
Dua hari Mark pergi ke Bandung dan selama itu pula Figia tak bisa makan enak dan tidur nyenyak. Ia merindukan kehadiran pria itu. Merindukan susu dan makanan buatannya. Dan membuat Figia merasa kalau dirinya sudah gila yaitu ia merindukan sentuhan pria itu di perutnya.
Semalam saja, Figia tidurnya sudah jam 3 subuh. Itu karena ia berharap Mark akan pulang. Namun Sampai pagi ini, cowok itu ternyata tak ada. Dengan gerakan cepat dan perut yang lapar, Figia akhirnya pergi ke kantor.
Sepanjang hari ia membuat dirinya fokus pada pekerjaan agar tak mengingat Mark. Walaupun ia harus melawan rasa mual dan muntah karena bau makanan yang tidak menyenangkan untuk di ciumnya.
Hari ini juga Figia pergi ke kantor dengan menggunakan taxi online karena ban mobilnya kempes.
Jam 4 sore, Figia memutuskan untuk pulang saja. Ia tak mau teman-teman sekantor akan bertanya kenapa ia selalu muntah.
"Fi, ada yang mencari mu." Kata Judith sambil membuka pintu ruangan Figia.
"Siapa?" tanya Figia yang sementara memasukan barang-barangnya ke dalam tas tangannya karena ia akan pulang.
"Namanya Mark Alonso dan dia bilang kalau dia adalah tunangan mu."
"Apa?" Figia terkejut namun ia tak dapat memungkiri kalau jantungnya berdetak lebih cepat mendengar nama Mark.
"Cie...cie....., selera mu memang bule semuanya, ya? Nggak mau sama cowok lokal?"
"Dia bukan.....!" Kalimat Figia terhenti melihat Mark sudah berdiri di belakang Judith.
"Maaf ya sayang, aku nggak sabar menunggu kamu keluar soalnya sudah kangen sekali." Kata Mark membuat Judith tersenyum namun Figia menjadi salah tingkah. Kata-kata Mark sangat manis membuat Figia hampir saja merasa tersanjung namun ia cepat sadar kalau itu hanya sandiwara si bule saja karena ada Judith.
"Aku tinggalkan kalian berdua ya?" kata Judith sambil mempersilahkan Mark masuk. Judit langsung menutup pintu. Di tangan cowok itu ada buket bunga mawar merah.
"Ini untukmu!" kata Mark sambil menyerahkan bunga itu ke tangan Figia dan tentu saja bagaikan terhipnotis, Figia menerimanya.
Mark mendekat dan langsung berlutut di hadapan Figia. "Hei baby. Daddy Miss you so much. Apakah selama 2 hari daddy tinggalkan kamu membuat mommy sibuk?" Mark membelai perut Figia lalu mencium perut itu berulang-ulang. Nampak sekali kalau ia memang rindu. Figia heran dengan seluruh tubuhnya yang bagaikan tersengat aliran listrik tegangan tinggi saat Mark membelai dan mencium perutnya.
"Aku mau pulang." Figia langsung mundur. Ia tak mau larut dalam suasana melancolis ini.
Mark berdiri. "Itulah tujuanku datang ke sini. Menjemputmu. Tadi pagi aku datang dan melihat kalau mobilmu masih ada di tempat parkir. Saat aku masuk ke dalam apartemen, kamu nggak ada. Aku pikir pasti ada masalah dengan mobilmu. Jadi aku masak dulu sambil membersihkan apartemen mu yang sedikit berantakan lalu datang ke sini"
Wajah Figia sedikit memerah. Ia ingat kalau apartemennya memang sedikit berantakan karena ia malas untuk membersihkannya.
"Kamu memasak?" tanya Figia sambil menelan salivanya.
"Ya. Aku yakin kalau beberapa hari ini kamu nggak makan betul. Aku juga periksa susu hamilnya masih sama seperti terakhir aku melihatnya. Kamu nggak minum susu kan?"
"Malas." Jawab Figia asal pada hal ia bukannya malas melainkan selalu merasa kalau ia sendiri yang membuat susu nya pasti tidaklah enak.
__ADS_1
"Ayo....!" Mark berjalan lebih dulu dan membukakan pintu bagi Figia.
Saat mereka sudah ada di luar, Mark dengan manisnya melingkarkan tangannya di bahu Figia. Dan entah kenapa Figia tak ingin menepis tangan Mark itu karena ia merasa terlindungi. Tatapan mata para pegawai sebenarnya sedikit membuat Figia malu namun ia hanya membalas tatapan mata rasa ingin tahu para pegawainya dengan senyuman manis.
Akhirnya mereka sampai di apartemen. Figia langsung menikmati makanan yang sudah Mark siapkan. Ia makan dengan sangat lahap membuat Mark nampak tersenyum bahagia.
"Bagaimana kamu bisa memasak seenak ini?" tanya Figia penasaran.
"Aku sejak SMP sudah hidup mandiri. Belajar banyak masakan termasuk masakan Indonesia, Cina dan Jepang. Sebenarnya aku ingin membuka restoran namun paman Caleb memberikan aku tanggungjawab di sini untuk bisa mengurus cabang perusahaan The Thomson, akhirnya aku melupakan keinginanku untuk membuka restoran." Kata Mark sambil mengangkat bahunya. Ia kemudian membereskan meja makan.
"Biar aku saja."
Mark menatap Figia dengan tatapan lembutnya. "Kau mandi saja karena setelah ini kita akan pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan mu."
"Tapi aku merasa baik-baik saja."
"Ibu hamil harus rutin memeriksakan kandungannya."
Figia mendengus kesal. Ia kesal karena Mark selalu memaksakan kehendaknya kepada nya. Namun selalu Figia tak bisa menolaknya. Ia justru menikmati kebersamaan mereka. Dan Figia merasa bahwa ia mungkin telah mengalami gangguan jiwa.
***********
Hasil pemeriksaan dokter menunjukan bahwa kandungan Figia dalam keadaan baik. Mark tak henti-hentinya memandang hasil USG itu setelah mereka tiba di apartemen.
"Bicara apa?" tanya Figia sambil melirik ke arah Mark yang sedang duduk di sampingnya. Ia kemudian kembali fokus ke layar TV.
Dengan cepat Mark mengambil remote TV dan menekan tombol off.
"Kamu....!" Figia protes dan ingin merebut kembali remote itu namun Mark sudah menyimpannya.
"Dengarkan aku dulu." Kata Mark lembut membuat Figia akhirnya duduk kembali.
"Aku ingin agar kamu mendengarkan semuanya ini dengan serius."
Figia kali ini menatap Mark. "Mau kamu apa sih Mark?"
"Menikahlah denganku!"
"Mark, bagaimana kita bisa menikah jika kita tak saling mencintai?"
"Kita pasti bisa saling mencintai jika kita berusaha."
__ADS_1
"Bagaimana jika kita tidak bisa saling mencintai? Aku tak mau menikah dalam kebohongan."
Mark memegang tangan Figia. "Fi, kalaupun kamu tak bisa mencintaiku, maka aku yang akan berjuang untuk mencintaimu. Keluargaku oma ku adalah keluarga Thomson. Dalam keluarga Thomson tak pernah ada perceraian. Aku ingin menikah sekali seumur hidup."
Figia menatap tangannya yang dipegang oleh Mark. Hatinya bimbang.
"Aku tidak tahu, Mark. Kau bukan lelaki impianku. Usia kita berbeda. Aku tak ingin dikemudian hari kau menyesal karena sudah menikah denganku."
Mark semakin mengeratkan pegangan tangannya. "Fi, apakah kau tega anak kita disebut anak haram karena ia lahir di luar nikah?"
"Aku......!" Figia semakin bingung.
"Aku mohon kau memikirkannya secara baik-baik. Aku sudah melamarmu melalui orang tuamu. Walaupun hanya melalui panggilan Videocall namun mereka menyerahkan semuanya di tanganmu."
Figia menarik tangannya dari genggaman Mark. "Akan ku pikirkan." Ia mengambil gelas berisi susu yang diletakan Mark di atas meja. Dengan cepat Figia menghabiskan susu itu lalu segera pamit menuju ke kamarnya.
************
Gabby dan Gerry memasuki kamar hotel sambil bergandengan tangan. Hari ini mereka sudah resmi menjadi suami. Cincin pernikahan sudah dipasang di jari manis masing-masing. Pesta pernikahan yang sederhana pun sudah selesai.
"Sayang aku bahagia sekali." Kata Gerry sambil memegang kedua pipi Gabby.
"Aku juga."
"Sekarang kau adalah istriku."
"Dan kau adalah suamiku."
Gerry mengambil bunga yang masih di pegang oleh Gabby lalu meletakan nya di atas meja. Ia kemudian mencium kedua tangan istrinya lalu mencium tangan itu secara bergantian.
Setelah itu ia mendekat, mencium bibir istrinya dengan lembut, membuat Gabby membalas ciuman itu. Gerry kemudian melepaskan ciumannya dan membalikan tubuh Gabby. Ia menurunkan resleting gaun pengantin Gabby sampai akhirnya gaun itu lepas dari tubuhnya.
Gabby merasa sedikit malu saat penutup tubuhnya satu persatu dilepaskan oleh Gerry.
"Ayo kita memulainya sayang." kata Gerry yang ternyata sudah melepaskan bajunya juga.
Gabby menganggu malu. Perawan dan perjaka itu sama sekali belum punya pengalaman. Mereka melakukannya menurut naluri saja. Sampai malam indah, malam pertama itu pun sukses mereka lalui bersama.
***********
Terima kasih sudah membaca bab ini....
__ADS_1
beberapa bab lagi kita akan selesai guys...
dukung emak terus ya?