana pembangunan kawasan apartemen.
"Hallo, Alana. Ada apa?" tanya Eil saat sudah berada di balkon kamar.
"Aku ingin curhat."
"Apakah tidak bisa menunggu sampai beberapa jam?"
"Aku tahu di sana sudah tengah malam, namun aku tak tahu harus curhat dengan siapa. Kau kan tahu kalau hubunganku dengan Andrea sedang buruk beberapa bulan ini."
"Baiklah. Aku mendengarkan."
"A...aku rasanya jatuh cinta."
"Benarkah?" Eilaria senang mendengarnya. Alana seperti dirinya. Terlalu sibuk belajar sampai melupakan masa indahnya pacaran saat SMA.
"Ya. Semalam kami makan malam bersama dan dia sungguh tampan. Aku sungguh menyukainya."
"Aduh, yang sedang fall in love. Tapi hati-hati ya? Kenali dia dulu baru kalian memutuskan akan serius atau tidak."
"Ialah. Dia sungguh romantis dan perhatian. Kau mau aku mengirim foto nya?"
"Kau sudah punya fotonya?
"Iya."
"Aku yakin tak akan setampan suamiku."
"Mungkin lebih tampan dia dari suamimu. Aku kan tak pernah melihat foto suamimu."
Eilaria tertegun sejenak. Ia menoleh ke arah Gabriel yang sedang tertidur. Memang pernikahannya dengan Gabriel tak dihadiri oleh semua sepupunya. Eilaria bahkan tak pernah memposting kebersamaannya bersama Ian atau Iel.
************
Bagaimana reaksi Eil saat melihat foto pria yang disukai Alana??
__ADS_1
dukung emak terus ya guys