
"Jangan seperti ini, Eil." ujar Gabrian setelah berhasil meredam hasratnya dirinya yang ikut terpancing melihat Eilaria yang hanya menggunakan baju dalamnya saja. Ia mendekat, memungut baju Eilaria yang sudah jatuh ke lantai. Gabrian bahkan harus menelan saliva nya berkali-kali. Lelaki manapun Pasti akan tergoda melihat tubuh Eilaria yang nyaris sempurna sebagai seorang perempuan. Gabrian ingin menyentuhnya, ingin membelai kulit putih yang mulus itu, ingin menyesap bibir tipis yang merah tanpa polesan lipstick, ingin menyentuh dua gundukan di dadanya yang menantang seolah sangat menantikannya. Seluruh pertahanan dirinya hampir hilang, karena pesona yang dimiliki oleh Eilaria. Namun masih ada satu persen kesadaran yang tersisa di dalam diri Gabrian yang mengingatkan dia kalau Eilaria bukanlah miliknya. Ia hanya pengganti sementara.
Air mata Eilaria jatuh. "Benarkan? Kamu memang tak menginginkan aku. Semua karena Figia kan?"
"Eil....! Berhentilah menyebutkan nama Figia. Dia tak ada hubungannya dengan semua ini."
"Lalu apa? Apakah aku kurang menarik di matamu? Aku kurang cantik? Aku tak bisa membangkitkan gairah mu?"
"Demi Tuhan, Eil. Aku menginginkanmu bahkan lebih besar dari apa yang pernah kamu bayangkan."
"Kalau begitu apa yang menghalangi mu?"
Gabrian diam. Ia tak tahu harus bicara apa. Haruskah ia katakan kalau dia bukanlah lelaki yang menikahi Eilaria? Lalu bagaimana dengan sumpahnya pada Iel?
Melihat Gabrian hanya diam saja, Eilaria menghapus air matanya dengan kasar. Ia mengambil bajunya dari tangan Gabrian dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tangannya dengan kuat membanting pintu kamar mandi itu sehingga kacanya bagaikan akan retak.
Gabrian memejamkan matanya sebentar. Ia tahu Eilaria terluka. Sebesar luka yang ia miliki saat ini. Eilaria pasti merasa terhina sebagai seorang perempuan.
Sumpah demi apapun, Gabrian sebenarnya tak ingin menyakiti Eilaria. Setiap kali ia membuat gadis itu menangis, hatinya bagaikan tertusuk oleh ribuan jarum yang tajam. Hati Gabrian menjerit. Bagaimana mungkin ia sanggup menyakiti gadis yang selama ini dinanti dan dicari olehnya? Ia bahkan rela meninggalkan Iel dan kuliah di London hanya karena ingin menemukan gadis yang membuatnya terpesona di depan pintu lift.
Gabrian mengacak rambutnya kasar. Ia kemudian membuka lemari pakaian dan mengambil baju secara sembarangan. Setelah selesai berganti pakaian, ia pun duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Eilaria selesai mandi.
Hampir satu jam berlalu, namun Eilaria belum juga keluar dari kamar mandi. Gabrian menjadi khawatir. Ia segera berdiri dan mendekati kamar mandi. Mendekatkan telinganya di pintu kamar mandi. Ia mendengar ada bunyi air.
"Eil....! Eilaria.....!" panggilnya sambil mengetuk pintu perlahan. Namun tak ada sahutan. Gabrian menjadi khawatir.
"Eil.....! Kamu baik-baik saja kan?" tanya Gabrian sambil terus mengetuk pintu.
Tetap tak ada sahutan apapun. Gabrian mencoba membuka pintu. Ia senang karena pintu tak dikunci. Gabrian langsung mendorongnya. Ia melihat Eilaria yang tanpa menggunakan apapun duduk di bawah shower sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Oh my God, Eil. Apa yang kamu lakukan?" Gabrian langsung mematikan shower, mengambil handuk dan membungkus tubuh Eilaria lalu menggendongnya keluar kamar mandi. Bibir gadis itu sudah agak membiru dan suhu tubun nya sangat dingin.
"Apa yang terjadi denganmu, Eil!" Gabrian menjadi khawatir melihat Eilaria yang tiba-tiba saja pingsan. *Apakah Eil mengidap hipotermia?
__ADS_1
Gabrian segera mengambil pakaian Eil dan memakainya*. Ia kemudian menelepon pusat kesehatan yang ada di lantai satu apartemen dan menyampaikan apa yang terjadi pada Eil. Dokter dan seorang perawat langsung datang dan memberikan penanganan.
"Dia mengidap hipotermia. Di harapkan agar jangan sampai ia berendam terlalu lama di air dingin." pesan dokter setelah memberikan suntikan lewat selang infus.
"Ia akan tidur sampai pagi. Jika ia kembali kambuh, hubungi kami lagi." kata dokter Sam.
Gabrian mengangguk. Setelah mengantar dokter sampai di depan pintu masuk, Gabrian kembali ke kamar. Ia menatap Eilaria dengan hati yang semakin galau. Tangannya membelai wajah gadis itu dengan penuh rasa sayang.
"Eil, kenapa takdir harus mempermainkan kita seperti ini? Mengapa?" tanya Gabrian.
**********
Pukul 7 pagi, Eilaria terbangun dari tidurnya. Ia ingat semalam ada di kamar mandi dan Iel mengeluarkannya. Setelah itu ia sudah tak ingat apa-apa lagi.
Tangannya agak sakit saat ia menggerakkannya dan Eil melihat ada selang infus di sana. Perlahan ia duduk dan bersandar di kepala ranjang sambil coba mengingat bagaimana bodohnya ia yang duduk di bawa shower yang dingin. Tentu saja penyakitnya kambuh.
Pintu kamar terbuka. Nampak Gabrian masuk sambil membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh manis.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Gabrian lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memangku nampan yang dibawanya.
"Eil, makan ya? Aku membuatkan bubur telur. Ini resep dari mommy jika kami sakit. Bubur ini enak dan akan membuat tubuhmu hangat karena ada tambahan jahenya."
Eilaria masih tetap diam. "Makanlah, Eil. Kau membuatku ketakutan semalam. Mengapa kau berdiam di bawa shower pada hal kau punya penyakit hipotermia?"
"Mengapa kau sepertinya baru pertama kali mengetahuinya? Bukankah waktu kita di air terjun, penyakit ku ini juga kambuh? Kau sudah lupa? Atau pura-pura lupa karena memang setiap momen diantara kita tak ada artinya sama sekali bagimu?" Eilaria menatap Gabrian dengan mata terluka dan kecewa.
Tangan Gabrian yang memegang nampan berisi makanan itu nampak mengeras. Ia merasa memang sudah tak bisa lagi menyembunyikan segalanya.
"Makanlah, Eil. Aku akan menunggu di luar."
"Aku tidak lapar." Ketus Eilaria.
"Setidaknya kau harus mengisi perutmu. Kau harus kuat agar aku dapat mengantarkan mu ke tempat yang benar."
__ADS_1
Eilaria menatap Gabrian bingung. "Apa maksudmu?"
"Makanlah dulu, Eil. Kita akan berbicara setelah kau selesai makan dan dokter akan memeriksa mu." Kata Gabrian lalu meletakan nampan itu di atas nakas dan keluar dari kamar.
Eilaria menatap kepergian Gabrian dengan perasaan yang penuh tanda tanya. Ia pun mengambil nampan itu dan mencoba memakan bubur telur buatan suaminya. Rasanya memang enak dan langsung hangat di perut. Eilaria pun menghabiskannya.
Selesai makan, dokter Sam kembali datang memeriksa Eil. Ia langsung membuka selang infus yang ada dan menyatakan kalau Eil sudah sehat. Ia memberikan juga vitamin dan berpesan agar Eil tidak boleh mandi terlalu lama di bawa guyuran air dingin.
Setelah dokter Sam pergi, Gabrian langsung mengeluarkan koper dan menyusun beberapa pakaiannya. Ia juga mengambil koper Eilaria yang memang sudah diisi dengan pakaian dan menaruhnya di dekat pintu masuk. Eilaria yang baru keluar dari kamar mandi menatap kedua koper itu.
"Aku tak ingin kemanapun. Aku sudah membatalkan perjalanan kita ke Medan. Aku ingin pulang ke London. Namun aku ingin sendiri." Kata Eilaria dengan nada suara datar. Ia sudah lelah dengan semua yang terjadi. Dia ingin ketemu dengan keluarganya.
"Kau tidak akan pergi ke London, Eli. Kita berdua akan pergi ke Singapura."
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku tak ingin kemanapun? Aku ingin kita berjauhan dulu, Iel. Aku lelah dengan semua ini." Kata Eilaria lalu hendak keluar kamar. Namun, sebelum ia membuka pintu, perkataan Gabrian menghentikan langkahnya.
"Ikutlah denganku ke singapura. Dan kau akan tahu apa itu Iel dan Ian."
Eilaria menoleh dengan kaget. "Apa maksudmu?"
Gabrian menarik napas panjang. "Aku tahu kau akan membenciku setelah ini, Eil. Silahkan kalau kau memang ingin membenciku. Namun jangan membenci Iel karena semua ini dia lakukan karena terlalu mencintaimu."
"Aku nggak mengerti."
"Kau akan mengerti jika kita sudah di sana."
Eilaria tertegun. Ia menatap Gabrian dengan sangat intens sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Mata itu.......
**********
Maaf ya kalau part ini agak pendek karena jika mau si sambung nanti part berikut jadi semakin pendek. pokonya dukung emak terus ya...
jangan lupa intip novel terbaru emak
__ADS_1
TERPAKSA MENJADI ISTRI KETIGA