
Tatapan Gabrian tak pernah lepas dari Andrea, dan seorang pria tampan yang memeluk gadis kecil itu.
Ada rasa tak enak dalam hatinya karena Andrea seakan tak mengenalinya.
"Alana, honey, let's go home!" Ujar pria itu membuat Gabrian tersentak kaget. Alana?
Gadis kecil yang bernama Angelia itu melambaikan tangannya pada Gabrian. "Bye uncle....!" ujarnya sambil tersenyum.
Gabrian membalas lambaikan tangan Angelia. Seketika ia ingat dengan nama anak Andrea yang meninggal. Nama anak itu juga Angelia. Nama yang diberikan oleh mama Giani.
"Ian, ada apa?" tanya Gabriel yang sudah berdiri di belakang Gabrian.
"Dia Alana dan bukan Andrea."
"Siapa?"
"Aku melihat perempuan yang ku sangka Andrea. Ternyata dia adalah Alana. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak kecil. Dan dia sama sekali tak mau menyapaku."
Gabriel menepuk pundak saudaranya. "Ayo kita pulang. Mommy pasti tak sabar ingin masak makanan Indonesia."
Dengan langkah berat, Gabrian mengikuti langkah Gabriel. Ia sungguh ingin tahu tentang Andrea. Entah mengapa ada kerinduan dalam hatinya untuk tahu kabar tentang mantan istrinya itu.
Saat keduanya ada di tempat parkir, Gabrian melihat kalau anak kecil tadi baru saja membeli popcorn ditemani oleh pengasuhnya yang menggunakan seragam baby sitter. Gabrian pun tertarik untuk menyapanya.
"Hallo Angelia....!"
Gadis kecil itu menatap Gabrian sambil mengerutkan dahinya.
"My name is Bernetha and not Angelia." ujarnya lalu menarik tangan pengasuhnya dan segera pergi dari tempat itu.
Gabrian terkejut mendengarnya. Gadis kecil itu seolah tak mengenalnya. Ia bahkan sedikit ketus bicara nya. Sangat berbeda dengan saat tadi ia menyapanya di dalam toko.
Gabriel yang berdiri di samping Gabrian menatap saudara kembarnya. "Kau kenal gadis kecil itu?"
"Dia adalah anaknya Alana. Kami ketemu tadi di dalam toko. Dia bahkan meminta aku untuk mengambil beberapa permen sebelum Alana dan suaminya datang. Wajah mereka sama, bajunya juga sama, rambutnya juga dikepang dua. Kenapa sekarang namanya Bernetha dan bukan Angelia?"
Alis Gabriel berkerut. "Bernetha? Angelia? Hei, bukankah nama anak Andrea yang meninggal itu adalah Angelia Bernetha? Mommy kan yang memberikan nama itu?"
Gabrian terkejut. "Benar. Kenapa nama itu sama?"
"Jangan-jangan mereka anak kembar. Alana kan juga kembar. Tapi kenapa dia harus menamai anak itu sama dengan nama anak Andrea yang meninggal?"
"Iel, ayo masuk ke dalam mobil, lihat, anak itu masuk di mobil Hammer hitam itu."
Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil. Gabriel yang meminta untuk menyetir karena ia yang paling tahu jalan-jalan di Manhattan.
Setelah memasang jarak aman, Gabriel pun terus mengikuti mobil itu. Sampai akhirnya mobil itu memasuki kawasan perumahan elit dan berhenti di salah satu rumah yang bercat cream. Untunglah di kawasan perumahan ini, pagar yang mengelilingi rumah tak tinggi sehingga, Gabriel dan Gabrian bisa melihat saat sang sopir turun dan membukakan pintu mobil. Seorang pria turun dari pintu depan, Gabrian mengenalnya sebagai suami Alana yang tadi memeluk Angelia. Lalu Alana turun sambil memeluk seorang gadis kecil berkepang dua. Tak lama kemudian si pengasuh turun sambil memeluk seorang gadis kecil juga.
"Anak itu kembar?" guman Gabrian terkejut.
"Sepertinya. Aku baru tahu kalau wajah Alana sangat mirip dengan Andrea."
"Mereka juga kembar identik seperti kita."
"Oh, begitu ya? Jadi sekarang, apa yang akan kita lakukan?"
__ADS_1
"Aku penasaran, kenapa anak kembar Alana memiliki nama yang sama dengan anak Andrea yang meninggal."
"Mungkin Andrea yang memintanya."
Gabrian mendesah frustasi. Entah mengapa ada dorongan dalam hatinya untuk mengetahui tentang kehidupan Andrea dan bagaimana kedua anak kembar Alana bisa memiliki nama itu.
"Ian, ini kawasan elit, kita nggak boleh terlalu lama ada di sini. Karena seluruh bagian jalan ini ada CCTV. Petugas keamanan bisa saja datang dan menginterogasi kita. Seharusnya kita langsung pergi saja."
"Baiklah." Kata Gabrian.
"Aku punya teman, dia adalah pemegang proyek perumahan elit ini. Karena perumahan ini baru dibangun sekitar 3 tahun lalu." Kata Gabriel sambil menjalankan mobil. "Aku akan meminta bantuannya untuk mengetahui keberadaan keluarga Alana yang tinggal di rumah itu. Namun, jika kau merasa penasaran, aku sarankan kau menemui Alana secara langsung."
Gabrian mengangguk. Ia sendiri saat ini menjadi sangat bingung.
"Menurut mu, Eil tahu tentang Andrea? Mereka kan saudara." tanya Gabrian.
"Mungkin. Akan kutanyakan nanti jika aku bertemu dengannya besok." Ujar Gabriel membuat Gabrian sedikit merasa lega.
*********
"Nona Thomson, tuan Brandon tak masuk kantor hari ini sehingga ia meminta nona untuk menggantikannya ke lokasi pembangunan." Kata Sofia saat ia menemui Eilaria di ruangannya.
"Brandon tak masuk kantor? Apa alasannya?"
"Katanya hari ini mamanya datang dari Korea. Jadi ia mau menjemputnya ke bandara."
Eilaria mengangguk walaupun sebenarnya hatinya resah. Kemarin, ia sengaja meminta Brandon untuk pergi ke lokasi pembangunan proyek bersama 3 perusahaan itu. Ini Eil lakukan karena ia tak mau bertemu dengan Gabriel. Pertemuan terakhir cukup membuat Eil merasa sakit hati. Gabriel begitu cuek padanya.
"Baiklah. Aku akan pergi." Ujar Eilaria akhirnya. Ia menutup laptopnya dan segera mengganti pakaiannya di ruangan khusus yang ada di dalam kantornya. Ia memakai celana jeans dipadu dengan kemeja putih lalu mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu proyek yang memang khusus dipakainya saat akan meninjau lokasi proyek.
"Selamat siang, Miss Thomson." Sapa salah satu mandor yang bernama Jeff.
"Selamat siang tuan Jeff, apakah wakil dari perusahaan lain sudah datang?"
"Wakil dari perusahaan Hilton sudah ada. Yang datang adalah kepala proyeknya langsung karena tuan Zack sedang ada rapat penting. Namun dari pihak perusahaan DF, belum ada. Ah, sepertinya mereka baru saja datang."
Eilaria mengikuti arah pandang Jeff dan ia melihat Gabriel turun dari mobilnya. Eilaria langsung yakin kalau itu adalah Gabriel karena mobil hitam yang dipakainya. Cara berdandan Gabriel pun Eil sudah hafal. Dan semakin pria itu mendekat, Eil semakin yakin kalau yang datang adalah Gabriel, dari minyak wangi yang ia pakai."
"Selamat siang tuan Dawson!" Sapa Jeff.
"Selamat datang Gabriel....!" Eilaria pun berusaha bersikap profesional sekalipun jantungnya seakan berhenti berdetak setiap kali pandangan mata mereka bertemu. Makanya Eilaria memilih menggunakan kaca mata hitam saja agar ia bisa berlama-lama memandang wajah Gabriel.
Selama satu jam lebih, mereka meninjau lokasi yang ada sambil sesekali diskusi dengan kepala proyek.
Panas nya matahari sungguh menyengat. Sekalipun Eilaria menggunakan helm namun ia merasa kepalanya cukup sakit. Apakah karena beberapa malam ini Eilaria tak bisa tidur dengan tenang? Ia juga tadi pagi tak sempat sarapan saat datang ke kantor.
"Nona Thomson, apakah anda baik-baik saja?" Tanya Jeff melihat wajah Eilaria yang agak pucat.
"Aku.....!" Eilaria memegang dahinya, dan sebelum ia pingsan, ia merasakan ada sebuah lengan kokoh yang memeluknya. Sebelum kesadaran Eilaria hilang, ia masih dapat mencium bau minyak wangi yang sangat di kenalnya itu.
Gabriel membopong tubuh Eilaria dan membawanya ke salah satu kontiner yang merupakan ruangan sang kepala proyek. Di sana ada sebuah Sofa panjang dan tubuh Eilaria dibaringkan di sana.
Jeff langsung memasang pendingin ruangan dan mencari sesuatu di dalam kotak obat. Ia menemukan sebuah botol alkohol lalu memberikannya pada Gabriel bersama dengan kapas.
"Eil.....!" panggil Gabriel sambil meletakan kapas yang sudah dibasahi dengan cairan alkohol itu di bawa hidung Eilaria.
__ADS_1
Tak lama kemudian Eilaria membuka matanya. Ia sungguh terkejut melihat Iel duduk di tepi sofa. Jarak mereka begitu dekat dan membuat Eilaria menjadi gugup.
"Aku...aku" Eilaria berusaha bangun dan Gabriel membantunya untuk duduk dan bersandar di sandaran sofa.
"Kamu pasti tak sempat sarapan tadi." Kata Gabriel membuat hati Eilaria tersentuh karena Gabriel masih ingat dengan kelemahannya jika tak sarapan.
"Tuan Jeff, boleh carikan air dan sepotong roti atau biskuit untuk nona Thomson?" Tanya Gabriel lalu mengalihkan pandangannya dari Eil ke Jeff.
"Bisa tuan. Tak jauh dari sini ada supermarket. Aku akan kembali dengan waktu 10 menit saja." Kata Jeff lalu meninggalkan Eil dan Iel sendiri di dalam ruangan kecil itu.
Setelah Jeff pergi, Gabriel berdiri dan mengambil kotak tissue yang ada di meja kerja Jeff lalu memberikannya pada Eilaria. "Wajahmu berkeringat."
Eilaria mengambil dua lembar tissue lalu menyeka keringat di wajahnya.
"Masih ada di sini...!" Iel menunjuk bagian dahi Eilaria yang masih ada keringatnya.
"Aku tak membawa kaca." Kata Eilaria.
Gabriel dengan cepat mengambil beberapa lembar tissue lagi lalu menyeka wajah Eilaria secara perlahan.
Jantung Eilaria kembali bagaikan berhenti berdetak. Jarak diantara mereka semakin dekat bahkan Eilaria dapat merasakan hangatnya napas Iel yang beraroma mint menyentuh kulit wajahnya.
"Sudah selesai." Kata Gabriel lalu menjauh lagi dari Eilaria dan membuang tissue bekas yang ada ditangannya ke tempat sampah.
"Eil,.boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Gabriel saat ia kembali duduk di samping Eilaria. Gabriel duduk agak menyamping agar dapat melihat wajah cowok itu.
"Tentu saja boleh."
"Apakah kau tahu dimana Andrea berada sekarang?"
Eilaria menatap Iel. "Kalian tidak tahu?"
"Kami sama sekali tak pernah tahu kabar tentang Andrea. Karena ia sudah memutuskan hubungan dengan Ian. Bahkan nomor ponselnya juga telah diganti. Kami juga tak bisa melacak keberadaannya. Karena tak ada berita apapun tentang ketiga akan pangeran Keegan."
"Ian ingin mencari tahu tentang Andrea?"
"Ya. Bagaimana pun mereka pernah menjadi suami istri."
"Walaupun mereka tak saling mencintai."
"Kau tahu?"
"Ya. Aku tahu cerita dibalik pernikahan Andrea dan Ian."
"Lalu dimana Andrea?"
Eilaria menarik napas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Jika pihak kerajaan memilih untuk tak mengatakan apapun pada Ian atau mempublikasikan tentang Andrew, Andrea dan juga Alana, maka aku juga tak punya hak untuk mengatakan apapun pada kalian." Kata Eilaria membuat Gabriel menjadi bingung. Ada apa dengan ketiga saudara kembar itu?
*********
Duh, ada apa ya?
Tambah penasaran kan?
__ADS_1
Makanya dukung emak terus supaya enak semangat nulis cerita ini yang sangat menguras imajinasi emak 😂😂😂