
Alfred membawa Arelea pergi ke mansion keluarga Ainsley. Di mansion itu papa dan bunda hingga adiknya sudah menunggu kedatangan nya dengan wajah penuh semangat.
''Pa.. kira-kira nanti Lea marah tidak ya kalau dia dipisahkan dengan pria itu?'' Tanya Bunda Tasya
''Biarkan saja. Kita hanya perlu mengalihkan pembicaraan.'' Jawab Andreas di angguki oleh anak perempuan nya
''Oh iya pa bun, kita pindah ke negara A malam ini atau besok pagi?'' Tanya Delin
''Jet pribadi kita sudah siap, sebaiknya kita berangkat malam ini. Jika ditunda bisa saja pria itu mencari keberadaan gadisnya dan akan membawanya pergi lagi.''
''Siap!'' Ujar Delin
Brunmm...
Mobil Lamborghini Gallardo Superleggera milik Alfred menepi sempurna di depan mereka. Dengan antusias mereka mendekat ketika Alfred keluar dari mobil dan dengan seorang gadis di gendongannya.
''Apakah dia tidur honey?'' Tanya Bunda Tasya pada anaknya
''Tidak bun, tadi aku takut dia terbangun. Tetapi aku membawa satu suntikan berisi obat tidur, lalu aku memberikannya kepada adik.'' Ujar Alfred
Papa dan Bunda terbelalak kaget.
''Astagaa!!'' Teriak mereka bersamaan
Sementara Delin hanya diam karena sedari awal dia dan kakaknya itu sudah berencana untuk memberi obat tidur dengan suntikan kepada adiknya. Supaya saat di bawa oleh Alfred tidak terbangun juga agar bisa menyesuaikan diri di suhu negara kelahirannya saat terkena obat itu. Karena di sana sekarang sedang tidak musim dingin seperti di negara ini.
''Ayo cepat bawa adik kalian itu masuk. Papa akan mengabari Kean untuk segera siap-siap untuk terbang.'' Ucap papa lalu pergi ke dalam rumah untuk mengambil telpon dan mengabari Kean selaku pilot jet pribadi keluarga Ainsley
''Cepat berkemas, barang penting saja. Banyak perlengkapan yang sudah kalian beli di mansion utama. Jangan boros tempat!''
Meskipun berasal dari keluarga berada namun mereka tidak boleh menghabiskan banyak uang dan juga tempat khususnya Delin jika tidak memiliki keperluan penting dan mendesak. Bagaimanapun perempuan keperluannya banyak dan itu tidak memungkinkan Delin untuk tidak boros tempat.
''Ya pa,'' Jawab Alfred dan Delin
Papa segera meminta Arelea dari gendongan Alfred dan membawanya ke atas, kamar miliknya dan istrinya.
''Bun, Nanti kalau Arelea bertanya kenapa dia bisa bersama kita jawab saja kalau Gabrian menyerahkan nya kepada kita. Baru setelah itu kita memberitahu kalau kita adalah keluarganya.'' Ujar papa saat sudah sampai di kamar kepada istrinya
''Iya pa, sebenarnya bunda juga agak tidak enak dengan Gabrian karena bagaimanapun anak kita dengan pria itu saling mencintai. Bunda hanya takut Arelea tidak mau bersama dengan kita lama-lama, karena dia juga belum mengenal kita lebih dekat.''
Arelea sebenarnya sudah tidak terpengaruh obat tidur sejak tidur di ranjang, jadi ia bisa mendengar semua percakapan antara suami istri itu dengan begitu jelas.
''Maaf kalian siapa? Dan ini dimana?'' Tanya Arelea tiba-tiba
Mereka terkejut. Jangan sampai anaknya itu mendengar semua percakapan antara mereka tadi.
''E-eh sayang, sudah bangun hmm?'' Tanya bunda menghampiri
Ini sebenarnya dimana dan bukannya orang ini yang datang bersama kak Delin kemarin ya.
''Kamu sedang berada di kediaman Ainsley.'' Jawab Papa Andreas
''Kenapa aku bisa disini? aku tadi sedang berada di apartemen milik suamiku.'' Jawab Arelea membuat mereka terkejut
''S-suami? Kamu sudah menikah dengan pria itu?'' Tanya Bunda tidak percaya
Setahu mereka Arelea hanya baru bertunangan saja dengan Gabrian belum sampai ke tahap menikah, mereka juga tidak tau jika anaknya itu sudah menikah atau belum. Yang terpenting kini sudah bersama mereka
''Kenapa aku bisa disini?'' Tanya Arelea sekali lagi
__ADS_1
''Sebentar lagi kita akan berangkat ke negara kelahiran mu. Dan kami akan memberi tahu kenapa kamu bisa di sini juga siapa kami bagimu.'' Ujar papa Andreas lalu pergi keluar
''Benar sayang, ayo kita turun mereka sudah menunggu kita''
Bunda menggandeng tangan Arelea yang sedang melihat ke kanan dan kiri dengan tatapan bingung itu.
Sesampainya di bawah semua sudah menunggu di halaman depan. Juga jet pribadi keluarga ini sudah disiapkan di halaman belakang mansion. Jadi tidak perlu lama-lama melakukan perjalanan ke bandara.
Sewaktu dulu mereka sampai disini, mereka menggunakan pesawat kelas bisnis. Niatnya agar satu pun wartawan tidak mengekspos mereka di televisi namun malah sebaliknya.
''Sudah siap ke?'' Tanya papa kepada Kean
Bisa dilihat mata Andres yang sedikit bengkak dan hidung masing berwarna merah padahal saat di kamar tadi dia begitu tegas dan juga irit bicara ternyata dia sedang memendam sesuatu, itu menandakan dia baru saja menangis. Dia sangat sedih karena terpikir kenapa tidak dari dahulu ia mencari anak gadisnya yang hilang itu di negara ini, mungkin hidupnya tidak akan terlantar dan harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari nya seperti dahulu sebelum bertemu dengan Gabrian.
Menyesal. Itulah yang Andreas rasakan sekarang, karena perbuatan nya dahulu sebelum menikah bisa berimbas kepada anak nya yang belum tahu apa-apa sama sekali.
Maafkan kesalahanku dulu tuhan tolong setelah ini jangan pisahkan lagi kami.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir 9 jam lamanya akhirnya mereka sampai di belakang kediaman Ainsley tanpa ada kendala. Pukul 22.09 EST mereka tiba dan disambut beberapa bodyguard dan pelayan di sana.
''Selamat datang di kediaman utama Ainsley Tuan nyonya besar dan tuan nona muda.'' Sapa mereka membungkuk kan badan
''Apakah sudah menyiapkan kamar untuk putri saya yang satunya?'' Tanya Andreas kepada pelayan lelaki
''Sudah siap tuan,''
''Baiklah nak, ayo kita masuk. Sekarang sudah sangat larut jadi kita bicarakan besok saja sekarang semua nya tidur'' Ujar Papa Andreas kepada anak-anak nya
Arelea diantar papa dan bunda ke kamar baru nya. Dengan demikian maka mereka akan lebih mengakrabkan diri dengan anaknya, walaupun hanya begitu caranya.
''I-iya,'' Sepeninggal nya mereka berdua Arelea masuk ke kamar itu dan sekarang pikirannya tertuju pada Gabrian dan hanya terus ke Gabrian. Bagaimana kondisi pria itu sekarang apakah mencarinya atau malah diam saja.
Tak ingin berlama-lama berpikir negatif tentang Gabrian, Arelea segera tidur di kasur queen size yang tersedia di kamar itu. Dapat dia lihat kamar yang bernuansa kerajaan itu berwarna gold dan juga perlengkapan kamar yang begitu mewah. Bahkan dirinya bisa mengira hanya satu kamar itu saja ia bisa membeli satu unit apartemen di negara nya dahulu ck dasar orang kaya.
Hanya dalam waktu beberapa menit saja ia sudah tertidur dengan nyenyak di sana. Hingga pagi hari.
.
.
.
Di belahan negara lain tepat nya di sebuah mansion mewah seorang lelaki tengah menangis di pelukan seorang wanita dewasa juga seorang pria dewasa. Pria itu adalah Gabrian dan yang memeluknya adalah kedua orang tuanya.
Beberapa jam yang lalu...
Setelah gadisnya dibawa pergi oleh Alfred, Gabrian mengikuti nya namun kehilangan jejak. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kediaman orang tuanya.
Tetapi sesampainya di sana hanya ada beberapa penjaga yang masih belum terlelap sedangkan orang tuanya sudah terlelap ke alam mimpi. Ia sampai tak terpikir untuk menghubungi Arav saking paniknya, padahal jika tadi sebelum menyerang balik ia menghubungi pria itu mungkin sekarang tak begini jadinya.
Akhirnya pria itu memutuskan untuk membuka pintu kamar orang tuanya dengan menggedor-gedor dengan keras, akhirnya mereka keluar dan syok melihat kondisi anaknya yang sangat berantakan jauh berbeda dengan Gabrian biasanya yang sangat fashionable. Rambut yang acak-acakan muka kusut dan juga baju penuh darah ia sisakan, dan juga luka robek di sekitar mulut dan hidungnya.
''Kamu kenapa sayang?'' Tanya Mom Kimberly panik
''Hikss.. Hikss mom.. Arelea mom hikss'' Tangis Gabrian
Dengan segera Kimberly memeluk erat anaknya yang sedang terpukul ini dengan sayang, walupun ia bersikap bar-bar namun jiwa keibuannya masih melekat di hati nya. Tak peduli dengan darah yang mengenai bajunya.
__ADS_1
''Sudah sayang, ayo kamu ganti baju mu dahulu ini penuh dengan darah.''
Daddy Drax langsung menghubungi Arav untuk melakukan penyelidikan, sebenarnya apa yang terjadi kepada Arelea dan Gabrian itulah pikirnya. Semoga bukanlah hal yang buruk hingga dia bisa menyelesaikan agar anaknya itu tidak bersedih. Hati ayah mana yang tidak sedih melihat anaknya pulang dengan menangis dan juga penuh dengan luka dan darah seperti itu.
Sungguh ini kedua kalinya mereka melihat Gabrian frustasi seperti ini setelah adiknya dulu. Selesainya Gabrian berganti pakaian segera mereka duduk di ruang keluarga dan dengan Gabrian menceritakan semua yang terjadi.
Mereka sangat terkejut, padahal mereka sudah memblok semua aliran sistem yang di kirim oleh Alfred tetapi kenapa bisa semua ini terjadi. Tidak tahu saja mereka bahwa Alfred itu bisa memulihkan semua itu hanya dengan ilmu IT nya yang begitu tinggi.
''Bagaimana ini bisa terjadi??'' Tanya Daddy Drax
''Hikss aku juga tidak tau dad,'' Dengan sesegukan Gabrian menjawab Daddy nya itu
''Kenapa kamu tadi tidak menghubungi Daddy atau Arav?'' Tanya Daddy Drax
Dia yakin setelah ini hari-hari putranya itu akan kembali seperti dulu sebelum mengenal Arelea, sangat datar dan juga sangat monokrom. Jika Arelea akan bertemu dengan Gabrian ke depannya pasti pria itu akan langsung menikahinya tanpa basa-basi, takut kecolongan seperti sekarang ini apalagi musuh diluar sana pasti juga banyak yang mengincar nyawanya.
''Bagaimana ini dad hikss,'' Masih saja pria ini menangis.
''Nanti Daddy akan sebar semua anak buah Daddy untuk mencari gadis mu itu ya, sekarang tidurlah Inis sudah pukul tiga pagi. Besok kita bicara kan lagi.'' Ujar Daddy Drax ikut sedih
Kimberly hanya diam seraya mengelus pundak anaknya yang sedang sesegukan menangis itu.
...
Pagi ini Bunda Tasya Papa Andreas dan juga anak-anak nya berada di ruang makan. Mereka semua menikmati makanan dengan santai, hanya saja dalam hati mereka semua berdebar kencang. Sebentar lagi mereka akan memberi tahu siapa mereka sebenarnya kepada Arelea.
''Setelah selesai makan, kalian pergi ke ruang keluarga yang di atas.'' Ujar papa Andreas benar-benar berdebar kencang dadanya saat ini namun ia mencoba bersikap datar
''Ya,'' Jawab mereka
Selesainya makan mereka semua pergi ke ruang keluarga sesuai ucapan papa nya.
''Ada hal yang ingin papa sampaikan pada mu Arelea,'' Ucap Papa Andreas agak nervous
''Iya? Apakah soal semalam?'' Tanya Arelea
''Ya,''
Semuanya menyimak.
''Sebenarnya saya adalah papa kandung kamu, nama saya Andreas Alexandre Ainsley dan-
''Ini bunda mu bernama Anastasya Callista Ainsley-
ini kakak lelaki pertama mu bernama Alfred Alexandre Ainsley dan juga ini kakak perempuan mu Adeline Callista ainsley.''
''Hai Arelea'' Sapa kedua kakak Arelea
''J-jadi?''
''Kita adalah keluarga.'' Semua nya haru dan saling memeluk satu sama lain
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
IG: @_fikria.ns