
hari ini Sinta janjian sama Rara untuk menonton film di bioskop setelah meminta izin kepada Reza lewat telepon. akhir- akhir ini Sinta dan Rara jadi jarang jalan bersama lagi karena kesibukan mereka masing-masing.
" Ra aku sedang di jalan nie, kamu sudah siap kan " Sinta menelpon Rara sambil duduk di belakang di antar oleh supir nya.
" kenapa kamu malah yang nyamperin aku, aku kan sudah bilang aku yang kerumah kamu." jawab Rara.
" mana mungkin aku membiarkan bumil yang harus repot-repot nyamperin rumah ku " terang Sinta.
" Hem .. kamu ini selalu saja Begitu. yaudah aku tunggu ya " balas Rara. yang kemudian mengakhiri panggilan dari Sinta.
dalam beberapa menit kemudian Sinta sudah sampai, setelah Sinta menyapa ibu mertua nya yang terduduk di kursi roda, Sinta dan Rara pun langsung masuk ke dalam mobil Sinta mereka hanya menggunakan satu mobil agar mereka banyak cerita satu sama lain.
mereka kini sudah berada di pusat perbelanjaan terlengkap di kota Jakarta, Rara berbelanja keperluan untuk bayi mereka yang akan segera hadir, sambil bercerita ini itu dengan Sinta. Sinta pun sangat antusias ketika mereka memasuki toko perlengkapan bayi, Sinta memilih beberapa baju, dan sepatu Lalu di serahkan kepada Rara.
" Ra, ini untuk debay " ucap Sinta sambil mengelus perut Rara.
" jangan Sint, aku bisa beli sendiri. lagian ini banyak sekali. sebenarnya siapa yang jadi mama nya? aku atau kamu " Rara menolak.
" calon bayi yang ada di perut mu, juga anak ku, aku titip ya kesayangan ku " Sinta berjongkok mencium perut Rara.
" iya kamu boleh menganggap anak ini juga anak mu, tapi kamu tidak usah memberi barang ini yang banyak sekali " Rara bersikukuh.
" yaudah kalau kamu menolak pemberian ku, maka aku tidak mau menjadi sahabat plus Kaka ipar mu lagi." ancam Sinta dengan wajah yang di tekuk.
" kok marah sih, yaudah deh aku terima pemberian mu " Rara pun mengalah kepada Sinta.
__ADS_1
" mba, bungkus semua nya ya, lalu kirim ke alamat rumah, nanti aku tulis alamat nya " suruh Sinta pada pegawai toko.
" baik nona " jawab pegawai toko itu.
setelah beberapa banyak sekali, Sinta dan Rara pun pergi ke parkiran menghampiri pak Udin yang sudah setia menunggu dengan sangat lama, saat mereka berjalan. Rara melihat dari sebrang jalan penjualan rujak tumbuk.
" Sinta, aku ingin beli itu " Rara menunjuk dengan manja.
" apa " Sinta berusaha melihat apa yang di tunjuk oleh Rara.
" itu .... " ulang Rara.
" ooh kang rujak, yaudah aku yang nyebrang ke sana ya. kamu di sini saja " Sinta pun berjalan.
" jangan Sinta. biar mang Udin aja yang beli " cegah Rara dengan menarik tangan Sinta.
" oh iya bener. aku ikut " Rara akhirnya menggandeng tangan Sinta.
" jangan. bumil di sini saja "
" kalau aku tidak boleh ikut, aku gak mau makan rujak nya " Rara merajuk.
" baiklah, ayo kita membeli nya bersama " Rara dan Sinta pun berjalan ke sebrang jalan, mereka menunggu saat lampu merah berhenti. mereka berdua berdiri menyaksikan lalu lalang kendaraan yang sangat padat, setelah beberapa menit lampu merah pun menyala. Sinta dan Rara pun jalan bergandengan tangan. Rara melihat kang rujak nya berjalan sudah hampir jauh.
" bang .... bang ... " teriak Rara dari kejauhan.
__ADS_1
" Ra, biar aku saja yang berlari, kamu kan lagi hamil, tidak boleh lari " cegah Sinta.
" hati - hati Sint " pesan Rara.
Sinta pun berlari sambil memanggil tukang rujak nya, tetapi tukang rujak itu tidak mendengar nya dan terus berjalan.
" bang ... bang .... " teriak Sinta .
duarr .. suara motor terjatuh. suara benturan yang keras terdengar membuat perhatian warga tertuju pada suara itu.
" Sinta ...... " teriak Rara. yang menyaksikan sendiri sahabatnya itu terjatuh karena tertabrak motor yang di depan nya.
warga sekitar pun ikut membantu, menepikan Sinta dan mengamankan pengendara motor yang menabrak Sinta.
Rara begitu syok melihat temannya terkapar di jalan. dan terus menangisi Sinta.
" Bu ... Bu ... telpon ambulance Bu " kata salah seorang warga yang ikut membantu mengangkat Sinta.
dengan cepat Rara pun menelpon ambulans, setelah itu Rara pun bingung harus memberi tahu keluarga nya. lalu Rara teringat pak Udin. Rara pun menelpon pak Udin untuk segera ke tempat yang di tunjukkan oleh nya. dalam lima menit, pak Udin pun datang. akhirnya Sinta pun di bawa menggunakan mobil yang di kendarai pak Udin.
di dalam mobil, kepala Sinta di pangku di bahu Rara. " Sinta bangun " ucap Rara dengan menepuki pipi Sinta .
hiks... hiks .... hiks.... Sinta aku mohon kamu cepat lah bangun " Rara terus meratapi keadaan Sinta.
*****
__ADS_1
kisah duda Kesepian sebentar lagi tamat ya. sebenarnya ini kisah yang di alami oleh orang yang kukenal, meski sedikit di bumbui adegan sinetron. tetapi ending nya menceritakan akhir kisah yang sebenarnya.