
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Tepat tiga hari setelah Delin menelpon Arelea. Arelea yang sudah berjanji dengan Delin memutuskan untuk pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Gabrian ataupun bodyguard pria nya.
Untungnya Gabrian pagi-pagi buta sudah pamit kepada Arelea untuk ke perusahaan mengurus sesuatu. Jadi mungkin halangan satu-satunya yang harus ia lewati adalah para bodyguard didepan pintu gerbang. Bagaimanapun caranya.
Mereka sudah pulang ke rumah masing-masing dikarenakan jadwal pertemuan perusahaan makin padat walaupun cuaca sedang tidak sinkron. Badai salju memang sudah agak berlalu tetapi masih dibeberapa bagian termasuk mansion Gabrian turun salju walau tidak begitu lebat.
''Aku harus bersiap sekarang.'' Gumam Arelea
06.55 Am
Arelea melihat jam ternyata sudah waktunya ia memulai berdandan. Meskipun tanpa menggunakan make-up dirinya sudah cantik, Arelea menggunakan t-shirt tebal berwarna hitam dan juga tak lupa membawa syal berwarna senada untuk digunakan menutupi wajahnya.
Gadis ini bercermin.
''Perfect,'' Ucapnya
Arelea sengaja tidak menggunakan lift karena saking takutnya ia kena marah Gabrian dan dilarang pergi menemui Delin. Sebenarnya Arelea tak ingin menemui Delin tapi mendengar ucapan serius gadis itu membuat nya berpikir ulang.
Mengendap-endap seperti maling, melihat kanan kiri takut ada yang menegurnya. Itulah yang Arelea lakukan sekarang.
Tak tahu saja dirinya diawasi oleh kamera pengawas yang dua puluh empat jam menyala di setiap sudut ruangan.
''Hah, Finally!'' Pekik nya girang saat sudah berhasil keluar dan berada di depan mansion
Ia mengecek handphone nya, melihat dimana area yang gadis kemarin berikan. Ternyata sebuah cafe dekat mansion Gabrian. Dia akan jalan kaki saja lah.
''Kira-kira paman bodyguard itu mengetahui ku tidak ya?'' Gumam Arelea celingukan
Setelah beberapa kali Arelea melihat ternyata para bodyguard didepan sedang beristirahat meminum coffee dan juga mengamati luar tanpa ada satupun yang berbicara, semua berwajah datar.
''Aku harus bagaimana agar bisa keluar dari sini?'' Gumamnya
Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran nya untuk menjatuhkan barang di seberang agar para bodyguard itu masuk dan memeriksa nya. Setelah itu ia bisa pergi dan tanpa pengawasan.
Prannngg..
Suara pecahan guci hancur membuat para bodyguard lari dengan mengeluarkan pistol dari saku nya. Takut nya ada penyusup masuk.
''Siapa di sana!!''
Teriak bodyguard berkepala plontos dengan dingin seraya menodongkan senjata api itu ke arah guci yang sudah tak berbentuk lagi.
''Kesempatan,'' Gumam Arelea lalu berlari kecil melewati para penjaga itu seperti ninja.
Secepat angin Arelea sudah berada di depan gerbang, berkat akal tak biasanya itu dengan membuat onar.
''Kira-kira cafe ini letaknya dimana ya kok aku belum pernah melihatnya,'' Tanya Arelea dalam hati
Cafe Milano Roastery, road xx.
Dengan menggunakan maps nya ia berjalan santai menuju cafe itu, tanpa memperdulikan dinginnya suhu pagi ini.
Setelah duduk di satu kursi Arelea didatangi pelayan dan membungkuk. Pelayan itu menyerahkan menu list kepada gadis didepan nya.
''Maaf kak, aku pesannya nanti saja ya. Aku memilih-milih dahulu,'' Ucap Arelea tak enak hati
''Baik nona, menu list ini saya tinggal. Jika sudah memilih panggil saya lagi, terimakasih.'' Ucapnya dengan sopan lalu pergi
Arelea menunggu Delia dengan memainkan ponselnya juga sesekali ia melirik ke arah pintu masuk.
***
__ADS_1
Meninggalkan Arelea yang sedang menunggu di meja cafe, Sekarang Gabrian di dalam perusahaan nya tengah meeting dengan investor nya.
''Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada semua karena sudah hadir pagi-pagi begini, dan saya juga meminta maaf karena pagi ini saya harus terbang ke negara S untuk urusan keluarga.'' Seorang pria muda itu menjelaskan kronologi nya karena rapat dimajukan
''Tidak usah bertele-tele, saya disini akan membahas beberapa proyek perpustakaan yang akan dibangun di tengah kota ini dengan biaya yang tidak sedikit. Apakah ada yang berminat untuk bekerja sama membangunnya? Anak-anak di kota ini harus lebih tekun membaca maka dari itu kita sebagai yang lebih dewasa harus memberikan ajaran untuk mereka lewat buku-buku yang akan kita produksi nanti.'' Jelasnya lagi
''Bagaimana tuan muda Gabrian? Apakah anda tertarik? Dan bagaimana Mr.Barreto apakah ingin menginvestasikan dana untuk perpustakaan yang akan kita bangun kali ini?''
Gabrian masih berpikir. Ia memang tertarik membuat perpustakaan lagi namun kali ini berbeda, perpustakaan yang ia dirikan satu tahun lalu belum cukup banyak anak-anak yang mendatanginya karena memang ditempat yang agak jauh dari kota.
''Ya, saya setuju Mr.Jordan '' Ucap Mr. Barreto
''Bagaimana tuan muda Gabrian?'' Tanya nya sekali lagi karena Gabrian masih saja diam
Gabrian mengangguk kecil, ''Baiklah. Dalam dua tahun ini perpustakaan itu harus sudah jadi.''
''Bagaimana apa sanggup?'' Tanya Gabrian
''Semoga tuan, mungkin satu tahun saja sudah bisa kita pakai. Asalkan investasi kita berjalan dengan lancar, Mr.Barreto dan Tuan muda Gabrian.'' Ujar Mr.Jordan
''Baik, saya sudah deal.'' Mereka bersalaman ala lelaki
Setelah selesai arav yang berada disampingnya memberikan informasi yang mana membuat nya kaget setengah mati.
''Tuan muda, nona Arelea pergi menemui nona muda dari keluarga Ainsley yang bernama Delin di cafe Milano Roastery.'' Ucap Arav
''Kenapa bisa dia keluar mansion? Apa penjagaan di sana tidak ada! Kemana para bodyguard yang sudah aku bayar itu hah!! Bisa-bisanya mereka tidak mengetahui nona muda nya pergi tanpa mengawasi nya!'' Geram Gabrian berteriak kepada arav
Arav tersentak kaget.
''Maaf tuan muda, nona Arelea tadi pergi secara diam-diam dan mengelabuhi para bodyguard dengan memecahkan guci yang di depan pintu mansion.'' Jelas Arav, ia takut sekarang pasti sasaran amukan tuan muda nya lagi.
Nona muda tolong jangan membuat tuan muda emosi, saya akan menjadi sasarannya.
Arav tetap mengikuti tuan muda nya yang melangkah lebar sampai ke mobil, pria itu bahkan mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Arav mengejarnya menggunakan mobil pribadi kantor nya dengan menahan sakit di perutnya akibat pukulan Gabrian yang cukup kuat.
''Saya merasa nona Arelea tak tahu bahaya apa yang akan menghampiri nya.'' Ujar Arav prihatin
***
~C**afe Milano Roastery
Seorang gadis cantik baru saja keluar dari mobilnya dengan seorang wanita paru baya yang wajahnya masih belum ada kerutan sama sekali.
Mereka sedang mencari gadis yang bernama Arelea di dalam cafe.
''Arelea, kamu dimana?'' Tanya gadis itu disambungkan telpon
''Aku duduk di sudut ruangan, d****.'' Arelea menjawab
''Baiklah jangan pindah, saya sudah sampai!'' Ucap gadis cantik ini, lalu mematikan telpon.
''Bagaimana sayang, di mana dia?'' tanya wanita disebelahnya
''Dia berada di sudut ruangan cafe ini bun.'' Mereka berdua pergi masuk, dan berjalan menuju sudut ruangan.
Terlihat gadis cantik yang sedang membaca menu list ditangannya, masih menggunakan syal juga karena rambut pirang nya yang menutupi wajahnya. Jadi tidak terlihat begitu jelas.
''Arelea?''
Arelea mendongak, ia seperti mengaca melihat gadis didepannya. Mengapa sangat mirip denganku tetapi dia seperti lebih tua dariku, pikir Arelea.
__ADS_1
''Apakah kamu Delin?'' Tanya Arelea
''Ya benar.'' Ucap Delin, sedangkan bunda nya nampak membisu.
Ini bukanlah pertemuan pertamanya dengan anak nya yang paling akhir, namun ini adalah first time nya bertemu dengan anaknya itu dengan semua informasi yang sudah diketahui.
''Silahkan duduk dulu Delin dan nyonya-
''Ini bundaku, Bunda Tasya.'' Ujar Delin memperkenalkan bundanya
Kakak harap kamu bisa menerima kami, maafkan kami baru bisa menemui mu sekarang, Adik.
Mereka pun duduk di bangku yang berhadapan.
''Jadi perkenalkan dulu aku Delin dan aku berasal dari Negara A yang ke negara ini untuk mencari seseorang.''
Arelea menganggukkan kepala, tanpa menyela pembicaraan.
''Dan seseorang itu sudah kami ketahui dan kamu tahu siapa orang itu.'' Ucapnya
Arelea menunjuk dirinya sendiri dengan jari, ''Aku?'' Herannya
''Ya!''
''Tapi aku merasa tidak kenal orang yang kalian cari, maaf'' Ujar Arelea
''Kamu sangat kenal karena orang yang kamu cari itu adalah..''
''Siapa kak delin?''
''Kamu Arelea,'' Jawab bunda Tasya menyela
Arelea syok, apakah orang tuanya memiliki hutang piutang kepada orang didepannya ini sampai-sampai ia dicari untuk melunasinya. Kalau iya pun ia akan bertanya terlebih dahulu kepada mereka dimana orang tua nya berada.
''Apakah orang tua ku memiliki hutang kepada kalian?'' Tanya Arelea hati-hati
Mereka tersedak air liur nya sendiri.
''T-tidak,'' Bagaimana bisa memiliki hutang kepada diri sendiri, sayang.
''Lalu?'' Tanya Arelea dengan membuka syal nya
Sangat mirip. Itulah kata yang mewakili mereka. Delin terkekeh, ia tak menyangka adiknya se-polos ini.
''Boleh kah aku memelukmu sebentar?'' Tanya Tasya tiba-tiba
''Emm boleh nyonya,''
Tasya langsung menghambur kepelukan sang anak, Tasya begitu tak menyangka bahwa dia bisa bertemu anaknya disini. Tepat dia dan keluarga sedang berlibur dan juga bersamaan dengan mencari anaknya. Sangat membuahkan hasil.
''Arelea, sebenarnya kami ini adalah kel-
''ARELEA!!'' Sebelum Tasya menyelesaikan ucapannya seorang pria memotong nya dan juga berjalan tergesa-gesa menatap mereka satu persatu dengan amarah yang tersulut.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
IG:@_fikria.ns