
...Happy Reading...
Pagi hari yang sangat cerah, walaupun udara dingin masih terasa menusuk di kulit tetapi tidak terpengaruh di pasangan yang satu ini.
Seakan dunia milik berdua, suara dering ponsel pun mereka hiraukan.
Drrttt... drrttt... drttt
Arelea terbangun dari tidur nya, ia mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya.
Ponsel kembali berdering, bersamaan dengan kesadaran Arelea sepenuh nya pulih.
''Siapa yang menelpon pagi-pagi begini ya?'' Gumam Arelea bertanya
Gadis itu menoleh ke arah samping dimana ponsel bergetar. Ternyata ponsel dirinya.
+1 646-9x8-x7x0
''Nomor tidak dikenal?'' Nomor asing menelpon dirinya
Ia mencoba mengangkat panggilan tanpa membangunkan pria nya. Duduk dengan perlahan dan juga melepaskan tangan Gabrian yang melingkar di perutnya dengan hati-hati.
''Hallo?'' Begitu panggilan tersambung
Tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat penasaran dengan penelpon ini.
Hening...
Hening...
''Maaf dengan siapa ya?'' Tanya Arelea
Hening...
Hening...
Arelea mengernyitkan dahinya.
''Maaf kalau tidak ada keperluan saya matikan, terimakasih.'' Ucap Arelea sopan
Belum sempat memencet tombol mati sang penelpon menjawab.
''Tunggu- jangan dimatikan!'' perintah nya
Suara lelaki? siapa dia?
''Maaf siapa ya kalau boleh saya tau?'' Tanya Arelea
''Apakah kamu bernama Arelea?'' Tanya pemuda dari seberang
Dengan keraguan ia menjawab,'' Iya''
Terdengar helaan nafas panjang dan juga sedikit nada bahagia pemuda itu meminta sesuatu kepadanya.
''Tolong simpan nomor ini dengan nama kak Alf dan jangan sampai hilang.''
Setelah mengatakan itu sambungan telpon terputus begitu saja. Arelea sedikit melebarkan mulutnya, mengapa orang ini begitu aneh pikirnya. Namun ia tetap menyimpan nomor itu dengan nama seperti yang orang aneh sebutkan tadi.
Tanpa curiga dan patuh Arelea hanya diam.
Kak Alf
Setelah menyimpan nomor asing itu Arelea membangunkan kekasihnya.
''Kak Ian, wake up.. wake up baby,''
Arelea mencium pipi Gabrian berulang-ulang harapnya segera bangun, tetapi ternyata Gabrian malah tidak bangun dan menikmati morning kiss nya yang tanpa diminta.
Arelea menyipitkan matanya, ''Ternyata sudah bangun ya?'' Tanyanya dalam hati lalu tersenyum, ia berniat mengerjai kekasihnya
Gadis itu mengambil handphone nya dan berpura-pura menelpon Pria misterius tadi.
''Hai kakak tampan,'' Guraunya berbicara sendiri
__ADS_1
''Bagaimana kab-
Gabrian merampas handphone itu dengan perasaan marah dan juga cemburu. Pria itu melempar asal ponsel Arelea dan langsung mengerucutkan bibirnya.
''Kenapa ponselku dilempar kak?'' Syok Arelea
''Huh, Kamu tadi bertegur sapa dengan siapa? Kenapa menyebutnya tampan..?''
Sungguh ekspresi ini sangat tidak cocok dengan pria tampan itu. Sangat cocok jika berwajah datar nan berekspresi dingin layaknya kulkas berjalan.
''Aku tadi hanya bercanda dan kenapa kakak malah berpura-pura tertidur? Bukannya tadi sudah bangun ya? Mau kiss?'' Goda Arelea memonyongkan bibirnya
Gabrian berbinar.
''Mau,'' Tanpa pikir panjang Gabrian langsung menyambar bibir tipis nan manis milik kekasihnya itu
Setelah dirasa nya puas Gabrian melepas lum**an nya dan juga menyeka sedikit Saliva nya disudut bibir Arelea dengan erotis.
''Sangat manis,'' Gumam Gabrian
Pria itu malah gencar menggoda Arelea yang tersipu malu.
''Mau lagi? atau mau yang lebih humm?'' Tanya Gabrian menggoda kekasihnya
''A-aaku mm mau m-mandi dulu kak,'' Arelea segera melepaskan diri dari gabrian dan berlari menuju ke kamar mandi tanpa membawa pakaian
Entah sadar atau tidak gadis itu baru saja meninggalkan sesuatu barang yang harusnya ia bawa di dalam lemari kecil.
''Aduh, aku lupa tidak membawa pakaian lagi. Bagaimana ini?'' Paniknya ketika sudah mengunci pintu dan melepaskan semua pakaiannya
''Kalau aku meminta kak Ian pasti akan sangat memalukan, '' Gumamnya dengan pipi memerah
''Kalau tidak meminta bantuan kak Ian aku juga nanti hanya memakai handuk,, aduh gimana ini.''
Diluar sana Gabrian tersenyum smirk, rupanya gadis kecil itu melupakan pakaian nya dan juga kimono nya. Ck ck pasti gadis manis itu akan meminta bantuan ku sebentar lagi, pikirnya.
Gabrian menyenderkan tubuhnya di headboard atau sandaran tempat tidur seraya memainkan ponsel pintarnya.
.
.
''Semoga nanti pas aku sudah selesai mandi dia sedang diluar.'' Pinta Arelea
Lima belas menit berlalu.
Arelea mengeringkan tubuhnya mengunakan handuk kecil yang berada di dekat kaca besar.
Ia sudah melilitkan handuk yang sedikit bisa menutupi area pribadinya. Arelea segera keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati Gabrian di kamar.
Syukurlah kak Ian sudah keluar
Dengan percaya diri Arelea berjalan tanpa mengendap-endap dan ia mengambil baju nya dengan posisi membungkuk, sehingga memperlihatkan paha mulus nya dan juga sedikit area pribadinya bawahnya yang terlihat.
Gabrian yang berada dibelakang Arelea pun menelan Saliva nya dengan susah payah. Disuguhkan dengan pandangan yang begitu menggiurkan seperti ini bisa membuat sesuatu didalam dirinya nya naik seketika.
You're so hot baby,
''Ehmmm'' Gabrian berdehem agak keras
Arelea mematung seketika.
Aduh kenapa kak Ian masih dikamar sih bukannya tadi sudah keluar ya.
Arelea memberanikan diri berbalik dan menatap Gabrian.
''E-hmm k-kak ii-ian,, emm a-aku kira k-akak di-luar...'' Ucap Arelea tergagap
Gabrian menatap intens Arelea, tunggu-tunggu bukan menatap Arelea tetapi menatap sesuatu yang menonjol di bagian dada gadis itu yang menyembul sedikit dari handuk kecil.
Sungguh sekarang ia menjadi pria cabul dan menjadi pedofil. Mencintai gadis yang usianya saja masih 18 tahun dan juga melihat area privasi anak-anak dengan intens.
''Emm b-bolehka-kah kakak keluar dulu,,?'' Pinta Arelea
__ADS_1
''Kenapa?'' Tanya nya santai, padahal dalam hatinya ia sudah berusaha menahan sesuatu
''A-aaku ingin memakai pakaian dulu.'' Ucap Arelea dengan menyatukan dua telunjuknya
Shitt! you so cute,
Tak tahan dengan godaan didepan mata Gabrian segera keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan sedikit keras.
''Damn, dia sangat menggairahkan.'' gumam Gabrian dengan wajah yang sudah merah padam
Sedangkan didalam kamar Arelea segera memakai pakaiannya dan juga berpikir apakah kekasihnya itu marah kepadanya atau tidak.
''Jika kak Ian marah nanti biar aku membujuknya,'' Good idea!
.
.
.
.
.
Semua keluarga Gabrian sudah berkumpul di ruangan besar di pesiar mewah dengan menyantap berbagai makanan seafood dan juga tentunya sangat mahal.
''Pagi kak Ian!'' Sapa Melia begitu melihat Gabrian datang
''Kakak cantik yang tadi malam itu dimana kak?'' Tanya nya,
Gadis ini rupanya ingin berguru kepada calon kakak ipar nya itu tentang kecantikan. Gadis kecil ini sangat mengagumi kecantikan alami Arelea yang begitu sempurna bak seorang bidadari. Meskipun dirinya sudah cantik tetap saja ia ingin lebih dekat dengan arelea meskipun dengan alasan aneh.
''Pagi. Arelea sedang berganti pakaian,'' Ucap Gabrian lalu duduk di kursi kosong sebelah mommy nya
''Baiklah, oh iya kak Ian. Apa kakak sudah membuatkan aku adik?'' Tanya Melia menggoda kakak nya
Selepas bertanya tadi malam ia juga menanyankan hal serupa kepada Nathan yang dibalas dengan kata-kata yang meracuni otak suci adiknya.
''T-tidak. Jawab Gabrian gugup
Belum sempat Melia bertanya lagi Arelea terlebih dahulu datang dan juga menyapa semua orang.
''Pagi semua, maaf saya terlambat datang.'' Ucap Arelea sopan
''Tidak apa-apa nak, duduklah disebelah gabrian.'' Ujar nenek Gabrian yang bernama Diana Taran
Gabrian saja sudah mendapatkan lampu hijau dari seluruh keluarganya untuk menikahi gadis yang pria itu cintai. Tinggal besok jika orang tua Arelea menemukan gadis ini Gabrian akan meluluhkan semua anggota keluarga Arelea juga.
Mendapatkan lampu hijau untuk melamar gadisnya itu tentu sangat tidaklah mudah. Ia bahkan rela menyerahkan beberapa anak perusahaan nya kepada kakeknya untuk menguji seberapa cinta Gabrian kepada gadis itu. Ternyata memang benar, cucunya ini sama sekali tidak perduli dengan hartanya.
''Jangan pernah sakiti hati perempuan, jika gadis itu baik dan berperilaku sopan maka baikilah mereka juga dan hargai mereka. Jangan pernah sekali-kali berhianat darinya, keluarga kita mengajarkan sebagai lelaki harus setia di setiap saat.'' Nasihat dari kakek Tian tadi malam untuk Gabrian dan Nathan, kakek tahu betul bagaimana kelakuan Gabrian dan Nathan.
Jika Gabrian adalah orang yang gila dengan kerja maka Nathan adalah pria yang gila dengan tubuh gadis-gadis cantik untuk ia tiduri kapan saja dan bahkan dengan rela mereka melemparkan tubuhnya ke pelukan Nathan.
Back to story'.
Mereka menikmati makanan dengan diam dan tanpa suara. Bahkan Melia yang sedari tadi mengoceh dan bertanya sekarang memilih diam dan memakan seafood didepannya.
...***...
...Love needs a struggle and also a process in order to reach a happy ending....
...Cinta butuh perjuangan dan juga proses untuk mencapai akhir yang bahagia....
.
.
.
.
(Besok aku buat novel nya cerita tentang Nathan tetapi saat karya ini sudah tamat, gimana?) Coba jawab comment 🤩
__ADS_1
Bersambung....
IG: @_fikria.ns