
Wajah cantik Angelia nampak damai sekali setelah ia tertidur. Pengasuhnya sudah membawakan baju ganti untuknya sehingga Eilaria sudah membuka gaun pengantinnya. Ia dan Angelia mandi bersama tadi. Dan itulah yang membuat Gabriel nampak kesal. Karena ia sebenarnya ingin malam ini istimewa. Mulai dari mandi bersama, minum anggur bersama lalu memulai penyatuan mereka.
"Iel, ada apa? Kenapa dari tadi berdiri terus di balkon?" Tanya Eilaria sambil mendekati suaminya, memeluk Iel yang masih memakai kemeja putihnya yang kini sudah digulungnya Sampai di siku.
Iel memegang kedua tangan Eilaria yang melingkar di pinggangnya. Kemudian ia membalikan badannya perlahan sehingga keduanya kini saling berhadapan.
"Lia sudah tidur?"
"Iya. Dia kelihatannya sangat lelap. Pasti kelelahan karena nggak bobo siang."
Gabriel membelai wajah Eilaria dengan sangat lembut.
"Haruskah kita malam ini tidur tanpa saling memeluk?"
Eil tersenyum. Ia memegang tangan Iel yang masih ada di pipinya. "Katanya jika ingin segera punya anak maka kita harus sayang pada anak orang lain dengan tulus."
"Jadi itu alasanmu menerima Lia di kamar ini?"
"Salah satunya karena alasan itu. Namun yang lain adalah karena Lia sudah mendampingi kita saat acara mengucapkan janji lagi. Ia bahkan berulangkali mencium tanganku agar aku tak gugup sebelum masuk ke ballroom tadi."
"Oh ya?"
Eilaria mengangguk.
"Jadi, malam ini kita tidur saja?"
"Hanya malam ini. Karena yang aku dengar kalau orang tua Andrea akan liburan ke Manado besok dan mereka akan mengajak si kembar untuk pergi bersama."
"Berarti aku harus menunggu satu malam lagi?"
"Hanya satu malam kok."
Gabriel akan mencium istrinya namun bel pintu terdengar.
"Siapa ya?" tanya Gabriel lalu segera melangkah menuju ke pintu kamar sementara Eilaria ikut di belakangnya.
Sebelum membuka pintu, Gabriel mengintip dulu dan dia terkejut melihat daddy Jero dan mommy Giani ada di depan pintu kamar mereka.
"Daddy, mommy?"
Jero dan Giani tersenyum. "Di mana Angelia?" tanya Jero.
"Dia sudah tidur." jawab Eil.
"Biarkan Lia bersama mommy dan daddy." Kata Jero lalu melangkah masuk dan langsung mengangkat Lia dari atas tempat tidur.
Wajah Gabriel langsung berubah senang. Ia memeluk Giani dari belakang dan mencium pipi mamanya secara berulang-ulang.
"Thanks mommy!" kata Gabriel.
Jero yang sudah memeluk Angelia tersenyum. "Selamat menikmati malam terindah. Jangan mau kalah sama Ian ya? Usahakan langsung berhasil." Kata Jero sambil melangkah menuju ke luar kamar.
Wajah Eilaria langsung bersemu merah sedangkan Gabriel hanya mengangguk sambil tersenyum penuh keyakinan.
Setelah Giani dan Jero pergi sambil membawa Angelia, Eilaria yang sedang menutup pintu menjadi gugup untuk membalikan badannya.
__ADS_1
Gabriel yang berdiri tepat di belakangnya perlahan mendekati istrinya dan memegang bahu Eilaria sehingga keduanya kini saling berhadapan.
"Sayang, akhirnya kita tinggal berdua. Kau sudah siap?"
Eilaria mengigit bibir bawahnya sambil tertunduk. Tangannya menjadi sangat dingin.
"Hei, kenapa jadi diam?" goda Gabriel.
"Eh, kamu nggak mandi?" tanya Eilaria mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya aku bau?" tanya Iel sambil mengangkat tangannya dan mencium keteknya sendiri.
"Eh, bukan itu. Tadi kamu kan bilang mau mandi."
Iel terkekeh. Ia maju satu langkah lalu mencium dahi istrinya. "Aku mandi dulu ya? Tolong siapkan anggur untuk kita minum bersama. Setelah itu, kita akan menuju indahnya surga dunia yang sama-sama belum pernah kita rasakan." bisik Iel lalu segera berjalan ke kamar mandi membuat jantung Eilaria seakan berhenti berdetak.
Dengan tangan yang masih berkeringat dingin, Eilaria akhirnya menyiapkan anggur untuk mereka.
Tak lama kemudian, Iel keluar dan membuat jantung Eilaria semakin berdetak tak menentu. Suaminya itu hanya menggunakan boxer. Tubuhnya yang atletis, perutnya yang berotot dan tatapan matanya yang menggoda, mana bisa wanita tak akan tertarik padanya?
Iel mengambil segelas anggur dan memberikannya pada Eilaria. Ia juga memegang gelas anggur yang satu. Kemudian dengan manisnya ia menarik tangan Eilaria menuju ke sofa. Iel duduk lebih dulu, kemudian meminta Eilaria untuk duduk di pangkuannya. Tangan Iel langsung melingkar di pinggang Eil.
"Mar kita tos untuk malam bahagia kita berdua, sayang. Mulai hari ini kita tak akan terpisahkan lagi."
Bunyi 'ting' terdengar saat Eil dan Iel melakukan tos. Mereka lalu menikmati anggur yang sangat enak itu sampai isi di gelas masing-masing sudah habis.
Iel lalu meletakan gelasnya di atas meja, demikian juga dengan Eil. Kini mereka berdua saling bertatapan dengan posisi Eil yang masih duduk di pangkuan Iel. Wajah Eil menjadi merah saat Iel menyentuh bibirnya dengan jari-jarinya.
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Iel sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Eil.
"Ayo kita ke ranjang pengantin!" Iel meminta Eil berdiri. Keduanya saling bergandengan tangan berjalan ke arah tempat tidur.
Saat mereka sudah tiba di dekat tempat tidur, Iel menahan tangan Eil sehingga langkahnya terhenti.
Keduanya kini saling berpandangan. Iel menatap mata indah istrinya. "Aku tahu kalau kamu bukan gadis pertama yang ku cium, yang pernah ku sentuh. Namun aku tak melewati batas-batas yang ada saat bersama mereka. Bersamamu, aku melepaskan apa yang selama ini ku jaga. Dan aku juga bersyukur jika aku menjadi yang pertama untukmu."
Eilaria tersenyum. "Aku mencintaimu, Iel."
"Dan aku lebih mencintaimu, Eil." Kata Iel lalu mengecup bibir Eil. Ia kemudian menarik tali kimono Eil dan membuka kimono itu sehingga jatuh tepat di kaki Eil. Mata Iel menggelap melihat lingre Eil yang sangat mini dan transparan. Iel kemudian membalikan tubuh Eil akan membelakanginya. Perlahan, ia menyingkirkan rambut Eil dan mulai mencium leher jenjang istrinya itu.
Eil memejamkan matanya. Merasakan senyar aneh yang mulai muncul di seluruh permukaan kulitnya.
Iel tetap mencium leher istrinya, kemudian berpindah ke tengkuknya sementara tangannya sudah mulai menarik turun tali lingre itu dan akhirnya kain tipis itu pun jatuh di kaki indah pemiliknya.
Posisi Eil yang masih membelakangi Iel membuat perempuan itu memejamkan matanya. Ini sesuatu yang sangat mendebarkan baginya.
Tangan Iel kemudian membuka penutup dada Eil. Saat benda itu terlepas, Iel masih tetap berada di belakang Eil. Kemudian Iel mencium pundak istrinya, terus turun ke punggungnya, lalu semakin ke bawa sampai Eil merasakan tangan Iel kini menyentuh satu-satunya penutup yang masih tersisa di tubuhnya.
Eil menarik napas panjang saat kain penutup itu pun dikeluarkan melewati kedua kakinya. Setelah itu, Iel kembali berhadapan dengan istrinya. Ia mengeluarkan boxer yang masih menempel di tubuhnya. Saat keduanya dalam keadaan polos, Iel kemudian mengangkat tubuh istrinya, dan membaringkan Eil perlahan di atas ranjang. Iel kemudian menurunkan tirai kelambu yang ada, membuat suasana di atas ranjang itu semakin romantis rasanya.
Perlahan Ia menempatkan dirinya di atas Eil lalu tersenyum manis dan mulai mencium bibir istrinya. Malam pertama mereka pun dimulai.
***********
Di sudut lain hotel itu, tepatnya di dalam cafe yang ada di lantai satu, nampak Gabby dan Figia duduk bersama sambil menikmati minuman masing-masing.
__ADS_1
"Kau baik-baik, saja?" tanya Figia pada Gabby.
Gabby tersenyum dan menatap Figia. "Apakah kau baik-baik saja?"
Figia tertawa kecil namun ada air bening yang mengalir di pipi mulusnya.
"Ternyata kita tidak sedang baik-baik saja." Kata Gabby lalu kembali menyesap minumannya.
Tangis Figia pecah. "Aku mendekati Ian hanya karena pamanku begitu terobsesi dengan bibi Giani dan berharap agar aku bisa menjalin hubungan Ian. Namun aku tak mau mewujudkan keinginan pamanku itu. Aku menjalin hubungan dengan Ian atas nama persahabatan. Namun aku akhirnya jatuh dalam pesonanya. Aku jatuh cinta pada Ian. Aku sangat berharap agar dia bisa membaca perasaanku. Ternyata takdir tak membuat Ian mengerti akan semua perhatianku. Ia pergi dariku. Ia menjadi malaikat penyelamat bagi Andrea dan akhirnya mereka saling jatuh cinta. Saat mereka berpisah, aku kembali memiliki harapan untuk bersamanya. Aku menunggu lima tahun lagi namun akhirnya Tuhan memberikan mereka kesempatan untuk bersama lagi. Aku hancur, aku terluka ternyata cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan."
Gabby menyentuh tangan Figia. "Aku mengerti apa yang kau rasakan pada Ian. Karena itu juga yang kurasakan untuk Iel. Kedekatan kami telah membuatku berharap agar aku bisa diberikan kesempatan untuk bersamanya. Ternyata aku tak bisa. Aku kalah karena takdir Iel bukanlah bersamaku."
Kedua wanita cantik itu pun saling menatap. Mereka kembali menuangkan minuman di gelas yang sudah kosong. Sampai akhirnya mereka sudah sangat mabuk dan tak bisa berdiri.
Gerry yang melihat dari jauh segera mendekati kedua wanita yang ia tahu mencintai si kembar.
Gerry jadi bingung, bagaimana ia bisa membawa kedua wanita ini ke kamar mereka masing-masing.
"Ada yang bisa aku bantu?"
Gerry menoleh. Di depannya berdiri seorang pria tampan. Wajah bule.
"Aku mau membawa kedua temanku ini namun mereka sudah mabuk berat."
"Aku dapat menolong kamu untuk membawa salah satunya."
Gerry menatap pria di depannya. Ia baru saja mengenal pria itu. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan pria itu membawa salah satu perempuan cantik ini.
"Oh, kau takut aku akan berbuat jahat? Jangan takut ya. Aku Mark Alonso. Omaku Rachel Alonso dulu saat gadis namanya Rachel Thomson. Kakakku Brandon yang bekerja dengan Eilaria di Amerika. Aku mengurus perusahaan Thomson yang ada di Indonesia."
"Oh, kamu saudaranya Eil?"
Mark mengangguk.
"Baguslah. Tolong antarkan Figia ya. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Gabby. Aku akan membawa Gabby.
Kedua pria tampan itu pun mengangkat tubuh dua gadis patah hati yang sudah sangat mabuk itu.
Mark yang saat ini adalah adalah manager hotel ini segera meminta pelayan hotel untuk membukakan pintu kamar gadis-gadis mabuk itu. Lalu Mark meletakan tubuh Figia secara perlahan di atas ranjang.
Saat Mark akan pergi, Figia tiba-tiba saja menahan tangan Mark.
"Jangan pergi.....! Jangan tinggalkan aku....! Peluk aku ya?"
Mark menatap Figia dengan dahi yang berkerut. "Nona, kau tak akan tahu bahaya apa yang akan menimpamu kalau aku ada di sini." Mark perlahan melepaskan pegangan tangan Figia namun gadis itu tiba-tiba saja bangun. Ia menarik tubuh Mark sehingga pria itu jatuh di atas tubuhnya dan tanpa Mark duga, Figia langsung mencium bibir Mark dengan sangat keras.
Sementara Gerry di kamar Gabby pun tak tega meninggalkan gadis itu saat mendengar Gabby menangis.
"Aku patah hati....., aku sedih...., jangan pergi....!" Gabby memeluk tubuh Gerry dengan sangat erat. Ia menangis dalam pelukan pria itu. Hati Gerry tersentuh. Ia pun membelai rambut indah Gabby dan berusaha menenangkan gadis itu. "Tidurlah, Gabby. Esok pagi kau akan melihat bahwa mentari masih bersinar untuk mengobati luka hatimu." kata Gerry.
************
Duh, apa yang terjadi di kamar Ian, Iel, Gabby dan Figia?
Dukung emak terus ya guys.....
__ADS_1
yang mau tahu part lengkapnya Iel dan Eil sudah tahu kemana mau gabung 😂😂😂