
...HAPPY READING...
Matahari belum mulai menampakkan sinarnya dan digulung-an selimut tebal ada gadis yang masih tertidur pulas dengan lelaki dewasa yang juga sama sama masih lelap dalam mimpi masing masing.
Kelopak mata gadis itu terbuka dan dengan segera ia mengusap pelan lentera mata yang masih enggan bangun itu dengan menguap tanpa melihat sisi samping nya.
'Hoaamm' setelah itu seperti kebiasaan nya bangun tidur lalu mencuci muka dan menggosok gigi nya hingga bersih, tak lupa ia juga mandi dengan air hangat yang beberapa hari lalu ia tahu cara bagaimana memakainya, tentunya dengan ajaran lelaki itu.
Ceklek~
Pintu kamar mandi terbuka muncul lah seorang gadis yang masih terlilit handuk ditubuhnya yang mungil tetapi masih terkesan dewasa untuk gadis yang usianya masih muda itu. Gadis itu lalu masuk ke dalam walk in closet untuk memilih baju dan ia memilih menggunakan t-shirt dan celana pendek rumah an yang biasa ia pakai, tentunya harganya sangat fantastis.
Ia keluar dari dalam sana dan menghampiri ranjang untuk merapikan kembali tempat tidur nya yang tidak berantakan tetapi ada sedikit yang mengganjal di sana. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah guling ku berubah menjadi besar seperti ini begitulah kira kira pemikiran gadis itu.
Setelah membuka selimut tebal itu matanya terbelalak lebar melihat siapa yang berada di sana dan bergumam kecil,''Kak Ian...'' Ia mencoba menerka nerka kenapa lelaki itu bisa tidur satu kamar dengannya dan dalam selimut yang sama, tentunya ia tahu jika seorang lelaki lanjang dan perempuan lanjang tidur satu ranjang yang sama itu tidak boleh jika belum mengucapkan janji suci kepada Tuhan.
Gadis itu kembali menarik selimut itu hingga menutupi leher Gabrian dan menatap wajah damai Gabrian dengan lekat.
''Tampan,'' gumamnya lirih nyaris tak terdengar
Lalu gadis itu turun ke bawah untuk membuat sarapan pagi terlebih dahulu karena ini masih pukul 05.00 pagi. Ia turun menggunakan lift dengan ilmu yang sudah ia pelajari dengan salah satu pelayan di sana.
Menuju dapur ia memeriksa lemari es terlebih dahulu apakah ada bahan makanan yang bisa dimasak atau tidak ada. Ternyata masih ada beberapa bahan bahan yang bisa dimasak, ia mengambil itu semua dan meletakkan nya dimeja dapur.
''Untungnya masih ada beberapa bahan makanan yang belum dimasak... kalau tidak aku akan membelinya di pasar jauh sana,'' ucapnya lega lalu memotong motong bahan itu hingga menjadi sebuah racikan masakan.
Tak lama kemudian datang beberapa maid dari halaman belakang untuk memulai bekerja seperti biasa, karena Gabrian mengijinkan para maid bekerja dari pukul 06.00 pagi agar tidak membuat mereka sakit, baik sekali bukan gabrian?
Salah satu maid kira kira berusia kepala tiga yang menyaksikan seorang gadis spesial sedang memasak di dapur pun membelalakkan matanya lalu menghampiri nya, ''Selamat pagi nyonya muda, maaf kenapa nyonya memasak?'' tanya nya
Gadis itu terkejut untung saja spatula besi itu tidak mengenai tangan nya jika iya mungkin maid yang mengejutkan dirinya tadi akan di hukum oleh Gabrian.
Gadis itu berbalik, ''Pagi juga bi... tadi hampir saja masakan ku jatuh mendengar suara bibi.'' ujar nya dengan nafas sedikit tersengal.
''Ma-maaf nyonya,'' kata maid itu menundukkan kepalanya
''Tidak apa apa bi''
''Oh iya kenapa bibi mengagetkan diriku yang sedang memasak ini-?'' tanya gadis itu
''Ke-kenapa nyonya memasak? biarkan kita saja yang memasak nyonya,'' ucap maid itu dan di angguki oleh para rekannya.
''Tidak apa apa bi!''
''Aku belum pernah memasak disini kan? aku hanya mencoba saja apakah masakan ku cocok di lidah kek Ian atau tidak... jika masakan ini enak mungkin besok aku juga aku akan memasakkan makanan untuknya!'' seru gadis kecil itu girang
''Em-mm ba-baiklah nyonya...''katanya, ''Jika butuh bantuan kami semua siap membantu nyonya.'' girang mereka
__ADS_1
''Baiklah... aku akan melanjutkan masakan ku!'' lalu ia kembali berkutat dengan alat masak nya dan memasak dengan cekatan.
Ia memasak tiga menu makanan dalam porsi lumayan banyak dan karena sudah terbiasa memasak jadi tidak menyulitkan dirinya untuk membuat menu makanan dalam jumlah banyak dsn waktu yang singkat, kini makanan sudah tertata rapi dimeja hanya kurang membangunkan Gabrian untuk makan pagi dan bersiap bekerja.
Gadis itu tak lain lagi adalah Arelea kembali ke atas untuk membangunkan sang pemilik mansion karena hari mulai siang dan matahari juga sudah menampakkan sinar nya.
Ceklek~
Pintu kamar itu terbuka masuk lah Arelea yang masih agak bimbang untuk membangunkan Gabrian. Karena baru sekali ini dia tidur satu ranjang yang sama dengan lawan jenis nya.
''Ka-ak ian...'' ucapnya menggoyangkan lengan kekar Gabrian yang masih terbalut selimut tebal
Gabrian menggeliat,''Emm?'' gumamnya
''In-ini sudah pagi kak... apakah kakak tidak bekerja?'' mencoba menghilangkan kegugupannya yang sedang melanda
Tampak Gabrian membuka mata nya dan yang ia lihat pertama kali adalah seorang gadis cantik yang sangat istimewa di hidupnya kali ini. ''Pagi sayang?'' ucapnya masih berbaring di tempat tidur
Arelea menjawab dengan kikuknya,'' Pa..pagi juga kak..'' katanya, ''Ayo kak bangun... aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita nanti!'' seru Arelea semangat saat mengingat makanan yang ia buat tadi
Gabrian duduk dengan cepat dan dengan mata berbinar senang karena dimasakkan oleh gadis masa depannya ini.
'Sudah seperti mempunyai istri saja... bangun tidur melihat wajah polos nya dan setelah itu di buatkan makanan. Uhh rasanya aku ingin berguling guling kesenangan Hahaha...' batinnya berteriak senang
''Baiklah aku akan mandi terlebih dahulu...'' sahutnya cepat lalu masuk kedalam kamar mandi
Gabrian yang mendengar itu pun sangat sumringah tak berhentinya tersenyum lalu membukakan sedikit pintu. ''Aku ingin memakai baju celana berwarna cokelat dan jaz senada,'' lalu menutup pintu dan dengan cepat ia menepuk-nepuk pipinya.
''Ya ampun aku sangat ingin berteriak ini sangat nyata berarti aku tidak bermimpi... aku senang sekali melihat dirinya sudah seperti istri ku saja, ahh jadi ingin membuatmu menjadi milikku secepatnya sayang.'' gumamnya melihat dirinya di kaca kamar mandi
Arelea yang mendengar suara Gabrian itu langsung saja masuk ke dalam walk in closet untuk mengambil dan menyiapkan keperluan kantor Gabrian mulai dari menyiapkan baju celana kemudian ia mengambil Jaz yang senada, karena di kamar mandi sudah ada satu almari yang terisi oleh pakaian dalam Gabrian maka ia tak usah repot repot mengambilkan itu.
''Nah.. sudah beres.'' Pekik nya senang
''Tinggal menunggu kak Gabrian siap lalu ia akan mencoba masakan ku yeay!'' gumamnya membayangkan bagaimana ekspresi Gabrian mengetahui rasa masakan yang ia masak, apakah enak atau tidak?
Setelah menunggu sepuluh menit Gabrian keluar dari kamar mandi mengenakan handuk pendek yang melilit di pinggang nya saja. Ia berjalan santai melewati Arelea yang masih terbengong melihat roti sobek dan badan kekar miliknya lalu masuk kedalam walk in closet dan mengenakan pakaian nya tetapi tidak langsung memakai dasi, ia berangan-angan Arelea yang memasangkan dasi untuk nya seperti disalah satu film yang pernah ia tonton.
''Ahaha, pasti sangat romantis...'' gumamnya senang lalu keluar sudah dengan pakaian lengkap kecuali dasi nya yang masih bertengger di lengan kanan nya
''Sayang! Tolong pasangkan dasi ku ya?'' pinta nya
Arelea yang sedang melamun kan badan kekar Gabrian tadi terkejut lalu menatap Gabrian dihadapannya yang sudah dengan pakaian rapi.
Ia menatap dasi yang berada di lengan kanan Gabrian dengan tatapan bingung,'' kenapa dasinya tidak dipakai kak?'' ucapnya tidak peka
Gabrian mendengus pelan,''Bisakah kamu memakaikan nya untukku?'' tanya nya
__ADS_1
Arelea berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk,''Baiklah,'' ucapnya mengambil dasi yang berada ditangan Gabrian dan disaat akan memakaikan nya ia merasa kesulitan karena tinggi dirinya hanya sebatas dada Gabrian.
''Em bisakah kakak menunduk sedikit, aku..aku tidak sampai,'' ucap Arelea malu-malu
Gabrian sengaja tidak menunduk karena ingin melihat bagaimana cara gadis nya memakaikan dirinya dasi. Ia juga melihat wajah malu malu Arelea saat menyuruhnya menunduk terkesan sangat menggemaskan.
Gabrian langsung mencondongkan tubuhnya ke depan lalu dengan cepat Arelea memakaikan dasi itu di leher Gabrian. Karena saat ia masih bersekolah dahulu sering ia memakai dasi sendiri jadi tidak sulit baginya memakaikan dasi, hanya saja saat ini sedikit malu.
Setelah selesai Arelea kembali mengajak Gabrian untuk mencoba makanan yang ia masak tadi, ''Ayo kak... aku sudah tidak sabar bagaimana reaksi mu saat memakan masakan ku!'' ucapnya dengan semangat menggebu
''Baiklah ayo.''
Mereka menaiki lift dengan waktu cukup singkat hingga akhirnya tiba di bawah dan langsung menggandeng tangan Gabrian atau lebih tepatnya menyeret tangan Gabrian dengan sedikit berlari namun bagi Gabrian itu hanya sedang berjalan sedikit tergesa karena langkah kaki pria dewasa dan gadis kecil itu sangat berbeda
Arelea POV~
Hari ini aku memasak tiga menu makanan yang menurutku sangat enak, karena aku terbiasa memakan masakan ini jadi ingin ku kenalkan juga makanan yang dulu aku makan kak Ian karena menurut ku ia sangat aneh, jika ingin memakan maka harus ditusuk tusuk dengan pisau dan itu sangat membuatku kesusahan.
Lalu aku ingin kak Ian mencicipi masakan ku. Aku sudah bekerja keras dan semoga dia menyukai masakan yang aku masak.
Aku sangat tidak sabar dia memasukkan masakan ku kedalam mulut nya dan mencicipi bagaimana rasa makanan ku itu, ''ayo dimakan kak!'' ucapku setelah mengambil beberapa makanan itu kedalam piring kosong didepannya
Kak Ian mulai memasukkan makanan seafood yang ku masak tadi kedalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan-lahan.
Dari ekspresi nya sih aku sudah bisa menyimpulkan jika masakan ku tidak cocok di lidahnya. Karena ekspresi itu sangat tertekan sekali. Aku sudah bersedih namun...
Author pov~
Wajah Gabrian yang semula tertekan karena merasakan sensasi berbeda dari masakan itu, sangat enak, tekstur nya lembut dan pas di lidah, bumbunya sangat pas. Ia kira Arelea adalah koki di restoran yang pernah ia buntuti sewaktu itu ternyata salah, karena Arelea hanya sebagai waiters di sana.
''Bagaimana rasanya kak?'' tanya Arelea antusias dan cemas
''Eumm... ini adalah masakan ke dua setelah ibu ku yang terenak pernah ku makan,'' ucapnya sumringah lalu kembali menyendok kan makanan itu kedalam mulutnya dan memakan dengan lahap.
Arelea yang tadinya melihat dengan ekspresi air wajah sedih kini menjadi senang tiada kira.'Akhirnya masakan ku ada yang memuji, meskipun itu hanya kak Ian... tetapi jika dilihat dari raut wajahnya sih memang sepertinya enak, karena ku sudah terbiasa dengan masakan ini jadinya akan sama saja rasanya... hehe' batin nya
''Kalau begitu kak Ian habiskan saja makanannya.''
''Aku tadi sudah membungkus dengan dua kotak makan untuk kita makan, nanti saat setelah bekerja kita makan bersama ya kak?''
''Boleh saja... baiklah ayo...''
...----------------...
...'If people say that first persuasion, stomach problems will fall into the heart then not with me.. I will make him love me in a way he is comfortable with me'...
...('Jika orang mengatakan bujukan pertama itu, masalah perut akan jatuh ke hati maka tidak denganku.. Aku akan membuatnya mencintaiku dengan cara dia nyaman denganku')...
__ADS_1
...~Gabrian Gamaliel Atkinson...