Duda Kesepian

Duda Kesepian
Bab 70. salah paham


__ADS_3

"Mah , izul sudah mencatat nama - nama kontestan yang lulus tahap berikutnya" suara izul terdengar tiba- tiba menyadarkan lamunan ibu fatim. saat duduk bersantai di kursi goyang nya melihat taman yang berada di samping rumah. bunga-bunga menggoyang kan tangkai nya. bergoyang menari-nari mengikuti irama angin sepoi-sepoi. angin itu masuk ke celah- celah rumah ibu fatim membuat suasana menjadi begitu tenang.


"Izul, kamu masih di rumah nak, Mama kira tadi kamu sudah berangkat sama Rara" jam menunjukkan pukul 09:00 saat anak- anak nya telah pergi sibuk dengan urusan mereka sendiri. ibu fatim menolehkan wajahnya ke arah Izul yang baru pindah posisi nya duduk di meja dekat ruang televisi, memainkan laptop nya.


" Rara lagi ke kampus mah, sedang mengurusi kelulusan nya, Izul memang tadi sudah bersiap-siap mau ke kantor. tetapi izul urungkan karena Izul ingin cepat - cepat menyelesaikan ajang pencarian jodoh buat kak Reza. Izul ingin secepatnya balik lagi ke kantor dan fokus dengan pekerjaan." Izul berbicara tetapi mata nya terfokus pada layar monitor tangannya pun tak berhenti menekan angka dan huruf.


" Rara wisuda nya kapan Zul " ibu fatim menghampiri izul dan memegang pundak anak nya itu.


" akhir bulan ini mah" Izul memegang balik tangan ibu fatim yang tengah berada di pundaknya.


" ini daftar nama- nama pemenang nya?" tanya ibu fatim melihat ke layar tertera beberapa nama peserta.


" betul mah, sengaja Izul memilih 10 peserta dahulu." jawab izul


"dalam sesi ini mekanisme permainan nya bagaimana" ibu fatim beralih ke kursi yang berada di depan televisi.


" aku memecah peserta menjadi dua grup, grup pertama dan grup kedua. nanti mereka saling bersaing uji kemampuan mereka mengurusi rumah tangga. dari memasak, membersihkan rumah. grup pertama yang terdiri dari lima orang akan melakukan tantangan dari para juri di hari Sabtu, sedang kan grup kedua di hari Minggu." Izul menerangkan nya sambil menghadap ke ibu fatim yang sedang menonton TV.


" semoga kita mendapatkan pemenang nya yang bisa benar- benar tulus kepada Reza ya Zul " ucap ibu fatim dengan nada kesedihan.


" aamiin... Mama tidak usah khawatir. kami semua menyayangi kak Reza mah" Izul memeluk tubuh Mama nya.


**************************


Di kantor Reza sedang sibuk dengan beberapa tumpukan berkas yang menggunung. berkas - berkas yang tadinya berada di kantor izul di alihkan ke kantor Reza karena harus mendapatkan tanda tangan dari CEO the sultan grup. beberapa hari ini, izul masih cuti. Reza pun heran sebenarnya izul itu sedang sibuk apa, sehingga dia sudah libur kerja dalam seminggu ini.


" tolong ke ruang ku, dan kamu antar kan berkas yang sudah ku tanda tangani" Reza meletakkan telpon kantor pada tempat nya semula.


"permisi pak" suara dari depan pintu.


" masuk " ucap Reza yang masih fokus dengan berkas nya.

__ADS_1


Manda masuk ke dalam ruangan mengantar kan kopi untuk Reza.


tangan Manda ingin meletakkan kopi di atas meja dengan sangat hati-hati karena tidak ingin Reza melihat nya. Reza masih membaca berkas sebelum menandatangani nya.


" ini" Reza menyodorkan berkas .


"au " Manda bersuara karena kopi yang di pegang nya tumpah tersenggol berkas yang di tunjukkan Reza. tumpahan kopi pun mengenai berkas yang di pegang Reza.


Reza tersentak, tubuh nya langsung berdiri " kamu ini bagaimana" Reza memarahi Manda.


"berkas ini sangat penting dan harus segera di serahkan ke kantor cabang, tapi lihat lah kamu sudah merusak semua nya" ucap Reza kesal.


" maaf kan aku pak. tapi pak, saya tidak tahu bapak mau menyodorkan berkas itu ke arah saya" ucap Manda berusaha membela diri.


"alasan saja. sekarang bagaimana? saya harus mengulangi pekerjaan saya," tunggu ,.... kamu wanita yang kemarin menabrak ku kan " suara Reza makin- makin kesal dan menerka- nerka


"benar pak" Manda mematung menundukkan kepalanya tidak berani berbicara panjang lebar. di mana mana memang bos yang selalu menang . gumam Manda dalam hati.


Manda pun menuruti perintah Reza meninggalkan ruangan nya. Manda berjalan masih menunduk wajah nya sedih. di hampiri nya sahabat satu -satunya di kantor the sultan grup itu di pantry. " Tiaaaa... " teriak Manda sedih.


" kenapa?" Tanya Tia.


Manda pun menceritakan kronologi kejadian di ruangan Reza. " memang aku kemarin menyalahkan mu , tapi hari ini menurut ku pak Reza yang salah. karena tidak melihat -lihat dulu" ucap Tia


"sudah lah, aku hanya takut dia memecat ku. kalau dia memecat ku sekarang. bagaimana nasib ibu dan adik ku. aku harus menghidupi mereka." ucap Manda makin bersedih mengingat ibu dan adik nya di rumah.


" kita berdoa saja" Tia memeluk tubuh Manda.


"kalian sedang apa, bermesraan di pantry " ucap seseorang yang masuk, seketika itu Manda dan Tia melepaskan pelukannya.


" kami tidak sedang apa-apa pak Anwar" jawab Tia yang sudah banyak mengenal para karyawan di kantor.

__ADS_1


"ini teman kamu yah " Anwar menunjukkan ke arah Manda.


" benar pak" ucap Tia.


" teman kamu di panggil HRD " ucap Anwar langsung pergi dari pantry.


" bagaimana ini" Manda gelisah.


" kamu datang saja dulu, siapa tau ada keperluan lain" Tia berusaha menghibur.


" baiklah" Manda berjalan ke ruangan HRD, saat sampai di depan pintu. Manda semakin takut kemudian ia memberanikan diri masuk ke dalam.


Tia menunggu sahabatnya di luar ruangan. saat Manda sudah keluar. Tia langsung menanyai nya. " bagaimana"


Manda pun keluar dari ruangan HRD memegang sebuah kertas, Manda memeluk tubuh Tia dan menangis. " aku di pecat tia" ucap nya sedih.


"apa" Tia kaget melepaskan pelukan Manda dan mengusap air mata Manda.


" kamu yang sabar yah, pak Reza memang terkenal seperti itu. kalau tidak cocok sedikit saja dengan karyawan nya, dia langsung memecat karyawan tersebut." terang Tia.


" aku hanya sedih bagaimana aku harus membeli kebutuhan sehari-hari untuk ibu dan adikku" balas Manda


" kamu tenang saja, kamu pakai Dulu uang ku, nanti setelah kamu sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain. kamu baru membayar nya padaku" Tia mengeluarkan uang dari kantong celana nya.


"tidak usah" Manda menolak.


" jangan seperti itu, kalau kamu menolak nya, aku tidak mau menjadi sahabat mu lagi " balas Tia memaksa.


" baiklah, setelah aku dapat uang nya. aku akan segera membayar nya" Manda menyimpan uang pemberian dari Tia.


Manda mengambil barang-barang nya kemudian pergi meninggalkan kantor the sultan grup dengan hati yang sedih.

__ADS_1


Tia tidak bisa membela sahabat nya karena dia juga hidup pas-pasan sehingga Tia juga takut kalau nanti dia juga ikut di pecat.


__ADS_2