
Mempelajari tentang memasak mungkin menurut kalian adalah hal yang sangat mudah, namun kenyataannya berbeda yaitu sangat susah. Arelea telah membuktikan nya sendiri memang bisa memasak dan mencoba berbagai resep makanan namun tetap saja rasanya masih kurang tepat dan masih butuh belajar.
Ia mempelajari semua itu dibantu menggunakan iPad Gabrian yang menganggur dengan ditemani pria tampan duduk di sofa tunggal dengan laptop di pahanya, sepertinya pria itu mengerjakan sesuatu dari perusahaan miliknya karena nampak sangat serius.
''Kak?'' Panggil Arelea
''Hmm?'' Sahut Gabrian langsung menatap wajah cantik Arelea yang tanpa polesan sedikitpun itu
''Emm,'' bibirnya kelu saat ingin mengucapkan sesuatu, ia tak enak hati dengan Gabrian.
''Ada apa sayang? butuh bantuan kan?'' Tanya Gabrian menatap Arelea
''Emmm itu kak-''
''Mau bantuan apa dariku hmm? Nanti biar aku kabulkan keinginan mu itu.'' Ujar Gabrian berdiri lalu mencubit pipi chubby Arelea
''Apakah aku boleh meminta bantuan dengan kakak betulan?'' Tanya Arelea memastikan
''Hmm?'' Gabrian mengangguk
''Emm sebenarnya aku butuh teman yang se-frekuensi dan bisa memasak untuk membantu aku mencoba resep-resep baru masakan ini kak.'' lirih Arelea masih bisa didengar jelas oleh Gabrian
''Boleh, aku akan menghubungi arav untuk mencarikan mu teman. Tetapi wanita ya!'' Sangar Gabrian dengan wajah cemberut
''Huum.'' Terlihat mata Arelea yang penuh binar dan antusiasme yang tinggi
''Baiklah, kamu tunggu sebentar biar aku telpon pria itu.'' Kata Gabrian mengelus pucuk rambut Arelea
Gabrian membuka aplikasi di ponselnya dengan cepat, ia menelpon arav.
''Halo tuan?'' terdengar suara arav setelah panggilan tersambung
''Apakah kamu mempunyai teman yang berprofesi sebagai chef atau juru masak?'' Tanya Gabrian datar
Tidak terdengar jawaban apapun dari seberang membuat Gabrian sedikit kesal, ia kembali bertanya kepada arav.
''Apakah kamu mempunyai teman yang berprofesi sebagai chef atau juru masak Arav Antony?'' Tanya Gabrian penuh penegasan
''A--aiya bagaimana tuan? ehm seperti nya saya mempunyai teman yang menjadi chef. Nanti jika sudah saya hubungi dia akan saya laporkan kepada tuan,'' Jawab Arav terbata-bata
''Secepatnya ya!'' Tekan Gabrian lagi
''Baik tu-'' Gabrian memutuskan sambungan sepihak sebelum arav menyelesaikan ucapannya
Gabrian dan Arelea kembali di pekerjaan mereka masing-masing dimana Gabrian mengerjakan tumpukan berkas dan Arelea sibuk memotong daging.
***
Diseberang atau lebih tepatnya ditempat arav, pria itu sedang membaca beberapa berkas dengan ponsel di tangannya. Ia tak berani mengumpat tuan mudanya itu tetapi ia menghubungi satu nomor wanita yang beberapa waktu terakhir selalu menganggu pikiran nya.
Beberapa kali tak terjawab tetapi pria ini tak putus asa sama sekali, ia masih mencoba agar panggilannya tersambung.
''Dia sedang apa jam segini? kenapa tidak diangkat?'' Begitulah kira-kira gumamnya dengan mengerutkan alis hingga menyatu
Namun sepertinya tuhan mengabulkan doa nya, panggilan tersambung.
''Halo siapa ini?'' Tanya wanita diseberang dengan suara serak sepertinya baru saja bangun dari tidurnya
''Halo? ¿Todavía está conectado?''( Apakah masih terhubung?) Tanya nya lagi dengan bahasa lain
''Ya! masih, apakah kamu akhir-akhir ini sibuk?'' Arav bersuara setelah beberapa menit menikmati suara wanita diseberang.
''Hah? Arav?'' Kaget wanita di seberang
__ADS_1
''Ada apa kamu menelpon ku? ini baru jam berapa? kamu menganggu waktu tidurku!'' Ujarnya
''Maaf, apakah kamu akhir-akhir ini sibuk?'' Tanya arav sekali lagi
''Tidak! Aku sedang libur kuliah dan juga sedang tidak bekerja karena hambatan,'' Jawab Wanita itu dengan datar, mengingat badai salju yang sedang turun membuat semua resto tempatnya bekerja tutup sementara waktu.
''Apakah kamu hari ini bisa datang ke alamat yang saya kirim untuk bekerja? saya mempunyai pekerjaan untuk kamu!'' Ungkap Arav
''Tetapi aku akan mandi terlebih dahulu,'' Jawabnya
''Baik, aku sudah kirim di dalam id l*ne mu''
''Oke.'' Lalu wanita itu mematikan sambungan panggilan.
Arav membuang nafas kasar, sudah dua kali sebelum dirinya menjawab sambungan telpon langsung dimatikan namun dirinya bukanlah pemarah jadi ia hanya membiarkan saja.
''Hmmm, gadis itu membuat pikiranku kacau setiap hari!'' Gumam arav lanjut mengerjakan beberapa berkasnya sebelum menjemput di depan gerbang wanita yang ia hubungi tadi.
***
Dua jam berlalu artinya sekarang sudah pukul dua belas tepat, Wanita yang dipanggil arav sudah berada didepan gerbang istana Gabrian.
''Ck.. dimana penjaga disini? rumah sebesar ini masa tidak ada penjaga nya sih?'' Decak kesal wanita itu
''Arav kemana sih lama banget enggak angkat telpon dariku!'' Gumamnya dengan menekan-nekan tombol di handphone mahalnya
Tak lama kemudian arav keluar dari mansion Gabrian dengan payung ditangannya, ia menghampiri wanita ini dengan tergesa-gesa lalu meminta maaf karena lama.
''Maaf tadi aku sedang bersama dengan tuan muda jadi tidak mengangkat telpon darimu!'' Ucap arav dengan menakupkan dua telapak tangannya
''Ya! lalu pekerjaanku apakah susah? aku hanya bisa memotong daging dan sayuran bukan memotong rumput halaman!'' Sarkas wanita itu dengan datar
''Kamu diminta oleh tuan muda untuk membimbing gadisnya memasak dengan cekatan dan juga rasanya pas. Gadis tuan muda saya itu tidak susah diajari dia cepat menangkap apa yang orang lain ajarkan namun jangan terlalu serius saat mengerjakan pekerjaan ini agar tidak bosan.!'' Ucap Arav melangkah membawa wanita itu keluar dari mobil dan menyeretnya masuk ke dalam
''Kamu sangat lama seperti siput! Diam dan ikuti.''
Mereka berdua meninggalkan area gerbang dan pergi ke arah dimana 'Dapur mini' yang disebut Gabrian berada. Walaupun namanya mini tetapi tetap besar dan juga perlengkapan serta barang-barang yang mengisi seluruh ruangan itu sangatlah mewah.
Wanita yang di panggil arav itu sampai terkejut melihat semua isi dapur. Walau arav juga sama terkejutnya karena baru pertama kali dirinya datang ke sini. Tadi di saat dipanggil Gabrian ia hanya ditunggu di depan ruangan itu bukan di dalamnya, siapapun yang melihat pasti juga akan sama terkejutnya seperti arav dan wanita itu.
'' Selamat siang tuan muda, ini teman saya yang sekiranya bisa membantu nyonya muda Arelea. Dia adalah chef dari beberapa resto bintang lima di daerah-daerah ternama disini'' Jelas Arav memperkenalkan wanita disebelahnya.
Yah, wanita itu adalah Athaya gadis bermata sipit yang menjadi chef dan akan menemani dan membimbing Arelea memasak.
Athaya menunduk hormat, ''Selamat siang tuan muda Gabrian.'' sapa nya
''Hmmm,'' Jawab Gabrian
Dia berjalan menghampiri sang kekasih.
''Sayang, apa kamu suka dengan pilihan arav?'' Tanya Gabrian dengan memeluk posesif pinggang Arelea
''Dia akan menjadi partner mu diarena dapur dan masak-memasak selanjutnya,'' Lanjut nya
Arelea yang sedari sudah berbinar menatap Athaya hanya mengangguk. Arelea sangat antusias untuk membuat sebuah makanan kali ini karena ada yang lebih profesional mendampingi nya.
''Hai kak, emm aku Arelea'' Ucap Arelea bertegur sapa
''Hai juga manis, aku Athaya kamu bisa memanggilku Atha'' Sapa balik Athaya dengan ramah juga senyuman khasnya
'' Baik kak Atha,'' Jawab Arelea
''Kak, aku tadi sudah membuat adonan Red Velvet Cake dan sekarang sedang di oven. Nanti kakak coba ya, hehe'' Ujar Arelea memberi tau
__ADS_1
''Siap manis,''
Telinga Gabrian yang mendengar panggilan Athaya kepada Arelea begitu lebih lucu pun panas. Namun ia membiarkan nya karena mereka hanya akan bertemu beberapa minggu sekali dan tidak memakan waktu yang lama.
''Wahh sudah matang, boleh aku mencobanya? Sepertinya dari penampilan luarnya saja sudah bagus kira kira rasanya juga akan mengimbangi'' Ungkap Athaya
''Boleh kak,'' Arelea langsung berlari kearah rak yang berisikan piring dan pisau
''Sayang hati-hati jangan berlarian!'' Tegur dari kekasihnya
''Iya kak,'' Jawab Arelea
''Ini kak, aku potongkan sekalian ya?'' Tanya nya dengan antusias
''Bole-'' Belum sempat menjawab Gabrian menyela ucapannya
''Sayang, aku juga mau di potongkan sekalian. Ya ya?'' Ucap Gabrian mendekap tubuh gadis itu dengan raut wajah agak manja
Arelea hanya tersenyum menanggapi wajah terkejut dari Athaya, ia tetap memotong cake nya itu menjadi dua bagian berbeda.
''Ini untuk kak Ian dan ini untuk kak Atha,'' gadis ini menyerahkan dua piring ke dua arah berlawanan
'' Terimakasih manis/sayang,'' Ujar mereka berbarengan
***
Di sore harinya Arelea dan Athaya menyiapkan makan malam untuk mereka ber empat, Setelah selesai acara masak-memasak selanjutnya mereka menghidangkan hasil karya makanan mereka di meja untuk dinikmati.
''Kak aku mandi dulu ya,'' Ucap Arelea
''Ya,''
Gadis ini menunggu di meja makan seraya memainkan ponsel pintarnya.
Tak butuh waktu lama Arelea dan Gabrian turun ke bawah dan juga arav dari lantai dua baru turun. Mereka bersamaan menuju meja makan dibarengi dengan canda tawa Arelea juga Gabrian.
''kak atha aku sudah selesai, ayo kita makan.'' Ujar Arelea
''Eh- iya,'' Jawab Athaya
Mereka mulai mencicipi semua makanan yang tersaji di atas meja dengan nikmat tanpa ada yang berkomentar.
Setelah selesai acara memasak dan juga makan Athaya di antar oleh arav ke luar lagi, Athaya tak mau diantarkan sampai di apartemennya karena takut bahwa lelaki itu mengetahui dimana ia tinggal. Setiap ditanya mengapa tidak mau diantar selalu dijawab takut dimarahi oleh kakak nya.
''Ya sudah hati-hati,'' Akhirnya arav menyerah
''Baiklah.'' Jawab gadis itu menaiki mobil dan langsung membelah tumpukan salju di jalanan dengan cepat.
''Ck..Dasar gadis itu, cepat sekali mengendarai mobilnya!'' Decak arav lalu masuk ke dalam mansion lagi
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
IG: @_fikria.ns