Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kagalauan Hati


__ADS_3

Maaf sebelumnya, emak awali part ini dengan sedikit curhatan. Sebagai pembaca, emak tahu kalau terkadang kita ingin jalan ceritanya seperti yang ada dalam pikiran kita sampai akhirnya kita lupa bahwa alur itu adalah haknya penulis. Tahukah anda untuk menentukan alur sebuah cerita bukanlah hal yang mudah karena itulah banyak penulis yang memilih tak meneruskan ceritanya karena justru tertekan dengan komentar para pembaca yang kadang sangat menyakitkan mata untuk dibaca.


Aku adalah salah satu penulis yang tidak terlalu memusingkan berapa jumlah pembaca novelku karena bagiku, orang yang membacanya terhibur atau boleh mendapatkan sesuatu yang positif di novelku, itu sudah lebih dari cukup. Dan yang meminta saya untuk up cepat atau up sekaligus dalam beberapa episode, maaf aku nggak bisa. Karena aku ada pekerjaan tetap, yang juga mengurus 2 anakku tanpa ada asisten rumah tangga. Aku hanya sekedar membagi sesuatu melalui semua tulisanku. Jadi bagi yang nggak suka, bahkan ada yang menuding aku banyak alasan jika nggak up, aku nggak masalah jika kalian nggak mau melanjutkan untuk membaca novel ini.


Wassalam, GBU.


***********


Oliver memegang rahangnya yang sakit kena tinju Gabrian. Wajah pria di depannya sangat merah dengan tatapan tajam. Gabrian siap menghadapi Oliver. Ia berbicara dengan tak menggunakan lagi embel-embel kata 'kak' di depan nama Oliver. Gabrian memang terkenal lebih pendiam dibandingkan dengan Gabriel namun ia selalu akan marah jika salah satu orang yang disayanginya terluka atau dengan sengaja disakiti.


"Jangan pernah sakiti kakakku, Eca. Dia adalah kesayangan dalam keluarga kami. Apakah kau lupa bagaimana kau bisa menikah dengannya? Apakah kau lupa bagaimana perjuanganmu untuk mendapatkan cinta dan kepercayaan nya?" teriak Gabrian. Tak peduli dengan pandangan mata para pengunjung restoran yang sedang memandang mereka. Kebanyakan memang tak mengerti bahasa yang Gabrian ucapkan karena ia menggunakan bahasa Indonesia.


"Aku tidak lupa!"


Tangan Gabrian kembali melayang. Kali ini ia memukul perut Oliver. Sekali lagi Oliver tak membalas. Ia hanya menunduk, sedikit meringis menahan rasa sakit di perutnya.


"Tidak lupa katamu? Jadi jika bersama perempuan ini kau sejenak melupakan mereka. Tahu kah kamu, kak Eca sudah curiga dengan semua ini. Dia menangis dan berbicara dengan bundaku. Jadi bersiaplah kau Oliver, aku akan menghancurkan mu sampai kau menyesal pernah kenal dengan keluarga kami." Gabrian segera meninggalkan Oliver.


"Gabrian, tunggu!" Oliver mengejarnya namun Gabrian tak perduli. Ia terus melangkah dengan emosi yang masih memenuhi dadanya. Membayangkan Alexa yang akan menangis dan hancur, hati Gabrian ikut menjadi hancur.


Sejak ia kecil, Alexa sangat menyayangi dirinya dan Gabriel. Walaupun mereka hanya saudara sepupu namun hubungan mereka layaknya saudara kandung.


"Gabrian.....!" Oliver berhasil mengejar Gabrian sampai di tempat parkir.


"Ada apa? Mau aku pukul lagi?" teriak Gabrian.


"Tolong dengarkan penjelasan ku. Aku tak ada niat menghiananti Alexa. Aku sangat mencintainya. Semua ini berada di luar kendaliku."'


"Di luar kendali mu? Jangan membuatku tertawa, Oliver. Kau bukan anak kecil yang hidupmu siap dikendalikan oleh siapa saja. Aku malas mendengar alasanmu." Gabrian membuka pintu mobilnya. Namun ia menoleh kembali. "Tawaranku masih berlaku. Aku beri kau kesempatan meninggalkan perempuan itu. Kita pulang bersama ke Indonesia. Aku beri kau waktu tiga hari."


"Gabrian, aku....!"


"Ada apa?" Kalimat Oliver disela oleh seorang gadis cantik yang menatap Oliver dan Gabrian secara bergantian.


Gabrian terkejut mendengar kalau gadis itu bisa berbahasa Indonesia.


"Andrea?" Oliver nampak terkejut melihat Andrea sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


Gabrian segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Ia tak ingin melihat kemesraan Oliver dengan gadis itu. "Dasar pelakor." desis Gabrian sebelum meninggalkan pasangan itu.


"Kenapa? Siapa dia?" tanya Andrea.


"Namanya Gabrian. Sepupunya Alexa."


"Apa?" Andrea nampak sangat terkejut. "Jadi, bagaimana ini?"


"Kita pulang saja? Selera makan ku sudah nggak ada."


Andrea mengangguk. Ia meminta ijin untuk masuk kembali ke dalam restoran dan lalu membayar tagihan makanan mereka dan segera kembali ke tempat parkir. Oliver sudah menunggunya di dalam mobil. Mereka pun pergi.


**********


Tangan Gabriel membelai wajah Eilaria. Gadis cantik yang sangat membuatnya tergila-gila saat mereka kembali bertemu di kampus nya.


Eil sayang, aku rindu caramu menatapku. Rindu manjanya dirimu. Kapan semua ini akan berakhir? Hilang kah cintamu kepadaku?


Gabriel menunduk, lalu mencium kening istrinya lembut. Hanya disaat Eil sudah tertidur seperti ini Gabriel bisa memandangnya sangat lama. Sebab jika Eil bangun, istrinya itu seperti selalu menghindar jika harus kontak mata terlalu lama.


Sebait lagu grup band Armada seakan mewakili kegundahan hati Gabriel :


aku punya ragamu tapi tidak hatimu


kau tak perlu berbohong


kau masih menginginkannya


ku relakan segalanya asalkan kau bahagia


Perlahan Gabriel membaringkan tubuhnya. Ia kemudian membawa Eilaria ke dalam pelukannya. Sayang, aku mohon cintailah aku seperti waktu pertama kita pacaran.


************


Di kamarnya, Alexa menatap kedua anaknya dengan hati yang gelisah. Malam sudah semakin larut dan Alexa tak bisa memejamkan matanya. Ia justru pergi ke kamar anaknya, mengangkat mereka yang sudah tertidur satu persatu lalu memindahkannya ke kamar tidurnya sendiri karena Alexa merasa sangat kesepian di kamarnya yang besar ini.


3 hari sudah Oliver pergi. Ia memang selalu rajin menelepon Alexa namun hanya karena ingin berbicara dengan anak-anaknya. Oliver seakan enggan berbicara lama dengan Alexa.

__ADS_1


Pandangan Alexa tertuju ke foto pernikahan mereka. Hari yang sangat membahagiakan saat itu. Baru 5 tahun mereka menikah. Akankah sekarang hancur? Tidak! Alexa menggeleng perlahan.


"Tak akan kubiarkan rumah tanggaku hancur berantakan. Aku akan bangkit untuk mempertahankannya. Aku tak mungkin salah dalam memilih pasangan hidup. Doa ku tak mungkin dijawab oleh Tuhan dengan sia-sia. Aku percaya kalau Tuhan sudah menjodohkan kami berdua." guman Alexa pada dirinya sendiri. Ia pun bangun dari tidurnya lalu duduk di tepi tempat tidur. Dengan mata terpejam, Alexa mengunci tangannya. Ia berdoa.


"Ya Tuhan, aku percaya Engkau memberkati pernikahanku dengan Oliver. Aku sudah bersumpah untuk selalu setia padanya dalam suka dan duka, saat berkelimpahan maupun kekurangan. Jika memang saat ini Oliver melakukan kesalahan, kembalikanlah dia ke jalan yang benar, Tuhan. Aku tak ingin sampai anak-anak ku kehilangan kasih sayang papa mereka. Kuatkan imanku dan tabahkanlah hatiku. Buatlah agar aku ikhlas menerima semua ini."


Alexa menghapus air matanya. Ia menatap kembali kedua anaknya. "Mommy kuat karena ada kalian, nak."


************


"Aow.....!"


Di depan lift Gabrian yang baru akan masuk tanpa sengaja menabrak seorang gadis yang hendak keluar. Gabrian seperti mengalami Dejavu. Ia ingat dengan pertemuan pertamanya dengan Eilaria.


"Miss, are you ok?" tanya Gabrian.


Gadis itu mengangkat wajahnya. Gabrian langsung terkejut. Andrea?


Namun saat melihat gadis di depannya tersenyum sambil mengangguk, Gabrian sadar kalau ini pasti saudara kembarnya Andrea.


"Alana?"


Alana menatap.pria di depannya sambil mengerutkan dahinya. "How do you know my name?"


Gabrian tersenyum. "Kamu terlalu cantik untuk tak dikenal. Aku Gabrian." Gabrian mengulurkan tangannya.


"Kau bisa bahasa Indonesia?" Alana semakin terkejut. Namun ia senang ketemu dengan orang bertampang bule namun bisa berbahasa Indonesia.


"Karena aku dari Indonesia." jawab Gabrian semanis mungkin. Ia bertekad mendekati Alana untuk menyingkirkan Andrea dari kehidupan Oliver.


**********


Konfliknya berat?


Sabar, hidup itu nggak mudah.


Takdir Ian, Eil, Iel, Alexa, Oliver akan ditentukan oleh si kembar Andrea dan Alana.

__ADS_1


ini foto mereka



__ADS_2