Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Dua Wanita Hamil


__ADS_3

Kembali lagi ke kisah si kembar


Hari ini, Giani nampak bersemangat menyiapkan makan malam. Gabriel dan Eilaria akan kembali dari bulan madu mereka dan atas permintaan Jero, pasangan itu akan tetap tinggal di rumah ini sampai Eilaria melahirkan.


Untuk urusan proyek di Amerika, sudah dipercayakan pada Gabby dan Gerry walaupun Gabriel sesekali akan pergi ke sana.


"Bunda, ada yang bisa aku bantu?" tanya Andrea. Perempuan itu baru saja selesai mandi sore.


"Tolong iris saja buah apelnya untuk membuat salad. Oh ya, bunda dengar kalau kamu tadi muntah. Apa sudah baikan?"


Andrea mengangguk. "Aku hanya nggak suka saja mencium bau alkohol. Tadi Bernetha tak sengaja menjatuhkan botol alkoholnya."


Giani menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Anak itu semakin lincah saja. Memangnya kenapa sampai ia mau mengambil botol alkohol?"


"Kaki opa Jero katanya terluka karena panjat pohon untuk mengambil buah jambu untuk Etha. Dia merasa sedih dan mau membersihkan luka opanya."


"Ada-ada saja tingkah mereka. Opanya juga, sudah tua masih saja bergaya seperti anak muda. Kenapa nggak meminta sopir untuk mengambilnya?" Giani kembali menggelengkan kepalanya saat menyadari bahwa suaminya itu masih saja bersikap konyol.


"Siapa yang sudah tua?" Tanya Jero yang datang bersama Angelia dan Bernetha.


"Opa yang sudah tua." Ujar Giani.


Jero memandang kedua cucunya yang ada di samping kiri dan kanannya. "Apakah opa sudah tua?"


"Nggak. Opa masih muda." Kata Bernetha.


"Juga tampan" Sambung Angelia.


"Dan sangat sayang pada Oma." imbuh Jero membuat pipi Giani jadi merah.


"Ih....Oma jadi malu." Ujar Bernetha sambil menunjuk omanya.


Semua yang ada di dapur itu langsung tertawa. Bernetha dan Angelia memang selalu membawa kebahagiaan di rumah ini.


"Mel, tolong buatkan aku kopi ya?" kata Jero mesra sambil mencium pipi istrinya.


"Etha minta kue."


"Lia juga."


Andrea menatap kedua putrinya yang kini sedang berjalan meninggalkan dapur menuju ke ruang keluarga. Mereka pasti akan menonton TV.


Sementara Giani menyiapkan kopi dan kue untuk kedua cucunya, terdengar suara salam dari pintu depan. Gabrian sudah pulang kantor.


"Hallo bunda." Gabrian mendekati ibunya lalu mencium tangan Giani. Setelah itu ia mendekati Andrea yang sedang mengiris buah, memeluk istrinya dari belakang kemudian mencium Andrea.


"Apa kabarmu, hari ini bidadariku?" tanya Gabrian sambil membalikan tubuh Andrea.


"Aku baik-baik saja. Tadi memang sempat muntah namun sudah baikan lagi."


Tangan Gabrian menyentuh perut Andrea yang masih rata itu di usia kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke-3."Nggak sabar melihat perutmu menjadi besar. Dulu saat kau hamil si kembar, aku nggak punya kesempatan untuk melihatnya. Kali ini, aku harus menjagamu sampai baby nya lahir."


"Makasi, sayang."


Gabrian melihat kalau Giani sudah pergi ke ruang keluarga. Ia pun langsung mencium bibir istrinya.


"Daddy....!"


Ciuman itu pun dengan sangat terpaksa harus dihentikan.


Angelia dan Bernetha sudah berlari ke arahnya. Gabrian langsung berjongkok dan membuka kedua tangannya. Kedua putrinya itu langsung masuk dalam pelukan Gabrian.


"Duh, wangi banget anak-anak ku ini." Kata Gabrian setelah mencium kepala kedua anaknya secara bergantian.

__ADS_1


"Opa memandikan kami dengan shampo terbaru. Tadi siang sepulang sekolah, kami ngajak opa ke mall." kata Bernetha.


"Oh ya?"


"Terus ada tante-tante menyapa opa kayak gini, eh om anaknya cantik-cantik ya? Di sangka mereka opa adalah daddy kami." Kata Angelia.


"Wah, opa awet muda dong."


"Nggak suka ada tante-tante gangguin opa. Karena opa milik Oma Giani."


Giani yang sudah kembali masuk ke dapur tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh kedua cucunya.


"Kayaknya mereka sangat posesif dengan opa Jero." Ujar Gabrian setelah kedua anaknya pergi.


"Sifat yang sangat menurun dari opa mereka." Kata Giani.


Andrea menatap Gabrian. "Kayaknya seperti daddy Ian juga."


Gabrian hanya tertawa. "Pokoknya keluarga Dawson akan selalu menyayangi apa yang menjadi miliknya."


Hati Giani menjadi bahagia melihat kebahagian Gabrian dan Andrea. Ia semakin tak sabar menunggu kedatangan Iel dan Eil.


Saat makan malam hampir siap dihidangkan, Iel dan Eil datang. Wajah Eil kelihatan sangat pucat.


"Sepanjang perjalanan Eil muntah terus. Ia sepertinya nggak bisa naik pesawat. Kami tadi mampir sebentar ke dokter kandungan. Kata dokter itu bawaan bayi." Ujar Iel yang masih menggandeng istrinya.


"Istirahat saja dulu, nak." Ujar Giani.


"Aku lapar, mommy!" Ujar Andrea membuat Giani tersenyum.


"Mari ke ruang makan. Mommy sudah menyiapkan berbagai jenis masakan. Kamu tinggal pilih mana yang mau dimakan."


Bernetha dan Angelia langsung berlari dan memeluk Gabriel saat melihat paman mereka itu.


"Uncle juga merindukan kalian."


"Apakah kalian tidak merindukan aunty?" tanya Eilaria sambil memasang wajah cemberut.


"Aunty sakit ya?" tanya Bernetha.


"Aunty hanya sedikit capek saja. Di perut aunty ada Ade bayi." Ujar Eilaria sambil mengusap perutnya.


"Sama kayak mommy Andrea?" mata Bernetha berbinar.


"Iya."


"Aduh, kita akan punya banyak adik di rumah ini!"


Angelia dan Bernetha melompat dengan wajah gembira.


"Ayo kita makan!" ajak Jero.


*********


Dua wanita hamil dalam keluarga Dawson sama sekali tak merepotkan Giani. Ia begitu bersemangat dalam menyiapkan semua yang diinginkan oleh kedua menantunya.


Andrea tak mengalami masa ngidam yang sulit. Ia hanya sesekali mengalami mual dan muntah. Ia juga makan semua makanan. Sedangkan Eilaria, memasuki Minggu ke-10, ia bahkan harus berdiam di dalam kamar karena mengalami muntah dan mual yang lebih sering. Ia juga hanya mau makan makanan yang pedas.


Gabriel menjadi suami siaga. Jika keadaan Eil benar-benar parah, maka dia tak akan masuk kerja.


Seperti juga pagi ini, Gabriel kembali tak bisa masuk kerja karena Eilaria kembali mengalami morning sickness.


"Sayang, ini aku buatkan susu untuk ibu hamil." Gabriel masuk ke kamar sambil membawakan segelas susu.

__ADS_1


"Terima kasih. Kamu nggak pergi kerja?" tanya Eil sambil mengambil gelas dari tangan Iel. Ia langsung meminumnya sampai habis.


"Aku sudah ijin. Lagi pula tak ada pekerjaan penting di hari ini. Aku ingin menemani kamu." kata Iel lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia mengambil gelas yang sudah kosong itu dari tangan Eil dan meletakkannya di atas nakas.


Eilaria yang sedang duduk sambil bersandar pada kepala ranjang tersenyum pada suaminya. "Aku jadi nggak enak sama mommy Giani. Dia pasti sibuk mengurus aku dan Andrea."


"Mommy justru sangat gembira mengurus kedua menantunya. Dia senang akan ketambahan dua cucu lagi pada saat yang hampir bersamaan."


"Aku bahagia memiliki menantu seperti mommy Giani."


"Mommy ku memang sangat luar biasa. Sama kayak aku kan?"


Eilaria membelai pipi suaminya. "Ya. Sama kayak kamu."


Iel membelai perut Eil. "Dede sayang, jangan terlalu membuat mommy kesusahan ya, daddy jadi nggak bisa menjenguk kamu di dalam."


"Iel....!"


Gabriel tertawa.


"Kamu pasti sudah nggak tahan ya?" tanya Eilaria sambil memandang Gabriel dengan wajah penuh iba.


"Aku memang sangat ingin menyentuhmu. Namun rasa sayangku pada mu dan anak ini, membuat aku bisa menahannya."


Eilaria membaringkan kepalanya di bahu suaminya. Hatinya dipenuhi dengan sejuta kebahagiaan.


**********


Amerika.....


Gabby baru saja mengirimkan hasil pengerjaan proyeknya kepada Gabriel. Ia kemudian merentangkan tangannya untuk sekedar menggerakkan punggungnya yang pegal karena duduk lama di depan laptop.


Pintu apartemen nya di ketuk. Gabby membukanya. Gerry nampak berdiri di hadapannya sambil membawa beberapa bungkus makanan.


"Kamu pasti belum makan kan?" tebak Gerry sambil melangkah masuk.


"Kamu tahu aja kalau hari ini aku nggak sempat masak." Gabby menutup kembali pintu apartemennya dan berjalan mengikuti Gerry ke arah meja makan.


Semenjak kejadian di Bali itu, hubungan Gerry dan Gabby menjadi semakin dekat.


Gerry membuka kantong makanan yang dibawahnya. Gabby pun membuka lemari piringnya untuk menyiapkan tempat makanan. Namun saat ia berbalik, tubuhnya justru bertabrakan dengan Gerry. Untung saja Gerry dengan cekatan langsung memeluk cewek itu sehingga Gabby tak sampai jatuh.


Tubuh mereka menjadi begitu dekat, nyaris tanpa jarak. Keduanya saling berpandangan dan entah siapa yang memulai mereka langsung saling berciuman.


Gabby memejamkan matanya. Ia menikmati penyatuan bibir mereka. Ciuman itu sangat menggoda keduanya untuk saling memuaskan. Sampai akhirnya, piring yang dipegang Gabby jatuh ke lantai dan menyebabkan ciuman itu terlepas.


"Eh....." Gabby menjadi salah tingkah. Ia langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan langsung membungkuk untuk mengambil piring itu. Untung saja piringnya tak pecah.


Gerry pun terlihat kikuk.


Keduanya saling diam sambil menuangkan makanan di piring masing-masing.


"Gab, maaf ya. Aku sudah kurang ajar menciummu." Kata Gerry akhirnya.


"Aku juga mengingkannya." Jawab Gabby sedikit malu.


"Jadi aku boleh dong cium kamu lagi?" tanya Gerry.


Mata Gabby melotot. Dan sebelum Gabby berkata apa-apa lagi, Gerry sudah menciumnya dengan penuh kelembutan. Tak ada penolakan yang terjadi. Gabby yang sudah berusia 27 tahun dan Gerry yang berusia 31 tahun, akhirnya resmi menjalin hubungan cinta malam itu.


**********


Bagaimana nasibnya Figia?

__ADS_1


Nantikan di next episode


__ADS_2