Duda Kesepian

Duda Kesepian
Bab 78. entahlah


__ADS_3

Suara nada dering terdengar dari dalam kamar Reza. Reza masuk ke dalam dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. dan melihat tertera panggilan dari Dita.


" hallo.. assalamualaikum " ucap Reza.


" waalaikumsalam, za lagi di mana? Tanya Dita


" lagi di rumah, kenapa? tanya balik Reza.


" kamu kerumah sakit sekarang yah" perintah Dita


" ada apa kak? tanya Reza


" kamu kesini saja, nanti di terangkan saat kamu sudah tiba di rumah sakit, kakak Sherlock alamat rumah sakit nya " jawab Dita.


saat mendapat telpon dari Dita, Reza pergi keluar rumah nya dengan terburu-buru. meninggalkan Amanda bersama pak Udin, ia takut terjadi sesuatu terhadap keluarganya. Reza telah sampai di rumah sakit yang di maksud Dita, tubuhnya terasa gemetar saat Dita, Wati, dan izul berdiri di depan ruang IGD.


" Mama kemana?" Tanya Reza khawatiran.


" Reza? ibu fatim menjawab saat ia tengah duduk di kursi.


" Mama, syukur lah" ucap Reza lega.


" siapa yang sakit mah" tanya Reza.


" Sinta dan Rara kecelakaan za" jawab ibu fatim.


deg.


jantung Reza seakan berdetak kencang kemudian seakan berhenti. " Sinta dan Rara ? Reza menganga seakan tidak percaya.


" saat mau pergi ke kampus, Rara janjian dengan Sinta berangkat bareng , karena selama ini mereka jarang sekali bertemu. Frans membawa Sinta dan menghampiri Rara dan mengajak nya pergi bersama ke kampus. saat dalam perjalanan mobil yang mereka kendarai tertabrak truk. " ibu fatim menerangkan nya dengan menangis.

__ADS_1


mendengar jawaban dari Mama nya Reza sangat terpukul, ia memandangi ke arah Izul yang tengah berdiri menunggu dengan gelisah di depan IGD.


sudah setengah jam saat Reza datang. dokter keluar dari ruangan IGD. di sambut beberapa pertanyaan dari Izul.


" bagaimana keadaan istri saya dok ? Tanya izul sedih.


" ketiga pasien mengalami luka serius, tetapi salah satu pasien tidak bisa tertolong" terang dokter, ruangan pun menjadi pecah dengan tangis.


" tidak.. hiks hiks hiks..." seisi ruangan pecah


" siapa dok, " tanya izul semakin hawatir.


" pasien meninggal bernama Frans " jawab dokter.


" Frans ...." Wati menangis sejadi - jadinya.


" lalu pasien yang selamat bagaimana keadaan nya dok. " tanya Reza.


keluarga ibu fatim terus menunggu kabar Sinta dan Rara, setelah pemakaman Frans , Rara dan Sinta belum sadarkan diri.


Izul terus memegangi tangan Rara yang tertidur di atas ranjang.


" cepat bangun sayang" bisik izul.


sementara di kamar sebelah, Sinta juga masih belum sadarkan diri, ibu fatim dan Reza menjaga Sinta.


ibu fatim memegangi tangan Sinta, dan merasa ada gerakan.


" Sinta" ucap nya kaget.


" Reza, tolong panggil kan dokter" seru ibu fatim.

__ADS_1


Reza berlari keluar " dokter.. dokter " teriak Reza.


seorang suster memanggil dokter, Reza kembali lagi melihat Sinta. dan di lihatnya Sinta sudah tersadar , " Tante dimana aku" ucap Sinta melihat seisi ruangan.


" kamu jangan banyak bergerak dulu" suruh ibu fatim.


dokter datang memeriksa keadaan Sinta.


"pasien telah sadar, kondisi nya sudah membaik." ucap dokter Andre yang menangani Sinta.


" dokter, kenapa rasanya kaki ku tidak bisa di gerakkan" Tanya Sinta. dokter pun memeriksa kaki Sinta.


" seperti nya, kaki anda mengalami kelumpuhan" ucap dokter dengan berat hati.


"apa dok," Reza dan ibu fatim terkaget.


" tidak dok, tidak" teriak Sinta.


" bagaimana Ini" Sinta berusaha menggerakkan kakinya yang terasa kaku.


tapi tetap tidak bisa di gerakkan.


"tidaaaak " teriak Sinta histeris, Reza mendekatkan tubuhnya ke arah Sinta dan memeluk nya. Sinta menangis di pundak Reza.


" rezaaa... " hiks teriak Sinta dan terus memukuli bahu Reza, Reza membiarkan tangan Sinta terus memukuli nya.


" pukul lah aku terus... jika itu bisa mengurangi rasa sakit mu" gumam Reza.


Reza pun semakin mengencang kan peluk kan nya kepada Sinta, dan mengusap rambut nya.


" aku akan selalu ada di sisi mu, aku akan menjadi kaki mu" bisik Reza di telinga Sinta. Sinta hanya bisa terus menangis tidak dapat menerima kenyataan yang sedang di hadapinya.

__ADS_1


ibu fatim pun menyaksikan itu menjadi ikut menangis.


__ADS_2