
Pelangi hanya berdiam diri di dalam kamar, ia tak mau menyentuh makanan yang diberikan Langit. Ia hanya menangis.
"Pelangi... jangan memaksaku berbuat kasar lagi"Ucap Langit, tapi tak dihiraukan Pelangi. Ia teringat Bumi. Tak pernah ia meninggalkan Bumi hanya untuk pergi jauh seperti ini.
Langit memegang dagu Pelangi, mengangkat wajahnya..
"Kamu mau makan sendiri, atau mau makan dari mulutku"
Pelangi tak menjawab pertanyaan Langit, matanya memandang tajam kearah Langit.
Langit yang dipandang begitu bukannya takut ia malah mendekatkan wajahnya, dan ingin mencium bibir Pelangi, tapi sebelum itu ia lakukan Pelangi mendorong kuat tubuh Langit membuat ia terduduk dilantai.
"Pelangi... sudah aku katakan, jangan membuatku marah dan berbuat kasar. Aku bukan Langit seperti yang kamu kenal dulu, kehidupan diluar negeri mengajarkan aku untuk kurang menghargai wanita.. "ucap Langit dan menggendong Pelangi,menghempaskannya ke atas kasur.
Pelangi takut Langit melakukan sesuatu padanya.. ia bangun dan duduk bersandar dikepala tempat tidur.
"Lang... jangan lakukan itu lagi... aku mohon"ucapnya dengan wajah yang pucat dan ketakutan
"Memangnya kamu pikir aku akan melakukan apa"Langit mendekat dan mengukung tubuh Pelangi, membuat wanita itu bersedekap tangannya didada.
"Kalau kamu belum mau makan.. tidurlah, tapi jika sebentar lagi kamu belum juga makan.. aku yang akan memakanmu"ucap Langit dan ia turun dari tempat tidur. Langit keluar menuju balkon. Ia merokok di balkon.
Langit membuka ponsel Pelangi yang diambilnya dari dalam tas Pelangi. Ia menghubungi nomor Kevin mengirimkan pesan.
"Mas... maaf aku tak bisa pulang malam ini. Aku dan teman teman terjebak disebuah pulau. Kapal yang kami sewa mengalami kerusakan. Aku minta tolong, jagakan anakku. Aku sangat minta maaf.. jika ponselku tak bisa dihubungi itu berarti lowbat, aku minta maaf sekali lagi. Bilang sama anakku.. aku merindukannya"
Setelah mengirim pesan itu Langit mematikan ponsel Pelangi. Ia kembali masuk ke kamar dan melihat Pelangi yang sudah tertidur, mungkin lelah menangis.
Langit mengusap sisa sisa air mata dipipi mulus Pelangi. Matanya tampak bengkak dan sembab.
Langit mengecup pelan kedua mata Pelangi takut membangunkan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Apa yang telah kamu lalui selama kita berpisah, mengapa suamimu meninggalkan kamu saat kamu hamil. Padahal jika aku tahu kamu ditinggalkan suamimu ketika hamil, aku bersedia menikah denganmu menggantikan posisi suamimu. "
Pelangi membuka matanya setelah cukup lama ia tertidur.
"Lang..."ucap Pelangi begitu membuka mata ia melihat Langit yang sedang menatap wajahnya.
"Kenapa.. "
"Aku mau pulang... aku tak pernah berpisah dengan anakku selama ini Lang. Aku takut ia menangis dan itu akan merepotkan Kevin"Pelangi berkata dengan memohon. agar Langit mengabulkan permintaan nya.
"Tapi kita tak bisa pulang, ini sudah hampir magrib. Tak ada kapal lagi untuk menyeberang, adanya cuma di pagi hari lagi"
"Lang... aku mohon jangan berbuat gila, aku tak bisa menginap disini..ada anakku Lang"
"Tapi aku berkata yang sebenarnya Pelangi... kapal hanya ada besok pagi lagi.. "
"Lang...kenapa kamu lakukan ini... kamu jahat Lang...kamu jahat.. aku tak mungkin menginap disini"Pelangi memukul dada Langit. Langit menangkap tangan Pelangi memintanya tenang.
__ADS_1
"Anakmu tak akan kenapa napa... hanya satu malam kamu tinggalkan.. "
Pelangi turun dari tempat tidur dan berlari keluar cottage, menuju kedermaga. Langit cepat mengejarnya.
Langit memegang tangan Pelangi menahannya..
"Kamu mau apa... "
"Sudah aku katakan bukan... aku mau pulang"
"Besok kita baru pulang, kamu lihatkan sudah malam, tak ada lagi kapal penyeberangan "
Pelangi merasa tubuhnya lemas, ia terduduk dipasir pantai itu. Pelangi kembali menangis. Karena tubuhnya yang belum diisi apa apa dari pagi akhirnya ia pingsan.
Langit sangat terkejut melihatnya dan langsung menggendong membawa masuk kekamar.
Langit tak tahu harus berbuat apa,ia mencari sesuatu didalam tas Pelangi. Ia menemukan minyak angin. Langit membuka baju Pelangi dan membalurkan minyak angin keseluruh tubuh Pelangi.
Ia melihat tubuh Pelangi yang putih bersih,membuat darahnya naik. Ia dengan susah payah menahan nafsunya. Setelah memberi minyak angin Langit keluar duduk di balkon, ia takut berbuat khilaf lagi.
Setelah sadar Pelangi merasakan tubuh nya sedikit hangat dan badannya bau minyak angin.
"Mengapa tubuhku hangat dan bau minyak angin, siapa yang membalurnya ketubuhku"
Langit yang melihat Pelangi sudah bangun, menyuruhnya makan, dengan ancaman.
"Makanlah... jika kamu tak mau aku memakanmu"
"Mengapa kamu pisah dengan suamimu"tanya Langit
"Aku tak tahu"
"Jangan ngawur Pelangi... masa kamu tak tahu mengapa suamimu menceraikan kamu"
"Aku benar benar tak tahu Lang"
"Berarti ia menceraikanmu tanpa sebab, tanpa kamu tahu apa salahmu"
"Hhhhmmmm.... "jawab Pelangi
"Sudah berapa umur anakmu.. "
"Buat apa kamu ingin tahu.. "
"Siapa suami kamu,dimana ia sekarang"
"Aku nggak tahu"
"Mengapa kamu tidak tahu satupun informasi mengenai suami kamu"
__ADS_1
Pelangi memandangi Langit dengan tajam. Seakan ingin mengulitinya
"Mengapa memandangi aku seperti itu"tanya Langit, membuat Pelangi menundukan wajahnya.
Langit mendekati Pelangi. Ia duduk ditipu ranjang.
"Pelangi... kembalilah padaku. Bukankah kamu belum terikat apa pun dengan Kevin"
"Aku memang tak ada hubungan apa apa dengan Kevin selain antara atasan dan bawahan"
Langit tersenyum mendengar jawaban Pelangi, jadi diantara Kevin dan Pelangi tidak ada hubungan khusus.
"Kalau begitu kita bisa memulainya dari awal kembali"ucap Langit senang
"Kita tak mungkin memulainya dari awal, karena semua nya telah berakhir. Lang.. aku sudah nyaman dengan kehidupaku saat ini. Aku tak pernah ingin memulai suatu hubungan lagi. Karena aku tak mau merasa terluka dan tersakiti lagi"
"Aku akan berusaha mengobati lukamu itu"
"Lang...luka ku tak akan bisa diobati, karena ia sudah terlalu dalam dan meninggalkan bekas yang besar"
"Aku akan berusaha semampuku buat menyembuhkannya... "
"Mungkin luka itu akan sembuh dengan seiringnya waktu, tapi bekasnya akan terus ada Lang"
"Pelangi... aku ingin mendengar ceritamu sejak kita berpisah, aku ingin tahu seberapa besar luka yang lelaki itu torehkan dihatimu sehingga kau tak mau memulai hubungan lagi"
"Lang...kamu sudah ada tunangan.. lebih baik kamu berjalan dengan tunanganmu itu"
"Aku tak mencintainya.. aku dijodohkan"
"Tapi kamu menerimanya"
"Aku terpaksa... "
"Jawaban klise yang selalu aku dengar jika terjadi perjodohan. Mengapa kamu terpaksa.. jika kamu sudah menerimanya, seharusnya kamu bertanggung jawab dengan keputusan kamu, jangan mencari alasan untuk pembenaran diri. "
"Aku tahu aku salah karena mau menerima perjodohan dan pertunangan ini.. tapi itu semua kulakukan karena aku sudah frustrasi mencari keberadaan mu.. Pelangi aku sudah berusaha melupakan dan membenci kamu yang tak pernah mau tahu tentangku.. tapi semakin aku mencoba membenci dan melupakanmu.. rasa cintaku makin bertambah padamu"
"Lang...harus berapa kali aku katakan, kita tak mungkin bersama. Kau dan aku berbeda"
"Pelangi... aku mohon.. cobalah menerima ku.. jika yang kau takutkan orang tuaku tak menerima kamu, aku akan meninggalkan mereka"
"Itu yang tak ingin aku lakukan.. aku tak mau memisahkan orang tua dengan anaknya. Aku sudah dapat merasa kan perasaan seorang ibu yang terpisah dengan anaknya. Aku tak mau jika aku melakukan itu padamu, anakku juga melakukannya suatu saat nanti padaku"
"Jadi apa yang harus aku lakukan"
"Menikahlah dengan restu orang tuamu, karena restu Tuhan tergantung restu kedua orang tua. Aku tak akan menikah dengan siapapun tanpa restu dari orang tua. Langit..hari sudah makin larut malam. Aku mau tidur. Aku harap ini merupakan pertemuan yang pertama dan yang terakhir bagi kita. Tidurlah Lang tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Kamu nggak tidur dikamar ini kan. Aku mohon keluarlah.. aku mau tidur, sudah ngantuk.. "usir Pelangi
Langit akhirnya keluar dari kamar Pelangi dengan langkah lesu.
__ADS_1
**************************
Terima kasih untuk semua yang telah membaca novel ini.