Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Menjaga Iel


__ADS_3

Suasana di depan kamar perawatan Gabriel menjadi ramai. Giani, Jero, Gabrian, dan Eilaria berdiri dengan wajah khawatir.


Memang, ini bukan yang pertama Gabriel mengalami kejang-kejang namun tetap saja selalu membuat Giani dan Jero khawatir karena Gabriel sudah pernah dianggap meninggal namun akhirnya ia bisa bertahan.


Dalam suasana panik dan ketakutan, Giani tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Tolong anakku, Tuhan. Selamatkan Gabriel.


Sedangkan Eilaria, yang masih bingung dengan apa yang baru saja diketahuinya, diantara rasa sakit karena dibohongi, rasa marah dan juga kekhawatiran yang menjadi satu, hanya bisa berdiri dengan ekspresi wajah yang kaku. Dia ingin menangis tapi air matanya bagaikan sudah kering. Ia tak tahu apa yang dirasakannya sekarang.


Gabrian sendiri berdiri di dekat pintu masuk sambil sesekali mengintip dari balik pintu. Jantungnya pun berdetak sangat cepat. Ia sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada Gabriel.


30 menit pun berlalu dan dokter Maikel akhirnya keluar.


"Bagaimana anak saya, dok?" tanya Giani.


"Gabriel stabil. Apakah ada sesuatu yang menyebabkan dia bereaksi seperti itu? Sepertinya indera pendengarannya sudah bisa menangkap suara-suara yang ada di sekitarnya. Namun dia masih terlalu lemah untuk membuka matanya."


"Terima kasih, dokter." kata Giani.


Dokter Maikel pun meninggalkan pasangan suami istri itu.


"Semoga Iel akan sadar, Bee."


Jeronimo mengangguk. Ia melingkarkan tangannya di bahu istrinya sambil sesekali mengusap lengan Giani. Ia dapat melihat kalau Giani juga sudah kurus dan nampak lelah. Ia bahkan bisa melihat ada uban yang mulai menyembul di antara rambut coklat tuanya. Jero menyadari, karena terlalu terbeban dengan situasi Gabriel.


"Aku yakin Gabriel akan sembuh, sayang." kata Jero.


"Aku juga yakin, Bee." Giani menarik napas panjang. Menatap gadis cantik yang duduk tak jauh darinya. Menantunya yang kini terluka karena merasa dibohongi.


"Aku mau bicara dengan Eilaria, Bee." kata Giani.


"Ya, bicaralah. Semoga ia bisa mengerti."


Giani melangkah mendekati Eil. Ia masih sempat menoleh ke arah Gabrian. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh putra sulungnya itu.


"Eil, bolehkah kita bicara?"

__ADS_1


Eilaria mendongak. Menatap wajah lembut penuh kasih ibu mertuanya. Ia mengangguk.


"Mari kita bicara di luar, sayang." Giani meraih tangan Eil dan melingkarkan di lengannya. Keduanya pun melangkah bersama menuju ke taman rumah sakit.


Mereka duduk di salah satu bangku taman. Hari sudah beranjak sore saat keduanya duduk di sana.


"Eil, aku mempunyai anak kembar yang identik. Banyak orang yang tidak bisa membedakannya. Mereka memiliki postur tubuh yang sama, potongan rambut yang sama serta suara dan gaya berbusana yang sama. Sewaktu kecil, mereka suka tukar-tukaran kelas. Para guru pun tak ada yang tahu. Sampai akhirnya, Gabrian memutuskan kuliah di London dan Gabriel tetap di Jakarta. Namun hubungan mereka tetaplah erat. Saling menyayangi satu dengan yang lain. Sampai akhirnya, Gabriel jatuh cinta padamu. Dia sangat bersemangat setiap kali menceritakan tentangmu." Giani menghentikan ceritanya sebentar. Ia tersenyum lalu meraih tangan kanan Eil dan menggenggamnya diantara kedua tangannya.


"Aku, sebagai ibunya, tak pernah melihat Gabriel yang jatuh cinta seperti itu. Dia begitu ingin menikah denganmu. Dia takut kau akan diambil oleh orang lain. Lalu, kau menerima lamarannya. Saat ia menceritakan pada kami tentang keputusan kalian untuk menikah, kulihat pancaran matanya yang bersinar. Aku bahkan tak pernah melihatnya memandangku dengan tatapan seperti itu. Kau, adalah hidupnya. Kau adalah cinta yang dinantinya selama ini. Sampai di hari pernikahan kalian, kecelakaan itu terjadi. Dia sama sekali tak memperdulikan rasa sakit yang ada di dada dan kepalanya. Dia datang, untuk menikah denganmu. Sampai akhirnya, luka itu membawa petaka baginya. Sebelum Iel kehilangan kesadarannya, dia meminta Ian untuk bersumpah agar menjagamu, melindungi mu dan menemani mu. Bahkan pada kemungkinan terburuk, ketika akhirnya Iel meninggal, ia tetap meminta Ian untuk menjagamu. Karena ia tak ingin kau terluka, sedih atau melakukan hal buruk setelah kematiannya." Air mata Giani mengalir. Ia melepaskan sesak yang selama ini memenuhi dadanya. Karena ia juga tahu kalau Gabrian mencintai Eilaria.


"Mungkin kedengarannya permintaan Iel sangat egois. Dia tak mempertimbangkan perasaanmu. Maafkanlah Iel. Dia hanya terlalu takut membuatmu sedih. Ian juga tak bermaksud menipumu. Dia hanya terlanjur berjanji pada saudara kembarnya. Maafkan Ian juga karena mungkin telah menyentuhmu."


Air mata Eilaria pun jatuh juga. Ia menarik tangannya dari genggaman Giani. Kedua jarinya saling bertautan. Ia menunduk dalam rasa perih yang menusuk hatinya. Siapa yang tak marah jika dibohongi? Siapa yang tak benci jika merasa ditipu. Mata Eil menatap cincin pernikahan mereka. Cincin yang nampak mewah dan sangat indah namun ternyata tak seindah jalinan kasih diantara mereka.


"Aku tak tahu harus berbuat apa, mommy. Aku bingung."


Giani membelai kepala Eilaria dengan sangat lembut. Ia kemudian memeluk menantunya itu. Keduanya menangis bersama.


Sementara itu, Gabrian sudah masuk ke ruangan perawatan Gabriel. Ia membuka cincin pernikahan yang ada di jari manisnya dan memasukan kembali ke jari manis Gabriel.


"Cepatlah bangun, Iel. Maaf, aku sudah gagal memenuhi janjiku padamu. Aku terlalu takut menyakiti dan menipu Eil terlalu lama. Aku percaya, Eil pasti akan mengerti semua ini kamu lakukan karena tak ingin melihatnya sedih." Gabrian menepuk-nepuk punggung tangan Gabriel. Hatinya pun sakit melihat keadaan Gabriel yang sudah kurus dengan kulit pucat nya.


Tiba-tiba dari sudut mata kanan Gabriel, keluarlah sebutir air mata. Itu pun tak luput dari pandangan Gabrian.


"Iel, kau pasti mendengarkan aku, kan? Ayo berjuang, Iel. Berjuanglah untuk bisa membuka matamu. Kasihan bunda yang kelihatan sangat lelah. Bunda juga sudah kurus. Dia sangat sedih melihatmu seperti ini." kata Gabrian sambil menghapus air mata adik kembarnya itu.


Tak lama kemudian pintu ruang perawatan Iel terbuka. Giani masuk bersama Eilaria.


"Ini sudah malam. Sebaiknya kalian kembali ke hotel untuk istirahat." kata Giani.


"Aku ingin di sini. Aku ingin menjaga Iel. Mungkin sebaiknya, mommy yang pulang untuk istirahat." Kata Eilaria tegas.


"Aku pikir, malam ini biar aku saja yang berjaga." Kata Gabrian.


"Aku adalah istrinya. Jadi aku berhak untuk ada di sini." kata Eilaria lebih tegas lagi. Gabrian berusaha menahan sakit di hatinya saat mendengar Eil mengucapkan kalimat itu. Ya, Eil adalah istri Iel.

__ADS_1


"Baiklah, nak. Jika itu yang kau inginkan. Ian, antarkan bunda ke apartemen ya? Bunda dan daddy menyewa sebuah apartemen tak jauh dari rumah sakit ini. "


Gabrian mengangguk. Entah mengapa, Ian menjadi cemburu harus meninggalkan Eil berdua dengan Iel. Namun dia akhirnya membuang perasaan itu jauh-jauh. Ia tahu sandiwaranya sudah berakhir. Iel akan kembali bersama Eil.


**********


Eilaria duduk di dekat tempat tidur Iel. Ia terus menatap wajah Iel dan sesekali menyentuh tangan Iel. Namun hatinya terus bertanya, bagaimana jika Iel sadar? Apa yang akan dilakukannya? Bagaimana ia menjalani pernikahannya dengan Iel jika ada Ian yang juga pernah dipeluk dan diciumnya? Andai saja Iel tak meminta Ian untuk menggantikannya, pasti semua ini tak akan terjadi. Eil merasakan kecocokan dengan Ian yang walaupun cuek tapi punya banyak kesamaan dengannya. Mereka bisa membahas novel sepanjang hari dan memasak bersama.


Hati Eilaria bimbang. Satu hal yang belum terjawab sampai sekarang, siapakah yang pertama ia lihat di depan lift saat itu? Siapa juga yang ia lihat saat ia bermain piano di cafe? Apakah itu Ian atau Iel? Ian hanya mengatakan kalau yang di bandara itu adalah dirinya. Namun Eil jatuh cinta pada lelaki yang pertama dilihatnya. Baik Ian maupun ibu mertuanya, sama sekali tak menyinggung tentang pertemuan pertama itu.


Yang pasti, Eil tak membenarkan keputusan Iel yang meminta Ian untuk menggantikannya. Eil ingin membahasnya nanti, ketika Iel sudah sadar.


Jarum jam terus berjalan. Eilaria pun akhirnya tertidur. Ia sangat lelah. Baik tubuh dan pikirannya, Eilaria merasakan kalau ia tak punya kekuatan lagi untuk melawan rasa kantuknya. Ia pun membaringkan kepalanya di atas tempat tidur Iel dalam posisi duduk.


*********


Rasanya belum terlalu lama Eilaria memejamkan matanya. Ia merasakan kalau ada tepukan kecil di bahunya.


"Eil....!" suara itu memanggilnya dengan sangat lemah.


Eil membuka matanya dan mengangkat kepalanya. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat Gabriel membuka matanya.


**********


Bagaimana reaksi Iel melihat Eil? Bagaimana pula kehadiran Ian diantara mereka?


Dukung emak terus ya....


jangan bilang up nya lama


kan tiap hari emak up


Tapi kalau besok kayaknya belum bisa up


Ponakan emak mau menikah.....

__ADS_1


Mungkin juga up tapi tengah malam


Jangan lupa dukung : MENJADI ISTRI KETIGA JURAGAN


__ADS_2