Gadis Milikku

Gadis Milikku
Chapter 23. A piece of gabrian's dark story


__ADS_3

...HAPPY READING...


Hari Sabtu pun tiba, Gabrian berencana akan mengajak Arelea keluar untuk sekedar menghilangkan rasa jenuh di dalam rumah dengan pergi ke pantai. Gabrian sudah memberi tahu Arelea bahwa besok akan pergi ke pantai, tentunya disambut riang gembira oleh Arelea karena ia sangat suka dengan pantai apalagi jika melihat matahari terbit dan matahari tenggelam. Ia suka melihat itu karena memang daerah panti asuhan yang ia tinggali dahulu tepatnya di dekat pantai yang lumayan sepi mungkin memang di khususkan untuk para warga terdekat dan kebebasan anak panti. Ia lebih suka melihat matahari terbenam karena banyak dari teman teman nya juga ikut melihat, jika ingin melihat matahari terbit maka ia harus berjanjian terlebih dahulu untuk dibangunkan oleh teman sekamar nya yang mempunyai kewajiban beribadah di pagi buta.


Gabrian sudah mulai mengerjakan berkas nya di rumah karena jika lama lama didalam ruangan kantor Arelea tidak ada rasanya sepi seperti sebelum mengenal Arelea. Ia mau setiap saat dimana ada dirinya juga ada sang pujaan hatinya, Memang terlalu lebay tapi itulah Gabrian setelah me-cap seseorang menjadi miliknya atau buronannya maka ia tak akan melepaskan nya walau selangkah keluar dari jangkauan dirinya pun.


Gabrian adalah orang yang jika sudah memiliki sesuatu akan dijaga seperti menjaga hidupnya, karena apa? ia takut kehilangan seseorang yang ia cintai dan ia sayangi untuk kedua kalinya. Ia pernah memiliki seorang adik perempuan yang begitu menggemaskan dan masih kecil, pada saat itu usia Gabrian baru memasuki 7 tahun dan adiknya dua tahun lebih muda darinya.


~Alur mundur~


18 years ago....


Gabrian dan adiknya yang bernama Briana sedang bermain bersama di taman belakang mansion keluarganya. Pada saat itu adiknya berusia 5 tahun dan dirinya berusia 7 tahun, mereka bermain hingga terlihat wajah bahagia dikedua bocah yang sedang bermain jungkat jungkit dan ditemani oleh dua pengasuh baru yang satu Minggu lalu bekerja di mansion dirinya.


''Hahhaa... ayo kak kita main di sana!'' seru gadis kecil itu mengajak sang kakak yang masih asik dengan buku pelajaran dan perbisnisan nya itu.


Gadis itu mendengus sebal karena ucapannya tak dihiraukan oleh kakak nya. Gadis itu lalu memukul mukul lengan sang kakak yang masih pura pura tak mendengar ucapan sang adik nya. Anak lelaki itu sangat suka melihat ekspresi adiknya yang cemberut hingga menangis dan mengadu kepada orang tuanya. Ia memang sangat jahil terhadap adiknya tapi itu tak mengurangi rasa sayang dirinya terhadap adiknya itu.


Anak lelaki itu terkekeh pelan, ''Kenapa adik ku sayang hmm?'' tanya nya gemas dengan muka kesal sang adik


''Ishh.. kakak tuh kalo ada orang yang bicara didengerin jangan di diemin, aku ngambek huh!'' ketus nya lalu meninggalkan lelaki tampan yang sedang terkekeh geli dengan langkah lebar memasuki mansion belakang untuk mengadu kepada daddynya.


''DADYY... KAKAK JAHAT SAMA AKU HUAAAA,'' Teriak Briana melengking ditelinga Gabrian dan beberapa maid yang berlalu lalang


''Bocah itu sampai kapan gak teriak teriak sih kalo lagi ngambek,'' gerutu Gabrian lirih


Tiba tiba mommy nya keluar dari dalam untuk menemui anak gadisnya yang masih pura pura menangis untuk mengadu kepada mommy atau Daddy nya, Gabrian yang sudah terbiasa dengan tingkah laku adiknya itu hanya menatap datar. Ia sudah terbiasa mendengar Omelan sang mommy jika adiknya dijahili atau memang adiknya itu suka melihat kakaknya terkena Omelan sang mommy.


''Ya ampun anak mommy kenapa sayang??'' tanya Kimberly khawatir pada anaknya, walaupun sudah terbiasa dijahili oleh sang anak pertama tetap saja ia khawatir dengan putri kecilnya itu.


Briana mendongak lalu berkata, ''Huaaa... mommy kak Ian tadi gak mau diajakin main.'' sambil menangis


''Cup cup cup sayang... sudah tidak usah menangis lagi, kakakmu itu pasti sedang membaca buku lagi?'' tanya Kimberly


Briana mengangguk lucu sehingga membuat Kimberly terkekeh, ia memang sudah terbiasa dengan sikap dan tingkah laku kedua anaknya yang sangat sangat ia sayangi melebihi apapun itu, kadang kala ia bersikap lembut marah dan seperti emak emak kompleks sebelah yang suka ngomel-ngomel gak jelas(wkwk).


''Yasudah sayang ayo kita masuk. Kita bereskan mainan-mu yang berserakan.'' ucapnya


''Oke mom''


''Ya ampun Gabrian kalau sudah selesai membaca buku itu juga dikembalikan seperti semula jangan berceceran dimana-mana seperti ini sayang!'' omel Kimberly pada Gabrian sebelum melangkah masuk kedalam.


''Iya mom nanti juga aku beresin,'' kata Gabrian lalu menata buku yang ia baca tadi dengan rapi dan meminta salah satu pelayan lelaki membantu mengangkat buku itu masuk ke dalam mini library yang berada di kamarnya.


Nah!! Jadi tau kan dari mana asal-usul Gabrian membangun perpustakaan? itulah, karena ia sedari kecil memang suka membaca buku. Maka dari itu dirinya ingin orang lain membaca buku dan menjadi orang penting seperti dirinya! Jadi kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia maka kita harus juga mempelajari tentang sesuatu yang berharga untuk diri sendiri dan juga masa depan. Karena kita tidak tau kan apa yang akan terjadi dimasa depan kalau kita dari sekarang tidak belajar, seperti pepatah mengatakan 'Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai'.


Back°°


Keesokan pagi nya Gabrian seperti biasa sudah dengan setelan seragam khas sekolah dasar dengan cool dan juga adiknya siapa lagi kalau bukan Briana si gadis jahil, sudah memakai lengkap seragam sekolah nya.


''Pagi mom, dad, sayang!'' sapa Gabrian lalu duduk disebelah adiknya


''Pagi juga sayang/kak '' ucap mereka bersamaan


Lalu merekapun makan bersama dengan beberapa hidangan mewah yang terpampang didepan mereka dengan lahap dan tanpa suara.


Setelah selesai Gabrian dan Briana meminta izin untuk berangkat ke sekolah bersama sang supir. ketika didepan rumah,''Mom dad kita berangkat dulu ya,'' ucap mereka bersamaan


''Iya sayang... hati hati ya!'' khawatir Kimberly karena biasanya mereka tak mau diantar dengan supir dan kebiasaan diantar oleh Daddy sekalian berangkat ke kantor.


''Apa gak Daddy antar aja son?'' tanya Daddy nya tak kalah khawatir dari sang istri


''Enggak usah mom dad, tenang aja aku kan dijagain kakak. Iya kan kak?'' dibalas anggukan singkat oleh Gabrian

__ADS_1


''Yasudah terserah kalian saja. Hati hati ya!'' Lalu Gabrian dan Briana mencium tangan kedua orangtuanya dan masuk kedalam mobil.


''HATI HATI SAYANG,'' teriak Kimberly nyaring


''IYA MOM'' jawab keduanya kompak juga sambil berteriak. Awalnya mobil yang mereka tumpangi memang berjalan seperti biasa melewati beberapa ruko dan rumah besar karena memang jalan di sana seperti itu namun, tiba di dekat hutan sang sopir malah masuk ke hutan belantara sehingga membuat kedua anak itu bingung dan panik.


''Loh pak kok ini malah masuk hutan?'' tanya Gabrian heran seraya melihat beberapa pohon pohon besar disekitarnya


''Iya kak, kok malah masuk ke hutan?'' sahut Briana belum menyadari jika mereka akan diculik


Sementara supir itu memang memakai topeng dari supir asli keluarga Gabrian pun langsung tertawa terbahak hingga membuat Briana panik tetapi tidak dengan Gabrian yang masih memikirkan sesuatu.


'apa aku dengan adik ingin diculik? tapi inikan supir yang biasa mengantar Daddy kemana mana!' benaknya masih bertanya bingung sampai lah mereka di gudang besar tempat penyimpanan narkotika, psikotropika, dan obat obatan lain yang dilarang oleh negara.


''Sudah sampai anak anak manis.'' ucapnya membuka topeng yang ia kenakan membuat kedua anak manusia dibelakang terkejut


''Kamu!!'' Seru mereka berbarengan


''Iya kenapa ha?'' emosi nya langsung meluap ketika mendengar keluarga besar Atkinson selalu bahagia apalagi dengan kedua anak yang pintar dan cerdik seperti Gabrian dan Briana.


''Heh kamu itu rekan bisnis Daddy yang sombong itu kan?'' bentak Gabrian emosi kepada lelaki dewasa di depannya itu


''Hahaha... ingatanmu lumayan bagus juga bocah!'' ucapnya diiringi tawa menggelegar didalam mobil itu.


Gabrian langsung mencoba membuka pintu untuk dirinya dan adiknya agar terhindar dari manusia yang mempunyai rasa obsesi dengan harta ini sambil menenangkan adiknya yang mulai matanya berkaca kaca.


''Tenang sayang, kakak selalu ada di dekatmu'' ucapnya lirih dengan nada pasrah karena tenaganya masih kecil untuk membuka pintu yang sangat kuat itu


''KENAPA BOCAH!! KAMU MAU KELUAR DARI SINI HAA? BERMIMPI SAJA KAMU. HAHAHAHA'' teriaknya lalu memanggil beberapa anak buah nya untuk menyeret kedua bocah itu.


Beberapa lelaki berbadan kekar langsung mendekat dan membuka mobil dengan kasar sehingga membuat pintu itu sedikit lecet dan menyeret kedua bocah itu dengan kasar layaknya menyeret hewan.


''Lepaskan adikku.. lepaskan dia.. lepaskan adikku heyyy'' ungkap Gabrian sedih melihat adiknya di seret dengan begitu kasar


''KAKAK TOLONG AKUU!!'' jeritan itu semakin melengking didalam gudang besar itu sehingga membuat dirinya tak fokus terhadap cambukan yang mengenai tubuhnya. Ia sudah tak merasakan jika tubuhnya tersayat sayat hingga mengeluarkan darah segar yang kental. Baju sekolah yang semula berwarna putih itu seketika berubah menjadi merah darah.


''Ya tuhan tolong adikku, berikan pertolongan untuknya'' doa nya lirih berharap adiknya diselamatkan, ia sudah tak sanggup melihat adiknya yang sedang dihukum seperti dirinya


''HAHA BOCAH SIALAN!! KENAPA KALIAN MENJADI ANAK PINTAR HA? KALIAN TIDAK BOLEH MENJADI PEWARIS DARI KELUARGA ATKINSON ITU!! ANAKKU YANG AKAN MENJADI PEWARIS NYA HAHAHA... SEBENTAR LAGI SEBENTAR LAGI, JIKA KALIAN MATI DISINI AKU AKAN LEBIH GAMPANG MENGUASAI HARTA KELUARGA ITU HAHAHHAA'' tawanya begitu menggelegar hingga terlihat otot tegang diwajahnya.


''Hiks..hikss..hikss mommy tolong ana, ana masih mau bermain dengan mommy daddy dan kakak... ya tuhan tolong selamatkan kami berdua dari manusia iblis ini hikss~'' lirih Briana menatap kosong lantai yang sudah dibanjiri darah segarnya itu.


Mereka sudah tidak sanggup lagi, dengan badan yang masih kecil dan tenaga yang belum seberapa mereka hanya berharap ada yang menolong hingga bisa selamat dari manusia iblis didepannya itu.


BRAKK....


Sayup sayup terdengar suara dobrakan pintu keras ditelinga Briana yang sudah hampir kehilangan kesadaran dan dengan nafas tersengal-sengal. ''Selamatkan kakak.. selamatkan kakak''


lalu matanya terpejam erat seakan ada yang menutupnya perlahan


Gabrian yang mendongak itu langsung melihat kearah adiknya hingga matanya terbelalak melihat adiknya terkapar tak berdaya dengan mata terpejam, ''BRIANAAA'' teriaknya histeris



Sejak saat kejadian itu Briana masih koma dan dirawat di RS GA yang dijalankan oleh paman Gabrian sebagai direktur. Gabrian sejak saat itu Gabrian menjadi anak yang dingin bahkan terhadap orang tua nya juga. Susah mengajak Gabrian berbicara bahkan makan juga harus dengan paksaan dengan kata 'jika adikmu bangun, dia tidak akan suka melihat kakaknya tidak patuh dan tidak makan. Apakah kamu tidak kasihan melihat adikmu didalam sana sedang berjuang' selalu dengan kata itu mommy Kimberly dan Daddy Drax membujuk anaknya agar mau makan dan minum obat.



Sudah hampir 5 bulan lamanya adiknya belum sadar juga malah makin memburuk kondisinya, nampaknya trauma dan luka penculikan waktu itu masih membekas dihati pikiran dan badannya hingga menyulitkan dirinya untuk membuka mata melihat indahnya dunia. Hingga hari ini disaat semua dalam keadaan yang sudah sangat kacau datang ke rumah sakit untuk menjenguk Briana yang dengan kondisi kritis. Bahkan Gabrian selama ini selalu datang pagi dan setelah pulang sekolah tak pernah lupa, Ia Merasa bersalah terhadap adiknya itu karena waktu itu dirinya tidak bisa menggantikan hukuman adiknya.



Gabrian menatap kosong pintu kaca yang menjadi penghalang dirinya dan sang adik yang sedang berjuang melawan maut. Dirinya yang baru mengerjakan tugas dikelas tiba tiba dikejutkan oleh dua pengawal yang setia bersamanya itu datang dan masuk kedalam kelasnya dengan tergesa gesa dan terlihat guratan cemas diwajahnya.

__ADS_1



''Tuan muda mohon maaf mengganggu belajarnya. Saya mau menyampaikan suatu hal penting kepada anda, bisa tolong kemari sebentar!'' ucap salah satu nya.



Gabrian yang melihat guratan cemas itu menjadi panik lalu tanpa membereskan buku-bukunya ia langsung keluar kelas mengikuti dua pengawalnya itu.



''Apa yang ingin kalian sampaikan?'' tanya Gabrian dingin



''Nona muda Briana kritis tuan!'' sahut mereka serempak membuat Gabrian langsung menarik tangan keduanya menuju parkiran dan berangkat ke RS GA.



Selama menunggu dokter mengoperasi adiknya Gabrian tak henti-hentinya berdoa agar adiknya selamat karena kemungkinan jika berhasil maka akan hidup atau sebaliknya malah membahayakan nyawa anaknya. Orang tua Gabrian sudah terisak pilu sedari tadi menunggu lampu operasi menjadi hijau.



Lima belas menit berlalu lampu operasi sudah berganti warna membuat mereka semua harap harap cemas. Kemudian satu dokter dan dua perawat yang menangani Briana keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Mommy Kimberly langsung kembali memeluk suaminya dengan menangis histeris membuat semua yang berada di sana ikut merasakan pedihnya rasanya kehilangan.



''BAGAIMANA DOKTER KONDISI ADIK SAYA? JAWAB DOKTER!!'' Teriak Gabrian histeris mendengar tangisan ibunya membuat dirinya ikut gelisah cemas dan khawatir menjadi satu.



Dokter itu langsung menunduk dan meminta maaf,'' Maafkan kami tuan, tapi kami sudah semaksimal mungkin mempertahankan detak jantung nona muda tetapi tuhan berkata lain. Mungkin Tuhan lebih sayang terhadap nona hingga dirinya dijemput begitu cepat oleh ajal, kita doakan saja semoga nona muda mendapatkan sisi terbaik oleh tuhan,'' ungkap dokter wanita itu lirih, mereka turut sedih karena tak berhasil menyelamatkan seseorang yang memang sudah kewajibannya sebagai dokter menyembuhkan dan menyelamatkan pasien gagal.



Gabrian langsung tertunduk lemas mendengar jawaban dokter yang begitu menyayat hatinya, bahkan lebih sakit daripada cambukan para iblis sewaktu itu. Ia hanya diam dengan air mata yang membanjiri wajah tampannya hingga membuat orang tuanya langsung menghambur dalam pelukan sang anak karena ingin menguatkan satu sama lain atas kehilangan yang mendera keluarga besar Atkinson.



Pagi harinya Gabrian sudah bersiap siap untuk ikut ke pemakaman sang adik agar tenang disisi Tuhan. Dengan langkah cepat tapi pasti ia masuk kedalam mobil mengikuti ambulance untuk ke pemakaman umum menyemayamkan adik tercintanya ke rumah terakhir untuk semua manusia kembali ke hadapan sang pencipta.



Selesai disemayamkan Gabrian masih tertunduk memegang batu nisan sang adik yang bernama 'BRIANA AMARA ATKINSON' tertera disana. Ia kembali meneteskan air matanya saat mengingat kebersamaan dan kejahilan yang adiknya buat untuknya dimana membuat sang mommy mengamuk dan kejadian lainnya. Ia bahkan belum mengikhlaskan sepenuhnya kepergian sang adik hingga dewasa.



Semenjak kepergian sang adik, Gabrian disibukkan dengan dunia sekolahnya dan selalu menghabiskan waktu dikamar dengan mempelajari bisnis dan memulai merintis usahanya diumur 17 tahun hingga sekarang. Dirinya bahkan berbicara dingin terhadap siapapun bahkan dengan keluarga besarnya sekalipun, tak ada yang menyenangkan kehidupan setelah kehilangan adiknya. Ia tak mau mencari seorang wanita untuk mendampingi nya karena takut akan terpuruk jika kehilangan sekali lagi.



Hingga datanglah seorang bidadari cantik yang memang dikirimkan tuhan untuk merubah hari harinya menjadi menyenangkan dan tidak suram.



***Alur mundur end***~



Gabrian yang tengah melamun memikirkan gadis yang dulu sangat disayanginya pergi meninggalkan dirinya kehadapan sang pencipta itu kembali meneteskan air mata membuat Arelea yang tak berada di jauhnya itu mengernyitkan dahinya.



''Mengapa kakak menangis?''

__ADS_1


__ADS_2