
5 tahun lalu.....
Saat anak Andrea baru saja di kuburkan.
Alexa sudah menidurkan anak-anaknya. Semenjak pulang dari pemakaman, Oliver hanya mengurung diri di ruang kerjanya. Ia hanya keluar untuk makan malam, lalu mandi dan kembali lagi ke ruang kerjanya setelah memberikan ciuman selamat malam bagi anak-anaknya.
Kini, Alexa berdiri di depan pintu ruang kerja Oliver. Semenjak mereka pulang dari London, Alexa tak pernah lagi masuk ke ruang kerja Oliver.
Di tangan Alexa ada segelas kopi yang baru pertama ia buat lagi untuk Oliver setelah berbulan-bulan lamanya ia membiarkan para pelayan atau Oliver sendiri yang menyiapkan kopi untuk dirinya.
Setelah mengetuk pintu, Alexa membuka pintu dengan sangat hati-hati. Di lihatnya Oliver sedang duduk di depan meja kerjanya sambil membaca.
"Apakah aku menganggu?" tanya Alexa.
Oliver mengangkat wajahnya. Ia tersenyum ke arah Alexa. Senyumnya semakin lebar saat melihat Alexa mengantarkan kopi.
"Terima kasih." kata Oliver saat kopi itu sudah diletakan Alexa di atas meja kerjanya.
"Sama-sama." Alexa duduk di depan Oliver. "Oliver, boleh kita bicara?"
"Tentu saja." Oliver menutup buku yang buku yang sementara di bacanya. Saat Alexa melihat buku itu, hatinya tersentuh. Buku itu adalah pemberian sahabat Alexa diusia pernikahannya bersama Oliver yang kedua. Buku yang berjudul : PEMULIHAN HATI YANG TERLUKA.
"Kau suka dengan isinya?" tanya Alexa Seingatnya dulu Oliver sama sekali tak membacanya
"Ya. Isinya bagus."
"Oliver, aku tahu kalau kamu sedih karena anak itu meninggal. Aku hanya berharap kalau kamu akan mengikhlaskan kepergiannya."
Oliver mengangguk. "Terima kasih, Eca. Aku memang sedih. Aku pikir apakah ini hukuman Tuhan kepada ku dan juga kepada Andrea sehingga anak itu tak bisa bertahan hidup? Sungguh aku tersiksa dengan semua ini."
"Jangan berkata seperti itu. Kehidupan manusia ada dalam otoritas Tuhan. Panjang atau pendeknya kehidupan manusia di dunia ini, bukanlah menjadi ukuran. Tuhan hanya mau kita selalu bersyukur dan menikmati hidup dalam perintah Tuhan."
Untuk beberapa saat, Oliver terdiam mendengar perkataan Andrea. Ia memang tak pernah bermimpi anak itu akan ada dalam kehidupannya. Namun ia juga tak bisa menolak ketika anak itu tumbuh di rahim wanita yang tak dicintainya. Bagaimana pun kehamilan itu tak akan pernah terjadi tanpa seijin dari Tuhan.
"Terima kasih, Eca. Kau selalu mengerti akan diriku. Kejadian ini memberikan pelajaran penting bagiku bahwa aku harus lebih berhati-hati lagi dalam hidup ini. Tujuanku malam itu hanya sekedar santai di pub tanpa ada tujuan lain. Namun aku lengah sehingga terjebak. Menyesal pun tak ada gunanya. Aku memilih berbohong karena takut menyakitimu namun justru aku sudah mengkhianati kepercayaan mu."
Ruangan itu kembali menjadi hening. Alexa terlihat menarik napas panjang beberapa kali. Perlahan ia menatap suaminya. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Ia ingat dengan perkataan mami bule saat ia datang Minggu lalu di rumah Alexa.
"Seorang suami bukankah manusia yang sempurna, Eca. Suatu ketika ia bisa saja melakukan kesalahan. Dan tugas seorang istri adalah memaafkan, menuntun dan menolong suaminya agar ia tak terpuruk dalam rasa bersalah. Apakah hukuman selama beberapa bulan ini belum cukup untuk Oliver? Harus berapa lama lagi kau menghukumnya? Jangan simpan amarahmu terlalu lama. Kau akan memberikan celah bagi iblis untuk masuk dalam kehidupan rumah tanggamu. Oliver atau dirimu, bisa saja menjadi lelah dan menyerah pada keadaan ini. Ingatlah bagaimana indahnya dulu kalian berdua saling jatuh cinta."
"Tidurlah, Eca. Aku masih ingin di sini. Sekali lagi terima kasih untuk kopinya." Kata Oliver membuat lamunan Eca terhenti.
Alexa berdiri. Ia melangkah menuju ke pintu, namun baru beberapa langkah ia berbalik lagi dan langsung menuju ke tempat Oliver duduk.
"Selamat malam." Alexa menunduk dan mencium pipi suaminya membuat Oliver terkejut. Namun belum sempat ia berkata apa-apa, Alexa sudah meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Mata Oliver menatap pintu yang sudah tertutup itu. Apakah Eca mulai memaafkan ku? Apakah ini pertanda hubungan baik antara aku dan Eca?
Tangan Oliver memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Alexa. Rasanya sangat menyenangkan. Seperti ciuman pertama saja rasanya. Membuat hati berbunga-bunga.
*********
Malam itu, saat Oliver masuk ke kamarnya bersama Alexa, istrinya itu sudah terlelap. Oliver memberanikan diri untuk membelai pipi wanita yang sudah memberikan sepasang malaikat kecil dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu." kata Oliver lalu mencium dahi Alexa. Ia kemudian berbaring di samping Alexa tanpa berani memeluknya karena ia takut Alexa akan menepis tangannya seperti malam-malam sebelumnya.
Tanpa Oliver ketahui, Alexa sebenarnya belumlah tidur. Alexa diam-diam menitikkan air mata saat mendengar perkataan Oliver tadi. Ingin rasanya ia memeluk Oliver. Namun ada rasa gengsi dan malu.
**********
Setelah malam itu, Alexa mencoba untuk membuka hatinya lagi untuk Oliver. keduanya sudah mulai jalan bersama saat mengajak anak-anak bermain di mall atau tempat-tempat bermain lainnya, Alexa sudah mulai menyiapkan pakaian Oliver saat ia akan ke kantor, atau menyiapkan kopi saat pria itu harus bekerja di ruangannya. Namun ketika malam tiba, Alexa dan Oliver nampak kaku jika berdua saja di kamar. Keduanya seakan enggan saling memulai walaupun tatapan mata sudah jelas terlihat ada rasa rindu untuk menikmati kemesraan.
40 hari setelah kematian anak itu, keluarga Dawson melaksanakan peringatan 40 hari kematian. Alexa dan Oliver juga hadir.
Andrea terlihat masih sedih walaupun ia berusaha menutupinya dengan senyum manisnya. Ia juga datang menyapa Oliver dan Alexa dengan sikap yang tenang.
Ada sesuatu yang Alexa perhatikan. Gabrian, saudara sepupunya itu terlihat tulus sat memberikan perhatian kepada Andrea. Bukan sebuah sandiwara di depan banyak orang. Alexa juga merasakan kalau Andrea begitu nyaman menikmati kasih sayang dan perhatian yang Gabrian berikan.
Sepulang dari pertanyaan itu, Joana dan Aldo meminta ijin pada Oliver dan Alexa untuk mengajak anak-anak tidur di rumah mereka karena weekend.
Akhirnya, Alexa dan Oliver pulang sendiri ke rumah mereka yang agak sunyi karena para pelayan sedang minta cuti dan akan kembali hari Senin nanti.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Oliver yang kini sudah berganti pakaian rumah. Sepertinya ia juga sudah mandi karena rambutnya terlihat basah.
"Sebentar lagi makanannya siap. Mungkin kau siapkan saja peralatan makannya."
Oliver mengangguk. Ia segera mengambil peralatan makan dan mengaturnya di meja makan.
Alexa pun mulai menyelesaikan masakannya. Keduanya duduk saling berhadapan.
"Aku pimpin doanya, ya?" ujar Oliver lalu tanpa menunggu Alexa menganggukkan kepalanya, ia pun memimpin doa makan di saat ini.
Selesai berdoa, keduanya mulai makan dalam suasana hening. Hanya sesekali saja mereka saling mencuri pandang sambil menahan debaran di dada masing-masing.
"Masakan mu, sungguh enak." puji Oliver setelah ia menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Aku senang kalau kau menyukainya."
"Aku menyukai apapun yang kau buat. Bahkan ketika kau belum pintar masak, aku tetap menyukai masakan mu yang kadang agak gosong, kelebihan garam atau tawar, masih keras atau terlalu lembek, aku tetap menghabiskannya." Kata Oliver membuat Alexa mengingat masa-masa indah diawal pernikahan mereka. Bagaimana Alexa berusaha belajar masak dan Oliver yang sama sekali tak pernah mengejek hasil masakannya. Oliver selalu makan sampai habis apapun yang Alexa buat. Itulah sebabnya Alexa berusaha terus sampai bisa membuat semua masakan yang Oliver inginkan secara baik dan akhirnya ia bisa pintar masak. Oliver sabar menunggu dan memberikan dukungan sampai kekurangan Alexa mampu diperbaikinya.
Lalu bagaimana dengan Alexa sendiri? Apakah ia bisa seperti Oliver yang mampu menerima setiap kekurangan sehingga bisa berubah menjadi lebih baik?
__ADS_1
"Eca, biar aku saja yang mencuci peralatan makannya." Kata Oliver saat mereka sudah selesai makan.
"Biar aku saja."
"Kau sudah capek memasak. Mandilah! Karena sekarang sudah hampir jam setengah sembilan malam."
Alexa pun mengangguk. Namun sebelum ia melangkah, Oliver tiba-tiba menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Alexa.
Oliver mendekat, lalu ibu jarinya menghapus sesuatu yang ada di sudut bibir Alexa.
"Ada sisa makanan di sana."
Wajah Alexa menjadi merah. "Terima kasih."
Pandangan mereka saling beradu. Dan entah siapa yang memulainya, mereka kini saling berciuman dengan begitu mesranya. Saling meluapkan rasa rindu yang terpendam.
Tak ada yang ingin mengahiri ciuman itu sampai Alexa sadar akan sesuatu saat tangan Oliver kini turun ke pinggangnya dan menyusup masuk diantara kemejanya. Alexa belum mandi dan ia merasa tak percaya diri.
"Sebaiknya aku mandi saja." Alexa langsung berlari meninggalkan Oliver semetara suaminya itu tersenyum bahagia.
Selesai mandi, Alexa berdiri di dalam walk in closet. Ia bingung harus memakai gaun tidur seperti apa. Ia tak pernah lagi memakai lingre nya. Dan malam ini, entah kenapa ia ingin menggunakannya.
Jantung Alexa berdetak tak menentu saat lingre berwarna merah, yang merupakan kesukaan Oliver, kini menempel di tubuhnya.
Alexa keluar dari walk in closet lalu berdiri di depan cermin. Ia tersenyum menatap bayangan wajahnya. Rambutnya dibuatkannya tergerai. Namun sesaat kemudian, Alexa merasa malu Ia bermaksud akan mengganti lagi lingre ini namun Oliver terlanjur masuk ke dalam kamar. Mata pria itu langsung membulat saat melihat penampilan menggoda istrinya. Sesuatu yang sudah tak pernah ia lihat selama 10 bulan ini. Apalagi lingre yang Alexa pakai adalah kesukaannya.
Alexa akan masuk lagi ke dalam walk in closet untuk mengambil kimono nya namun Oliver memberanikan diri menghadang langkahnya.
"Eca, apakah sudah boleh aku menyentuhmu? Dapatkah lagi kita menikmati malam-malam indah kita seperti dulu? Aku rindu, Eca. Sangat rindu." Ujar Oliver dengan suara yang bergetar.
Alexa menatap suaminya. Ia akhirnya tersenyum dan membuat keraguan di wajah Oliver menghilang.
"Mari kita lupakan semua yang pernah terjadi, sayang. Aku ingin kita kembali saling percaya dan tak ada lagi rahasia apapun jika salah satu diantara kita melakukan kesalahan." Kata Alexa dengan mata berkaca-kaca.
Oliver langsung memegang kedua pipi mulus istrinya itu. Di tatapnya mata indah istrinya. "Terima kasih, sayang. Terima kasih karena mau memaafkan ku." Oliver mencium dahi Alexa, lalu ia mencium mata kiri dan kanan Alex secara bergantian, lalu ciuman itu turun ke hidung Alexa, kedua pipinya sampai akhirnya ciuman itu mendarat ke bibir Alexa.
Mata keduanya terpejam. Mereka menikmati ciuman manis itu yang kemudian berubah menjadi ciuman panas.
Mereka tak mau bohong. Tubuh keduanya saling mendamba. Oliver dengan cepat menarik turun lingre yang Alexa kenakan, begitu ia juga membuka bajunya sendiri. Dan malam itu, mereka kembali menikmati kedekatan raga, kembali menyatu dalam balutan cinta dan gairah dan jangan tanyakan jam berapa mereka akan berhenti. Karena keesokan harinya, Oliver dan Alexa mengurung diri terus di dalam kamar. Mereka hanya berhenti untuk makan, mandi, dan kembali tertidur setelah kelelahan bercinta. Alexa dan Oliver merasa seperti baru menikah saja.
Satu bulan setelah itu, Alexa hamil lagi. Keduanya semakin mesra. Sampai akhirnya Alexa melahirkan seorang bayi perempuan. Yang diberi nama Abigail Theodora Pergonas.
*******
__ADS_1
Nah, segitu dulu kisah Alexa dan Oliver sebagaimana yang diminta oleh pembaca untuk bisa diceritakan. Dukung emak terus ya.