Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Datang Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Gabrian menatap Eilaria yang tertidur dalam dekapannya. Wajah cantik yang terlihat tenang dan damai. Ada rasa bahagia saat ia memeluk gadis ini namun di bagian hatinya yang paling dalam ia merasa sangat bersalah pada Iel.


Hari ini, Gabrian merasakan bagaimana kelemahannya bila berhadapan dengan Eilaria.


Flashback.......


Gaun tidur yang dikenakan Eilaria sudah jatuh ke kakinya. Sedangkan handuk putih yang melilit pinggang Gabrian pun sudah terlempar entah kemana. Kedua insan muda itu sudah sama-sama terbakar hasrat untuk segera dituntaskan. Ranjang itu menjadi saksi bagaimana tubuh mereka sudah tak ada jarak dengan ciuamn-ciuman yang memabukkan.


"Iel......!" Eilaria mendesah, menyebut nama Gabriel saat ciuman Ian menyentuh kulit lehernya.


Sesaat gerakan Gabrian terhenti.


"Sayang, ada apa?" tanya Eilaria dengan mata yang sudah berkabut gairah.


"Aku....." Ian menjauh dari tubuh Eilaria. Tepat di saat itu ponselnya berdering.


Ian dengan cepat menyambar handuk yang ada dilantai untuk menutup kembali tubuhnya yang telah polos lalu segera mencari ponselnya yang ternyata ada di atas meja.


"Hallo....."


"Tuan, maaf aku menganggu. Namun ini penemuan penting." ujar Gerry


"Ada apa?"


"Kami menemukan beberapa dokumen penting di bekas apartemen kepala divisi keuangan. Jika tuan berkenan, besok aku akan membawanya ke kantor."


"Aku datang sekarang. Kamu ada di mana?"


"Ada di jalan xxx. Tapi biar besok saja, tuan."


"Aku datang sekarang, Gerry. Tunggulah!" Gabrian langsung memutuskan hubungan telepon lalu ia menatap Eilaria yang masih ada di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Sayang, maafkan aku. Ini masalah penting mengenai perusahaan. Aku sangat dibutuhkan sekarang. Bolehkan aku pergi?"


"Apakah tidak bisa ditunda sampai besok?"


"Gerry membutuhkan aku sekarang."


Eilaria mengangguk walaupun dengan wajah yang sedikit kecewa. Ia tahu kalau masalah yang dihadapi Iel dengan perusahaannya sangatlah serius.


Gabrian langsung masuk dalam walk in closet. Ia memakai jeans, kaos oblong dan menyusunnya dengan mantel kulit berwarna coklat. Ia kemudian mengenakan sepatunya. Saat ia keluar dari walk in closet, nampak Eilaria sudah mengenakan gaun tidurnya lagi.


"Aku pergi ya?" pamit Gabrian. Ia memeluk Eil dan memberikan kecupan singkat di dahinya setelah itu ia langsung keluar kamar. Gabrian merasa lega. Ia bisa menghindari Eilaria saat ini. Ia menepuk-nepuk kepalanya sendiri sepanjang perjalanan menuju ke tempat Gerry.


Sesampai di sana, Gerry langsung menunjukan berkas yang dimaksud. Gabrian pun langsung menelepon Figia dan memintanya untuk datang. Mereka pun berdiskusi bersama sampai akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 3 subuh. Gabrian sebenarnya masih ingin meneruskan namun Figia dan Gerry sudah sangat mengantuk. Akhirnya mereka pun pulang.


Flashback off.....


Gabrian bersyukur karena Eilaria sudah tertidur. Akhirnya Gabrian pun membaringkan tubuhnya di dekat Eilaria. Pikirannya menerawang jauh. Memikirkan saudara kembarnya yang ada di Singapura. Iel, cepatlah sadar. Aku hampir tak bisa menahan semua ini.


*********


"Sudah jam berapa ini?" tanya Gabrian yang baru bangun saat Eilaria membuka tirai jendela nya.


"Ini sudah jam 9 pagi, sayang." kata Eilaria sambil tersenyum.


"Kenapa nggak bangunkan aku?" Gabrian segera turun tempat tidur.


"Aku tahu kamu pasti pulangnya sudah subuh. Aku saja tidurnya sudah jam 2 subuh. Kamu bahkan tak mengganti pakaian mu. Itu artinya kamu sangat capek kan?"


Hati Gabrian tersentuh mendengar perkataan Eilaria.

__ADS_1


"Mandilah. Aku sudah siapkan sarapan."


Gabrian mengangguk. Ia segera menuju ke kamar mandi. Setelah mandi dengan gerakan cepat, Gabrian pun keluar dari kamar mandi


Eilaria sementara membereskan tempat tidur. Sejenak, apa yang mereka lakukan di atas kasur itu semalam terbayang lagi. Ian hampir saja mengambil sesuatu yang bukan miliknya dan ia merasa bergetar saat membayangkan hal itu.


"Ada apa?" tanya Eilaria melihat suaminya yang menatap dia tanpa berkedip.


"Nggak. Aku ganti baju dulu."


Eilaria hanya tersenyum lalu meneruskan pekerjaannya. Selesai membereskan tempat tidur, Eilaria mencari karet untuk mengikat rambutnya karena ia merasa agak gerah. Saat itulah Gabrian terkejut melihat ada tanda merah di leher Eilaria. Apakah aku yang melakukannya? Sampai segitunya aku pada Eil?


Eilaria yang mengerti arti tatapan Gabrian segera mendekati suaminya. "Sayang, kuliah S2 akan dimulai bulan depan. Jadi, kita masih punya waktu untuk pergi bulan madu."


Gantian berusaha tersenyum. Ia menyentuh pipi Eil dengan punggung tangannya. "Soal semalam, aku minta maaf ya? Sebenarnya, aku ingin melakukannya disaat yang tepat. Maksudnya, disaat kita akan bulan madu. Supaya tak ada gangguan dari pihak manapun juga."


"Aku tahu." Eilaria tertunduk sambil tangannya memasang kancing kemeja suaminya yang belum terpasang. "Kita akan melakukannya di saat yang tepat."


Gabrian menarik Eilaria dalam pelukannya. Ada rasa berdosa yang sangat dalam menghantam dadanya ketika terus membohongi gadis ini. Andaikan suatu hari nanti semua ini akan terbongkar, aku siap dibenci olehmu, Eil.


"Iel, aku sudah menikah denganmu, namun aku belum pernah pergi ke rumah orang tuamu. Bagaimana kalau hari ini kita ke sana?"


"Orang tuaku kan ada di luar negeri."


"Nggak masalah. Arumi mengatakan kalau aku menikah dengan pria yang tak kukenal karena aku tak pernah tahu rumahmu."


'Baiklah. Selesai kerja nanti, kita akan ke rumahku. Namun rumahnya sepi. Paling hanya ada para pelayan."


"Nggak masalah. Aku hanya ingin tahu saja rumahmu."


Gabrian mengangguk. Keduanya kemudian ke luar kamar sambil bergandengan tangan.


*********


"Apakah tuan akan menginap di sana?"


"Entahlah. Aku sebenarnya sedang berusaha untuk menjauh dari Eil. Berada dekat dengannya membuat aku pusing."


Gerry tersenyum. "Aku mengerti, tuan. Nona Thomson sangat cantik. Dia punya pesona untuk membuat siapa saja tertarik. Aku berdoa semoga tuan Gabriel cepat sadar."


"Semoga, Gerry."


Sepeninggalan Gerry, Gabrian pun segera menghubungi Figia untuk mendiskusikan dokumen yang mereka temukan semalam. Sampai akhirnya waktu menunjukan pukul 4 sore dan Gabrian memutuskan untuk menjemput Eil di apartemen dan membawanya ke rumah mereka.


Ketika mereka sudah tiba di rumah, Eilaria sangat kagum dengan rumah itu. Apalagi dengan danau yang ada di bagian belakang.


"Rumahmu sangat indah, Iel. Aku heran kenapa kamu memilih tinggal di apartemen itu dari pada di sini." ujar Eilaria ketika mereka sudah selesai berkeliling rumah.


"Apartemennya dekat dengan perusahaan ku. Kalau dari sini membutuhkan waktu hampir satu jam."


"Mommy memang pencinta bunga ya?"


"Ya. Bunda memang sangat mencintai bunga."


"Bunda?"


"Ah, aku kadang menyebut mommy dengan sebutan bunda."


Eilaria hanya mengangguk. "Aku ingin ke kamarmu."


"Ayo!"

__ADS_1


Keduanya memasuki ruang keluarga untuk kemudian menaiki tangga menuju ke lantai dua.


"Keluargamu jarang foto bersama ya? Aku nggak melihat ada foto keluarga. Hanya ada foto Daddy dan mommy saat menikah, foto kedua adikmu dan juga kamu. Tapi semuanya sendiri-sendiri. Oh ya, saudara laki-laki mu yang satu mana fotonya?"


Deg!


Wajah Gabrian menjadi pucat. Namun ia berusaha tenang. "Sebenarnya, dia sudah lama tak tinggal di sini. Dia ada di London. Kuliah sambil kerja di sana. Ada satu peristiwa yang membuat mommy menurunkan semua fotonya. Nantilah jika aku sudah siap, akan ku ceritakan padamu." Kata Gabrian dengan wajah sedihnya.


"Maafkan aku. Aku tak akan menanyakannya lagi." Kata Eilaria lalu memeluk suaminya.


Keduanya kemudian kembali menuju ke kamar Gabrian. Gabrian memang sengaja membawa Eilaria ke kamarnya dan bukan ke kamar Gabriel karena ia tak akan bisa menjawab jika Eil bertanya tentang isi kamar Gabriel.


Mata Eikaria langsung melotot melihat koleksi novel Gabrian yang teratur rapih di sepanjang lemari dinding kamarnya yang luas itu.


"Iel, kamu jahat sekali! Kenapa baru membawa aku ke tempat ini? Aku akan betah berhari-hati di kamarmu ini untuk membaca novel." Eilaria langsung memperhatikan isi lemari buku itu yang memang terdapat banyak sekali koleksi novel.


"Kamu juga mengoleksi novel Safia Alansa?" tanya Eilaria sambil mengambil salah satu penulis terkenal asal Turki itu.


"Ya."


"Aku suka dengan kata-katanya...."


"Cinta itu tak bermata, tak punya telinga, dan tak punya lidah untuk bisa merasa. Cinta itu hanya punya hati untuk bisa menikmati damai saat kita bersamanya." Gabriel dengan cepat menyela kata-kata Eilaria.


"Iel....!" Eilaria langsung memeluknya. "Aku mencintaimu!"


Gabrian terkejut saat Eilaria memeluk dan mencium pipinya lembut.


"Waktu kita pacaran, setiap kali aku ingin mengajak kamu berdiskusi tentang novel, kamu kesannya selalu menghindar."


Gabrian melepaskan pelukan Eilaria. "Kan waktu pacaran inginnya bicara tentang kita saja, sayang."


"Aku merasa memang kita berdua sudah ditakdirkan Tuhan untuk menikah."


"Mengapa sampai kau mengatakan seperti itu?"


"Kamu ingatkan, saat aku bilang kalau aku pertama kali jatuh cinta padamu saat kita ketemu di lift. Waktu itu aku kehilangan novel kesayanganku. Namun bagiku tak masalah karena aku ketemu cowok tampan yang menggetarkan hatiku. Lalu saat kita ketemu lagi di bandara. Aku ingin sekali memelukmu saking senangnya bisa melihat kamu. Namun sayang nya kamu pergi dengan seorang gadis. Tapi aku bersyukur, kamu meninggalkan novel mu. Jadi novel seolah menjadi pemersatu hati kita."


Gabrian menatap Eilaria. Hatinya menjadi sakit mendengar pengakuan gadis itu. Andai saja, waktu di bandara, dia punya keberanian untuk menyapa Eil, pasti sekarang gadis ini akan benar-benar menjadi miliknya dan bukan Iel.


"Iel, kita tidur di sini, boleh kan? Aku ingin merasakan tidur di kamar suamiku sendiri."


Gabrian hanya bisa mengangguk. Hatinya semakin galau.


********


Singapura Hospital. ......


Para dokter berlarian memasuki ruangan perawatan Gabriel. Giani yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit terkejut.


"Ada apa?" Ia mencegat salah satu perawat yang akan masuk.


"Denyut jantung pasien berhenti."


"Apa? Anakku....!" Giani berteriak histeris. Jeronimo, Stevany dan Joselin yang berjalan di belakang Giani langsung berlari mendapatinya karena mendengar teriakan histeris Giani.


Dari balik kaca terlihat bagaimana para dokter bekerja menggunakan alat kejut jantung pada Gabriel. Sampai akhirnya salah satu dokter menggeleng dan Giani pun langsung pingsan.


*********


Dukung emak ya....

__ADS_1


maaf jika ada yang kecewa....


__ADS_2