
Alana yang awalnya sudah bersiap untuk menemui saudara kembarnya, tiba-tiba saja mengurungkan niatnya. Ia duduk kembali dan membuat Gabrian bingung.
"Ada apa?" tanya Gabrian.
"Saudara kembar ku itu orangnya agak tertutup dan tidak terlalu suka jika masalah pribadinya dicampuri oleh orang lain. Kalau ia memilih belum ingin mengatakan siapa lelaki itu, maka sebaiknya aku tak menyapa dia sekarang."
Walaupun Gabrian agak kecewa namun ia berusaha tersenyum. "Itu keputusan yang baik. Pastilah kau yang lebih tahu bagaimana saudara kembar mu."
"Sebenarnya aku sangat penasaran siapa lelaki itu. Dia kelihatan sudah sangat dewasa. Kembaran ku itu memang selalu mengatakan kalau ia ingin menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Katanya pria yang usianya 10 tahun di atas kita, jarang akan selingkuh."
Gabrian jadi berpikir. Kalau Andrea tak mau memiliki pasangan yang suka selingkuh, lalu bagaimana hubungannya dengan Oliver. Apakah Oliver tak mengatakan pada Andrea kalau ia sudah menikah?
"Ian, kok melamun?"
Gabrian mengalihkan pandangannya pada Alana. "Maaf. Aku hanya melihat kalau kalian sangat mirip."
"Ya. Wajah kami memang identik. Hanya saja kau dapat membedakan kami dari cara berpakaian. Kalau Andrea suka memakai baju yang bercorak. Sedangkan aku suka memakai baju yang polos."
Gabrian memperhatikan gaun yang dikenakan Andrea memang bercorak bunga-bunga sedangkan yang dipakai Alana dress berwarna coklat polos.
"Makasi mau membagi satu rahasia antara kau dan saudara kembar mu."
Alana tersenyum. "Aku takut nanti kamu salah mengenali kami. Karena sampai suara pun kami sama." Alana berkata terus terang karena ia tak ingin Gabrian menyukai orang yang salah. Wajah boleh sama namun hati setiap orang berbeda.
"Aku juga punya saudara kembar."
"Benarkah?" Alana terkejut mendengarnya.
Gabrian membuka layar ponselnya dan menunjukan fotonya bersama Gabriel.
"Kalian juga kembar identik? Wah, semoga aku nggak salah memanggil nama kalian." Alana memperhatikan foto itu semakin intens. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Ia memang merasa pernah melihat Gabrian sebelumnya. Bukan di profil dosen kampus nya. Namun di suatu tempat. Entah di mana, ia pun lupa.
Alana dan Gabrian asyik bercerita namun sesekali Alana menengok ke arah tempat duduk saudari kembarnya. Sampai matanya yang tajam melihat sesuatu di tangan pria itu.
"Ian, tangan pria itu menggunakan cincin pernikahan kan?"
Gabrian tersenyum. "Ya. Itu memang cincin pernikahan."
"Jika pria itu sudah menikah, kenapa Andrea mau berhubungan dengannya? Ya Tuhan, dia sudah melanggar aturan Kerajaan kami. Bukankah jika pacaran dengan orang yang sudah menikah maka ujung-ujungnya ke tempat tidur juga?"
"Tentu saja. Memangnya di kerajaanmu ada aturan?"
Alana mengangguk. "Kami, para perempuan bangsawan sejak lahir telah diberikan tato bunga. Tato itu entah bagaimana dibuatnya namun jika kami sudah tak perawan lagi, maka tato itu akan hilang dengan sendirinya. Kami memang tinggal di negara yang modern namun sebagai putri bangsawan, kami tak boleh salah bergaul. Tato itu ada di pinggang sebelah kanan kami."
__ADS_1
Gabrian mengangguk mengerti. Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi diantara Oliver dan Andrea. Apakah karena Oliver tampan dan berpengalaman sehingga ia bisa jatuh hati sampai nekad harus kehilangan tanda kesuciannya?
"Kau akan bicara dengan saudara kembar mu?"
"Ya. Aku akan menghubunginya jika mereka sudah pulang nanti. Gabrian, maaf ya. Acara kita untuk jalan-jalan terganggu. Aku merasa ada sesuatu yang salah disembunyikan oleh saudara kembar ku. Aku harus berbicara dengannya sebelum semuanya terlambat."
"Aku mendukungmu." Kata Gabrian senang. Ia berharap kalau Alana dapat membantunya untuk segera memisahkan Oliver dari Andrea. Semalam Mama Giani kembali menghubunginya, menanyakan tentang Oliver dan Gabrian sudah menceritakan segalanya. Namun ia meminta pada mamanya agar jangan dulu memberitahukan pada Alexa karena sangat aneh mendengar pengakuan Oliver kalau ia tak selingkuh namun Andrea harus hamil anaknya.
Setelah Oliver dan Andrea pergi, Gabrian dan Alana pun ikutan pergi. Alana minta diantarkan ke sebuah apartemen karena di sanalah ia akan bertemu dengan saudara kembarnya itu.
"Alana, jika kau butuh teman untuk curhat, aku bersedia kau hubungi. Kapan saja, selama 24 jam, aku bersedia berbicara denganmu."
Alana mengangguk dengan hati yang sangat tersentuh dengan perhatian Gabrian. Lalu ia segera masuk ke dalam apartemen.
********
Giani terkejut melihat Gabriel sedang duduk sendiri di pondok belakang. Hari masih terlalu pagi untuk bangun karena ini baru pukul setengah lima pagi.
Hari ini, Giani memang sengaja bangun masih subuh karena ia akan membuat kue ulang tahun untuk kakaknya Aldo yang hari ini berulang tahun.
Langkah Giani diarahkan ke pondok sambil terus bertanya dalam hatinya.
"Ada apa, nak? Mengapa sepagi ini kau sudah bangun?" tanya Giani. Ia melihat selimut yang masih membungkus tubuh Gabriel.
"Kau tidak tidur?" Giani langsung mendekat dan duduk di samping putranya. "Ada apa?"
Gabriel memejamkan matanya. Sebenarnya ia tak menyangka kalau mamanya akan menemukan dia sepagi ini. Dia berencana akan masuk ke dalam rumah sebelum pukul setengah enam pagi.
"Aku ingin saja di sini. Mommy ingat kan? Dulu, kita sering berkemah di sini. Daddy selalu membuat tendanya namun pada akhirnya kita berenam akan berebutan tidur di pondok ini. Aku jadi kangen mengingat masa kecil kita. Rasanya sangat bahagia."
Giani dapat merasakan luka yang Gabriel coba sembunyikan. "Ada apa, Iel?" tanyanya sambil mengusap lengan putranya.
"Nggak ada apa-apa, mommy. Kapan mommy dan daddy akan pergi keliling Eropa?"
Giani tersenyum. "Menunggu hasil tes kesehatanmu keluar."
"Jangan pikirkan aku, mommy. Daddy pasti sudah tak sabar menunggu perjalanan ini. Aku akan baik-baik saja."
"Mengapa kau membiarkan istrimu tidur sendiri di kamar? Apa yang kau cari di sini Iel? Jangan sembunyikan kesedihanmu, nak."
Gabriel menunduk. Ia memang tak bisa menyembunyikan apapun pada mamanya.
"Mommy, pernahkah Tuhan salah memberikan jodoh pada seseorang?"
__ADS_1
"Tuhan tak pernah salah, nak."
"Tapi mengapa aku merasa kalau antara aku dan Eilaria sepertinya tak berjodoh. Mungkin saja jodoh Eil adalah Ian dan bukan aku."
"Mengapa kau bicara seperti itu, nak?"
"Semenjak aku sembuh, sikap Eil padaku berubah. Ia seakan enggan aku sentuh. Aku tahu kalau aku salah karena meminta Ian untuk menggantikan aku. Kesalahan ini membuat aku merasa kalau hati Eil telah menjadi milik,Ian. Karena memang sebenarnya yang dilihat Eil pertama kali adalah Ian dan bukan aku. Mom, berdosakah aku jika ingin bercerai dari Eil?"
"Tentu saja berdosa. Pernikahan itu hanya bisa diakhiri oleh maut. Ingat saja janji pernikahan kalian. Saat suka maupun duka. Saat sakit maupun sehat. Saat berkelimpahan maupun kekuarangan, kalian akan terus bersama sampai maut memisahkan. Ini adalah ujian dalam pernikahan kalian. lagi pula, apakah kau sudah mempertimbangkan perasaan Eil saat meminta cerai darinya? Di keluarga Thomson, perceraian tidak pernah ada. Demikian juga ditengah keluarga kita. Mommy tak ingin ada perceraian. Cukup sudah mommy dan daddy dulu pernah bercerai. Rasanya sakit dan membuat hidup tak ada kedamaian."
"Mom, Eil tak bahagia denganku. Dia mencintai Ian."
"Dan kamu berpikir kalau Ian akan menerima Eil saat kalian bercerai?"
Gabriel meletakan kepalanya di bahu mamanya.
"Mommy, aku sungguh tersiksa dengan keadaan ini. Aku ingin Eil bahagia walaupun tak bersamaku."
"Bersabarlah, nak. Eilaria saat ini masih bingung. Tugasmu sebagai suami adalah membuat keyakinan Eil kembali hanya padamu."
Gabriel merasakan hatinya semakin sakit. Ia tak yakin apakah masih sanggup bersabar. Tanpa sadar ia terisak dalam pelukan mamanya.
********
Pesta ulang tahun Geraldo Purwanto hanya dihadiri oleh keluarga terdekat Saja. Joaldo, anak Geraldo dengan Joana kini berusia 17 tahun juga. Ia tumbuh sebagai pria tampan dan menjadi bintang sepakbola. Sejak kecil Joaldo memang sangat menyukai sepak bola.
Alexa pun hadir bersama kedua anaknya. Ia terlihat kurus dan nampak berbeban. Hanya Giani dan Joana yang tahu apa yang dialami oleh mantan pramugari itu.
"Bibi, jika Oliver tak pulang dalam dua hari ini, aku akan menyusulnya ke London. Aku sudah tahu dimana dia berada selama 3 hari ini. Ini adalah suatu tempat di luar kota London. Hatiku mengatakan kalau kecurigaan ku benar. Oliver sedang selingkuh." Kata Alexa sambil berusaha tegar.
"Eca, Ian sedang mengikuti Oliver selama beberapa hari ini. Sabarlah sedikit saja."
"Tidak, bi. Aku harus berjuang untuk masa depan anak-anak ku. Aku tak mau mereka sampai kehilangan kasih sayang papa mereka. Apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan rumah tanggaku."
Giani hanya bisa memeluk Alexa. Ia belum sanggup menceritakan apa yang Gabrian ceritakan padanya. Ia hanya bisa berdoa agar Gabrian dapat menyelesaikan segala sesuatunya di sana.
*********
Gabrian baru saja akan tidur saat ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Alana.
Ian, bolehkah kita bertemu? Aku butuh teman untuk bercerita. Aku sungguh sedih dengan apa yang terjadi dengan Andrea. Kebenaran tentang Andrea membuatku ingin menangis. Aku sudah ada di lobby apartemen mu.
Apakah kebenaran yang Alana ketahui tentang saudara kembarnya?
__ADS_1
Dukung emak terus ya.....