
Sinta tidak menyadari, gerak tubuhnya yang gelisah membuat Frans memperhatikan Nya saat mereka sedang makan.
"masakan Nya sangat lezat" ucap Frans membuat semua orang menatap kepadanya.
"masakan kak Sinta pasti enak" izul membalas ucapan Frans
"Sinta?" ucap Frans heran.
" yes, bro Sinta" izul menunjukkan wajah Nya kearah Sinta.
"enggak kok, ini kan bi Ijah yang masak" jawab Sinta yang merendah. mendengar jawaban dari Sinta Frans kini menjadi tahu yang manakah Sinta itu.
"masakan Sinta memang enak" puji semua orang di meja makan. membuat muka Sinta menjadi memerah. Frans pun terus menatap Sinta dengan intens.
__ADS_1
acara makan malam pun selesai, mereka kemudian mengobrol. ibu fatim menengok ke kamar Reza. dan mendapati Reza sedang tertidur sehingga ibu fatim keluar menghampiri ke tempat anak-anak Nya berkumpul.
"Sinta, boleh kah aku minta nomer kamu" ucap Frans yang sudah berdiri di hadapan Sinta.
"silahkan " ucap Nya dengan cepat, pikir nya mungkin Frans membutuhkan banyak teman di Jakarta sehingga Sinta dengan mudah memberikan nomor handphone Nya.
Sinta dan Frans pun bertukar nomor handphone, setelah itu mereka mengobrol. malam pun semakin larut, keluarga Dita dan keluarga Wati pun izin pamit pulang. rumah ibu fatim pun kembali sepi, Rara dan izul sudah masuk kedalam kamar mereka. Sinta membantu bi ijah membereskan piring yang berantakan.
"enggak apa-apa mah, kasihan bi ijah ini udah malam" Sinta mengangkat piring di letakkan ke tempat cucian piring kotor.
setelah selesai membantu bi Ijah Sinta hendak naik ke atas kamar Nya di lihat Nya ibu fatim masih asik menonton TV.
" Mama belum mengantuk" ucap Sinta dengan posisi kaki sudah menaiki satu pijakkan tangga.
__ADS_1
" belum, tadi siang Mama tidur cukup lama, jadi sekarang Mama belum mengantuk" ucap ibu fatim.
"Sinta temani Yach" Sinta balik lagi turun menghampiri ibu fatim Dan langsung duduk di samping Nya.
mereka berdua menonton TV sambil mengobrol kesana kemari. ibu fatim pun pamit karena sudah mengantuk ia masuk kamar terlebih dahulu dari Sinta. Sinta mengecek semua pintu rumah memastikan apakah sudah terkunci semua.
saat Sinta hendak naik keatas tangga , Sinta mendengar pintu kamar Reza terbuka. Reza keluar dari kamar Nya, ia menatapi Sinta yang hendak naik ke atas. Sinta membalasi tatapan Reza. " Sinta kamu belum tidur" Reza bertanya membuat langkah kaki Sinta tertahan.
Reza berjalan menghampiri ke arah Sinta, jarak Sinta dan Reza kini sangat dekat. Sinta merasa grogi dengan tatapan Reza. Sinta memundurkan langkahnya tanpa tak terduga Reza sudah menyambar kan wajah Nya ke wajah Sinta dan ******* bibir Sinta. Sinta memberontak ingin melepaskan ciuman Reza. tapi Reza semakin kuat mencium bibir Sinta. saat Sinta tidak bisa mengatur pernafasan Nya Reza melepaskan ciumannya.
Sinta menampar wajah Reza. " plak .... " tamparan mengenai pipi Reza " kurang ajar " sahut Sinta marah. Sinta langsung berlari ke atas , masuk ke dalam kamar Nya dan mengunci kamar Nya dengan rapat. Sinta masih berdiri membelakangi pintu kamar Nya, dan memikirkan kejadian tadi. air matanya berlinang membasahi pipinya.
Di lantai bawah Reza masih mematung berdiri di posisi Nya dulu. ia sedikit menyesali perbuatannya pada Sinta. saat bangun dari tidur Nya Reza melihat Sinta begitu napsu ingin mencium Sinta. mungkin jiwa kesepian Nya sudah meronta -ronta . setelah perpisahan dengan mantan istri nya itu Reza tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. sehingga napsu Nya tidak tersalurkan.
__ADS_1