
...Happy Reading...
Detik berganti detik menit berganti menit jam berganti jam juga hari berganti hari. Tak terasa sudah dua hari berlalu sejak Gabrian datang ke Mansion Arelea.
Malam ini seharusnya malam pertunangan yang di rencanakan Gabrian dan keluarganya juga mengundang ayah dan ibu Arelea untuk perjamuan bisnis, hanya tipuan.
Lebih tepatnya di mansion besar Arelea, gadis itu sedang memasak pagi bersama dengan kakaknya, Delin .
Gadis itu sangat bersemangat pagi ini, entah kenapa Delin tidak mengetahui itu.
Jika bukan karena keluarganya untuk menuntutnya untuk bertunangan dulu, Gabrian tak akan sungkan langsung menikahi nya beberapa hari terakhir ini.
Untuk menjadi menantu yang baik, dia harus memiliki kesan bagus di depan keluarga Ainsley. Bagaimana pun juga, Arelea hanya miliknya dan akan selalu menjadi miliknya tanpa alasan apapun.
Delin berserta Arelea tengah fokus dan telaten memasak, sesekali berbicara.
''Ada acara apa nanti ya Lea? kenapa tiba-tiba bunda memberi tahu mendadak?'' Tanya Delin
Arelea mengerutkan kening. Sudut bibirnya tanpa sadar berkedut. Hari ini memang hari dimana hal itu akan dilakukan, tepatnya malam ini. Dia sebenarnya agak tidak peduli dengan hal lain saat memasak seperti ini, terlalu tidak fokus membuat masakan jadi tidak enak.
Walaupun satu bunga tumbuh dikepalanya (sedang dalam suasana hati yang sangat baik), Arelea tetap menjalankan hari-hari sebelumnya dan sekarang dengan sangat baik, walaupun setiap saat hatinya berdebar.
''Entahlah kak, aku juga tidak tahu.'' Jawab Arelea
Delin hanya mengangguk sebagai jawaban.
''Entah apa yang direncanakan papa dan bunda kali ini. Semoga bukan hal-hal yang tidak baik.''
''Iya kak,'' Jawab Arelea
Arelea akan menjawab apapun singkat jika sedang dalam kondisi memasak. Ini salah satu kebiasaan yang sedari dulu tidak pernah dia hilangkan.
Gadis itu jadi terpikir dengan seorang wanita yang dulu mengajarinya memasak, seperti apa orang itu sekarang. Apakah sudah menjadi koki terkenal?.
***
Setelah selesai memasak keduanya menyiapkan makan di meja dengan rapih. Bunda Tasya pergi keluar pagi-pagi sekali untuk mengelilingi mansion nya, bersama dengan papa Andreas tentunya. Dua orang itu bagaikan air titik ke batu (tidak bisa dipisahkan).
Setelah selesai memasak, keduanya kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dari bau asap-asap sisa memasak tadi.
''Lea, pinjam kan kakak setelan hitam mu sekalian topi dan masker hitam ya. Kakak kemarin mau beli tetapi lupa.'' Ucap Delin sebelum Arelea masuk ke kamarnya
''Baiklah, aku ambilkan dahulu.'' Sebelum pergi Arelea berbalik
''Untuk apa sih kak? memata-matai kak El ya?'' Goda Arelea
Setelah Delin sering bercerita tentang Samuel, gadis itu tidak memakai kata 'tuan' lagi untuk memangil nya.
__ADS_1
Delin tersipu.
''M-mana ada''
''Kakak hanya ingin memakai saat nanti di acara malam dengan teman-teman kok. Karena kakak tidak memiliki pakaian anak tomboy jadi pinjam milikmu, i-iya karena itu. Aku kan anak feminim, jadi di lemari ku hanya ada dress dan juga pakaian rumah.'' Kilah nya
''Benarkahh?'' Tanya Arelea dengan nada menggoda
''T-tidak, s-ssudahlah. Mana setelan nya?'' Tanya Delin tak berani menatap mata Arelea yang penuh dengan banyak juta pertanyaan dan ungkapan untuk menggoda dirinya
''Oke, tunggu sebentar.'' Ucap Arelea masuk ke dalam
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di sebuah Apartemen milik Gabrian yang baru ia beli setelah pulang dari rumah Arelea, dua hari lalu. Terlihat sepasang suami istri sedang bermesraan di depan anaknya. Siapa lagi kalau bukan Drax dan Kimberly juga anaknya, Gabrian.
Pria itu sampai jengah melihat sang ayah begitu manja dan begitu cemburuan kepada ibu nya. Meski mungkin setelah menikah dengan Arelea, dirinya juga sama seperti itu. Setidaknya tidak terlalu diumbar di depan anak nya hingga membuat iri seperti ini.
''Tidakkah kalian ingat diriku ini?'' Tanya Gabrian datar
Drax menoleh dan mencibir, ''Tidakkah kamu mempercepat pernikahan mu dengan gadis mu itu?''
Gabrian bungkam. Mungkin ini yang dia mau, tetapi ada alasan lain nya sehingga dia dan Arelea tidak bisa menikah di antara satu atau dua bulan ke depan. Mungkin jika dalam waktu dua Minggu dia bisa memiliki restu dari keluarga Arelea, dua bulan lagi akan terjadi pernikahan itu.
''Sudahlah, Bagaimana? Apakah kamu sudah siap untuk nanti malam?'' Tanya Kimberly menengahi perdebatan anak dan ayah itu
''Ya mom, Aku tidak pernah tidak siap dalam mendapatkan impianku!'' Ujar Gabrian datar
''Mom, aku ke kamar dulu.'' Ucap Gabrian bangkit dari tempat duduk nya
Kimberly mengangguk dengan tersenyum. Sementara Drax hanya mengacuhkan anaknya, sungguh ayah yang sangat acuh tak acuh terhadap anaknya.
Gabrian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Pria itu lalu mengambil handphone di saku celana nya dan menelpon gadis kesayangannya.
''Semoga tidak sibuk.'' Gumamnya
''Hallo kak?''
''Hallo sayang, sedang sibuk tidak?'' Tanya Gabrian
''Ini lagi mencarikan baju untuk kak delin, mau jadi Intel buat kak Samuel dia.'' Ucap Arelea lirih menahan tawa
''Ohh.. baiklah, nanti kalau sudah tidak sibuk telpon balik ya!'' Perintah Gabrian
''Siap kak, bye honey''
Kemudian Arelea mematikan telpon sepihak setelah mengucapkan kata singkat namun membuat Gabrian bungkam seribu bahasa, itu sangat menyentuh hatinya.
''D-dia,'' Syok Gabrian tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba saja banyak kupu-kupu bertebaran di pikirannya. Satu bunga tumbuh dikepalanya lagi (sedang dalam kondisi hati yang sangat baik).
__ADS_1
***
Setelah selesai mengambilkan baju untuk Delin dan juga bertelepon ria dengan Gabrian, Arelea merebahkan tubuhnya di ranjang queen size nya. Menatap langit pagi yang indah.
Apakah kehidupan ku kedepannya akan sama seperti langit cerah diluar sana?.
Kita tahu bahwa langit yang cerah juga pasti akan mendung dan hujan bahkan disertai petir. Begitu juga kehidupan, tidak selamanya cerah dan pasti juga akan ada badai di dalam suatu kehidupan. Meski kita sudah berencana untuk kehidupan kedepannya, namun jika tuhan tidak berkehendak maka kita bisa apa.
Arelea segera membersihkan diri dan juga memakai pakaian yang seperti biasanya, tomboy. Gadis ini sangatlah bertemperamen layaknya pria di-luar sana, hanya saja wajahnya sangat elegan dan juga rupawan.
Setelah selesai membersihkan diri, Arelea turun ke bawah untuk menikmati makan bersama dengan orang tuanya yang baru saja pulang dari joging di luar.
''Kakakmu mana sayang?'' Tanya Andreas kepada anaknya
''Sedang mandi pa,'' Jawab Arelea
Gadis itu mengecup pipi sang ibunda dan juga sang ayah secara bergantian. Gadis yang baik.
Delin turun dengan menggunakan baju stelan yang Arelea berikan tadi. Sudah seperti mafia saja. Hitam-hitam dari atas sampai bawah, Bahkan sepatu nya juga sepatu boot hitam dan juga dilengkapi kaca mata hitam yang sangat cocok dengan gadis itu.
''Astaga, kamu mau kemana?'' Tanya Tasya kaget begitu juga Andreas
''Kakak akan menjadi Intel untuk calon suaminya Bun, pa'' Jawab Arelea ringan, seakan itu hanya lah hal yang tidak perlu disembunyikan.
Delin mendesis ringan, gadis itu selalu saja menjadi bocor mulut jika didepan ibu dan ayahnya. Sepertinya lain kali dia tak akan bercerita tentang masalah percintaan nya kepada adiknya lagi.
''Benar begitu sayang?'' Tanya Tasya ikutan menggoda
Hanya Papa Andreas saja sekarang yang bisa Delin andalkan. Segera merengek dan juga meminta agar Adik dan bunda nya berhenti mengejeknya dengan tatapan mata anjing nya (puppy eyes).
Akhirnya perdebatan keluarga kecil itu berakhir dengan Arelea sebagai pemenangnya. Selalu unggul dalam perdebatan, Arelea.
***
Arelea telah mempersiapkan diri untuk nanti malam begitu juga Gabrian. Gadis itu sudah menyiapkan gaun spesial untuk dia pakai di acara nanti malam, biarkan menjadi kenangan nantinya.
Juga Gabrian sudah menyiapkan stelan jas tuxedo formal miliknya yang sudah sedari dulu ia persiapkan untuk di acara pernikahan nya dengan Arelea.
Semoga semuanya berjalan sesuai rencana. Batin Arelea dan Gabrian bersamaan walau dalam tempat yang berbeda.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
IG:@_fikria.ns