Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Permintaan


__ADS_3

Tok.....tok......tok.....


Tim pengacara keluarga Dawson langsung bersorak gembira saat mendengar keputusan hakim yang membebaskan Gabriel dari segala tuntutan dan menghukum kepala divisi keuangan dengan hukuman 10 tahun penjara.


"Terima kasih, om Benny!" kata Gabrian sambil memeluk pengacara keluarga Dawson itu.


"Kau memang tak bersalah, nak. Tuhan pasti akan membela umatNya yang terzalimi." kata Benny.


"Iya, om. Akhirnya semuanya selesai. Lega rasanya. Sangat capek 3 bulan mendekam di penjara untuk sesuatu yang tidak aku lakukan."


"Berterima kasih juga pada temanmu Figia. Ia seorang pakar hukum yang luar biasa."


Gabrian menatap Figia. "Terima kasih, sobat."


Figia dan Gabrian pun saling berpelukan.


"Kalau begitu, om akan mengurus semuanya agar hari ini kau sudah boleh tidur di rumahmu." ujar Benny lalu segera pamit untuk melaksanakan pekerjaannya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Figia.


"Senanglah."


Keduanya pun melangkah bersama keluarga dari gedung pengadilan. Gabrian kembali naik ke mobil tahanan untuk kembali ke penjara, mengambil barang-barang nya dan kembali pulang.


Jam 4 sore, Gabrian keluar dari penjara bersama Benny, pengacara nya. Keduanya melangkah bersama menuju ke tempat parkir. Namun langkah Gabrian terhenti melihat Eilaria yang sudah menunggunya dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu berlari dan langsung memeluk Gabrian dengan tangis yang langsung pecah ketika Gabrian menyambut pelukannya.


"Sayang, akhirnya kau bebas. Aku bahagia sekali."


Gabrian memang tak pernah mengijinkan Eilaria untuk menemaninya selama persidangan karena ia tak ingin Eilaria sedih. Entah bagaimana Eilaria bisa datang menjemputnya.


"Siapa yang memberitahukan mu kalau aku bebas hari ini?" tanya Gabrian saat pelukan mereka terurai.


"Tadi pagi aku sebenarnya ingin menjenguk mu seperti biasanya. Mereka mengatakan kalau kau sudah ke pengadilan untuk sidang putusan. Aku ke kampus mengikuti kuliah sebentar dan kembali lagi ke sini. Ternyata memang kamu sudah bebas." kata Eilaria lalu melingkarkan tangannya di pinggang Gabrian.


"Kalau begitu om Benny pulang dulu ya?"


"Terima kasih sekali lagi, om."


Benny tersenyum dan segera masuk ke dalam mobilnya. Sementara Eilaria segera mengajak Gabrian ke tempat mobilnya berada.


"Aku saja yang membawa mobilnya, ya?" kata Eilaria.


Gabrian hanya mengangguk. Eilaria pun duduk di belakang kemudi dengan wajah sumringah. Sungguh ia merasa sangat bahagia hari ini.


"Sayang, kamu tidak merasa lelah kan?" tanya Eilaria.


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Aku sudah memesan tiket. Malam ini kita berdua akan pergi ke Medan. Vila keluargaku sudah disiapkan untuk kita berdua di sana. Kita akan memulai bulan madu kita." Kata Eilaria dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.


"Malam ini?"


"Ya. Aku tak mau menundanya lagi." kata Eilaria terus terang membuat jantung Gabrian seakan berhenti berdetak.


"Tapi sayang, aku belum mandi, aku juga belum makan dan...."

__ADS_1


"Tenang saja. Pesawatnya jam 10 malam ini. Kita masih punya waktu untuk kau melakukan semua itu."


Gabrian tak tahu bagaimana caranya untuk menolak Eilaria. Perjalanan bulan madu ini tentu saja mengharuskan dirinya untuk menyentuh Eilaria.


Sesampai di apartemen, Gabrian langsung disambut dengan berbagai macam jenis masakan. Ia memang sangat lapar sehingga langsung menikmatinya.


"Aku yang meminta bi Uli menyiapkan makanan ini. Karena aku menghabiskan semua waktuku untuk menyiapkan keberangkatan kita ke Medan."


"Kalau begitu, aku mandi dulu ya?"


"Ya. Mandilah! Aku akan membereskan meja makan dulu."


Gabrian masuk ke kamar dengan perasaan gundah. Baru saja ia akan ke kamar mandi, ponselnya berbunyi.


"Hallo, bunda...!" sapa Gabrian.


"Nak, kata pengacara Benny kau sudah bebas ya? Kenapa nggak langsung menelepon bunda?"


"Maaf, bunda. Eilaria datang menjemput ku sehingga aku tak bisa menelepon bunda. Bagaimana keadaan Iel?"


"Tadi pagi dia sempat sadar. Walaupun hanya sebentar. Ia memegang tangan bunda dan memanggil bunda. Namun setelah itu ia tak sadarkan diri lagi. Kata dokter itu pertanda baik."


"Syukurlah, bunda. Aku senang mendengarnya. Sekarang aku yang bingung, bunda."


"Kenapa?"


"Eil sudah merencanakan perjalanan bulan madu. Aku harus bagaimana, bunda?"


"Nak, berusahalah untuk....."


"Sayang.....!" Eilaria tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Eilaria menatap Gabrian dengan wajah khawatir. "Itu bukan tentang pekerjaan kan? Om Benny tidak akan menggagalkan rencana bulan madu kita kan? Aku nggak mau sampai semua rencana kita menjadi gagal. Aku nggak mau."


"Nggak, sayang. Bukan tentang pekerjaan. Aku mandi dulu." Gabrian buru-buru mengambil handuk dalam lemari dan segera menuju ke kamar mandi.


Sejenak, Eilaria menyadari sesuatu. Dia sama sekali tidak mencium ku. Apakah dia lupa? Haruskah aku mengingatkan dia lagi?


Eilaria menyiapkan pakaian untuk suaminya saat ia mendengar bunyi ponsel Gabrian. Ia mendekati meja dan melihat bahwa bukan ponsel itu yang berbunyi. Ia pun mencari sumber suara itu dan menemukan ponsel yang lain, yang diletakan didalam tas pinggang yang tadi dipakai oleh Gabrian tadi saat keluar dari penjara.


Iel punya dua ponsel? Mengapa aku baru tahu ya?


Eilaria menatap layar ponsel itu yang menunjukan nama Figia di sana.


Eilaria menekan tombol hijau dan sengaja tak berbicara.


"Hallo, Ian. Aku akan kembali ke London besok. Bagaimana denganmu? Para mahasiswa di sana sudah menunggu dosen mereka yang ganteng ini untuk kembali."


"......."


"Hallo...Ian, kamu mendengarkan aku kan? Hallo.....Ian.....Hallo......, ponsel kamu bermasalah ya?"


"Figia, siapa Ian?"


"Siapa kamu?"

__ADS_1


"Aku Eilaria, istrinya Gabriel Dawson. Siapa yang kau panggil Ian? Bukankah suamiku biasa dipanggil Iel? Apakah Ian adalah panggilan khusus mu padanya? Apakah kalian selingkuh dariku?"


"........"


"Hallo...., kenapa kamu diam, Figia? Jawab aku ! Ada hubungan apa kamu dengan suamiku? Kenapa kamu memanggilnya Ian? Nama panggilan suamiku adalah Iel."


Klik!


Sambungan telepon dimatikan. Eilaria ingin menghubungi Figia lagi namun ponsel ditangannya telah tertutup dan harus mengunakan sidik jari untuk membukanya.


Tangan Eilaria bergetar saat ia memegang ponsel yang dipakai Gabrian untuk menerima telepon saat ia masuk ke kamarnya. Eil tahu kode untuk membuka ponsel itu. Namun saat ia membukanya, kode pembukanya ternyata salah. Sejak kapan Iel mengganti password nya? Bukankah ia mengatakan kalau dia tak akan pernah menyimpan satu rahasia pun dariku? Kenapa sekarang ia memiliki 2 ponsel? Apakah ponsel yang satunya khusus antara dia dan Figia? Benarkan, mereka pasti punya hubungan.


Eilaria merasakan aliran darahnya menjadi panas. Hatinya sakit. Ia tak sabar menunggu suaminya selesai mandi.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Gabrian keluar sambil menggunakan jubah mandi.


"Ada apa, Eil?"


Eil memegang kedua ponsel Gabrian di tangan kiri dan kanannya. "Kenapa kamu bisa punya dua ponsel yang salah satu nomornya aku tidak tahu."


Gabrian menatap ponselnya yang berwarna hitam dengan detak jantung yang sangat kencang. Ia lupa menonaktifkan ponselnya itu.


"Kenapa kamu diam?" tanya Eilaria mulai kesal. Ada rasa marah, cemburu dan emosi yang bercampur menjadi satu.


"Sayang, yang satu itu adalah ponsel khusus untuk perusahaan."


"Oh ya?" Eilaria menunjukan ketidak percayaannya terhadap apa yang Gabrian katakan. "Kalau memang ini ponsel khusus perusahaan, kenapa Figia meneleponku di nomor itu? Kenapa dia memanggil mu dengan sebutan Ian dan bukan Iel? Pasti itu panggilan khususnya untuk kamu kan? Saat aku bertanya padanya, Figia langsung memutuskan sambungan telepon. Ada apa? Kalian memang punya hubungan khusus kan?"


"Eilaria! Aku tak punya hubungan khusus dengan Figia."


"Aku tak percaya! Dia mengatakan kapan kau kembali ke London, dia menyebutkan tentang mahasiswa dan dosen. Rahasia apa yang ada padamu, yang tidak aku ketahui, Iel?"


"Aku tidak menyembunyikan apapun dari mu, Eil."


"Lalu, bagaimana dengan kehidupanmu di London yang tidak pernah aku ketahui? Katakan padaku! Figia pasti kekasih mu kan? Itulah sebabnya mengapa kamu tak pernah menyentuh aku. Kamu bahkan jarang sekali memelukku. 3 bulan kamu dalam penjara. Seharusnya saat kita bertemu kita akan saling melepaskan rindu. Mencium pipi ku saja kamu tidak melakukan nya sama sekali. Pasti karena hatimu tertuju untuk Figia kan?" Eilaria yang sebenarnya jarang sekali menangis kini menjadi sangat mudah menangis.


Gabrian mendekat. "Eil, aku berani bersumpah kalau Figia hanya teman ku."


"Kalau begitu, sentuh aku sekarang!"


"Apa maksudmu?"


"Jadikan aku benar-benar sebagai milikmu. Jiwa dan ragaku."


"Eil.....!"


"Kenapa kau takut? Kau takut Figia akan marah padamu jika menyentuhku?"


"Bukan seperti itu, Eil. Bukankah kita akan pergi berbulan madu saat ini?"


"Aku ingin kita memulainya di sini." kata Eilaria lalu membuka kemeja yang dipakainya sampai akhirnya terlepas dari tubuhnya. Ia kemudian membuka pengait rok jeans yang dipakainya dan menurunkan rok itu sampai jatuh di kakinya.


Gabrian terpaku di tempatnya berdiri. Iel, aku bukankah kamu ingin aku membahagiakan Eilaria? Haruskah dengan jalan ini aku membahagiakannya?


**********

__ADS_1


Duh, gimana nih.....


Aku bingung....😭😭😭😭


__ADS_2