
...HAPPY READING...
Gabrian mengutus dua anak buahnya untuk menyampaikan satu berita penting kepada semua anak buahnya. Ia mengetahui berita ini saat di perjalanan menuju ke kediaman nya, Ia baru saja mengetahui bahwa lelaki yang ditemuinya di saat sedang berlibur bersama Arelea di pantai sewaktu lalu adalah seorang psyco tersembunyi, dirinya memang belum pernah memb*nuh orang namun ia mengetahui bahwa seorang psyco jika sudah terbiasa membunuh di setiap Minggu pasti muncul lah has*at menghirup dan meminum darah orang yang masih segar. Ia tak mau Arelea menjadi tumbal selanjutnya jika berdekatan dengan pria itu.
''Saya perintahkan kepada kalian berdua untuk memberitahu semua rekan untuk selalu menjadi penjaga Arelea dimana saja ketika keluar tanpa saya, Baik penjaga terlihat maupun penjaga bayangan.'' Ujar Gabrian memerintah dengan tegas dan dingin
''Jika ada seorang pria bernama Samuel Braxton berusaha mendekati Arelea maka kalian semua harus menghilangkan kontak sebelum mereka berbicara ataupun Arelea melihat pria itu. He's a dangerous man dan maka dari itu kalian harus ekstra hati-hati dalam mengawasi pergerakan pria itu, nanti saya kirim foto pria itu. Ingat!'' Lanjutnya dengan tegas
''Siap tuan muda.'' Jawab tegas mereka berdua
Setelah menyampaikan berita itu Gabrian pergi begitu saja meninggalkan dua anak buahnya. Sikapnya ini masih sama seperti sebelum ada Arelea di hidupnya, meskipun begitu pria ini sangat ramah pada orang tertentu.
***
Di dalam kamar mansion utama terlihat seorang gadis sedang berdiri di depan ranjang king size milik pria itu, gadis ini masih membereskan pakaian tebal yang ia pakai saat diluar tadi. Ia menyisihkan pakaian yang sudah dikenakan dengan yang masih tertata rapi didalam koper mini. Tiba tiba saja...
''Aku akan bekerja di rumah untuk sementara waktu, mungkin hanya saat badai salju ini turun. Jika agak mereda aku akan berangkat ke kantor'' Ujar Gabrian tiba-tiba dan memeluk Arelea dari belakang
''Huumm ya, Apakah aku boleh bekerja kak?''
''Bukankah sewaktu itu kakak ingin memberiku pekerjaan?'' Tanya Arelea
''Iya, kamu akan menjadi asisten hatiku,'' Jawab Gabrian dengan senyuman menyebalkan biasanya
''Ishh, aku bertanya serius kak!'' Sahut Arelea kesal
''Baiklah-baiklah kamu kan mempunyai skill memasak yang cukup bagus. Bagaimana kalau kakak buatkan resto untuk kamu kelola?'' Tanya Gabrian
Arelea sampai melongo dibuatnya tetapi ia menolak dengan alasan yang mana membuat Gabrian bungkam.
''Tidak kak terimakasih, aku memang ingin menjadi seorang juru masak kak, namun kalau untuk mengelola resto aku tidak sanggup meskipun hanya para karyawan membantu mengurus nya. Aku tak ingin merepotkan kakak terus menerus, aku ingin sukses karena karier ku sendiri bukan karena orang lain. Tetapi jika ada yang ingin membantu ku mendirikan resto tidak apa-apa tetapi aku masih dalam tahap belajar, aku belum bisa mengelola sepenuhnya sekarang mungkin besok jika aku sudah bisa mengelolanya dan sudah belajar dengan benar. Kalau untuk sekarang aku akan mulai belajar memasak dan juga bekerja memasak disini saja bagaimana?'' Jelas Arelea seraya bertanya
Gabrian bungkam ia seolah tak bisa bicara setelah mendengar penjelasan Arelea. Niatnya memang sudah baik karena ingin membangun sebuah resto untuk kesayangannya itu namun ia urungkan niat baiknya karena ternyata jawaban Arelea sekarang adalah yang terbaik. Ia sama sekali tidak memiliki satupun resto karena semua bidang yang ia bisa tidak ada yang menjurus ke arah masak ataupun memasak, ia suka pada buku maka ia juga melancarkan usaha dibidang yang ia bisa. Juga dahulu Daddy nya suka dengan yang namanya membaca maka dari itu bidang yang mereka miliki sangat sama.
''Kak?''
Panggilan Arelea membuat Gabrian terjengkang kaget.
''A-aha i-iya?'' Jawabnya
__ADS_1
''Bagaimana setuju tidak?'' tanya Arelea penasaran
''Setuju apanya?'' tanya balik Gabrian
''Setuju tidak kalau untuk sekarang aku akan mulai belajar memasak dan juga bekerja memasak disini saja?''
Pria tampan itu nampak berpikir sejenak kemudian di otaknya muncul cahaya yang berarti dia memiliki ide.
''Aku akan membolehkan kamu belajar dan juga memasak di sini tetapi dengan satu syarat, bagaimana?'' Senyuman kecil tersungging di bibirnya, licik sekali kamu gab!.
''Wahh benarkan? hanya satu syarat kan? iya iya aku mau'' Ucapan sumringah Arelea terpancar
Gabrian nampak mengulas senyum tipis, ''Kamu harus memberikan aku senyuman dan morning kiss saat aku bangun tidur bagaimana?'' Syarat Gabrian cukup mudah bukan. Namun ia mendapatkan kesempatan dalam kesempitan, dasar buaya modus bilang saja ingin mendapatkan kecupan dari lea.
Gadis itu berpikir tidak buruk juga syaratnya cukup mudah,''Baiklah !'' Lantang nya tanpa berpikir panjang-panjang
''Mulai besok pagi aku akan menagih syarat darimu dan mulai malam ini aku akan mempersiapkan semua yang kamu butuhkan saat belajar memasak?'' Tawar Gabrian
''Oke. Baik kak terimakasih, Cupp~'' Ucap Arelea mengecup pipi Gabrian
Terlihat semu merah di wajah tampan Gabrian, pria itu akan selalu mengeluarkan semburat kemerahan di wajah tampannya jika sang gadis itu berani mengecupnya terlebih dahulu tanpa ia perintah. Gadis yang nakal pikirnya namun ia menyukainya.
Kehangatan di dalam kamar itu bukan hanya berasal dari pengatur suhu ruangan namun juga dari keharmonisan dan kehangatan satu pasangan ini. Bahkan jika ada yang melihat mereka seperti itu pasti akan iri karena menjalani kehidupan sebagai pasangan yang berjalan mulus tanpa suatu hambatan. Tanpa hambatan? Sepertinya kata janggal ini akan keluar beberapa waktu lagi dan entah siapa yang akan mencari masalah dengan satu pasangan ini.
***
Matahari yang biasanya menampakkan sinarnya kini tak terlihat namun terlihat di jam dinding bahwa sekarang adalah waktunya semua manusia di negara ini untuk bekerja, satu pasangan ini masih memejamkan matanya dan masih terlelap di-alam mimpi. Mereka sudah tidur di ranjang yang sama dikarenakan alasan sang pria yang tak ingin berjauhan dengan kekasih dan juga karena tak ingin kedinginan padahal suhu ruangan di pasang hangat.
''Pagi kak Ian.'' Ucap Arelea ketika bangun seraya mengelus pipi Gabrian
Gabrian merasa terusik oleh tangan Arelea membuatnya terbangun dan tersenyum. Dibalasnya senyuman itu dengan sangat manis semanis ucapan pria buaya (Canda loh aku malah curhat kan).
''Pagi kesayangannya Lea'' Ucap Arelea sekali lagi senyuman indah tersemat di wajah cantiknya
''Pagi juga kesayangannya iaan, mau pelukk!'' Ujar Gabrian manja
''Morning kiss nya?'' Tagih Gabrian dengan memonyongkan bibirnya
Arelea terkekeh dengan tingkah absurd kekasihnya itu, ''Iya sayang!'' Goda Arelea mengecup singkat bibir Gabrian
__ADS_1
Mereka berdua menghabiskan waktu paginya dengan berpelukan dan saling manja kepada satu sama lain. Tak terasa bahwa hari mulai siang dan juga diluaran sana turun salju sangat deras bahkan menutupi semua jalan yang baru kemarin bisa dilewati. Seperti tak ada manusia yang tinggal di kota ini, semua senyap. Buat apa mereka bekerja diluar dan dengan dingin yang mencekam jika menggunakan teknologi canggih dan duduk didepan api saja bisa mereka kerjakan.
''Sayang!'' Panggil Gabrian lewat alat yang bisa menyambungkan suara seperti telpon namun juga seperti lubang penghubung suara dari dalam kamar mandi yang kedap suara. Canggih nya alat-alat jaman sekarang.
''Ya!'' Sahut Arelea sedikit berteriak, gadis ini sedang menyiapkan baju hangat yang bisa Gabrian pakai untuk hari ini.
''Tolong bawakan baju ku kedalam, aku sedang tak ingin mengganti di ruangan sebelah!'' Ucapnya lagi
''Baik kak!'' Dengan cepat Arelea sudah sampai di depan pintu,
''Kak pakaianmu sudah aku letakkan di meja depan alat suara ya,'' ujar Arelea
''Terimakasih sayang,'' Sahut Gabrian lalu mematikan alat suara dan mengambil pakaian itu dan mengenakannya.
Gabrian keluar dari kamar mandi melihat Arelea yang sedang membersihkan tempat tidur menggunakan vakum ektrator pembersih kasur dengan sangat teliti dan cepat.
''Apakah sudah selesai sayang?'' Tanya Gabrian, pria ini paling suka dengan kebersihan jika sedikitpun ia melihat debu ia bisa saja menimbulkan bercak merah dikulitnya. Selama bersama Arelea ia selalu diajak berbelanja di mall, ia bisa terapi dengan cara ini agar penyakitnya itu bisa hilang dengan sendirinya.
''Sudah kak. Hmmm harum sekali kak.'' Ujar Arelea menghirup semerbak harum dari tubuh Gabrian yang masih dibelakang nya
''Kamu juga wangi, biarkan Pio yang membersihkan lantai juga karpet itu.'' Kata Gabrian memerintah alat bulat yang sedang membersihkan debu dilantai
''Oke kak'' Jawab Arelea tersenyum manis
''Ayo kita turun, pasti dapur yang akan kamu gunakan untuk belajar sudah siap.'' Ucapan Gabrian kali ini membuat Arelea bersemangat menjalani jam-jam berikutnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1